Kebangkitan Insinyur untuk Kebangkitan Industri

satryo

Pendidikan tinggi teknik di Indonesia telah berumur lebih dari 90 tahun terhitung sejak pendirian TH Bandung (kini Institut Teknologi Bandung/ITB) oleh pemerintah Belanda. Usia yang terhitung tidak pendek untuk suatu jenis pendidikan tinggi, meskipun kalau kita perhatikan di sejumlah negara maju, usia pendidikan tinggi tekniknya sudah jauh di atas 100 tahun. Tahapan peralihan telah dilampaui beberapa kali, yaitu dari pendidikan model Belanda kemudian ke pendidikan pola Jepang dan akhirnya ke pendidikan nasional Indonesia.

Setiap kali terjadi peralihan pasti terjadi setback dan kemudian diikuti dengan learning curve yang berasal dari awal lagi. Artinya terjadi perlambatan proses kemajuan pendidikan tinggi teknik kita. Itu sebabnya sampai saat ini kita belum mempunyai tradisi pendidikan tinggi teknik yang sesungguhnya, apalagi tradisi pendidikan insinyur.

Tanpa mengecilkan arti perguruan tinggi teknik kita yang ada sejak awal tahun 1920-an sampai dengan saat ini, mereka telah bekerja keras untuk dapat melaksanakan pendidikan tinggi teknik yang maksimal sesuai kemampuan mereka. Semangatnya perlu kita hargai, meskipun karena keterbatasan dukungan finansial, kebijakan, dan peralatan maka mereka masih tertinggal dibandingkan negara berkembang lainnya.

Ketertinggalan tidak hanya dari segi kemutakhiran peralatan pendukung pendidikannya, akan tetapi juga dari segi standar/baku mutunya. Artinya pendidikan tinggi teknik kita secara umum dan formal belum diakui secara internasional. Seorang lulusan pendidikan tinggi teknik dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan mampu menyelesaikan suatu persoalan dengan keahlian/keterampilannya. Kombinasi antara pengetahuan dan keahlian merupakan ciri kebisaan yang dimiliki oleh sarjana teknik, apalagi kalau yang bersangkutan kemudian memperoleh sertifikasi sebagai insinyur, maka kebisaan tersebut harus dapat diaplikasikan secara bertanggung jawab.

Industrialisasi di Indonesia belum mencapai kondisi yang kompetitif dan Indonesia memang belum menjadi negara industri apalagi bersaing secara internasional. Profil industri kita saat ini memang sangat memprihatinkan, dimana kita belum mempunyai industri yang bernilai tambah tinggi, bahkan sebagian besar industri kita hanya bersifat perakitan atau lebih parah lagi hanya sebagai agen penjualan produk industri luar negeri.

Dengan profil seperti itu maka kebutuhan sumber daya manusianya menjadi tidak penting, artinya tidak diperlukan ahli teknik yang mumpuni untuk menjalankan industri seperti itu. Dengan demikian tidak ada kebutuhan akan pendidikan tinggi teknik yang baik di Indonesia, di samping itu animo generasi muda untuk belajar teknik karena peluang kerja di industri tidak prospektif.
Keberadaan industri yang kuat diperlukan untuk kemajuan pendidikan tinggi teknik, tanpa didukung industri setempat yang kuat maka pendidikan tinggi teknik tidak akan maju. Keterkaitan pendidikan tinggi teknik dengan perkembangan industri sangat diperlukan dan akan menentukan keberhasilan serta kualitas lulusan pendidikannya.

Indonesia pernah memiliki sejumlah industri yang disegani secara nasional maupun internasional, baik perusahaan swasta maupun badan usaha milik negara, baik perusahaan modal nasional maupun modal asing. Pada saat itu pendidikan tinggi teknik kita masih cukup baik dan sempat juga disegani oleh masyarakat secara nasional maupun internasional.

Di dalam negeri, animo masyarakat untuk menempuh pendidikan tinggi teknik sangat tinggi karena prospek karier di bidang teknik saat itu sangat menjanjikan. Dukungan pemerintah baik untuk industri maupun pendidikan tinggi teknik saat itu juga sangat baik melalui kebijakan afirmatif pemerintah yang sangat pro kepada industrialisasi.

Pada saat itu pemerintah sangat mendukung proses industrialisasi karena kemajuan negara ditentukan oleh kemajuan industri. Banyak negara menjadi maju karena kuatnya industri di negara tersebut, kekuatan tersebut diperoleh melalui penguasaan pasar industri internasional. Kewibawaan sebuah negara ditentukan oleh kekuatan industri yang dimilikinya, negara dapat mandiri karena didukung oleh industri nasional yang kuat sehingga tidak harus tergantung kepada pihak luar.

Industri nasional yang dikembangkan adalah industri dengan nilai tambah tinggi sehingga membutuhkan tenaga ahli teknik dan insinyur yang berkualitas dalam jumlah besar. Di samping itu para ahli teknik dan insinyur mendapatkan penghargaan yang tinggi sehingga profesi teknik dan insinyur menjadi profesi yang terhormat dan menjanjikan bagi masyarakat.

Pada saat ini industrialisasi di Indonesia belum berjalan karena tidak adanya kebijakan yang jelas mengenai prospek industri di Indonesia. Dalam banyak hal pendekatan ekonomi lebih diutamakan daripada pengembangan kapasitas industri nasional. Kapasitas industri nasional yang sempat dibangun secara intensif dari tahun 1970-2000 tidak berlanjut karena kebijakan pemerintah yang mengedepankan profit ekonomis dan keuntungan jangka pendek sehingga lebih memprioritaskan impor dan menggunakan modal serta pinjaman asing beserta kepakaran asing.

Proses pembangunan kapasitas dan penggunaan modal dalam negeri untuk menunjang industri nasional dikalahkan oleh proses impor dan penggunaan kapasitas asing dengan alasan bahwa asing sudah lebih siap. Kalau menggunakan potensi lokal dan nasional dianggap terlalu lama dan tidak ekonomis karena belum mampu menyamai kecepatan kompetensi asing.Seluruh industri strategis Indonesia tidak dilanjutkan pengembangannya pasca reformasi pemerintah tahun 1998 dengan alasan klasik yaitu terlalu boros dan sangat tidak ekonomis. Dengan kebijakan yang quick-yielding seperti itu maka pengembangan kapasitas nasional dikalahkan oleh pencarian keuntungan finansial secara cepat.

Pertumbuhan ekonomi tampak meningkat dengan adanya perputaran fiskal secara makro namun tidak ada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepenuhnya tergantung kepada konsumsi nasional dan bukan karena produksi nasional. Akibatnya pola hidup masyarakat Indonesia semakin konsumtif dan kesenjangan antar kelompok masyarakat semakin besar. Selain itu kapasitas produksi Indonesia menurun terus sehingga pihak asing dengan leluasa menguasai sektor produksi dalam negeri.

Keadaan yang demikian, jika terus berlanjut, maka Indonesia akan menjadi pasar yang paling menguntungkan bagi produk asing karena jumlah penduduk yang besar serta sumber daya alam yang berlimpah serta lokasi geografis yang strategis. Itu semua adalah syarat yang dibutuhkan bagi majunya industri, dan apabila kita tidak dapat memanfaatkannya maka pihak asinglah yang akan segera memanfaatkannya.
Pada saat ini sudah tampak jelas di depan mata kita bahwa seluruh proyek multinasional dikuasai oleh asing baik modal maupun keahliannya, seluruh komoditi termasuk bahan pokok harus diimpor dengan alasan persediaan nasional tidak cukup.

Ketergantungan kita terhadap komponen asing sudah sedemikian besar sehingga pertanyaannya adalah apakah kita masih mempunyai kedaulatan. Pihak asing pasti akan selalu membantu dan menjaga hubungan baik dengan Indonesia karena mereka sangat membutuhkan kita, dan untuk itu mereka akan membuat kita tidak berdaya melalui berbagai bantuan yang sifatnya meninabobokan industri kita. Jadi kita akan selalu dimudahkan dalam segala hal sehingga tidak sempat berkembang dan berkemampuan, akan tetapi kita akan menjadi pihak yang sangat tergantung.

Untuk dapat mengatasi ketergantungan tersebut dan agar kita mempunyai kedaulatan untuk memajukan Indonesia, pemerintah perlu melakukan terobosan untuk membangkitkan industri nasional dengan lebih memprioritaskan pembangunan kapasitas industri nasional daripada sekedar mencari profit finansial dalam rangka memperbaiki neraca pembangunan. Kelemahan masa lalu adalah bahwa industri nasional tidak efektif dan boros serta banyak kebocoran yang terjadi, namun solusinya bukan semata mata dengan pendekatan ekonomi akan tetapi dengan meningkatkan tatakelola industrinya (corporate governance).

Dengan perkataan lain, kalau ada ketidak sempurnaan dalam industri tersebut maka perbaiki industrinya dan bukan industrinya ditutup.Kita tidak seharusnya menyelesaikan satu masalah dengan solusi yang menciptakan masalah baru, dan kita tidak seharusnya menyelesaikan satu masalah yang fundamental dengan solusi yang pragmatis dan jangka pendek. Sekiranya pemerintah melakukan kebangkitan industri nasional maka pendidikan tinggi teknik akan tertantang untuk mendukungnya, karena pendidikan tinggi teknik memerlukan faktor pendorong yang kuat dan salah satu faktor tersebut adalah suasana yang kondusif, bukan semata mata dana. Seandainya Indonesia sudah diperhitungkan dalam percaturan industri dunia maka kualitas insinyur kitapun harus mendunia, artinya diakui secara internasional dan dapat berkiprah di luar Indonesia dengan penghargaan yang tinggi.

Kualitas hasil industri Indonesia diharapkan dapat menguasai dunia meskipun secara parsial, dan untuk itu diperlukan peran insinyur Indonesia yang sudah diakui internasional karena tanpa adanya pengakuan tersebut hasilindustri kita dianggap belum memenuhi standar internasional dan tidak dapat memasuki pasar internasional.

Tampak jelas bahwa untuk membangkitkan industri nasional modal utama yang harus disiapkan adalah tersedianya para insinyur Indonesia yang berkualitas dan diakui internasional.Pendidikan tinggi teknik kita harus direformasi dan dibangkitkan lagi agar mampu menghasilkan nantinya para insiniyur kelas dunia, salah satu upaya untuk kebangkitan tersebut adalah perlunya Indonesia menjadi signatory Washington Accord.

Ditulis oleh: Satryo Soemantri Brodjonegoro, Dirjen Dikti (1999-2007), Guru Besar ITB, Anggota AIPI Komisi Ilmu Rekayasa, Visiting Professor Toyohashi University of Technology, Japan.

baca juga

ingin komentar

Comment