PENDIDIKAN ENJINERING DI JEPANG

Liliana Djamaluddin

Pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di Jepang menjadikan negara tersebut sebagai salah satu Negara terkemuka dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia. Ekonomi Jepang memiliki ketergantungan yang sangat tinggi pada ekspor produk-produk industri berteknologi tinggi. Perindustrian berteknologi maju seperti mobil, robotik, ponsel, peralatan listrik dan sebagainya adalah bukti dari keberhasilan Jepang dalam mempertautkan pendidikan keinsinyuran dan industri. Pengembangan teknologi tinggi ini erat kaitannya dengan banyaknya riset yang dilakukan oleh sumber daya manusia  yang dimiliki Jepang dan pengembangan pendidikan keinsinyuran di Jepang.

Namun, dalam 10 tahun terakhir mulai timbul masalah terkait jumlah populasi yang terus menurun, hilangnya minat kaum muda terhadap bidang science dan teknologi, dan derasnya gempuran gelombang Globalisasi dan Diversity dalam kehidupan sosial masyarakat Jepang. Dengan semakin tingginya biaya hidup, gaya hidup dan ekspektasi yang tinggi di tempat kerja, menyebabkan generasi muda usia produktif enggan memiliki  anak atau banyak anak. Kaum muda lebih tertarik pada dunia hiburan atau mendalami industri kreatif lainnya. Globalisasi, terutama, menyebabkan banyak kaum muda yang lebih memilih untuk melanjutkan sekolah di luar negeri atau lulusan perguruan tinggi yang lebih memilih untuk bekerja di luar negeri terutama di negara-negara maju lainnya. . Ketiga hal di atas, menimbulkan masalah yang saling mengait antara satu dan lainnya.

Perkembangan pendidikan keinsinyuran Era tahun 1980an

Pendidikan bagi insinyur sangat bergantung pada Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan  atau Continuous Professionalism Development (CPD) selama masa kerja, berdasarkan aturan Lifetime Employment bagi para karyawan (karyawan seumur hidup). Namun, selama masa satu dekade terakhir abad 20, Jepang mengalami banyak perubahan drastis dalam struktur sosial masyarakatnya, akibat resesi ekonomi yang dialaminya sehingga aturan Lifetime Employment tidak lagi menjadi keharusan untuk dipenuhi.

Tren dalam Populasi Jepang

Dengan semakin majunya perkembangan ilmu kesehatan dan kesadaran masyarakat yang lebih mementingkan gaya hidup sehat, menyebabkan makin tingginya tingkat harapan hidup pada masyarakat Jepang. Pada data demografi  yang dikeluarkan per 1 Oktober 2009, populasi tertinggi bukanlah  usia produktif,  melainkan usia 60 tahun. Pada data  yang dikeluarkan 1 tahun berikutnya, terlihat jumlah populasi usia 18 tahun yang terus menurun  sejak tahun 1990, sehingga dikhawatirkan akan menjadi masalah besar bagi Jepang pada tahun 2018. Jepang akan kekurangan generasi yang mampu bermain secara global.

Anthony Bright, seorang dekan Fakultas Enjinering pada Harvey Mudd College mengatakan bahwa mereka membutuhkan banyak insinyur dari generasi baru, yang mampu berperan dalam tim global, yang menghargai dan menghormati perbedaan  profesi dan budaya yang ada.

American Society of Mechanical Engineering (ASME) juga pernah mengeluarkan pernyataan bahwa saat sistem berkembang menjadi lebih besar  dan lebih kompleks, engineering yang dibutuhkan untuk mendesain dan menghasilkan sistem tersebut juga menjadi lebih kompleks. Insinyur perlu memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik karena bila tidak, akan mereduksi sistem yang juga makin kompleks tersebut.

Dalam menanggapi perkembangan Globalisasi, Pemerintah Jepang khususnya Kementerian Pendidikan, Budaya, Olah Raga, Sains dan Teknologi Jepang MEXT, mencanangkan Top Global University Project  dalam upaya agar universitas-universitas di Jepang mampu bersaing dan menarik secara global.

Paling tidak ada empat kompetensi yang dibutuhkan bagi Global Engineer

Pertama, perlu kemampuan Global Leadership skills; suatu kemampuan untuk membangun kerjasama internasional dengan visi jangka panjang, dengan komitmen tinggi, dalam semangat  kerjasama yang positif, dan dengan a can-do attitude.

Kedua, perlunya kemampuan berkomukasi; untuk bisa mengerti dan dimengerti melalui kekuatan language skills and products dalam bidang keinsinyuran.

Ketiga diperlukan kemampuan menemukan solusi; untuk mampu mengidentifikasi masalah dan sekaligus merancang solusi berlandaskan penegakan  etika profesi.

Keempat, perlu kemampuan memahami dan menghargaiperbedaan antar budaya atau Inter-Cultural Understanding Skills; suatu kemampuan untuk menghargai perbedaan termasuk budaya orang lain.

Siswa dididik untuk memperoleh kemampuan  dasar dan didorong untuk melakukan pembelajaran aktif menggunakan sistem PBL (Project-Based-Learning)  dimana bila ada masalah diselesaikan dengan kemampuan praktis.

Biasanya perguruan tinggi teknik di Jepang menyelenggarakan pelatihan secara intensif  pada mahasiswa melalui sistem PBL untuk jangka panjang yaitu dengan mengadakan pengajaran dan  diskusi dalam kelompok  kecil bagi mahasiswa tahun ke 3 berupa Seminar, melakukan pengkajian terhadap thesis program Graduate bagi mahasiswa Senior, pengkajian Thesis Master bagi mahasiswa post-graduate, dan dengan cara yang paling efektif dan intensif menggunakan sistem PBL yang merupakan cara pendidikan orisinil Jepang.

PBL diadakan sebagai program jangka pendek untuk beberapa minggu, dimaksudkan untuk menghubungkan mahasiswa graduate dan undergraduate , fakultas, dan staff dari multi-disiplin, PBL internasional bersama universitas-universitas asing. Kemudian melakukan  evaluasi hasil pembelajaran (kemampuan umum) sebelum dan sesudah PBL. Jumlah peserta PBL mulai dengan 300 siswa pada tahun 2014, 500 siswa tahun 2015, dan diharapkan menjadi 800 peserta pada tahun 2016.***

baca juga

ingin komentar

Comment