PENGELOLAAN LIMBAH B3

Ir. Muhammad Yusuf Firdaus, IPP*)
Senior Technical Engineer, PT PPLi

Semakin kompleksnya kegiatan yang dilakukan oleh manusia menyebabkan semakin banyaknya timbulan limbah yang dihasilkan. Laju pertumbuhan limbah saat ini bahkan sudah melampaui laju pertumbuhan penduduk. Jika dalam dunia medis dan ilmu kependudukan dikatakan bahwa laju pertumbuhan manusia sedemikian pesatnya, di mana terdapat dua bayi lahir setiap detiknya, maka laju pertumbuhan limbah lebih pesat lagi dari itu, karena setiap satu manusia lahir maka akan dihasilkan 2-3 item limbah yang ikut dihasilkan selama proses kelahirannya. Di antara sekian banyaknya limbah yang dihasilkan beberapa di antaranya ada yang berbahaya dan beracun, yang umum dikenal sebagai limbah B3. Tidak hanya mencemari lingkungan, limbah ini juga dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan manusia serta makhluk hidup lainnya, sehingga harus dikelola dengan baik dan benar.

Sesuai dengan amanat UU 32/2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup, pengelolaan limbah B3 merupakan tanggung jawab pihak yang menghasilkannya. Namun kegiatan ini memerlukan teknologi dan tenaga ahli yang khusus sehingga bisa jadi membebani penghasil jika melakukannya sendiri. Oleh sebab itu Pemerintah memberikan kebijakan kepada para penghasil untuk menyerahkan kegiatan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya kepada pihak lain, dalam hal ini ialah fasilitas jasa pengelolaan limbah B3 yang berbadan hukum dan memiliki izin operasional dari Pemerintah, jika tidak mampu melakukannya sendiri, kecuali untuk kegiatan pengurangan.

Tata laksana pengelolaan limbah B3 oleh suatu fasilitas pengelolaan limbah B3 berbeda dengan dan lebih kompleks dari pada pengelolaan limbah domestik yang dilakukan oleh TPA. Jika suatu limbah domestik dapat langsung diterima oleh suatu TPA, maka hal ini tidak berlaku untuk limbah B3. Sebelum menyerahkan pengelolaan limbah B3 kepada suatu fasilitas pengelolaan limbah B3, penghasil harus terlebih dahulu melalui proses prapenerimaan (pre acceptance). Proses pra penerimaan ini bertujuan untuk memastikan karakteristik limbah B3 yang akan dibuang, pemenuhan terhadap izin yang dimiliki oleh fasilitas penerima tersebut dan bisa/tidaknya limbah tersebut dikelola sesuai dengan teknologi dan kapasita yang dimiliki oleh fasilitas penerima.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa penyerahan pengelolaan limbah B3 kepada suatu fasilitas pengelolaan limbah B3 tidak serta merta menghilangkan kewajiban penghasil atas limbah B3 yang dihasilkannya, karena sampai kapanpun limbah tersebut akan tetap tercatat sebagai milik dari si penghasil. Regulasi pengelolaan limbah B3 di Indonesiapun hingga saat ini masih ditujukan kepada pihak industri dan belum melibatkan sektor domestik/rumah tangga. Hal ini karena pengelolaan limbah B3 memerlukan perizinan yang rumit dan tidak sederhana yang hanya bisa dilakukan oleh usaha komersial, sehingga apabila diterapkan pula pada sektor domestik/rumah tangga maka akan menimbulkan suatu permasalahan tersendiri.***

baca juga

ingin komentar