POSISI KONTRAKTOR EPC INDONESIA DALAM KOMPETISI DI ASEAN

Kunto Nugroho

PT Taji Engineering Utama

Beberapa kontraktor lokal besar sudah menggarap berbagai macam proyek, dari proyek sederhana sampai yang besar, dan dengan cakupan pekerjaan yang sangat beragam, dari industri umum, industri proses, petrokimia, fasilitas perminyakan (produksi/pengolahan) baik di darat maupun lepas pantai. Itu semua merupakan pengalaman dan memberikan nilai tambah yang bagus buat kontraktor kita, apalagi proyek-proyek tersebut dikerjakan di lokasi yang berbeda dan punya karakteristik alam yang beragam, baik di Indonesia, maupun di luar negeri.

Keberhasilan mengerjakan proyek-proyek tersebut diatas adalah satu prestasi dan bernilai kompetisi yang baik bagi pemain-pemain lokal. Namun, itu tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya dari kontraktor-kontraktor Indonesia secara umum, karena banyak pelaku usaha lokal lainnya yang tidak mendapat kesempatan dan tidak punya kemampuan yg sama. Demikian pula dalam mengeksekusi proyek-proyek tersebut, beberapa kontraktor lokal masih perlu melakukan kerja sama dengan mitra asing  guna meningkatkan nilai kompetisinya. Data yang ada bahkan menunjukkan bahwa proyek-proyek besar di beberapa sektor masih didominasi oleh kontraktor asing. Artinya porsi pekerjaan kontraktor lokal masih terbatas.

Persaingan di ASEAN

Bagi konsumen di Indonesia, manfaat yang diterima dengan dimulainya MEA sejak beberapa bulan lalu adalah mendapatkan lebih banyak pilihan, karena kompetisi yg lebih ramai membuat para pemberi jasa saling bersaing, yang pada akhirnya membuat konsumen bisa mendapatkan harga jasa yang lebih murah serta mutu pekerjaan yg lebih baik dari kontraktor yang terseleksi. Bagi tenaga kerja Indonesia, arus jasa tenaga kerja di kawasan ASEAN ini akan memberikan pilihan pekerjaan yang beragam, karena lapangan pekerjaan semakin terbuka dan luas. Selain berkesempatan bekerja didalam negeri (pada perusahaan domestik atau perusahaan PMA), para pekerja kita pun memiliki pilihan bekerja di negara ASEAN lainnya, terutama tenaga ahli yang berkemampuan baik.

Sedangkan bagi pengusaha atau kontraktor lokal, MEA akan membuka pasar di ASEAN yang membuat potensi proyek akan semakin bertambah, jumlah pengguna jasa/potential customer akan meningkat, tidak hanya dari dalam negeri, karena proyek-proyek internasional di kawasan regional ini sudah terbuka untuk digarap.

Namun, selain manfaat dan tantangan, beberapa kelemahan serta ancaman yang ada, harus juga diperhatikan. Pertama, peringkat daya saing nasional yang masih lemah yang disebabkan antara lain oleh kemampuan kontraktor lokal yang belum merata, masuknya pekerja ASEAN dengan kemampuan berbahasa Inggris yang lebih baik, plus maraknya kontraktor asing yang melakukan penetrasi di Indonesia yang memang masih besar pasarnya., serta dominasi kontraktor PMA dengan kemampuan teknis yang rata-rata lebih baik, didukung keuangan yang memadai, perangkat lunak yang lengkap dan terbaru, serta mendapat dukungan dari perusahaan induknya yang berada di luar negeri.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, diperlukan berbagai langkah yang sepertinya sudah mutlak harus dijalankan. Langkah-langkah tersebut antara lain adalah meningkatkan promosi atas kemampuan para kontraktor lokal ke dalam maupun ke luar negeri, harus bisa menggambarkan bahwa kontraktor kita sudah mampu mengerjakan berbagai proyek. Kemudian harus mengaktifkan peran asosiasi, antara lain agar asosiasi menyediakan data-data dari kemampuan nyata anggotanya, yang selama ini mungkin tidak diperbarui dan belum digunakan secara maksimal.

Selain itu diperlukan berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan kontraktor itu sendiri, dan bergabung sesama kontraktor lokal guna memenuhi persyaratan suatu proyek, agar membentuk satu sinergi yang lebih kuat, serta meningkatkan kemampuan SDM kita melalui pelatihan-pelatihan yang tepat dan menggiatkan kontribusi perusahaan/kontraktor berpengalaman guna ikut membagi pengalaman dan memberikan pelatihan yang berguna kepada SDM ataupun calon sarjana kita, melalui acara-acara di kampus dan lembaga pendidikan lainnya.

Keberpihakan pemerintah kepada kontraktor lokal juga harus terus ditumbuhkan dengan cara antara lain memberikan informasi awal tentang rencana pembangunan ke depan, agar konsep pengembangen perusahaan lokal bisa mengarah sejalan dengan kebutuhan di masa depan.

Yang terakhir adalah meminta pemerintah/kementrian terkait untuk memerhatikan usulan-usulan yang sudah beberapa kali diajukan oleh berbagai lembaga independen, menetapkan standar kontrak yang berlaku umum paling tidak pada sektor yang sama, melakukan penyederhanaan aturan, dan membuat petunjuk teknis lintas kementrian yang sejalan dengan aturan yang berlaku.***.

baca juga

ingin komentar

Comment