l. honey or mayonnaise). The mixture is heated until hot and massage the scalp with a cotton swab or a toothbrush with soft bristles. Comb hair comb several times to evenly distribute the mixture of hair. After 30-40 minutes, wash with warm water and shampoo or rinse acid with water, add 1 liter of 0.5 hours. L. citric acid or 1 tbsp. l. uksusa.Zdes same wine recommendations "often ill children, o secondary immune symptoms, associated interferons, antioxidants, vitamins, biostimulants etc. n."... Due you could try lasix this out to the prevention of disease, excess cholesterol and gastric ulcer disease radish is very good. This is a very stimulating effect on the functioning of the digestive tract secretion of gastric juice and activate blood circulation in the walls of the stomach and intestines. The supply of products such simple and ordinary rich in vitamin C and B1, are actively contributing to the vitality of the eyes cheloveka.Promyvat can also be a decoction of flowers elderberry, which is rich in vitamin C.

Trend Industri Pesawat Terbang

Agung Nugroho

Sejak diterbangkannya pesawat terbang di tahun 1902 oleh Orville Wright, telah terjadi perkembangan penggunaan teknologi yang eksponensial di bidang aeronotika. Penerbangan telah memberikan mobilitas, fleksibilitas dan keekonomian dalam memindahkan barang dan manusia yang jauh lebih tinggi dari moda transportasi yang lain.  Di bidang militer, teknologi pesawat terbang terbukti, padaberbagai peperangan sejak PD II, memberikan keunggulan strategis yang menentukan dalam memenangkan peperangan.

Saat ini kebutuhan penggunaan pesawat terbang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia. Transportasi udara merupakan bagian yang penting dalam perekonomian dunia. Diperkirakan pertumbuhan transportasi udara dalam kurun waktu 20 tahun mendatang mencapai 7 milyar penumpang dengan pertumbuhan rerata dunia 3,8% pertahun (basis tahun 2014), lebih dari 2 kali jumlah di tahun 2014 sebanyak 3,3 milyar penumpang. Diperkirakan pula, bahwa 5 negara menjadi pasar terbesar di dunia, yaitu Cina (1,196 milyar), Amerika (1,156 milyar), India (378 juta), Indonesia (219 juta) dan Brazil (202 juta)[1]. Proyeksi ini sekaligus merupakan tantangan bagaimana negara-negara di dunia melakukan manajemen pertumbuhan ekonomi agar target tersebut tercapai.

Penerbangan Sipil

Boeing[2] meramalkan sekitar 38,000 pesawat akan diserap, yang terdiri dari berbagai kelas, pesawat widebody, single aisle dan regional jet. Pasar terbesar adalah Asia (14.330 atau 37,7%), Amerika (7.890 atau 20,7%), Eropa (7.890 atau 20,7%), diikuti dengan Timur Tengah (3.180 atau 8,4%), Amerika Latin (3.020 atau 7,9%), CIS (1.150 atau 3%) dan Afrika (1.170 atau 3,1%).

Untuk segmen di bawah 100 penumpang, terdapat segmentasi pesawat turbojet dan turboprop. Bombardier, produsen pesawat terbang di dunia yang membuat turbojet dan turbprop sekaligus,  meramalkan sekitar 15.000 pesawat dalam kelas 60 – 150 penumpang diserap di 2034, terdiri dari 6.900 pesawat di kelas 60 – 100 penumpang, dan 8.100 di kelas 100 – 150 penumpang.

ATR, suatu perusahan yang berfokus pada produksi pesawat turboprop, meramalkan sekitar 3.400 pesawat di kelas turboprop akan diserap oleh dunia terdiri dari 30 – 60 penumpang, 400 pesawat, 61 – 90 penumpang, 1.600 pesawat dan 90+ sebanyak 1.400 pesawat[3].

Dengan pertumbuhan transportasi udara ini, maka negara-negara berlomba untuk dapat membangun kemampuan sendiri dan menangkap peluang pasar, dimana sektor aviation dan  aerospace merupakan sektor yang dapat menyerap tenaga kerja berkualifikasi tinggi (high skilled labour) dan mempunyai nilai tambah (added value) dan mempunyai efek multiplikasi yang tinggi. Multiplikasi dari teknologi ini antara lain dari tumbuhnya industri perawatan pesawat, pasokan komponent pesawat (engine, avionics, sistem pendaratan dan sistem-sistem pesawat terbang lain), jasa angkutan udara, jasa kebandaraan, jasa pendidikan dan pelatihan, sistem IT sampai dengan aplikasi pertahanan.

Trend pesawat berdasarkan ukuran dan kapasitas.
Saat ini industri OEM (original equipment manufacturer) pesawat terbang, didominasi oleh negara-negara maju, seperti Boeing (Amerika), Airbus (Eropa), Bombardier (Kanada), Embraer (Brazil), ATR (Perancis) dan United Aircraft Corporation (Rusia).

Pesawat besar dengan kapasitas di atas 250 penumpang masih didominasi oleh Boeing dan Airbus. Pesawat ini masuk kategori wide body aircraft, dimana lebar pesawat dapat mengakomodasi 2 aisle (gang diantara tempat duduk pada kabin penumpang). Dalam kategori  ini masuk pesawat terbang dengan jarak terbang trans kontinental, misalnya Boeing 747, Airbus A380 dan Boeing 777-XXX, Airbus 340. Generasi terbaru dari kelas ini adalah  Boeing 787 dan A350 yang menekankan efisiensi bahan bakar yang lebih baik. Pesawat kategori ini dirancang untuk perjalanan long range, kapasitas penumpang dan volume kargo yang tinggi dalam rangka menurunkan biaya operasi pesawat per penumpang.

Di bawah kelas ini ada kelas single aisle atau disebut narrow body. Kapasitas kelas ini adalah dibawah 300 penumpang, yang terdiri dari kelas besar (di atas 150 penumpang), kelas menengah (100 – 150 penumpang) dan kecil (di bawah 100 penumpang). Contoh  narrow body besar dan menengah, adalah Boeing 737, Airbus 320, dengan jarak tempuh berkisar pada 3.000 nm (Airbus dan Boeing 737 Classic) sampai dengan 5.000 nm (B737 NG).

Pada umumnya yang masuk dalam kategori di bawah 100 penumpang  disebut juga regional aircraft, karena jaraknya yang relatif pendek dan tidak dirancang untuk penerbangan transkontinental. Pesawat regional terdiri dari regional turbojet (fan) dan regional turboprop. Contoh dari regional jet adalah Embraer E-series (80 – 120 penumpang) dan generasi berikutnya E2 series, dengan kapasitas antara 90 – 140 penumpang, dengan jarak tempuh sekitar 1.500 sampai dengan 2.500 nm. Bombardier menawarkan produk turboprop Q400, turbofan CRJ series dan C-series, dengan kapasitas masing-masing adalah 78 penumpang (q400), 66 – 104 (crj series) dan 133 – 160 (Cseries).

Di kelas terbawah, untuk segmen penerbangan jarak pendek, atau kurang dari 300 nm, keekonomian ditawarkan oleh regional turboprop. Di sini ada OEM dari Perancis (ATR), Kanada (Bombardier), Indonesia dan Cina. ATR merupakan market leader saat ini dengan ATR72-600 (72 penumpang) disusul oleh Bombardier (Dash8-Q400) – 78 penumpang, sedangkan Indonesia saat ini mengembangkan R80 (80 -92 penumpang) dan China mengembangkan MA700 (80 penumpang).

Ringkasan dari trend ukuran pesawat terbang dan segmentasi pasarnya diberikan pada Tabel 1 di bawah ini. Negara-negara di bawah adalah negara yang sangat memahami pentingnya industri dirgantara sebagai ujung tombak dalam membangun daya saing melalu aplikasi teknologi.

Tidak semua negara maju beruntung berada dalam kategori OEM, misalnya Inggris dan Jerman, kedua negara tersebut ikut dalam kerjasama dirgantara Eropa dibawah kepemimpinan Airbus sebagai penggerak. Negara-negara seperti itu,

 

Gambar 1. Trend ukuran pesawat dari berbagai OEM Pesawat Terbang

Trend Teknologi Pesawat Terbang

Teknologi pesawat terbang terdiri dari berbagai disiplin yang saling terkait dalam memenuhi fungsi pesawat tersebut. Sebut saja  disiplin teknologi aerodinamika yang dikembangkan untuk memenuhi fungsi mengangkat dan menerbangkan pesawat secara efisien, propulsi untuk penghasil daya dorong dan penggerak generator, struktur pesawat untuk menyangga sebagai “tulang” pesawat, teknologi mekanika untuk sistem pengendalian dan sistem pendaratan, dan teknologi elektronika dan sistem informasi untuk komunikasi, navigasi  dan pengamatan, teknologi perawatan dan kehandalan untuk memenuhi fungsi mampu-rawat (maintainability) yang kesemuanya itu menyatu dalam menjalankan fungsi pengangkutan yang menekankan pada keselamatan serta  yang mudah dioperasikan, dikendalikan, efisien, ekonomis dan aman.

Sebagai fungsi pengangkut, teknologi interaksi manusia-mesin (human-machine interaction) memastikan pesawat memberikan kenyamanan bagi penumpang – kebisingan dan getaran yang rendah,  dan beban kerja (workload) yang rendah, baik bagi pilot yang mengoperasikan, petugas darat yang melakukan bongkar muat dan pemeliharaan.

Secara sistem, pesawat terbang merupakan suatu sistem yang terdiri dari sistem-sistem penunjangnya (=systems of system) yang menjalan berbagai fungsi yang terkait untuk memenuhi penerbangan yang aman, nyaman, efisien dan dapat menjadi alat produksi memperoleh keuntungan dalam bisnsi angkutan udara.

Tidak kalah pentingnya, sebagai sektor yang high risk dan membutuhkan biaya besar,  pesawat terbang dalam pengembangannya didukung pula oleh soft sciences, seperti project management, system engineering, untuk memastikan bahwa koordinasi dalam perancangan, pembuatan, pengembangan sampai memperoleh sertifikasi serta pengoperasian pada tahap komersial diselenggarakan secara akurat, runut, dan terlacak (traceable). Teknologi IT memegang peran yang tinggi, baik pada konten pesawatnya, dimana porsi software yang semakin dominan, maupun pada proses yang menyertainya dalam manajemen dan system engineering.

Secara ringkas, teknologi diarahkan untuk membuat produk pesawat lebih efisien dalam operasinya dan dikembangkan dengan biaya pengembangan yang lebih murah sejak awal fase perancangannya. Direct Operating Cost pesawat ditentukan oleh antara lain harga pesawat, efisiensi langsung dan tidak langsung, dan biaya manajemen. Efisiensi langsung pesawat terdiri dari (1)  efisiensi aerodinamika, dimana gaya hambatan (drag) dapat diperkecil, sehingga memengaruhi penggunaan bahan bakar (2) efisiensi struktur, dimana berat struktur terhadap berat muatan harus semakin kecil. Penggunaan material canggih seperti komposit semakin banyak digunakan, tidak hanya pada secondary structure, namun sampai dengan primary structure yang menyangga beban utama pesawat terbang, dan (3) adalah efisiensi propulsi, dimana peran penggunaan bahan bakar oleh mesin sangat dominan. Untuk turbojet, saat ini muncul teknologi geared turbofan yang mengklaim dapat menghemat penggunaan bahan bakar sebesar 15% . (4) efisiensi produksi penting untuk menekan biaya langsung (recurring cost). Selain faktor langsung, desain pesawat dengan kriteria keandalan dan kemampu-rawatan (maintainabilty) yang tinggi akan mengurangi biaya perawatan pesawat dan penggantian biaya komponen. (5) keandalan komponen memegang peranan penting agar mendukung kesiapan operasi pesawat.

Dalam pengembangannya, teknologi perancangan pun memegang peranan besar untuk melakukan kajian engineering dengan cepat dan akurat, dimana peran computational physics semakin menggeser peranan pengujian eksperimental sehingga keputusan dapat diambil lebih awal dengan keakuratan yang tinggi. Beberapa teknik integrasi misalnya multidisciplinary optimization, penggunaan IT, software product life cycle terpadu dan systems enginering sangat membantu mendapatkan informasi terkini mengenai status permasalahan dalam pengembangan dan membantu manajemen memecahkan permasalahan yang ada.

Ilmu-ilmu pendukung dalam industri penerbangan ini dalam perjalanannya banyak diaplikasikan pada industri-industri lain, seperti minyak and gas, industri manufaktur mobil, dan sebagainya.

Trend: Aerospace Industri sebagai ujung tombak daya saing

Dalam industri dirgantara dan umumny industri aviasi, dunia melalui Convention on International Civil Aviation (Chicago Convention) dan pembentukan ICAO (International Civil Aviation Organization) telah sepakat untuk membangun dan  bekerjasama “ in a safe and orderly manner and that international air transport services may be established on the basis of equality of opportunity and operated soundly and economically  telah memberikan standar bagaimana safety, economy, security dalam aviasi dilaksanakan sejak  pengembangan, operasi, pemeliharaan sampai dengan akhir dari masa pakai operasi pesawat secara seragam dan juga peraturan untuk pendukung2nya seperti navigasi udara, kebandaraan, dsb, di negara anggota ICAO.

Standar inilah yang dapat digunakan sebagai wahana dalam meningkatkan kualitas SDM tiap negara dalam membangun kesiapan industri penerbangannya.

Negara-negara berkembang seperti Cina, Korea, Turki Singapura dan Malaysia, saat ini mulai membangun industri penerbangan dan dirgantaranya sebagai bagian utama membangun daya saing. Korea, misalnya melalui KAI berniat untuk mengembangkan pesawat indigeneous-nya untuk sipil dan militer melalui new turboprop program dan KFX (saat ini bekerjasama dengan Indonesia). Turki akan mengembangan T-Jet 70 passenger jet aircraft, dalam memperingati 100 tahun Turki, dengan pesawat yang dirancang sendiri oleh industri di Turki. Cina saat ini sangat agresif membangun beberapa produk – militer maupun sipil – dan mengucurkan dana yang sangat besar.

Inggris dan Jerman, sebagai negara pelopor dirgantara sejak awal adanya penerbangan,  meskipun saat ini  tidak mempunyai industri pesawat terbang sendiri, namun bergabung dalam Airbus dan membangun industri komponen berkelas dunia. Beberapa contoh industri di Inggris adalah Rolls Royce, Bae Systems, Meggit, Britten Norman, Cobham, QinetiQ dan GKN. Inggris juga tempat perusahaan international aerospace berinvestasi, misalnya GE, Lockheed Martin, Agusta-Westland, dan Safran.  Contoh industri di Jerman adalah MTU Aero Engine, Liebherr, MT-Propeller yang pada umumnya adalah industri pemasok pesawat. Jerman melalui DASA merupakan pemegang saham Airbus.

Negara-negara di atas secara konsisten menerapkan dukungan terhadap aerospace industry dengan mengalokasikan dana dalam R&D Aerospace yang dilaksanakan oleh lembaga pemerintah bekerjasama dengan industri swasta. Kebijakan pendanan R&D dan dukungan finansial terhadap produk aerospace menjadi best practice dukungan pemerintah terhadap industri pesawat terbang.

 Industri Pesawat Terbang dan Aviasi di Indonesia

Indonesia sebagai negara kepualauan terbesar di dunia sejak awal perang kemerdekaan telah mempunyai visi kedirgantaraannya.

  • Sejak awal perang kemerdekaan telah dibentuk TRI Udara dan melakukan pertempuran udara, sekarang TNI-AU
  • Membangun ekosistem penerbangan
    • Garuda Indonesian Airways (menjadi Garuda Indonesia sekarang)
    • LAPAN
    • Perguruan Tinggi ITB dan sekolah penerbangan seperti Curug
    • Kopelapip : melaksanakan pengembangan produk pesawat terbang a.l. sikumbang
  • Mendirikan PT Nurtanio dan menjadi PTDI
  • Mengalami down turn Industri 2000 -2010
    • Pemulihan PT DI melalui PPA
    • Fokus pada bisnis jangka pendek dan konsolidasi bisnis
  • Pengembangan pesawat nasional N219 PTDI dengan LAPAN
  • Pengembangan pesawat turboprop regional R80: PT RAI (Swasta), PTDI, dan stakeholder R&D Indonesia (BPPT, LAPAN, ITB) didukung oleh swasta nasional dan supplier nasional/international.

Indonesia belum memiliki kebijakan yang strategis dan berjangka panjang dan dilaksanakan secara konsisten di bidang kedirgantaraan.

Indonesia perlu terus meningkatkan dan membangun ekosistem kedirgantaraan secara menyeluruh, sistematis, bertahap, melaui kebijakan industri dirgantara dan cluster industri yang  terdiri dari

  • Industri jasa angkutan udara yang kuat bersaing
  • Industri manufaktur pesawat dan komponen
  • Industri perawatan pesawat
  • Industri training & education
  • Jasa navigasi udara yang mengikuti standar dunia
  • Kebandaraan
  • Lembaga2  R&D pemerintah dan swasta

Industri transportasi udara adalah jejaring global dari operator pesawat komersial, airport, navigasi udara, kebandaraan dan pembuat pesawat serta komponen-komponennya. Industri ini dapat menghubungkan ekonomi global, memberikan jutaan lapangan pekerjaan dan menyejahterakan kehidupan manusia.

Industri dirgantara di banyak negara menjadi wahana utama untuk meningkatkan dan memelihara daya saing bangsa

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar didunia dan penduduk ke-4 terbesar, membutuhkan bidang kedirgantaraan sebagai:

  • Wahana pemersatu wilayah: transportasi yang cepat, fleksibel, aman dan murah.
  • Wahana pemberdaya dan meningkatkan daya saing SDM
  • Wahana meningkatkan perekonomian negara, meningkatkan ekspor dan mengganti impor.
  • Wahana peningkatan kesejahteraan rakyat dengan lapangan pekerjaan  yang bernilai tambah tinggi
  • Wahana untuk meningkatkan kemampuan pertahanan.

baca juga

ingin komentar

Comment