Saatnya Insinyur Berfilsafat

Oleh : Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, IPU

Insinyur Berfilsafat? Emangnya Bisa? Untuk apa? Demikianlah pertanyaan setengah tak percaya ketika dalam suatu obrolan seseorang yang bertitel Insinyur mengemukakan pendapatnya bahwa dalam menjalankan profesinya seorang Insinyur perlu memahami filsafat. Mengapa Insinyur perlu berfilsafat? apa manfaatnya? Dan bagaimana sebaiknya dalam berfilsafat agar karya keinsinyurannya lebih berterima di masyarakat?

Berbagai referensi tentang filsafat menyatakan bahwa kata filsafat bermakna “mencintai kebenaran”. Kebenaran yang bagaimana? Bukankah kebenaran sekarang sudah menjadi barang mahal? Memang, bagi sementara pihak, kebenaran bersifat relatif, tergantung dari siapa yang mengatakannya. Misalnya, sebagian agamawan berpandangan, memegang erat-erat kitab suci sebagai pegangan hidup sudah lebih dari cukup, sehingga filsafat yang tidak menjanjikan kebenaran mutlak tidak diperlukan. Atau tengoklah para ilmuwan, sebagian dari mereka ada yang mengira bahwa ada kewajiban untuk melepaskan diri secara total dari filsafat untuk memertahankan keilmiahan mereka. Dan sebagian usahawan mengatakan filsafat hanya membuang waktu karena tidak hasilkan laba. Akan tetapi filsafat lebih dari kenisbian, ia berupaya mencari kebenaran radikal, terus hingga akar, kebenaran sejati. Pertanyaannya, apakah Insinyur yang nota bene pada umumnya berpikir rasional dan pragmatis perlu memahami filsafat dan oleh karenanya dalam setiap karya keinsinyuranya perlu melandasinya dengan filsafat?

Merujuk Palmquis (2007), untuk mampu berfilsafat syarat pertama mesti tahu apa itu filsafat. Setidaknya ada lima model pendekatan memahami filsafat: Pertama, pendekatan historis, pemikiran para filsuf terpenting dan latar belakangnya dipelajari secara kronologis. Kedua, pendekatan metodologis, berbagai metode berfilsafat dipelajari, dan kemudian memilih metode yang cocok dipergunakan sebagai pedoman berfilsafat. Ketiga, pendekatan analitis, filsafat diuraikan secara sistematis dan diterangkan segamblang-gamblangnya. Keempat, pendekatan eksistensial, tema-tema pokok filsafat didalami dengan harapan akan memperoleh gambaran tentang filsafat yang seutuhnya. Kelima, pendekatan terpadu (integrated approach), melakukan sintesa berbagai pendekatan yang sudah disebutkan dalam empat model sebelumnya dan memadukannya ke dalam suatu pengertian tunggal.

Bagi Insinyur, filsafat menjadi penting bukan saja karena ada kesamaan antara tanggung jawab keinsinyuran dengan tanggung jawab filsafat, namun hubungan keduanya akan menguatkan latar belakang karyanya dan dapat memicu munculya ide-ide kreatif. Tanggung jawab moral keinsinyuran tercermin sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2014 tentang Keinsinyuran yang menyatakan bahwa keinsinyuran merupakan kegiatan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan peradaban dan meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Di pihak lain filsafat telah membuktikan dirinya sebagai Ibu yang melahirkan peradaban manusia, memberi cahaya bagi lahirnya ilmu pengetahuan dan pada tataran selanjutnya ilmu pengetahuan menurunkan teknologi yang nota bene karya para Insinyur. Dari silsilah ini, jelaslah bahwa di dalam darah Insinyur terdapat gen atau DNA filsafat. Mengingkarinya sama saja menihilkan dirinya sebagai Insinyur.

Jika sudah jelas demikian duduk persoalannya, lantas bagaimana Insinyur berfilsafat? Menggunakan filsafat materialism, sebagaimana dikatakan Santo Agustinus (354-430M) realita terdiri dari semua kemungkinan yang ada, mengandung materi. Charvaka, seorang filsuf India, menguatkannya dengan mengatakan realitas adalah segala sesuatu yang dapat oleh indera manusia. Kedua filsuf ini rupanya sejalan dengan Democritus, filsuf Yunani Kuno, yang mengatakan objek atau benda nyata terdiri dari atom.

Pada perkembangan selanjutnya para fisuf sepakat bahwa keberadaan suatu realita benda selalu memiliki alasan. Alam menyediakan segala sesuatu untuk manusia. Ada yang langsung dapat dimanfaatkan, ada pula yang mesti diubah atau dimodifikasi menjadi sesuatu yang lain sehingga menjadi bentuk baru yang berguna, memudahkan kehidupan manusia. Sebagai contoh, bijih besi tak akan bernilai tinggi bila tidak diubah menjadi pig iron, slab, lembaran baja, yang kemudian digunakan untuk berbagai aplikasi, dari kapal, mobil, pipa, hingga pesawat terbang, serta peralatan rumah tangga. Untuk mengubahnya, manusia menciptakan teknologi. Teknologi dan produk-produk teknologi inilah karya Insinyur yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Oleh karena itu, ketika Insinyur mencipta sesuatu, ia mesti memiliki alasan mengapa dan untuk apa barang atau sesuatu itu diciptakan, inilah yang disebut sebagai keberadaan sesuatu selalu memiliki alasan. Persoalannya, tidak semua Insinyur memilik kemampuan untuk mengartikulasikan alasan atau latar belakang di balik karyanya. Sehingga seringkali masyarakat cenderung hanya menikmati wujud fisik karya cipta Insniyur tanpa mengetahui ruh atau jiwa yang menyertai karya cipta tersebut. Membangun kemampuan berkomunikasi menjadi esensial bagi Insinyur. Mengapa ini penting?

Mengacu sebuah teori filsafat, di dalam setiap karya cipta manusia selalu mengandung dua nilai, etika dan estetika. Etika berkaitan dengan norma atau nilai–nilai luhur yang dianut manusia guna mencapai keluhuran budi, ketenteraman jiwa dan keharmonisan sosial. Estetika berkenaan dengan rasa keindahan, harmoni atau keselarasan dengan alam dan lingkungan. Pemahaman dan komitmen terhadap etika dan estetika inilah yang idealnya senantiasa dimiliki oleh para Insinyur. Menyampaikannya agar diketahui oleh masyarakat luas merupakan hal lain yang juga penting. Bila hal ini tercapai, maka bukan saja kepuasan batin para Insinyur terpenuhi, namun masyarakat luas akan senantiasa mengenang karya adiluhung para Insinyur.

Jadi jelaslah sudah bahwa berfilsafat bukan hanya untuk para empu yang rindu kebenaran sejati, namun Insinyur pun dianjurkan untuk senantiasa berfilsafat. Mencari jawab atas fenomena alam, selalu merasa dahaga untuk mereguk ilmu pengetahuan agar lebih mumpuni, tidak enggan untuk berkontemplasi menggali ide-ide baru, menggumuli teknik-teknik baru guna mencipta karya-karya keinsinyuran yang bersifat breakthrough bagi kemaslahatan manusia, menghindar dari membuat karya yang berpotensi memunahkan peradaban manusia. Insinyur berfilsafat bukan sebuah utopia yang mubazir, ia merupakan kegiatan yang wajar belaka, bahkan wajib.

baca juga

ingin komentar

Comment