Peluang Pengembangan Industri Komponen Kapal Nasional

 
Iskendar
Ketua BK Teknik Kelautan PII

Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia sangat relevan dengan kondisi geografis Indonesia yang berbentuk negara kepulauan, serta mempunyai letak strategis di antara dua benua: Asia dan Australia, dan di antara dua samudera: Hindia dan Pasifik. Posisi Indonesia dilalui oleh 5 jalur alur laut kepulauan Indonesia (ALKI), menjadikan alur pelayaran Indonesia sangat diperlukan bagi alur pelayaran internasional. Sehingga sudah semestinya industri maritim Indonesia, seperti industri galangan kapal, berkembang sebagaimana dibutuhkan.

Sejumlah kurang lebih 250 unit perusahaan galangan kapal nasional, dengan berbagai kapasitas produksi, tersebar di Indonesia. Total kapasitas terpasang bangunan baru sebesar 936.000 DWT (deadweight tons) per tahun, sedangkan untuk reparasi kapal 12,15 juta DWT per tahun. Pengalaman produksi kapal nasional dapat terlihat dari kemampuan Indonesia untuk membangun berbagai jenis kapal dengan berbagai ukuran, di antaranya seperti kapal-kapal Caraka Jaya 3000 – 4180 DWT; kapal kontainer 400 – 1600 TEUs; kapal penumpang PAX-500; kapal patroli cepat FPB 57 m dan 28 m; kapal ikan 400 GT; tanker 3.500 – 30.000 DWT; LPG carrier 5.600 m3; Offshore Tin Bucket Dredger 12.000 ton; bulk carrier 42.000 dan 50.000 DWT; kapal tunda 800 – 6000 HP; Ro-Ro 18.900 GT; serta berbagai tipe dan ukuran kapal lainnya.

Sayangnya, untuk pembangunan kapal baru di Indonesia, komponen kapal untuk konstruksi lambung, perlengkapan lambung dan dek, mesin penggerak , peralatan listrik, peralatan navigasi dan komunikasi, peralatan keselamatan dan pencegah pencemaran lingkungan, serta akomodasi dan perlengkapan lainnya, hampir 65 % dari total kebutuhan komponen masih diimpor dari luar negeri. Komponen kapal yang telah mampu diproduksi di dalam negeri masih terbatas pada komponen kerja desain dan pengujian model kapal; Approval & Klasifikasi BKI; Fabricated Material; Consumable Material; Pompa; dan Peralatan Electric Outfitting (IPERINDO, 2015).

Dari berbagai diskusi upaya pengembangan industri komponen kapal, dihasilkan pemikiran seperti perlunya: Kebijakan investasi dan modal kerja; Kajian skala ekonomi produksi; Kajian daya serap pasar yang harus memperhitungkan pasar global; Penciptaan kualitas produk yang berdaya saing; Sertifikasi; Kerjasama sinergitas antara pihak-pihak terkait sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya untuk saling mendukung; serta Penyelenggaraan alih teknologi. Hal-hal tersebut yang dibutuhkan menjadi langkah-langkah nyata untuk mewujudkan peningkatan peran industri komponen kapal dalam negeri, sehingga menjadi peluang berkembangnya industri penunjang galangan kapal di Indonesia.

Program Tol Laut, mendorong kebutuhan kapal baru. Kebutuhan untuk kurun waktu 2015-2019 sebanyak 83 kapal petikemas berbagai ukuran; 500 unit kapal pelayaran rakyat; 26 unit kapal perintis (Bappenas, 2015); 73 unit kapal penjaga pantai, 60 unit kapal barang, 15 unit kapal semi peti kemas, 20 unit kapal rede, 5 unit kapal ternak, 20 unit kapal kenavigasian (Kemenhub, 2015); 1 unit FLNG, 4 unit FPU, 3 unit FPSO, dan 1 unit FSO (SKK Migas, 2015); kurang lebih 3280 unit kapal ikan, 9 unit kapal pengangkut ikan, dan 1 unit kapal riset perikanan (KKP, 2015); 30 unit kapal patroli (Bakamla RI); 13 unit kapal patroli (Dit. POLAIR POLRI). Kapal juga dibutuhkan untuk pelayaran sungai, danau dan penyeberangan, untuk keperluan Hankam dalam bentuk kapal perang, kapal selam, dan lainnya. Sektor wisata bahari juga terus membutuhkan kapal di dalam kegiatannya. Kondisi ini akan memerlukan komponen kapal yang tidak kecil jumlahnya dan menjadikan peluang bagi pengembangan Industri Komponen Bangunan Kapal Dalam Negeri.***

baca juga

ingin komentar

Comment