Menuju Layanan Telekomunikasi Yang Hemat Energi dan Ramah Lingkungan

Pekik Argo Dahono
Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, ITB

Dari hasil survei di banyak negara maju, konsumsi energi di industri IT (Information Technology), telekomunikasi dan data center, berkisar antara 1- 2 persen dari konsumsi energi nasional. Besaran ini diperkirakan akan meningkat dengan cepat sejalan dengan meningkatnya penetrasi IT dalam berbagai kegiatan manusia. Dengan tingginya kontribusi IT dalam konsumsi energi, maka tinggi pula kontribusi industri IT dalam menambah jumlah CO2 di udara. Di banyak negara, termasuk Indonesia, biaya energi telah menjadi kontributor besar pada besarnya biaya operasi (OPEX) suatu perusahaan telekomunikasi. Biaya energi bisa berkisar antara 20 sampai 40 persen dari OPEX perusahaan. Semua ini menjadi alasan mengapa banyak perusahaan telekomunikasi (telko) di dunia mencanangkan diri menjadi green company lewat berbagai cara seperti penggunaan sumber energi terbarukan dan penghematan energi. Dengan semakin mahalnya harga energi, sering sekali biaya energi dalam dua tahun menyamai harga peralatan IT yang dipasoknya.
Untuk mengurangi konsumsi energi beserta CO2 yang dibangkitkan, ada empat cara yang bisa dilakukan:
i) Menggunakan sumber energi yang ramah lingkungan seperti halnya matahari, angin, mikrohidro,
dan biomassa yang tersedia di tempat tersebut.
ii) Menggunakan sistem catu daya yang efisien.
iii) Menggunakan peralatan telekomunikasi yang efisien.
iv) Memanfaatkan kemajuan IT untuk bekerja secara efisien.
Indonesia yang terdiri atas banyak pulau menyebabkan perusahaan IT harus banyak menggunakan genset diesel sebagai pembangkit energi listrik. Karena sizing yang kurang sesuai, sering sekali genset diesel bekerja sangat tidak efisien. Sebagai pembanding, rata-rata perusahaan telko memerlukan satu liter BBM untuk menghasilkan satu kWh energi listrik. Sedangkan perusahaan listrik memerlukan BBM sepertiganya untuk energi listrik yang sama. Selain karena sizing yang kurang sesuai, penyebab lainnya adalah karena kapasitas generator dan jaringan listrik milik perusahaan listrik biasanya jauh lebih besar. Semakin besar kapasitas pembangkit maka semakin efisien pembangkit tersebut.
Pemanfaatan sumber energi lokal non fosil, seperti biomassa, juga bisa membantu ekonomi masyarakat sekitar sentra telekomunikasi. Pemanfaatan sumber energi lokal juga bisa meningkatkan kemandirian energi di daerah tersebut. Ini sangat penting untuk daerah terpencil yang susah transportasinya. Biomassa bisa berupa minyak nabati atau kayu-kayuan dari tumbuh-tumbuhan yang tidak mengganggu pangan. Teknologi yang diperlukan juga sangat sederhana sehingga bisa memberdayakan teknologi yang sudah dikuasai oleh putra-putri Indonesia.
Di dalam banyak industri IT, energi listrik dikonsumsi oleh peralatan IT (40%), air conditioning (50%), dan sisanya untuk penerangan (10%). Besarnya rasio antara energi masuk dibanding energi yang dikonsumsi oleh peralatan IT disebut PUE (Power Usage Effectiveness). Dari banyak survei di negara maju, disebut bagus jika PUE suatu industri IT bernilai kurang dari 2 (dua). Dari hasil survei di beberapa Sentral Telpon, Base Transceiver Station (BTS), dan pusat data di Indonesia, nilai PUE yang didapat biasanya lebih dari dua. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunakan energi listrik di industri IT di Indonesia masih boros. Penyebab utama dari keborosan ini adalah:
i) Masih banyak penggunaan dan sizing peralatan listrik yang kurang efisien.
ii) Penggunaan peralatan IT dan sistem catu daya yang tidak efisien.
iii) Disain ruangan dan sistem tata udara yang kurang efisien.
iv) Belum diterapkannya sistem manajemen energi yang menjamin operasi pada kondisi efisien.
Efisiensi sistem tata udara di era sekarang sudah dua kali lebih efisien dibanding era tahun 1990an. Efisiensi sistem catu daya (UPS dan rectifier) era sekarang jauh lebih tinggi dibanding era tahun 1990an. Sekarang banyak tersedia rectifier yang efisiensinya diatas 98 persen. Banyak UPS dan rectifier tersedia dalam bentuk modular, sehingga kapasitas yang dipakai bisa tumbuh sejalan dengan kebutuhan peralatan telekomunikasinya. Sudah tersedia banyak software yang bisa disesuaikan untuk mengendalikan suatu bangunan atau sentra telekomunikasi agar bisa bekerja secara efisien. Oleh sebab itu, sebagai langkah awal, mensyaratkan penggunaan peralatan yang efisiensinya tinggi harus dilakukan oleh semua pihak. Perlu diingat bahwa menghemat daya satu kilowatt jauh lebih mudah dibanding membangkitkan daya satu kilowatt.
Borosnya energi di pusat IT di Indonesia juga disebabkan karena terlalu besarnya batere yang digunakan sebagai sumber energi cadangan. Di banyak negara, batere yang digunakan biasanya hanya mampu memasok beban selama 30 menit atau satu jam. Akan tetapi di Indonesia, banyak STO maupun BTS yang baterenya dirancang mampu memasok beban selama empat jam atau lebih. Jika ada genset diesel sebagai sumberdaya cadangan, batere dengan kapasitas 10 menit sudah jauh lebih dari cukup. Saat ini, banyak genset diesel yang mampu bekerja dan beban penuh dalam waktu kurang dari 15 detik. Dengan mesin diesel secepat itu, pemilihan sumber energi cadangan tidak lagi terbatas pada batere asam timbal seperti yang sekarang banyak dipakai. Selain mahal dan berukuran besar, batere yang terlalu besar juga memboroskan energi yang diperlukan untuk menjaganya agar tetap bermuatan penuh. Selain itu, banyak batere memerlukan sistem pendingin yang boros energi. Untuk jangka waktu beberapa detik, supercpacitor dan flywheel jauh lebih hemat dibanding batere.
Dari banyak survei, pemborosan besar-besaran terjadi pada sistem pendingin. Pendinginan dilakukan di semua ruangan bahkan termasuk ruang batere didinginkan. Saking dinginnya, para pegawai yang bekerja di pusat IT sering harus menggunakan jaket yang tebal. Padahal, yang harus didinginkan adalah peralatan IT atau komputernya, bukan seluruh ruangannya. Karena ruangan dan sistem pendingin tidak didisain dengan baik, sering sekali alatnya masih kepanasan walaupun ruangnya sudah dingin. Sering sekali sistem pendingin untuk pusat komputer didisain seperti disain pendingin gedung biasa. Ada perbedaan yang mendasar antara pendinginan ruangan biasa dan ruangan komputer. Pada ruangan biasa, hampir semua panas berasal dari udara luar. Sedankan pada ruang komputer, hampir semua panas berasal dari dalam ruangan. Untuk menghemat energi yang diperlukan, sudah banyak tersedia software yang bisa merancang dengan baik secara detil sistem pendingin yang diperlukan oleh pusat komputer. Gunakan peralatan IT yang bisa bekerja tanpa menggunakan sistem pendingin.
Manajemen operasi peralatan ME (Mechanical and Electrical) yang menjamin optimumnya operasi, biasa dikenal sebagai IBMS (Intelligent Building Management System). Sistem ini mampu mengatur AC, lampu, lift, dan peralatan-peralatan lain sehingga secara total selalu efisien. Oleh sebab itu, IBMS layak diterapkan tidak hanya untuk STO, BTS, dan data center, tetapi juga untuk bangunan perkantoran. Dengan IBMS, kita bisa mengurangi konsumsi energi tanpa mengorbankan kwalitas pelayanan.
Untuk menuju green IT, sudah saatnya perusahaan IT memiliki manajer atau direktur yang bertanggung jawab pada masalah energi. Selain untuk mengurangi OPEX, peran IT dan telekomunikasi dalam penghematan energi global akan semakin penting. Direktur ini harus membuat roadmap konsumsi energi, teknologi energi, emisi CO2, dan bisnis energi. Suatu saat, mau tidak mau, perusahaan IT harus mulai masuk dalam bisnis energi berbasis IT atau sekarang dikenal sebagai teknologi smart grid. Jika tidak bergerak ke bisnis energi, mungkin malah perusahaan energi yang masuk ke bisnis IT.
Sebagai catatan akhir, penggunaan peralatan yang efisien dan hemat energi tidak identik dengan mahal. Untuk membandingkannya, kita harus membandingkan biaya kepemilikan selama pusat telekomunikasi atau data tersebut dioperasikan, bukan hanya membandingkan harga belinya. Biaya operasi sering sekali jauh lebih mahal dibanding harga belinya.

baca juga

ingin komentar

Comment