Pentingnya perusahaan dalam negeri menguasai kemampuan EPC di sektor minyak dan gas bumi

Widjaja S Sumarjadi

Seperti yang kita semua tahu, Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber daya alam diantaranya minyak dan gas bumi. Sejak awal tahun 70’an, minyak dan gas bumi telah menjadi andalan pendapatan Negara dan telah menjadi penopang ekonomi Indonesia.

Di awal era 70’an itu banyaknya perusahaan asing masuk membangun fasilitas pengolahan minyak dan gas di Indonesia karena keahlian ini adalah baru untuk masyarakat kita.

Kemudian ada beberapa perusahaan dalam negeri yang berkecimpung dalam dunia EPC di bidang minyak dan gas bumi, a.l Tripatra, IKPT, Rekayasa yang muncul pada masa tersebut.  Tetapi setelah lebih dari 40 tahun era booming minyak dan gas bumi tidak banyak perusahaan EPC minyak dan gas bumi yang tumbuh di Negara sendiri selain pemain sebelumnya. Artinya tumbuh menjadi ujung tombak dalam proyek EPC, menjadi leader dari consortium.

Memang menjalankan kontrak EPC ini tidaklah mudah. Teknologi tinggi di sektor minyak dan gas bumi, permodalan yang besar dan persyaratan global lainnya didalam industri menjadi suatu tantangan tersendiri bagi pemain dalam negeri. Tantangan inilah yang seharusnya dilihat sebagai encouraging factor bukan sebagai discouraging factor. Banyaknya lulusan berbagai jurusan teknik yang tidak bekerja di bidang teknik belum lagi yang tidak dalam bidang minyak dan gas, membuat sumber daya menjadi sangat terbatas. Dengan ini marilah kita ber-sama2 mengajak para mahasiswa teknik untuk nantinya bekerja di bidang ke-teknik-an.

Pertanyaannya adalah: Apa yang membuat para insinyur tertarik untuk bekerja di EPC bidang minyak dan gas ?

Pertama adalah membangun rasa bangga sebagai insinyur yang notabene adalah ahli teknik untuk bisa bekerja menerapkan secara langsung keahlian tekniknya. Tahap pertama dari pekerjaan EPC adalah Engineering dimana disinilah awalnya para insinyur berkreasi dengan terapan tekniknya. Tahapan selanjutnya adalah  Procurement yang mewujudkan hasil kreasinya dari atas kertas gambar maupun perhitungan teknis menjadi barang nyata a.l pipa,  pipe rack, peralatan proses – heat exchanger, pressure vessel, turbine generator, compressor dll., MCC dan switchgear, serta control instrumentnya. Kemudian diikuti dengan melakukan instalasi barang2 tersebut di lapangan, yang akhirnya setelah mechanically complete, fasilitas tsb siap di commissioning dan start up.

Adalah suatu kebanggaan bagi para insinyur dari berbagai disiplin itu yang terlibat dapat melihat barang atau fasilitas nyata bagian dari hasil karyanya. Mereka berhasil membangun fasilitas pengolahan minyak dan gas bumi yang beroperasi secara komersial dan mendatangkan revenue bagi Indonesia.

Kedua adalah bagaimana agar pemerintah melakukan rencana jangka panjang dengan eksplorasi sumber daya alam agar proyek di dalam negeri bisa berkesinambungan. Berkesinambungan ini perlu agar ada suatu jaminan pekerjaan atau karir para insinyur dalam bidang ini.

Kebijakan pemerintah yang affirmative pro-nasional juga sangat diharapkan agar perusahaan EPC dalam negeri bisa tumbuh dan jangan sampai layu sebelum berkembang.

Kalau  perusahaan2 EPC ini sudah kuat , mereka bisa pergi keluar untuk mencari proyek sejenis diluar negeri sehingga insinyur Indonesia bisa berkreasi di kancah global yang pada akhirnya bisnis model ini akan membawa devisa bagi Negara.

baca juga

ingin komentar

Comment