Insinyur ASEAN Diminta Implementasikan Infrastruktur Hijau

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto meminta kepada para insinyur di kawasan Asia Tenggara untuk mengimplementasikan dan mengaplikasikan infrastruktur hijau” (green infrastructure) dan bukan hanya mendiskusikan konsep tersebut.

menteri-pu-cafeo31Djoko Kirmanto menyampaikan pesan tersebut saat membuka Konferensi Organisasi Persatuan Insinyur Asia Tenggara (Conference of Asean Federation of Engineering Organizations/CAFEO) 2013 di Jakarta Convention Center, Jakarta pada Senin (11/11). Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Menteri PU, Hermanto Dardak dan Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Bobby Gafur Umar.

Djoko Kirmanto mendefinisikan “infrastruktur hijau” sebagai pembangunan infrastuktur yang diperuntukkan tidak hanya untuk saat ini dan keperluan sesaat namun juga mempertimbangkan bahwa bangunan yang kita kerjakan tersebut dapat dinikmati generasi mendatang.

“Ïnfrastruktur hijau” meliputi material yang lebih baik, efisien dalam penggunaan energi dan di desain dengan memperhatikan konservasi air,” ungkapnya.

Sektor bisnis jasa konstruksi di Asia terus berkembang meskipun di tengah kondisi perekonomian global yang bergejolak. Menteri PU mencontohkan pertumbuhan jasa konstruksi Indonesia yang sebesar 7,3 – 7,9 persen dalam tiga tahun terakhir. Pencapaian tersebut hanya kalah dari China sebesar 8,8 persen tetapi melebihi India dengan 7,3 persen dan jauh diatas pertumbuhan Eropa yang 1 persen.

Meskipun sektor konstruksi terus tumbuh, namun harus disadari ada dampak yang ditimbulkan khususnya terhadap lingkungan hidup. Untuk itu dalam satu dekade terakhir mulai tumbuh perhatian terhadap dampak pembangunan terhadap perubahan iklim.

Berdasarkan data Germanwatch 2013, kontribusi emisi gas rumah kaca Indonesia secara global sebesar 2,33 persen, sedangkan proporsi jumlah penduduk Indonesia terhadap total jumlah penduduk bumi 3,51 persen. Sementara China memproduksi emisi sebanyak 21,42 persen dan proporsi penduduknya mencapai 19,71 persen.

“Kondisi tersebut menunjukkan Indonesia jauh lebih baik dari Amerika Serikat yang memproduksi emisi gas sebesar 16,26 persen padahal proporsi jumlah penduduknya secara global adalah 4,54 persen,”sambungnya.

Djoko Kirmato lebih lanjut menuturkan, tentu saja situasi tersebut bukan alasan Indonesia tidak bekerja keras untuk mengurangi produksi gas emisinya. Untuk mencapai pengurangan emisi, salah satunya dilakukan melalui pemberbaiki implementasi kebijakan kerangka kerja, sasaran yang lebih baik serta pengembangan infrastruktur pemerintah. (rnd)

sumber: pu.go.id

baca juga

ingin komentar

Comment