Peningkatan Pengetahuan Dan Keahlian Untuk Mendukung kesuksesan perwujudan Smart Cities Di China

Liliana Djamaluddin

China, saat ini merupakan salah satu negara termaju di kawasan Asia selain Jepang, Korea dan Singapura. Bukanlah hal yang mudah mengelola negara dengan jumlah penduduk paling banyak, bukan hanya di bandingkan dengan 3 negara lain yang disebutkan di atas, tapi paling banyak di dunia.

Akibat cepatnya pertumbuhan jumlah penduduk, menyebabkan terjadinya urbanisasi besar-besaran yang dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup dan ini berarti menambah beban kota-kota besar . Peningkatan populasi di kota-kota besar telah menyebabkan kepadatan kota yang kemudian berdampak pada tingginya tingkat polusi dan terjadinya kekurangan sumber daya seperti lahan, ruang, energi dan sumber/pasokan air bersih. Pemerintah China menganggap sangatlah sulit untuk mengatasi masalah ini dengan teknik dan metode pengelolaan kota secara tradisional. China merasa ada keterdesakan untuk segera mencari cara penyelesaian persoalan ini dengan belajar dari pengalaman negara-negara maju lain dan mencari metode khusus yang sesuai dengan karakteristik persoalan di negara ini dalam melakukan pendekatan perencanaan, cara pengelolaan, dan cara memprediksi dampaknya, untuk menyelesaikan persoalan kota-kota besar di China.

Krisis ekonomi dunia yang terjadi pada tahun 2008, merupakan krisis keuangan terburuk yang terjadi sejak krisis ekonomi dunia yang dikenal sebagai The Great Depression pada tahun 1930an. Krisis ini turut berdampak pada perekonomian China.

Untuk merespon keadaan di atas, pada tahun 2008 pemerintah mulai mempelajari konsep ‘Smarter Planet’ yang diajukan IBM dan bekerja sama untuk membuat rencana pengembangan teknologi dan inovasi baru untuk mewujudkan ‘Smart City’ sebagai langkah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang sangat membebani kota-kota besar ini. Pada tahun 2009, setelah melakukan pengkajian dan sosialisai melalui serangkaian pertemuan pada forum-forum diskusi dengan melibatkan 200 walikota dan hampir 2000 kota di China, istilah Smart City mulai di terima secara luas di China. Pada tahun 2013, 193 kota di China sudah ditetapkan sebagai pilot project Smart City. Langkah ini dipandang sebagai strategi kunci untuk memajukan industrialisasi, ketersediaan dan kemudahan mendapatkan dan menggunakan informasi, pengendalian urbanisasi serta moderenisasi pertanian.

Keberhasilan pengembangan dan terselenggaranya Smart City ini tak luput dari kerjasama dan peran berbagai pihak yang terlibat termasuk pemerintah, pasar dan masyarakat dalam satu atau lebih dari 4 lapisan yang telah dicanangkan yaitu sensor layer, network layer, platform layer dan application layer.

Para profesional dan tenaga ahli yang merupakan aktor yang turut berperan dalam pengembangan Smart City tentu membutuhkan peningkatan pengetahuan dan keahlian melalui pendidikan berkelanjutan. Untuk itu pada tahun 2015 pemerintah, baik pusat maupun daerah, membuat regulasi dan kebijakan sebagai landasan bagi perumusan pendidikan berkelanjutan untuk para professional dan tenaga ahli ini.

Proyek-proyek yang kemudian dibentuk untuk memperbarui dan meningkatkan pengetahuan dari professional dan tenaga ahli ini merupakan proyek berskala nasional. Berbagai program untuk pelatihan dilakukan, mulai dari program pelatihan bagi profesional untuk pemenuhan suplai jangka pendek atau untuk kebutuhan mengisi posisi tertentu, on-job training program, sampai high level training program, hingga pengadaan pusat-pusat pendidikan berkelanjutan bagi professional dan tenaga ahli.

Untuk mensukseskan program-program ini dibentuklah sistem pelayanan publik bagi pendidkan berkelanjutan untuk professional dan tenaga ahli. Pelayanan yang di sediakan berupa jaringan, produk, pendidikan secara on-line dan National and International Exchange Platforms.

Dalam bidang enjinering, asosiasi yang dilibatkan dalam pelaksanaan pendidikan berkelanjutan ini termasuk didalamnya adalah CACEE (China Association for Continuing Engineering Education) yaitu sebuah lembaga yang didirikan pada tahun 1984 di bawah Kementerian Sumber Daya Manusia dan Keamanan Masyarakat, yang merupakan organisasi sosial berskala nasional yang mengkhususkan dalam memperkenalkan keberlanjutan pendidikan.

Peningkatan pendidikan berkelanjutan bagi professional dan tenaga ahli terus dilakukan untuk merangsang timbulnya ide-ide baru untuk menyelesaikan persoalan yang ada, menambah investasi untuk pengembangan program, menambah jumlah institusi yang terlibat, menyiapkan dan menyempurnakan kerangka hukum, meningkatkan Quality Control terhadap sistem yang ada, peningkatan Infrastruktur yang telah ada guna mendukung kesuksesan pengembangan Smart City di China.

Peningkatan pendidikan berkelanjutan bagi professional dan tenaga ahli terus dilakukan untuk merangsang timbulnya ide-ide baru untuk menyelesaikan persoalan yang ada, menambah investasi untuk pengembangan program, menambah jumlah institusi yang terlibat, menyiapkan dan menyempurnakan kerangka hukum, meningkatkan Quality Control terhadap sistem yang ada, peningkatan Infrastruktur yang telah ada guna mendukung kesuksesan pengembangan Smart City di China.

baca juga

ingin komentar

Comment