KENDARAAN MILITER : Dari Bandung Untuk Indonesia dan Dunia

Bandung tidak hanya dikenal dengan ragam wisata makan dan belanja saja. Ibu kota propinsi Jawa Barat ini juga telah dikenal sebagai pusat penciptaan teknologi unggul di Indonesia, dengan adanya berbagai industri berteknologi tinggi, lembaga litbang teknologi dan lembaga pendidikan teknik dan teknologi terkemuka di Indonesia.

Samuelson (1998) menuliskan bahwa teknologi adalah salah satu faktor untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, baik untuk negara industri maju (NIM) maupun negara sedang berkembang (NSB), yang berkaitan erat dengan faktor lainnya, yaitu sumberdaya manusia (SDM), sumberdaya alam (SDA) dan pembentukan modal.

Salah satunya adalah PT Pindad, BUMN yang memproduksi perlengkapan dan peralatan pertahanan dan keamanan, yang sejak 1993 telah mengembangkan teknologi kendaraan bermotor untuk membuat berbagai kendaraan khusus, termasuk kendaraan antipeluru untuk memenuhi permintaan pasar militer dan lembaga lainnya.

Pada 2008 diperlihatkan kepada publik untuk pertama kalinya kendaraan khusus militer, Panser, yang di dunia lazim disebut Armored Personnel Carrier (APC), yang diberi nama Anoa, pada gelaran Indo Defence and Aerospace setelah sebelumnya diperlihatkan pada parade HUT TNI pada 5 Oktober 2008.

Kemudian sebanyak 13 unit kendaraan militer, yang dilengkapi dengan persenjataan ini, digunakan oleh Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-D/UNIFIL di Lebanon pada April 2010 untuk mengawal misi perdamaian PBB.

PT Pindad terus mengembangkan Anoa dengan berbagai kelengkapan dan persenjataan. Versi terakhir yang dikembangkan adalah Anoa Amphibious 6 x 6 yang mampu bergerak di dalam air, seperti kendaraan amphibi pada umumnya. Versi ini, bahkan, sudah dicoba oleh Presiden Jokowi pada 16 Januari 2017 di danau Mabes TNI.

Kendaraan ini adalah hasil penelitian dan pengembangan anak negeri dengan memerhatikan kondisi geografis serta kontur bumi Indonesia yang banyak wilayahnya terdiri dari perairan, seperti sungai dan danau. “Untuk mendukung performa para personil TNI untuk berpatroli di segala medan dan cuaca, dibutuhkan kendaraan yang dapat memberikan kemudahan mobilisasi sebaik mungkin. Panser Amphibious didesain untuk bisa melintasi wilayah NKRI, khususnya di daerah pedalaman yang medannya sangat berat dan belum ditunjang oleh infrastruktur jalan yang memadai,” tutur Abraham Mose, Direktur Utama Pindad dalam sebuah kesempatan.

Ia menambahkan bahwa panser ini dilengkapi propulsi dengan sistem hidrolik yang mampu bermanuver secara maksimal di air dengan kecepatan 10 km/jam dan mampu membawa 10 personil. Saat ini Pindad sudah siap untuk memproduksi Anoa Amphibious ini dengan kapasitas produksi 80 unit per tahun.

Walaupun masih menggunakan mesin Renault dan memunyai kemiripan desain dan system penggerak dengan VAB, panser buatan Prancis, seluruh kandungan bahan baku, sistem senjata dan elektronik sudah hamper 100 persen buatan Indonesia, seperti bodi monoque yang dibuat oleh Pindad dan sistem radio UHF/VHF yang dibuat oleh PT LEN.

Selain Anoa, PT Pindad juga memproduksi kendaraan militer lain yang lebih “ringan” dan bisa bergerak lebih lincah yang diberi nama Komodo yang muali diperkenalkan pada public pada 2012. Berbeda dengan Anoa, kendaraan ini berpenggerak 4 roda dan desain eksteriornya mirip dengan “Humvee”, kendaraan militer ringan buatan Amerika Serikat. Nama Komodo diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang sebelumnya “menantang” Pindad untuk menciptakan dan memproduksi kendaraan ini pada kunjungannya ke BUMN ini pada 2011.***

baca juga

ingin komentar

Comment