Rayap : Pangan Sumber Protein

Aries R. Prima – Engineer Weekly

Selain sebagai kawasan lindung dan penghasil tanaman industri, saat ini hutan juga dapat berperan sebagai sumber pangan. Salah satunya dengan mengolah rayap (infraordo Isoptera), yang jumlahnya berlimpah di hutan untuk dijadikan bahan makanan yang kaya protein.

Upaya ini digagas oleh Edhi Sandra, seorang pengajar di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang melihat potensi pemanfaatan dalam pengembangan “Mega Biodiversity” Indonesia sebagai sumber bahan organik yang tidak ternilai.

Awalnya ide ini muncul ketika Edhi berkesempatan berkunjung ke pasar tradisional di Thailand dan menyaksikan banyak sekali makanan yang berasal dari ulat bambu, belalang, cacing, lipan, ulat sagu, laron, hingga kalajengking. “Kita juga bisa menggunakan dan mengolah pangan yang kaya protein dari berbagai binatang itu yang berlimpah di sekitar kita,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa sebetulnya ini bukan makanan aneh untuk kita, terutama suku Jawa yang dikenal sudah mengonsumsi laron. Di IPB sendiri pernah dibuat permen dengan rayap sebagai salah satu bahan pembuatnya.

Dalam prosesnya, pada tahap awal, harus diseleksi hewan apa saja yang bisa dimakan, tidak beracun, dan juga diperbolehkan dimakan oleh penganut agama tertentu. Untuk tahap ini bisa dilakukan pendekatan ilmiah maupun empiris (telah dilakukan turun-temurun). Kemudian, pada proses pengolahannya, harus dilakukan pencegahan kontaminasi mikroba yang bersifat toksik. Artinya proses harus dilakukan di lingkungan bersih atau steril.

Sering terjadi kesalahan persepsi di masyarakat awam bahwa mikroba akan mati dengan hanya memasak atau menyeduh bahan makanan tersebut. Hal ini tidak tepat, karena ada beberapa jenis mikroba yang tidak mati dengan proses tersebut. Biasanya digunakan autoclave untuk membuat steril bahan makanan dengan baik.”Materi ini saya berikan kepada mahasiswa bidang konservasi yang berkaitan dengan pemanfaatan biodiversity. Dan juga kepada siswa SMK yang melakukan praktik kerja di Esha Flora,” jelas Edhi. Berbagai produk pangan inovatif telah dihasilkan oleh Esha Flora, lembaga yang didirikan Edhi bersama istrinya pada tahun 2000. Salah satunya adalah telur dadar rayap. “Rasanya seperti rebon,” begitu tambahnya.

Selain itu rayap ini bisa disubtitusi ke dalam berbagai bentuk makanan, seperti bubur, biskuit dan dodol. Artinya, kandungan protein makanan tersebut akan meningkat dengan harga yang relatif murah dan aman dimakan.

Masih banyak yang dapat dikembangkan dan dapat dikonversi ke berbagai produk pangan, pakan dan pupuk organik yang dapat menjadi sumber pemasukan baru. Ke depannya, budidaya rayap ini diharapkan akan berkembang, bahkan dalam skala industri.

baca juga

ingin komentar

Comment