Pyramid

Widiadnyana Merati

Dalam pembicaraan-pembicaraan tentang sejarah perkembangan ilmu teknik sipil, tidak dapat disangkal bahwa bangunan Pyramid di Mesir adalah salah satu tonggak pertama terpenting dalam penerapan ilmu teknik sipil dalam pembangunan.

Bangunan Pyramid yang berjumlah lebih dari 80 buah (yang diketahui sampai hari ini), tersebar di padang pasir yang terletak di sebelah barat sungai Nil. Dibangun pada bentang tahun-tahun sekitar 2500 SM, tepatnya pada masa Kerajaan Tua Mesir, yaitu pada tahun 2686 – 2181 SM. Pyramid-pyramid yang terbesar ada 3 , yaitu : pyramid Cheops yang tertinggi (tinggi 481 kaki, atau 146,7 m) , kemudian pyramid Chephren (Khafre) yang tingginya 22 kaki (6,65 m) lebih pendek dari Cheops, akan tapi secara volume 15% lebih kecil, dan pyramid Mycerinus (Menkaur), yang ukurannya hanya sepersepuluh dari dua sebelumnya. Struktur-struktur megah ini membentuk monumen-monumen terbesar buatan manusia yang sangat dihormati dalam sejarah peradaban manusia.

Bagaimana membangunnya ?
Dari segi volume konstruksi, tidak ada pyramid yang lebih besar dari pyramid yang dibangun di Gizeh, yang dibuat untuk Cheops. Angka-angka berikut akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kebesaran bangunan ini. Pyramid maha besar ini dibangun di sekitar pusat gundukan batuan lokal, dengan menyusun tumpukan 2.300.000 blok batuan gamping (limestone) yang membentuk pyramid. Berat rata-rata tiap blok adalah 2,5 ton, sehingga untuk seluruh pyramid ini membutuhkan 6,5 juta ton batu. Seorang ahli matematik dari Perancis mengatakan, bahwa jumlah seluruh blok batu yang membentuk tiga pyramid terbesar ini cukup untuk membangun tembok berukuran tinggi 3 m, dan tebal 30 cm, mengelilingi seluruh wilayah daratan Perancis!

Geometri pyramid ini mempunyai dasar berbentuk bujur sangkar, dengan sisi 756 kaki (230,58 m), dan dengan tinggi 481 kaki (146,7 m). Walaupun ukuran geometri bangunan ini demikian besar, akan tetapi yang lebih menakjubkan adalah ketelitian pelaksanaannya. Perbedaan panjang sisi-sisi bujur sangkar yang merupakan dasar pyramid hanya 8 inchi (20,32 cm), yang berarti kesalahannya hanya 1 : 1.134. Kesalahan dalam ukuran sisi bujur sangkar ini menimbulkan kesalahan sudut-sudut bujur sangkar sekitar 3,5 “ (satuan sudut), kesalahan 1 : 1.500. Kerataan dasar bangunan juga sangat mengagumkan, yaitu selisih ketinggian keempat sudut bujur sangkar dasar bangunan yang terbesar adalah ½ inchi (12,7 mm), yang berarti kesalahannya hanya 1 : 18.000.

Bagaimana ketelitian konstruksi yang demikian akurat dapat dicapai dengan peralatan-peralatan yang masih sangat sederhana itu dapat dilakukan pada saat itu ? Berbagai penelitian arkeologi memperkirakan hal-hal yang telah dilakukan adalah seperti yang tertulis di bawah ini.

Untuk mendapatkan kerataan dasar bangunan, mula-mula digali cekungan di seluruh permukaan dasar bangunan, sehingga permukaannya sedikit lebih rendah dari sekitarnya, kemudian pada cekungan tersebut digali jaringan saluran yang berhubungan satu sama lain. Saluran ini kemudian dialiri air, sehingga seluruh jaringan saluran tergenang dengan ketinggian air yang sama. Kemudian dasar pyramid diukur dengan kedalaman yang sama di setiap saluran, dan akhirnya dasar pyramid didapat dengan menggali seluruh tanah yang membentuk jaringan saluran tersebut dengan kedalaman yang sama.

Kemiringan façade pyramid pada umumnya adalah 52⁰ terhadap garis horizontal, kecuali 2 pyramid, berkemiringan 43,5⁰. Pertanyaan timbul, bagaimana kemiringan demikian dapat dibuat, dengan ketepatan yang sangat tinggi, dan dikerjakan berulang kali dalam rentang waktu ratusan tahun. Penjelasan para arkeolog adalah sebagai berikut. Pengukuran jarak, pada saat itu, dilakukan dengan sebuah drum dengan diameter (d) tertentu, digelindingkan, sehingga jarak dinyatakan dalam jumlah (n) putaran gelindingan. Untuk mendapatkan kemiringan 52⁰ (lihat gambar ilustrasi), mereka mengukur panjang setengah sisi dasar pyramid (b), katakanlah panjangnya adalah n kali putaran drum. Tanpa mengetahui besaran bilangan Yunani π, mereka telah mengukur panjang setengah sisi bujur sangkar, b = n x π x d. Kemudian, untuk mendapatkan tinggi pyramid (h), para ahli bangunan pyramid Mesir secara turun temurun menggunakan rumus, h = 4 x n x d (kemiringan 52⁰), atau h = 3 x n x d (kemiringan 43,5⁰). Untuk mendapatkan kondisi tegak lurus, mereka sudah mengenal hukum segitiga siku-siku, yaitu perbandingan panjang sisi-sisinya adalah 3 : 4 : 5, yang ribuan tahun kemudian Pythagoras menemukan rumus yang lebih umum dari segitiga siku-siku dengan panjang sisi-sisi siku-siku a, b, dan sisi miring c, yaitu, c2 = a2 + b2 !

Dari ilmu trigonometri, sudut kemiringan façade pyramid α dapat dihitung dari tg α = h/b = 4nd/nπd = 4/π, dimana hasilnya α = 52⁰, sedangkan jika h = 3nd, tg α = 3/π, yang menghasilkan α = 43,5⁰

Itulah sebagian kecil dari cuplikan teknologi konstruksi pyramid yang dapat disampaikan pada tulisan ini, masih banyak hal-hal menakjubkan yang dapat dipelajari, ataupun masih misteri, seperti misalnya: pemilihan, pengambilan, dan transportasi material; organisasi ribuan pekerja, pembiayaan, penjadwalan. Masalah kerekayasaan lain seperti daya dukung tanah dasar, stabilitas bangunan, ereksi, sampai pada keamanan ruang penyimpanan jenazah yang diproteksi dari kemungkinan gangguan-gangguan luar.***

baca juga

ingin komentar

Comment