Penurunan Harga Migas, Untuk Siapa?

Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, IPU
Praktisi Bisnis, WaKa-Komtap Industri Penunjang Migas Kadin Indonesia, Pengurus Persatuan Insinyur Indonesia.

Dilema. Itulah yang dihadapi masyarakat dunia umumnya dan Indonesia pada khususnya sehubungan dengan penurunan harga minyak dan gas bumi. Sebagaimana publik telah mahfum, sejak akhir tahun 2014 hingga sekarang ini trend penurunan harga minyak mentah (crude oil) terus berlangsung, dari semula mendekati $100 per barel, terus meluncur turun hingga pernah mencapai $27 per barrel. Tanda-tanda kenaikan pernah muncul, namun berhenti di kisaran $32. Sebagian praktisi dan ekonom migas memprediksi kenaikan kembali harga minyak mentah hingga mencapai posisinya seperti di awal 2015 belum terwujud hingga akhir 2016. Kondisi semacam ini menimbukan pertanyaan, untuk siapa penurunan harga migas ini? Siapa yang dirugikan dan diutungkan? Apa dampak terhadap perekonomian Indonesia dalam jangka pendek dan panjang?

Produksi Bertambah, Semakin Merugi
Dalam suatu presentasi publik beberapa waktu lalu, Kepala SKK Migas Amin Sunaryadi menayangkan rerata biaya produksi minyak di berbagai negara, paling rendah dimiliki negara-negara Timur Tengah berkisar antara $6 – 12 per barrel. Indonesia $29 per barrel. Artinya, bagi negara – negara Timur Tengah penghasil minyak seperti Arab Saudi, Emirat Arab, Irak, Iran Oman, meski harga turun hingga $27 secara teoretis mereka masih meraih untung. Makanya, terlepas dari alasan politik dan keamanan regional, mereka terus memompa minyak dari perut bumi. Sebaliknya bagi Indonesia, semakin banyak berproduksi, rugi yang ditanggung akan semakin besar.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa terhitung mulai awal Maret 2016 kegiatan eksplorasi minyak bumi di hampir semua Kontraktor Production Sharing Company (PSC) dihentikan. Jika data yang kami miliki tak keliru, saat ini tinggal 1 (satu) rig pengeboran (drilling rig) yang masih aktif beroperasi, itupun konon akan segera diakhiri. Bagi Kontraktor PSC, jelas penurunan harga minyak merupakan bencana. Komitmen lifting tak akan terpenuhi, investasi yang bersumber dari hutang kepada perbankan beresiko tak akan kembali, atau mungkin bahkan alami default. Lebih jauh, perusahan tidak beroperasi penuh, atau bahkan tutup sama sekali, pemutusan hubungan kerja terhadap para pegawai membayangi di hari-hari kelabu ini.

Band Wagon Effect
Apakah bencana ini hanya dialami oleh Kontraktor PSC? Ternyata tidak. Ada band wagon effect. Industri penunjang operasi dan produksi Migas merupakan sektor kedua yang terkena efek penurunan harga minyak bumi. Untuk dapat beroperasi dengan baik, Kontraktor PSC membutuhkan dukungan dan kemitraan dengan penyedia barang dan atau jasa yang bentuk dan jenisnya luas sekali, mulai dari jasa geologi, pengeboran, Engineering Procurement Construction (EPC), fabrikasi, penyedia komponen utama produksi seperti pompa, pipa, valve, pembangkit listrik, jasa transportasi, pengelasan, pelatihan SDM, jasa medis, dan perawatan fasilitas produksi hingga penyediaan akomodasi dan makanan-minuman (catering) untuk para pegawai. Mereka semua ini, besar atau kecil, dalam skala usaha masing-masing, terkena dampak. Sebagian dari mereka terpaksa gulung tikar, sebagian lainnya masih bertahan karena keberadaannya tidak bisa absen dari proses produksi yang masih berlangsung, dan sebagian lagi mulai alihkan bisnis ke sektor lain yang masih memberi harapan.

Mereka Gembira
Bila ada yang kesusahan, mungkinkah ada pihak yang bahagia dengan adanya penurunan harga minyak bumi ini? Semua manusia membutuhkan energi. Ketika harga minyak turun, harga energi juga turun. Apalagi bagi Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan minyak bumi, pasokan dari impor lebih besar dari pada pasokan produksi dalam negeri. Wal hasil, rumah tangga dan industri pengguna minyak bumi diuntungkan. Sebagai konsumen Bahan Bakar Minyak (BBM), rakyat senang karena harganya turun, industri nonmigas tersenyum karena biaya produksi terpangkas antara 3-8%.

Namun benarkah kegembiraan ini sudah sepenuhnya dirasakan? Belum. BBM merupakan komoditi yang harganya diatur Pemerintah. Meski harga pasar dunia menurun tak berarti harga di SPBU otomatis juga menurun. Ada regulasi koreksi harga yang mestinya secara semi otomatis menghasilkan koreksi harga. Inipun masih dipengaruhi oleh ada tidaknya keengganan penyedia BBM untuk melaksanakannya atau menundanya sepanjang masih memungkinkan.

Solusi Kebijaksanaan
Penurunan harga minyak bumi secara bersamaan memberi dua implikasi, ada yang alami bencana, dan ada yang gembira. Hanya itu? Masih ada yang lain. Jika mencermati kondisi di sekeliling kita, rasanya penurunan harga minyak tidak atau belum meresahkan masyarakat luas. Jikapun ada keresahan, masih terbatas pada mereka yang berhubungan langsung dengan industri minyak bumi. Buktinya, mall masih ramai, jalanan tak berkurang macetnya, perbincangan di media sosial lebih banyak tentang isu-isu politik dan hal-hal sepele lainnya. Semua ini mengindikasikan bahwa perekonomian Indonesia sudah tidak lagi didominasi oleh produktivitas sektor migas. Kebijaksanaan ekonomi pemerintahan di masa lalu, untuk tidak mengandalkan pada sektor migas, telah berhasil di masa kini.

Jika demikian, apakah kita akan membiarkan saja penurunan harga minyak bumi? Toh ada yang berbahagia dan ada yang berhasil? Lihat sisi jangka panjangnya. Membiarkan harga minyak bumi terus berada pada posisi yang tidak memberi keuntungan bagi para produsennya, sama saja memotong satu anggota badan. Sebagai manusia, kita masih tetap hidup, tetapi alami disfungsi. Begitupun negara ini, satu sektor akan alami disfungsi. Ketergantungan energi kepada negara lain akan lebih besar, ditinjau dari perspektif geopolitik, negara akan hadapi ancaman serius.

Siapa yang punya kemampuan untuk menyelamatkan keluar dari dilema ini? Pertama tentu para pelaku industri migas sendiri. Pola kerja tidak efisien yang diduga masih menjadi ciri selama ini perlu segera diperbaharui. Kedua, perlu keterlibatan serius dari Pemerintahan yang dipilih oleh rakyat. Apa yang diharapkan dari Pemerintah? Segera gunakan kewenangannya untuk terbitkan kebijaksanan intervensi, menetapkan harga crude oil nasional. Harga yang memberi motivasi positif untuk berproduksi dan terjangkau oleh konsumen BBM nasional. Lho, harga minyak kan ditentukan oleh mekanisme pasar? Betul, tetapi ini urusan hidup mati negara, bangsa dan rakyat, kita sendiri yang mengaturnya, bukan pemimpin negara lain. *****

*)

baca juga

ingin komentar

Comment