Membangun Sistem Inovasi

Dr. Ir. Tusy A. Adibroto
Peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Dalam keseharian, sering kali kita mendengar atau membaca kata ‘inovasi’, tetapi apakah sebenarnya ‘inovasi’ itu? Ada berbagai definisi tentang inovasi yang kesemuanya tidak terlepas dari isu ‘kebaruan’. Ada pihak yang melihat makna inovasi dikaitkan dengan keunggulan suatu produk komersial ataupun layanan publik yang baru. Ada pula pihak lain yang menekankan adanya pengetahuan baru (new knowledge) serta ada juga yang mengatakan bahwa inovasi itu seperti 2 sisi mata uang. Sisi pertama berkaitan dengan pengetahuan baru hasil kegiatan terkait iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) dan sisi kedua berkaitan dengan pemanfaatan hasil iptek yang dapat menghasilkan nilai tambah. Sehingga dalam memaknai inovasi, hasil dan manfaat tidak dapat dipisahkan. Jika salah satunya tidak ada maka tidak dapat dikatakan inovasi.

Istilah inovasi itu sendiri berasal dari kata Latin ‘innovare’ yang merujuk pada penggunaan cara-cara baru untuk menghasilkan nilai baru. Tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, bahkan sejak beberapa dekade lalu telah mengemukakan konsep mirip inovasi yang dikenal dengan ‘niteni, niroake, nambahake’. Niteni berarti mencari tahu, meneliti, memperhatikan suatu obyek; niroake berarti menirukan, simulasi; dan nambahake artinya mengembangkan, memberi nilai tambah. Sehingga jika dibaca keseluruhannya, konsep tersebut bermakna pengembangan pengetahuan dan penciptaan nilai baru. Untuk itu, suatu produk, proses atau metode organisasi dikatakan inovatif bila memberikan pengetahuan yang baru dan kehadirannya memunculkan sesuatu yang lebih berharga atau lebih valuable bagi pihak-pihak lain.

Awalnya inovasi dikaitkan dengan suatu produk komersial baru. Sehingga nilai-nilai itu terkait dengan aspek keekonomian. Kemudian, sesuai dengan perkembangan jaman, kegiatan inovasi telah bergeser ke ranah pelayanan publik, sehingga nilai sosial dari layanan publik menjadi pusat perhatian. Sedangkan bagi perguruan tinggi dan lembaga riset, kebaruan pengetahuan sering menjadi tolok ukur inovasi.

Dengan demikian inovasi dapat dilakukan oleh semua orang sesuai dengan potensi dan kemampuannya. Misalnya seorang petani dapat saja berinovasi terkait dengan budidaya produk pertanian, atau industri berinovasi dengan melakukan modifikasi proses produksi terkait dengan efisiensi kerja. Ibu rumah tangga juga dapat berinovasi melalui pengembangan cara mengolah makanan. Bahkan, di Jepang, inovasi yang dilakukan ibu rumah tangga ini bisa mendapatkan paten.

Inovasi banyak berhubungan dengan peran pengetahuan dan teknologi yang pada gilirannya terkait dengan peningkatan daya saing yang telah terbukti menjadi tolok ukur kemajuan bangsa. Banyak negara seperti Jepang, Korea Selatan dan juga Cina – yang pada beberapa dekade lalu kondisinya sama dengan Indonesia – yang saat ini telah maju pesat pembangunannya karena agenda pembangunannya mengarusutamakan iptek secara konsisten. Penguasaan iptek telah memberi kemampuan pada masyarakat untuk memeroleh kebutuhannya terkait pangan, kesehatan, tempat tinggal, transportasi, energi dan lain-lain. Penguasaan iptek yang terkait dengan ranah ekonomi menghasilkan produktivitas, peningkatan kesejahteraan, berbagai pilihan lapangan kerja, keberlanjutan ekonomi; sedangkan penguasaan iptek yang terkait lingkungan menghasilkan pemulihan kerusakan lingkungan, keberlanjutan fungsi-fungsi lingkungan sebagai sumberdaya yang dibutuhkan untuk pembangunan.

Tolok ukur kemajuan suatu bangsa juga telah bergeser, yang tadinya diukur dengan tingginya pendapatan (GDP) pada kenyataannya hanya menghasilkan segelintir negara-negara maju dan sebagian besar negara-negara yang tetap miskin di dunia. Amartya Sen (1993) mengemukakan tesisnya bahwa tolok ukur kemajuan suatu bangsa hendaknya dikaitkan dengan kapabilitas inovasinya. Ini sesungguhnya merupakan kondisi yang kompleks yang harus dipersiapkan yang melibatkan berbagai komponen seperti keputusan kolektif bangsa, dukungan penguasaan iptek dalam rangka transformasi pengetahuan menjadi suatu artifak/produk, terbangunnya kelembagaan untuk koordinasi interaksi berbagai pihak terkait, kegiatan pembelajaran untuk terus menerus memacu kegiatan industrial, yang dilengkapi dengan ketersediaan material lokal. Kesemua elemen tersebut saling berinteraksi dalam suatu sistem sosial (konstruksi sosial dengan kekuatan budaya, hukum dan organisasi masyarakat) yang biasa dikenal sebagai Sistem Inovasi.

Pada perkembangan mutakhir, dengan adanya pendekatan MDGs/SDGs, maka konsep Sistem Inovasi juga menjangkau tujuan non-ekonomi seperti pelayanan kesehatan, air bersih dan sanitasi, ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan yang banyak berkonotasi unsur lokal. Untuk itu komunitas lokal hendaknya mempunyai kapabilitas untuk membuat keputusan kolektif dengan seleksi iptek pada tingkat rumah tangga yang mengedepankan proses pembelajaran yang akan menghasilkan pengembangan produk lokal yang bersifat komparatif. Suasana kondusif dalam berinovasi juga perlu terus ditumbuhkan antara lain dengan memilih SDM yang tepat, membangun jaringan yang luas, melaksanakan pelatihan, sikap dapat mentolerir kesalahan dalam rangka pembelajaran, dan pemberian penghargaan atas upaya inovasi.

Indonesia sejak beberapa waktu lalu telah membangun iklim inovasi mulai tingkatan lokal yang dikenal sebagai Sistem Inovasi Daerah, serta juga pada level nasional yang dikenal sebagai Sistem Inovasi Nasional. Semoga saja berbagai komponen Sistem Inovasi yang diusahakan dan dikembangkan seperti yang disebutkan di atas dapat terus menerus dikembangkan secara simultan dan bertahap.

Next >>>

baca juga

ingin komentar

Comment