PERANCANGAN BANGUNAN HIJAU

Endy Subijono, IAI, AA

Bangunan hijau, juga dikenal sebagai bangunan ramah lingkungan, secara umum adalah bangunan yang dirancang dan dibangun dengan memperlakukan sumber daya alam dengan hemat dan efisien.

Ini bukan sebuah cerita baru dalam dunia rancang bangun, hanya sekarang jauh lebih diperhatikan karena berkurangnya sumberdaya alam. Bangunan hijau bahkan sudah dimulai sejak akhir abad 19, dimana “hijau” dipahami dengan menggunakan material alam, daur ulang dan penghematan energi. Pada saat ini, kesadaran global tentang lingkungan hidup, khususnya dalam bidang arsitektur dan rancang bangun, meningkat dengan tajam. Gerakan hijau berkembang pesat tidak hanya melindungi sumberdaya alam, tetapi juga pada implementasinya dalam rangka efisiensi penggunaan energi dan meminimalisir kerusakan lingkungan. Perancangan bangunan hijau telah berubah, merefleksikan sikap masyarakat yang makin peduli terhadap lingkungan hidup. Demikian pula ketersediaan produk ramah lingkungan yang makin mudah diperoleh di pasar.

Secara umum perancangan bangunan hijau adalah proses mengukur dampak pada lingkungan luar bangunan dan membantu memperbaiki lingkungan dalam (bangunan). Lazimnya pada usaha perancangan ini, beberapa aspek yang diperiksa antara lain: rancangan arsitektur bangunan, metodologi membangun, material bangunan, efisiensi penggunaan energi, efisiensi penggunaan air dan life cycle ecological living.

Merancang bangunan hijau tidak terlepas dari pengaruh dimana bangunan tersebut berada. Langkah pertama yang sangat penting adalah mengenali lokasi bangunan. Hal ini mempertanyakan bagaimana kualitas lingkungan hidup di sekitar dan bagaimana kemungkinan tingkat kualitas hidup yang akan dapat dicapai. Kesadaran tentang kondisi lokasi sangat penting dalam usaha memeroleh bangunan yang ramah lingkungan, baik dalam rangka renovasi bangunan, membeli rumah ataupun membangun baru. Bangunan hijau juga tidak terlepas dari tata bangunan dan tata ruang lingkungannya. Terdapat hubungan yang saling memengaruhi antara kondisi lingkungan (kota) dengan upaya perancangan bangunan hijau. Karena tindakan pengkondisian bangunan selalu terkait dengan lokasi, maka morfologi kota, yang merupakan jalinan bangunan dan ruang-ruang terbuka, harus dapat memungkinkan usaha mengoptimalkan pengondisian bangunan.

Langkah berikutnya adalah memertimbangkan ukuran bangunan. Size Does Matter. Berlawanan dengan pandangan umum bahwa makin besar ruangan maka makin baik bagi penggunanya, terutama pada bangunan rumah tinggal, pada pendekatan bangunan hijau tidak selalu demikian. Lebih besar tidak selalu lebih baik, karena makin kecil (baca: sederhana) bangunan maka akan makin lebih baik kontrol aspek lingkungan terhadap bangunan tersebut. Pada bangunan tinggi, skala besaran bangunan dipertimbangkan terhadap ruang-ruang dalam relatif terhadap, misalnya, penggunaan cahaya alam atau, kalau memungkinkan, pemanfaatan ventilasi alam.

Tahap selanjutnya lebih bersifat teknis, yaitu memelajari alternatif metode membangun (alternatives to conventional construction methods) dan menggunakan material yang tepat guna (wise uses of materials).

Biaya awal membangunan bangunan hijau saat ini masih lebih mahal dibandingkan dengan bangunan biasa (10-11% di Indonesia, 3-4% di negara tetangga), tetapi diimbangi dengan biaya operasional bangunan yang lebih hemat. Dengan demikian perancangan bangunan hijau meliputi juga perhitungan ekonomis selama bangunan beroperasi. Oleh karena itu dapat dimengerti bahwa merancang bangunan hjau adalah sebuah proses menciptakan bangunan yang lebih baik, dan terus makin baik. Secara arsitektur menyenangkan, diterima secara sosial, memenuhi perhitungan ekonomis, dan bersahabat dengan lingkungan.

baca juga

ingin komentar

Comment