TEKNOLOGI KEDOKTERAN Semakin Kecil, Mudah dan Murah

Aries R. Prima – Engineer Weekly

Pada 2011 jumlah rumah sakit umum dan khusus di Indonesia tercatat sekitar 1.721. Jumlah yang selalu meningkat sejak tahun 2008. Belum lagi jika ditambah sekitar 9.321 pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) yang tersebar di seluruh Tanah Air pada tahun yang sama.

Peningkatan jumlah ini tentu saja harus dibarengi dengan peningkatan jumlah fasilitas dan alat kesehatan yang memadai, selain mutu pelayanannya. Menurut sebuah sumber, saat ini Indonesia masih mengimpor sekitar 90% alat-alat kesehatannya dari luar negeri.

“Alat kesehatan yang kita produksi sendiri masih sangat minim. Bahkan bisa dibilang tidak ada yang buatan penuh kita. Paling kita bisa membuat termometer dan alat yang berteknologi tidak terlalu tinggi,” kata Deddy Kurniadi, Guru Besar dalam bidang ilmu instrumentasi industri dan tomografi, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Menurutnya, kendala pengembangan dan produksi alat kesehatan di dalam negeri sangat kompleks. Salah satunya adalah kita tidak punya industri komponen. Para peneliti kesulitan mendapatkan komponen tertentu di Indonesia untuk karya penelitiannya. Selama ini mereka harus memesan ke luar negeri melalui internet. “Industri komponen dan industri kimia dasar kita masih lemah,” imbuhnya.

Bersama dengan timnya, dia sedang mengembangkan alat untuk “mengintip” bagian dalam tubuh manusia yang disebut electrical impedance tomography (EIT), sebuah alat yang lebih sederhana dan lebih murah dari produk yang sudah ada. Dengan menggunakan gelombang ultrasonik dan gelombang elektrik simultan untuk melihat bagian dalam sebuah obyek, dia berharap produk ini sebagai alternatif yang lebih aman buat tubuh manusia.

“Sinar X memang sudah terbukti keunggulannya, dan resolusinya bagus. Tapi sinar ini punya batasannya sendiri. Orang tidak boleh terlalu sering diterpa sinar X, karena efek ionisasi tubuh. Selain itu peralatan ini biasanya luar biasa mahal,” ujar dosen program studi teknik fisika ITB ini.

Dia menambahkan bahwa kekurangan pada sifat ultrasonik dan pada sinyal listrik saling ditutupi oleh kelebihan masing-masing. Kendala teknis dari alat yang masih dalam tahap riset dasar ini adalah tidak mudah mendapatkan resolusi yang bagus dengan gelombang ultrasonik dan sinyal listrik. Jadi hasilnya belum bisa sebaik sinar X. “Tapi cukuplah untuk mendapatkan diagnosa,” katanya.

Alat ini sudah diujicobakan di rumah sakit Dr. Sutomo, Surabaya dan dokter yang menggunakan alat ini bisa memperoleh data dan pola yang lebih lengkap dan jelas dibanding dengan menggunakan alat ultrasonografi (USG).

Tren Alat Kesehatan

Tampaknya ada kecenderungan alat-alat kesehatan di masa depan akan berukuran semakin kecil, walaupun tidak harus semuanya, terutama jika memerlukan akurasi yang tinggi. Bagi negara kepulauan seperti Indonesia dengan tingkat kesejahteraan dan pembangunan infrastruktur yang belum merata, ukuran dan harga alat medis menjadi perhatian utama.

“Tren teknologi instrumentasi medik, ke depannya, ukurannya akan semakin kecil atau portable, terutama untuk consumer devices.  Dan penggunaannya lebih ke arah pencegahan dengan konektivitas yang luas,” jelas Prof. Dr. Ir. Tati R. Mengko, Ketua kelompok keilmuan teknik biomedika ITB.

Guru besar program studi teknik elektro ITB itu juga menjelaskan bahwa pasar instrumentasi medis akan terus berkembang di masa depan serta semakin mudah dioperasikan, lebih nyaman, dan lebih murah.

Menyinggung mengenai alat kesehatan produksi lokal, Tati menjelaskan bahwa Indonesia belum mampu membuat alat-alat berteknologi tinggi seperti kelompok medical instrument dan medical imaging. Baru mampu membuat dan mengembangkan consumer medical devices dan diagnostic, patient monitoring and therapy, kelompok peralatan dengan teknologi menengah seperti termometer digital dan alat pengukur tekanan darah digital.

Menurutnya, sangat penting Indonesia mengembangkan alat medis yang dapat dipergunakan sendiri di rumah tangga, untuk alat kontrol umum kesehatan di puskesmas, dan alat untuk menangani korban kecelakaan atau bencana. Namun ini juga tidak mudah dilakukan segera karena terkendala dengan rendahnya kegiatan penelitian dan pengembangan, sumberdaya manusia yang terbatas, serta minimnya industri alat kesehatan di Indonesia.

Masa Depan Teknik Biomedika

Senada dengan Deddy Kurnaidi, dengan peningkatan kebutuhan instrumen medis, ia menyatakan bahwa Indonesia akan banyak membutuhkan ahli di bidang teknik biomedika ke depannya. “Masa depan seorang ahli teknik biomedika akan sangat cerah, sesuai dengan tingkat kesadaran kesehatan masyarakat yang semakin baik,” ujarnya.  Saat ini belum ada program studi teknik biomedika di perguruan tinggi Indonesia pada tingkat sarjana.

Hingga kini, Tati bersama kelompoknya telah banyak melakukan pengembangan alat-alat khusus untuk membantu kaum difabel, seperti alat bantu komunikasi yang mirip dengan alat yang digunakan fisikawan terkemuka dunia, Stephen Hawking. Juga alat seperti stetoskop digital yang mampu merekam data medis pasien dan dapat ditampilkan kembali dalam bentuk audio maupun citra.

“Secara teknis, kita mampu mewujudkan ini semua. Tinggal bagaimana dukungan dan keberpihakan semua kalangan, terutama pengambil kebijakan dan kalangan industri, bisa ditingkatkan, diperbaiki, dan direalisasikan,” pungkasnya.***

baca juga

ingin komentar

Comment