Udara di Dalam Kabin Pesawat Terbang Salah Satu Faktor Kenyamanan?

Vega Hannovianto H.
Peneliti Aeroelastisitas, Pusat Penerbangan dan Antariksa Jerman (DLR)

Saat naik pesawat terbang kadang kita merasa kurang nyaman, antara lain sakit kepala, cepat haus, nyeri gendang telinga sesaat setelah lepas landas atau sebelum mendarat. Faktor apakah yang menyebabkan gejala tersebut?

Sejak penumpang memasuki kabin pesawat hingga meninggalkannya kembali, udara di dalam kabin selalu diregulasi oleh sistem udara pesawat. Hal ini bertujuan antara lain agar suhu kabin tidak terlalu panas bila misalnya mendarat di daerah tropis, dan tidak terlalu dingin ketika terbang. Umumnya pesawat melakukan terbang jelajah pada ketinggian sekitar 11.000 m. Pada posisi tersebut suhu udara luar berkisar -56°C.

Selain suhu, sistem sirkulasi pesawat juga mengatur tekanan kabin. Udara di dalam pesawat diganti terus-menerus selama terbang melalui pasokan udara dari luar. Udara tersebut dihangatkan dan dikompresi terlebih dahulu sebelum disalurkan ke kabin, agar suhu dan tekanan sesuai dengan kondisi yang diinginkan.

Mengapa perlu dikompresi? Pada ketinggian 11.000 m tekanan udara di luar pesawat hanya sekitar 0,23 bar atau setara dengan 22% dari tekanan pada permukaan laut. Dengan tekanan yang demikian rendah, otomatis kandungan absolut oksigen maupun air menjadi sangat rendah, sehingga bila udara luar masuk ke dalam kabin tanpa dikompresi, penumpang akan kekurangan oksigen. Sebagai akibatnya penumpang akan merasa tidak nyaman, sakit kepala, sesak napas atau mungkin terjadi yang lebih fatal.

Untuk mengatasi hal ini, umumnya udara kabin diregulasi hingga mencapai tekanan sekitar 0,75 – 0,81 bar, yang setara dengan tekanan pada ketinggian 6.000 – 8.000 kaki atau 1.800 – 2.400 m di atas permukaan laut. Nilai tekanan ini merupakan hasil kompromi dari faktor kenyamanan dan ketahanan struktur badan pesawat untuk jangka panjang. Perbedaan tekanan di dalam dan di luar kabin yang semakin besar akan meningkatkan pembebanan pada struktur badan pesawat.

Ketika pesawat lepas landas, tekanan udara kabin berkisar 1 bar. Saat pesawat menanjak, tekanan kabin pun turun perlahan hingga mencapai 0,75 – 0,81 bar saat terbang jelajah.  Perubahan tekanan ini memberi rasa nyeri di telinga, terlebih pada penumpang yang sedang flu. Hal ini disebabkan saluran antara hidung dan telinga yang tersumbat, sehingga tekanan di dalam telinga tidak bisa segera diseimbangkan dengan tekanan kabin. Hal serupa juga terjadi saat pesawat mengurangi ketinggian untuk mendarat, di mana tekanan kabin dinaikkan kembali menjadi 1 bar. Untuk mengurangi gejala nyeri gendang telinga tersebut, penumpang disarankan untuk mengemut permen atau sering menelan liur saat lepas landas dan sebelum mendarat, guna menyeimbangkan tekanan.

Seperti yang disebutkan di atas, udara di dalam pesawat diganti terus-menerus dengan udara luar selama terbang. Pada ketinggian jelajah, udara mengandung sangat sedikit air, sehingga meskipun tekanan kabin telah diatur, kelembaban udara kabin tetap sangat rendah, yakni sekitar 10%. Sebagai pembanding, kelembaban udara di Jakarta tidak jarang mencapai 90%. Hal ini mengakibatkan penumpang membutuhkan lebih banyak pasokan cairan saat terbang.

baca juga

ingin komentar

Comment