Salam Insinyur

Membangun Manusia Indonesia

 

Pada Human Development Report 2015, indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia berada pada posisi 110 (bersama Gabon) dari 188 negara di dunia. Peringkat ini menempatkan Indonesia dalam kelompok negara menengah dalam pembangunan manusia.

Beberapa negara di ASEAN berada pada posisi yang lebih baik baik dari Indonesia pada pemeringkatan 2015 ini, seperti Singapura (11), Brunei Darussalam (31), Malaysia (62), dan Thailand (93). Negara-negara ini masuk dalam kelompok negara dengan IPM sangat tinggi dan tinggi.

Nilai indeks pembangunan manusia ini merupakan hasil akhir dari beberapa indikator penilaian, yaitu umur harapan hidup, waktu sekolah yang diharapkan, rata-rata waktu sekolah dan pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita.

Jika dilihat lebih dalam melalui indikator-indikator ini, memang Indonesia masih tertinggal dari beberapa negara tetangga yang disebutkan sebelumnya. Misalkan saja jika dibandingkan dengan Malaysia. Umur harapan hidup Malaysia: 74,7 tahun, lebih tinggi dari umur harapan hidup orang Indonesia: 68,9 tahun. Rata-rata penduduk di Malaysia mengenyam bangku sekolah selama 10 tahun, sedangkan di Indonesia 7,6 tahun. Angka ini, bahkan, lebih rendah dari Filipina yang rata-rata penduduknya mengenyam bangku sekolah selama 8,9 tahun. Pendapatan nasional bruto Malaysia US$22,762 dan Indonesia sebesar US$9,788. Dari tahun ke tahun negara jiran ini semakin ‘meninggalkan’ Indonesia dalam berbagai pencapaian, termasuk juga kemampuan daya saing bangsa yang telah dirilis dalam Global Competitiveness Report.

Lebih jauh, dalam bidang pendidikan, orang Indonesia (dengan umur antara 18 – 22) yang mengenyam bangku pendidikan tinggi sekitar 32 persen. Bandingkan dengan Malaysia (37 persen) dan Thailand (51 persen). Pada kenyataannya mungkin saja angka ini lebih rendah dari 32 persen. Pada laporan ini dapat dilihat juga bahwa anggaran pendidikan Indonesia adalah sebesar 3,6 persen dari total anggaran belanja negara. Sedangkan Thailand mengalokasikan sekitar 7,6 persen dan Malaysia sebesar 5,9 persen.

Dari data yang tersedia dan dari pemaparan laporan ini, pekerjaan memegang peranan penting dalam indeks pembangnan manusia, Makin baik dan makin berkelanjutan dari pekerjaan yang dimiliki, makin tinggi pula pencapaian IPM. Secara tidak langsung pendidikan dan tingkat pendidikan yang dicapai memengaruhi jenis pekerjaan yang bisa dilakukan. Tidak heran negara seperti Thailand menggelontorkan anggaran yang besar untuk bidang pendidikan dan mendorong warganya agar menyelesaikan pendidikan tingginya.

Jika tidak ingin makin tertinggal jauh dalam pengembangan mutu modal manusianya – sebahgai modal utama pembangunan, sepertinya Indonesia harus berbuat lebih serius untuk meningkatkan jumlah warganya untuk dapat mengakses pendidikan tinggi yang lebih mudah dan murah tanpa meninggalkan kualitas.***

September 2016
Web Admin

baca juga

ingin komentar

Comment