Inovasi Prospektif

 

Aries R. Prima – Engineer Weekly

Sejak 2008, Business Innovation Center (BIC) konsisten memublikasikan berbagai inovasi unggulan Indonesia yang berprospek untuk dikembangkan secara komersial dalam sebuah buku.

Seperti pendahulunya, buku 107 Inovasi Indonesia yang terbit pada 2015 menampilkan beragam karya inovasi yang merupakan hasil seleksi berlapis yang melibatkan 34 orang juri dan 11 peninjau ahli dengan menggunakan 8 kriteria penilaian, yaitu keaslian ide, kesulitan ditiru, penerimaan oleh konsumen, nilai tambah bagi pemakai, potensi pengembangan, potensi peningkatan skala ekonomi, resiko investasi, dan resiko bisnis.

Buku yang diterbitkan atas kerja sama dengan Pusat Inovasi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini dibagi ke dalam beberapa bidang inovasi: Ketahanan Pangan, Energi Baru dan Terbarukan, Transportasi, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Pertahanan dan Keamanan, Kesehatan dan Obat-obatan, Material Maju, dan kategori lainnya.

Salah satu contoh hasil inovasi prospektif dalam bidang Ketahanan Pangan adalah “Sawah Portabel Otomatis” karya peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), perguruan tinggi yang menyumbangkan paling banyak inovasi sejak buku Inovasi Indonesia diterbitkan.

Berangkat dari permasalahan konversi lahan sawah yang mengakibatkan makin menyusutnya luas sawah di Indonesia, para peneliti menciptakan sawah multiguna yang mudah dipindah-pindahkan, sehingga mudah diangkut dan diletakkan di berbagai tempat dan ketinggian permukaan, serta dapat menjadi sarana urban farming di perkotaan yang minim lahan terbuka.

Tinggi muka air pada bak tanam dan saluran irigasi-drainase dikendalikan secara otomatis sesuai dengan set point yang diinginkan. Penggunaan sawah multiguna ini dapat menggantikan nilai ekologis sawah di perkotaan.

Inovasi lainnya adalah “Mata di Langit” (Eye in The Sky/e-Sky)) dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, yang dapat memprediksi dan memonitor pertumbuhan padi menggunakan data besar pengineraan jauh (inderaja) yang meliputi resolusi temporal, spektral dan spasial tinggi dengan metode komputerisasi. Informasi ini dimanfaatkan untuk memprediksi lima fase tumbuh tanaman padi: fase persiapan lahan, vegetatif, reproduktif, pematangan, serta panen dan pascapanen. Tingkat akurasi dari inovasi karya Dr. Ir. Sidik Mulyono, M.Eng., Laju Gandharum, S.Si., M.Sc., dan M. Iqbal Habibie, S.Kom,. M.T., dari PTISDA – BPPT ini mencapai 89,58%.

Menurut Dr. Ir. Jumain Appe, M.Sc., Direktur Jenderal Penguatan Inovasi, Kementerian Ristek dan Dikti, pengorganisasian pemilihan inovasi dalam buku ini bisa dijadikan model dalam membangun sinergi bagi Sistem Inovasi nasional (SINAS), dimana karya-karya inovasi dari dunia akademis dan litbang diseleksi oleh para juri independen dari kalangan praktisi bisnis dan kewirausahaan, mendapat dukungan pemerintah, dan hasil inovasi dapat diterima dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Selain dukungan kebijakan pemerintah, kalangan swasta diharapkan dapat juga berperan dengan memberi prioritas dan dukungan kepada karya anak bangsa, dari pada mengambil “jalan mudah” dengan mengimpor teknologi yang siap pakai.

Inovasi menjadi sangat penting saat ini, dimana Indonesia harus melakukan upaya besar untuk tinggal landas membangun bangsa, menuju ekonomi berbasis inovasi dan teknologi.

Next >>>

baca juga

ingin komentar

Comment