Laut adalah Masa Depan, Teknologi adalah Jawaban

 

Ridwan Djamaluddin

Ketua Bidang Kemaritiman dan Perikanan PII

Menjadikan Benua Maritim Indonesia ini agar menyejahterakan, bukanlah pekerjaan mudah. Pemerintah  mengusung program Poros Maritim, dengan 4 pilar utama yaitu: menjaga Kedaulatan Maritim NKRI, mengeolola dan mendayagunakan sumberdaya alam dan jasa kemaritiman, membangun infrastruktur konektivitas antar-moda dan infrastruktur yang terkait, serta meningkatkan peradaban maritim bangsa Indonesia melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, olahraga dan budaya maritim.

Keempat pilar tersebut hanya bisa ditegakkan melalui penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengawal perbatasan maritim tidak mungkin hanya dilaksanakan dengan menggunakan kapal-kapal patroli, tapi memerlukan Teknologi Penginderaan Jauh dan teknologi informasi dan telekomunikasi untuk mengenali kapal-kapal yang lalulalang. Di bawah air sekali pun, diperlukan pendeteksi kapal selam (antara lain: tomografi akustik).

Sumberdaya alam di laut memang banyak, namun untuk menemukan dan mengelolanya jauh lebih sulit dan lebih mahal daripada di darat. Saat ini semakin sulit untuk menemukan sumberdaya alam hayati dan kebumian di laut dan di bawah dasar laut. Dalam hal perikanan, disadari bahwa masa depan adalah perikanan budidaya, bukan perikanan tangkap; sehingga penguasaan iptek benih, pakan, dan kesehatan ikan menjadi vital. Sumberdaya perikanan tangkap di perairan Indonesia tidaklah sekaya yang sering kita dengar. Kita memang sangat kaya dalam hal keanekaragaman hayati, tapi kita “tidak kaya-kaya amat” dalam hal kuantitas dari tiap jenis biota yang ada. Tampaknya, pada masa yang akan datang lebih baik kita mengutamakan penggunaan sumberdaya hayati laut kita untuk obat-obatan dan kosmetik.

Teknologi ekplorasi sumberdaya kebumian di dasar dan di bawah dasar laut pun harus makin canggih, karena kita mencari obyek yang semakin sedikit di laut yang semakin dalam dan di bawah dasar laut yang makin dalam pula. Minyak dan gas bumi kita di darat semakin menipis, sehingga potensi di laut adalah harapan kita. Eksplorasi dan eksploitasi migas dan mineral di laut dalam ini memerlukan teknologi yang handal dengan kelaikan ekonomi yang memadai. Inilah ihwal Blok Masela yang banyak dibincangkan itu.

Untuk mengelola sumberdaya maritim dan wilayah NKRI diperlukan infrastruktur pelabuhan, kapal, dan industri pendukungnya. Saat ini Pemerintah sedang membangun 24 pelabuhan, puluhan kapal negara sipil dan militer, serta kapal-kapal swasta. Juga sedang dibangun 3.500 kapal perikanan. Pelabuhan yang sesuai kebutuhan diperlukan untuk bongkar muat jutaan TEUS  logistik baik ekspor-impor maupun domestik. Ketimpangan kapasitas produksi di Jawa dan di luar Jawa menimbulkan disparitas harga yang mencolok. Ketersediaan pelabuhan dan kapal, disertai program Pemerintah diarahkan untuk memeratakan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Pemerataan pembangunan ini pada gilirannya memerlukan sumberdaya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kemaritiman. Untuk itu diperlukan program pendidikan formal dan ketrampilan di berbagai wilayah Indonesia untuk menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan lokal dan nasional, serta dapat pula menjadi pekerja internasional yang handal.***

baca juga

ingin komentar

Comment