Kisah Dua Negara

Aries R. Prima – Engineer Weekly

Nama Maroko mungkin tidak terlalu dikenal sebagai negara penghasil energi. Namun beberapa tahun ke depan negara yang terkenal dengan pegunungan Atlas ini akan dikenal sebagai negara adidaya energi surya.

Ya, negeri ini sedang mebangun pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia seluas 30 kilometer persegi di wilayah luar kota Ouarzazate, di pinggiran gurun Sahara, yang akan menyalurkan listrik untuk lebih dari 1 juta rakyatnya pada tahun 2018. “Negara ini memiliki posisi yang baik untuk mendapatkan keuntungan dari langkah awal untuk memulai pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, ketika kekuatan regional lainnya baru mulai berpikir lebih serius tentang program energi terbarukan mereka sendiri,” ujar Inger Andersen, Wakil Presiden Regional Bank Dunia untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.

Tahap pertama, yang dikenal sebagai Noor I akan segera aktif. Pembangkit listrik 160 MW ini merupakan yang pertama dari tiga tahap yang direncanakan dari sebuah proyek pembangkit listrik tenaga surya di provinsi Ouarzazate.

Tidak seperti negara di sekelilingnya, Maroko bukan penghasil bahan bakar fosil, karena itu sekitar 97 persen kebutuhan energinya diimpor dari negara lain. Ketika semua proyek pembangunan ini selesai, PLTS terkonsentrasi ini akan memiliki kapasitas energi lebih dari 500 MW.

Pembangkit listrik tenaga surya terkonsentrasi (CSP) bekerja dengan cara berbeda dari sel surya atau photovoltaic array. CSP menggunakan banyak cermin untuk menangkap energi matahari dan mengubah air menjadi uap untuk menggerakkan turbin. Noor I memiliki sekitar 2 mil persegi cermin penangkap energi, dan dapat menyimpan energi senilai tiga jam dalam garam cair.

Menurut Dr. Ivan R. Sini MD FRANZCOG GDRM SpOG, Direktur Pengembangan Produk & Teknologi Bundamedik Healthcare System RS Bunda, Menteng Jakarta, mengatakan penggunaan teknologi bedah robotik punya kelebihan yang tidak dimiliki dalam operasi pembedahan konvensional, seperti bedah invasif dan laparoskopi.

“Dengan teknologi robotic surgery, kami mampu meminimalisir luka operasi, memberikan kemudahan untuk memastikan adanya perdarahan, menjangkau daerah yang sulit terlihat dan meminimalisir trauma pascaoperasi,” katanya.

Negeri Berangin
Lain halnya dengan Denmark. Negara di wilayah skandinavia ini, menurut data 2015, memproduksi 42 persen listriknya dari tenaga angin. Jumlah ini merupakan komposisi tertinggi yang bisa dicapai oleh sebuah negara.

Pada 2015, untuk pertama kalinya, Denmark mampu mematikan pembangkit listrik pusat yang besar selama ehari penuh dan menggantikan pasokan listriknya dari pembangkit listrik tenaga angin dan sumber energi terbarukan lainnya.

Target yang ambisius telah dicanangkan untuk penggunaan energi terbarukan ini. Pada 2020, pembangkit listrik tenaga angin akan memasok sebesar 50 persen dari kebutuhan listrik total, dan pada 2050 ditargetkan 100 persen.

Sebagai perbandingan, pada 2014, Amerika Serikat hanya mampu menghasilkan 4 persen energi listriknya dari tenaga angin. Sedangkan di Indonesia PLTB belum dikembangkan dengan maksimal, karena berbagai kendala, terutama kecepatan angin yang tidak konsisten.***

baca juga

ingin komentar

Comment