Masyarakat Ekonomi ASEAN di Mata Insinyur ASEAN: Kuncinya adalah Sertifikasi ASEAN Chartered Professional Engineer (ACPE)

 

Ir. Habibie Razak, MM, IPM, ACPE

Profesi Insinyur adalah salah satu dari 8 profesi yang terkena dampak dari dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di awal tahun 2016 lalu, yang tertuang dalam Mutual Recognition Arrangements (MRA) sektor jasa keinsinyuran. Tujuan pertama dari MRA ini adalah memfasilitasi pergerakan jasa keinsinyuran professional serta sebagai sarana bertukar informasi dalam rangka mengupayakan adopsi pelaksanaan praktik terbaik pada standar dan kualifikasi keinsinyuran. Kedua, di dalam MRA ini, terdapat pendefinisian tentang apa saja yang diatur di dalam sektor jasa keinsinyuran, sehingga perlu menyeragamkan standar, ukuran, dan regulasi yang berbeda-beda di negara-negara ASEAN agar mempunyai satu ukuran yang konsisten, serta mempunyai metode dan spesialisasi yang secara bersama diterima dan bisa diterapkan oleh negara-negara ASEAN.

Salah satu produk MRA untuk sektor jasa keinsinyuran ini adalah Sertifikasi ASEAN Chartered Professional Engineer (ACPE). Sertifikasi ACPE ini memberikan mobilitas yang lebih tinggi kepada para Insinyur di negara ASEAN untuk bisa bekerja di negara tetangga dengan mendapatkan pengakuan berupa kesamaan standar kompensasi dan benefit. Menurut ACPE – Coordinating Committee, mereka para pemegang sertifikasi ACPE sudah bisa memimpin tim proyek lintas negara ASEAN, baik sebagai project manager dan, bahkan, hingga tingkat project director.

Syarat-syarat yang wajib dipenuhi oleh Insinyur Indonesia dan Insinyur di negara-negara ASEAN untuk bias memeroleh sertifikasi ACPE ini, antara lain, Insinyur harus mendapatkan sertifikasi Insinyur Profesional setara Madya (IPM) dari institusi profesi keinsinyuran yang diakui oleh ASEAN, dalam hal ini di bawah payung ASEAN Federation of Engineering Organization (AFEO). Syarat kedua, yakni mengisi Formulir Aplikasi ACPE yang isiannya terdiri dari surat pernyataan bahwa Insinyur tersebut memiliki pengalaman minimum 7 tahun di bidang keinsinyuran dan di dalamnya termasuk pengalaman ekstensif minimum 2 tahun mengelola suatu proyek di mana dia memegang peranan penting seperti project manager atau pun project director.

Era Masyarakat Ekonomi ASEAN ini membutuhkan perhatian besar dari pemerintah kepada para Insinyur Indonesia untuk memersiapkan diri menghadapi liberalisasi keinsinyuran. Upaya-upaya yang harus terus dilakukan oleh pemerintah antara lain: (1) Menambah jumlah Perguruan Tinggi berbasis keteknikan seperti Institut Teknologi. Sebaran perguruan tinggi berbasis keinsinyuran dan teknologi ini diharapkan tidak tersentralisasi lagi di Pulau Jawa, sisi pembangunan kawasan Timur Indonesia diharapkan mendapatkan perhatian yang lebih besar lagi sehingga terjadi distribusi insinyur yang merata yang bekerja di seluruh Indonesia. (2) Sosialisasi UU No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran harus terus dilanjutkan dan segera mengesahkan produk hukum turunannya, antara lain keputusan presiden dan peraturan pemerintah untuk bisa lebih memerkuat posisi Insinyur Indonesia. (3) Kebijakan pemerintah untuk tidak berorientasi pada penjualan hasil mentah atas sumberdaya alam yang diperoleh dari bumi Indonesia dengan tujuan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih besar bagi para Insinyur Indonesia yang diharapkan menjadi pelaku utama pengembangan industri hulu, antara, dan hilir, sehingga mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mumpuni dan diharapkan bisa lebih terberdayakan di negaranya sendiri. (4) Profesi insinyur memerlukan insentif dari pemerintah terutama kepada para insinyur yang telah memeroleh sertifikat ASEAN. Sebab jika tidak ada penghargaan lebih atau insentif dari pemerintah, maka dorongan bagi insinyur untuk mengambil sertifikasi ASEAN tidak akan terwujud.

Pertanyaan besar buat kita, para Insinyur Indonesia, akankah mereka para Insinyur dari negara tetangga berbondong-bondong masuk ke tanah air atau justru Insinyur kita yang sudah tersertifikasi ASEAN yang akan mengisi posisi-posisi strategis proyek-proyek infrastruktur publik, pembangkit listrik, minyak dan gas di Asia Tenggara? Sebutlah, Myanmar yang saat ini sedang haus akan tenaga ahli profesional, termasuk Insinyur, untuk membangun negeri mereka yang kaya akan sumber alam, mulai dari minyak dan gas alam, komoditas tambang dan sumber alam lainnya. Secara pribadi, saya akan dengan senang hati mencoba tantangan bekerja di Myanmar atau negara-negara berkembang lainnya dan merasakan kompensasi dan benefit yang lebih bagus dibandingkan bekerja di negeri sendiri. Mungkin seperti itulah salah satu benefit bekerja di dunia keinsinyuran dengan bekal Insinyur Profesional teregistrasi ASEAN.

baca juga

ingin komentar

Comment