Menggunakan Momentum Pembangunan Infrastruktur Untuk Bangkitkan Industri Nasional

Dari Sumbangan Pemikiran Persatuan Insinyur Indonesia

Pemerintah kini bertekad untuk memercepat pelaksanaan pembangunan infrastruktur, seperti jalan raya, kereta api, perhubungan laut, udara, transportasi perkotaan, ketenagalistrikan, energi, teknologi komunikasi dan informatika, sumber daya air, air minum, limbah dan perumahan. Total anggaran pembangunan selama periode 2015-2019 sebesar Rp 5.513 T yang terdiri dari dana APBN sebesar Rp 2.215 T, APBD Rp 545 T, BUMN Rp 1.066 T dan Swasta Rp 1.692 T.

Pengeluaran dana yang besar untuk pembangunan infrastruktur selama ini sekitar 70% dinikmati oleh supplier dan kontraktor asing. Ini terjadi selain karena ketidak-mampuan industri dan perusahaan dalam negeri juga karena sumber pendanaan dari pinjaman yang mengikat di mana peluang kontraktor nasional dan peran serta industri dalam negeri nyaris tidak ada. Situasi ini harus diubah. Pemaksaan penggunaan produk dalam negeri melalui referensi TKDN tidak bisa hanya dengan cara dipaksakan tapi juga harus disertai bahkan didahului dengan penyiapan industri di dalam negeri itu sendiri. Persiapan akan lebih berhasil jika pemikiran tentang penggunaan hasil inovasi dalam negeri (KIDN) dibuat melatarbelakangi peningkatan TKDN, karena akan selalu diusahakan terjadinya alih teknologi.

Penguatan industri di dalam negeri harus dimulai dengan penetapan prioritas pembangunan industri nasional. Dengan adanya keterbatasan sumber dana dan tenaga, pemerintah harus fokus memilih hanya sektor industri tertentu saja yang dikembangkan. Tidak terlalu melebar (broad based). Selain fokus, pemerintah juga harus memiliki rencana jangka panjang  yang konsisten dan serasi dengan rencana pengembangan sektor lainnya. Infrastruktur untuk kepentingan pengembangan industri, penetapan kawasan industri yang spesifik, penyediaan energi, penyediaan tenaga kerja yang berkualitas, penyediaan bahan baku, penyediaaan dukungan peraturan dan pelayanan adminsitrasi dan ijin harus sudah termasuk dalam rencana tersebut.

Kembali dalam konteks ini adanya dapur pikir nasional menjadi sangat mendesak. Institusi ini lah yang menjamin adanya konsistensi jangka panjang dan keserasian dengan perkembangan sektor industri dengan sektor lainnya. Momentum adanya pembangunan infrastruktur terutama yang terakit dengan penyediaan material atau equpiment hasil industri seperti misalnya pembangkit listrik seharusnya dijadikan momentum untuk tumbuhnya industri peralatan pembangkit listrik seperti engine (motor bakar diesel atau gas), turbin (gas atau uap), ketel (boiler), burner, generator, trafo, kabel, insulator, rangka dan pipa baja, tower dan lainnya.

Demikian juga pembangunan di bidang maritim seharusnya dijadikan momentum untuk bangkitnya industri peralatan pelabuhan seperti gantry crane, tug boat, kapal, rambu-rambu pelayaran dan lainnya. Pembangunan kereta api seharusnya menumbuhkan industri baja penghasil rel kereta, industri pre-cast bantalan, signaling system, lokomotif dan gerbong (rolling stock). Selain bahan utama keperluan pembangunan, industri juga dapat memanfaatkan peluang keperluan proses pembangunan itu sendiri misalnya industri alat-alat berat, industri tools, industri peralatan safety, garmen untuk pekerja, telekomunikasi, transportasi dan lainnya.***

baca juga

ingin komentar

Comment