KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI KOREA SELATAN

Liliana Djamaluddin

Korea Selatan adalah negara maju di kawasan Asia Timur yang terletak di Semenanjung Korea dengan jumlah penduduk sekitar 51 juta orang. Seperti umumnya negara maju, pemerintah Korea menaruh perhatian besar pada pendidikan yang diyakini memberi pengaruh yang sangat besar pada kemajuan perekonomian bangsanya.

Seperti kita ketahui saat ini, membanjirnya produk-produk buatan Korea seperti telepon genggam, televisi, mobil, alat rumah tangga, serta peralatan pendukung dalam bidang kesehatan/kecantikan dari Korea yang sering muncul dalam iklan di televise menggambarkan kemajuan dalam pengembangan teknologi di bidang telekomunikasi, mesin dan elektronika yang tidak terlepas dari basis pendidikan di bidang teknik negara tersebut.

Pemerintah Korea selalu mendorong masyarakatnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Yonsei University melakukan pengamatan terhadap angka partisipasi sekolah antara tahun 2000 dan tahun 2015, dan mempresentasikan situasi pendidikan di Korea saat ini di Konferensi AEESEAP (Association for Engineering Education in South East and East Asia and the Pacific) pada tanggal 8 November 2016 lalu di Seoul, Korea Selatan. Peserta didik dibagi berdasarkan Tingkat Pendidikan yang sedang diikuti menjadi 6 kelompok yaitu Kindergarten (Taman Kanak-kanak), Elementary School (Sekolah Dasar), Middle School (Sekolah Menengah Pertama), High School (Sekolah Menengah Atas), Junior College (setingkat Diploma), University (Universitas).

Pada beberapa grafik yang dipaparkan, tergambar bahwa populasi usia sekolah paling besar pada tingkat Pendidikan Dasar (SD) dan Menengah (SMP dan SMA). Peningkatan persentase jumlah peserta didik terjadi pada tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) dari 26,2% pada tahun 2000 menjadi 49,% pada tahun 2015 dan juga terjadi pada tingkat Pendidikan Tinggi yaitu 52,5% pada tahun 2000 menjadi 68,1% pada tahun 2015. Peningkatan jumlah peserta didik yang signifikan tidak terjadi pada tingkat pendidikan SD, SMP, SMA dari tahun 2000 sampai tahun 2015.

Hampir semua peserta didik SD melanjutkan ke SMP dan begitu pula dengan peserta didik SMP ke SMA. Ada peningkatan persentase peserta didik SMA yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi yaitu dari 62% pada tahun 2000 menjadi 70,8% pada tahun 2015.

Persentase angka putus sekolah di tingkat SD dan SMP tidak sampai 1%, relatif kecil dan cenderung stagnan. Di tingkat SMA terjadi penurunan dari 2,5% (tahun 2000) menjadi 1,4% (2015). Di tingkat Diploma ada peningkatan dari 5,5% (tahun 2000) menjadi 7,5% (tahun 2015). Cenderung tetap sejak tahun 2005. Di tingkat Universitas, cenderung tetap sebesar 3,9%.

Perbandingan jumlah pelajar/mahasiswa perempuan terhadap laki-laki hampir sama di semua jenjang pendidikan. Hanya di jenjang Universitas dan S3 jumlah mahasiswi perempuan agak rendah. Namun di program studi bidang Pendidikan, jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki. Begitu pula untuk jenjang S2.

Master dan Doktor
Pendidikan pascasarjana di Korea dibagi menjadi dua: sekolah yang menitikberatkan pada penelitian secara akademis dan sekolah atau spesialis yang berfokus pada kemampuan praktik. Pemerintah mendorong warganya agar sebisa mungkin untuk mencapai pendidikan setinggi mungkin. Ini terlihat dari jumlah lulusan Master (S2) dan Doktor (S3) yang cenderung meningkat setiap tahunnya.

Sementara itu ada lebih dari seribu program studi berbahasa pengantar Bahasa Inggris. Jumlah mahasiswa asing di Korea tidak banyak berubah dari tahun ke tahun. Saat ini mahasiswa dari China daratan menduduki peringkat teratas dalam jumlah mahasiswa asing yang belajar di Korea. Perbandingan jumlah mahasiswa dan dosen tetap cenderung menurun dari tahun 2000 sampai tahun 2015, untuk semua tingkat pendidikan. Artinya jumlah dosen tetap relatif semakin meningkat terhadap jumlah mahasiswa.

Situasi Ketenagakerjaan
Dalam kurun tahun 2005 hingga 2013 terjadi penurunan persentase tenaga kerja lulusan SMA dari 55,6% (tahun 2000) menjadi 34,3% (tahun 2015). Hal yang sama juga terjadi pada tenaga kerja lulusan Diploma dari 83,7% (tahun 2005) menjadi 67,9% (tahun 2013). Persentase tenaga kerja lulusan Universitas cenderung tetap.

Berdasarkan fakta tersebut, muncullah pertanyaan yang menjadi perhatian yang terkait dengan pendidikan enjinering di Korea Selatan, seperti : Apakah seharusnya lembaga pendidikan tinggi menjadi tempat bagi pertumbuhan intelektual atau tempat persiapan untuk memasuki dunia kerja?

Pertanyaan ini menjadi relevan ketika baru-baru ini Kementrian Pendidikan Korea Selatan menerapkan program yang ditujukan untuk menaikkan peringkat keinsinyuran negara tersebut dan mengabaikan pasokan lulusan sosial humaniora dan seni rupa, yang memunculkan kontroversi. Namun, bagaimanapun harus dicatat, saat ini Korea adalah salah satu negara paling maju di dunia berkat upaya-upaya peningkatan pendidikan keinsinyuran yang telah dilakukan.

baca juga

ingin komentar

Comment