Profesi Insinyur dan Kepariwisataan

Mesdin Simarmata, PhD.

Dalam struktur Pengurus Pusat PII Tahun 2015-2018, terdapat Bidang Pengembangan Industri Pariwisata. Sejenak, kedengarannya aneh. Tetapi kalau kita simak sejarah industry pariwisata, profesi insinyiur telah lama menapakkan jejaknya. Objek rekreasi buatan tertua adalah Roller Coaster yang dibangun pada tahun 1784 di St Petersburg – Rusia saat pemerintahan Katarina Agung. Kemudian, seorang insinyiur bernama Gustave Eiffel merancang menara yang pada mulanya ditawarkan ke kota Barcelona,namun ditolak namun akhirnya diterima kota Paris.

Menara Eiffel adalah bangunan tertinggi di Paris dan salah satu struktur terkenal di dunia, yang sejak pendiriannya telah dikunjungi lebih dari 200 juta orang. Untuk mengimbangi Menara Eiffel, George Washington Gale Ferris, Jr. membangun bianglala yang dinamakan Chicago Wheel sebagai atraksi terbesar di World’s Columbian Exposition in Chicago, Illinois pada tahun 1893 yang selanjutnya dikenal dengan Ferris Wheel. Ferris adalah insinyiur lulusan Rensselaer Polytechnic Insitute – New York. Sejak saat itu, kita menemukan banyak objek wisata buatan yang menjadi tujuan wisata dunia. Walt Disney dapat dikatakan sebagai landmark engineering artifact. Berbagai atraksi baru muncul, seperti kora-kora, roller coaster, anting-anting yang umumnya memberi tantangan dan memacu adrenalin.

Di Indonesia sendiri sudah berkembang, sudah ada Taman Impian Jaya Ancol yang menjadi rumah bagi berbagai artefak rekresi yang disebut di atas. Demikian juga Trans Studio di Bandung. Jembatan Kelok Sembilan Sumatera Barat sebenarnya dirancang sebagai solusi transportasi antara Bukit Tinggi dan Pekanbaru. Namun karena indah, jembatan ini sudah banyak diminati pelancong. Perluj uga dicatat bahwa monorail dan kereta gantung yang ada di Taman Mini Indonesia adalah alat transportasi kota yang paling maju saat itu. Kedua wahana ini termasuk yang banyak diminati pengunjung. Indonesia memang kaya dengan alam yang indah, namun bila hanya mengandalkan itu, daya saing wisata tanah air tidak akan berkelanjutan. Perlu dilengkapi dengan artefak buatan.

Semua objek wisata buatan ini menuntut kompetensi keinsinyuran yang sangat tinggi, tuntutan utama adalah keselamatan. Sehingga, kompetensi dan etika perlu ditempatkan pada neraca yang seimbang.

baca juga

ingin komentar

Comment