KARYA KOLABORASI : Jet Tempur Indonesia – Korea

Sempat dikabarkan dihentikan kegiatannya, ternyata proyek pengembangan dan produksi pesawat tempur kerjasama antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dari Indonesia dan Korea Aerospace Industries (KAI) dari Korea Selatan tetap dilanjutkan.

Pesawat yang dikembangkan adalah jet tempur (fighter) generasi 4.5 yang diberi nama KFX/IFX. Dari segi kemampuan, pesawat ini sedikit di atas pesawat tempur generasi 4, seperti F 16 Fighting Falcon, F/A – 18 Super Hornet, dan Sukhoi SU -30, namun masih di bawah pesawat tempur generasi 5 seperti F 22 Raptor dan F 35 Lightning II. Pesawat tempur generasi ke 4.5 ini juga disebut sebagai pesawat semi siluman karena menggunakan teknik geometri pesawat siluman, namun tidak menggunakan material tercanggih yang dimiliki pesawat tempur siluman atau generasi ke 5.

Saat ini, pengembangannya masih dalam tahapan engineering manufacturing. PTDI telah mengirimkan 70 orang insinyur, dan akan bertambah terus setiap tahunnya, ke KAI untuk belajar dan menguasai teknologi yang akan digunakan dalam pesawat tempur ini.

Proyek, yang didanai oleh APBN masing-masing negara ini, menghabiskan investasi sebesar US$8 milyar, dengan target pembuatan desain dan prototipe selesai pada 2019 dan akan mulai diproduksi pada 2020.

Dalam kesepakatan ini kedua perusahaan akan memproduksi 200 unit pesawat tempur, dengan rincian 150 pesawat menjadi milik Korea dan 50 pesawat untuk Indonesia, yang diperkirakan akan selesai antara 2035 -2040.

Nantinya untuk setiap pesawat KFX/IFX yang diproduksi, PTDI akan membuat sayap, penguat di bawah sayap dan bagian ekor. Oleh karena itu, untuk menunjang proses produksi, {TDI membuat hanggar composing.

Untuk merealisasikan pembuatan pesawat tempur canggih yang akan dipusatkan di Sacheon ini, Indonesia menyumbang 20 persen pembiayaan. Sisanya ditanggung oleh Korea. Sedangkan jumlah insinyur Indonesia yang dipekerjakan untuk proyek ini ditingkatkan dari 20 persen menjadi lebih dari 30 persen dari total insinyur yang ada. Ini menunjukkan bahwa para insinyur Indonesia sangat dihargai di Korea. Bahkan ada seorang insinyur yang bergelar Doktor dari ITB yang menjadi satu-satunya insinyur yang menguasai inlight design.

Sebagai negara kepulauan yang membentang luas sudah selayaknya Indonesia memiliki skuadron pesawat tempur yang memadai untuk menjaga kedaulatan negara. Tentu saja Indonesia bisa membeli berbagai jenis pesawat tempur yang dibutuhkan sepanjang tersedia anggaran yang cukup.

Namun agar tidak didikte untuk memenuhi kepentingan negara asing, terutama negara-negara produsen pesawat tempur, sudah sepatutnya Indonesia mampu mengembangkan dan memproduksi pesawat tempur sendiri dan melengkapi semua sistem yang diperlukan seperti sistem persenjataan dan radar. Kerja sama dengan Korea Selatan agaknya memang menjadi pilihan yang terbaik.***

Aries R. Prima
Pemimpin Redaksi

baca juga

ingin komentar

Comment