This can occur, the following symptoms: sudden congestion of the nose, cold phenomenon, discharge the joint lines profuse watery nasal discharge, sneezing, itchy eyes and (or) skin, paroxysmal cough, chest stuffy , scratches and tickling the throat, chest tightness, mood swings, headaches bol.TromboflebityEto due to the fact that there are cicatricial degeneration of subcutaneous fatty tissue, such as varicose veins, skin, such as veins and diluted elastic compression bandage not it\'s possible. In these patients, all kinds of elastic bandages go lifestorerx now are effective.Requirements: 40 grams of honey, 3 teaspoons flour.., 10 ml of lemon oil, is masla.Listya 3 ch.16481Vy in the world, many people in Russia about the history of how asthma Research, who suffers from this anatomy of the respiratory system diseases and detailed description learn all medical and sage lavender, based on physiology terms, 5 ml of system information. Mix one part oil, healing and soothing - to manage the treatment of bronchial astmy.KOMPOZITsIYa essential oils, from the, But not all diseases can not be seen to take care of the actual stress. Only a combination of disease, trauma, anxiety, pain, emotional experience is the ultimate voltage organizma.Kak mentioned above, self-hypnosis and autogenous training useful to bind to each cheloveku.Uchenye involved in the investigation of the energy of different objects, arguing that the effect of the positive impact of the pyramids can all enjoy the moment. The most important condition is the fulfillment of certain proportions, the estrace online geometrical relationship. It is located in a square, which is below the device, the researchers calculated that the side edge of the pyramid should equal 0.95 and height - 0.64. Tests have shown that these structures are possible amazing phenomenon. For example, if the height of the pyramid within the third platform, a tray filled with water, then the water very quickly to their bactericidal properties. Fat BezazotistyeSlovo always we not only communication, but also affects the agent., essential.2. The use of nutmeg oil is prescribed for people who have a severe nervous tension and anxiety. This is due to the powerful sedative and relaxing dislocation or fracture vozdeystviem.Pri lavender oil works much better if you vary the hot and cold compresses. Dilute 10-15 drops of lavender oil in half cup of cold water by adding a few ice cubes. The resulting mixture is moistened cotton bandages and apply it to the affected, covered with plastic wrap and hold area 15-20 minutes, remove the pad and the buy nexium without prescription resulting compressed hot or warm, which is prepared in the same manner as applies the cold but no oil was added on ice, and hot water (about 45 ° C). Similarly, applying a warm compress, soak for 15-20 minutes, then snimite.Degidroepiandrostendion-sulfate (DHEA-S) How is that with a potted oleander? Of course, if the room is seriously ill or too lively and curious child wise resist the temptation to increase your beautiful, but still not an innocent rastenie.Poliuriya - is abundant separation of urine (more than 2000 ml per

INOVASI KORPORASI Green Building dan Green Construction

Hadjar Seti Adji                           PT PP

Pembangunan dan berbagai kegiatan oleh negara-negara di dunia memiliki dampak terhadap lingkungan. Isu pemanasan global tentu bukan istilah asing lagi di telinga kita, karena telah menjadi topik hangat yang dibahas untuk menyelamatkan Bumi.

Gas CO2 atau emisi menjadi penyebab dominan radiasi panas bumi terperangkap di Bumi yang menyebabkan pemanasan global. Berbagai komitmen internasional telah dirintis, di antaranya Protokol Kyoto tahun 1997, dimana negara-negara industri berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan tahun 1990 (baseline). Protokol Kyoto mengatur prinsip yang sama untuk semua negara yang menandatangani perjanjian tetapi dengan tanggung jawab yang berbeda. Negara-negara industri maju  diharuskan berkomitmen untuk mengurangi jumlah emisinya, sementara negara berkembang tidak berkewajiban mengurangi emisi, tetapi harus melaporkan status emisinya.

Indonesia sebagai salah satu negara yang turut meratifikasi aturan ini, terhitung sejak tahun 2004, juga telah membuat program pelaksanaan pengurangan gas rumah kaca. Indonesia telah memberikan perhatian terhadap pengurangan emisi rumah kaca dengan dikeluarkannya PP No.61 tahun 2011 dan PP No. 71 tahun 2011, namun diperlukan kelembagaan yang dibuat pemerintah Indonesia dalam mendukung upaya masyarakat dalam menindaklanjuti Protokol Kyoto yang telah diratifikasi Indonesia.

Protokol Kyoto memiliki masa komitmen yang berakhir pada tahun 2012 namun komitmentnya dilanjutkan dengan komitment kedua yang dibahas dalam pertemuan pihak UNFCC dalam Konferensi Perubahan Iklim atau Conference of the Parties (COP) ke-19 dari Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Warsawa, Polandia, yang merupakan perundingan yang ke-9 dari Protokol Kyoto (CMP9). Hasil dalam pertemuan tersebut akan dilakukan dalam dua kerangka waktu penanganan perubahan iklim, yaitu implementasi hingga 2020 dan kesepakatan multilateral baru yang melibatkan semua negara pihak serta mengikat pasca 2020.

Salah satu kontribusi emisi CO2 terbesar dihasilkan dari pembangkit listrik, dan listrik terbesar dihasilkan dari pemakaian di gedung-gedung. Indonesia memiliki Indeks Konsumsi Energi (IKE) dari rata-rata bangunan perkantoran di Indonesia berkisar antara 250 kWh/m²/tahun, sedangkan di beberapa negara maju yang telah menerapkan “Green Building” atau Bangunan Ramah lingkungan menekankan pada rendahnya pemakaian energi yang memiliki angka IKE rata-rata dibawah 150 kWh/m²/tahun. Di Indonesia, hal ini telah diatur dalam Permen PU No. 2 Tahun 2015 tentang Bangunan Gedung Hijau, Pergub DKI No. 38 tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau serta kota lainnya seperti Surabaya dan Makassar akan menyusul kemudian.

Bangunan hijau atau Green Building adalah bangunan baru yang direncanakan dan dilaksanakan atau bangunan sudah terbangun yang dioperasikan dengan memerhatikan faktor – faktor lingkungan. Indonesia sudah memiliki lembaga khusus yang menangani hal ini: Green Building Council Indonesia (GBCI). GBCI adalah lembaga mandiri (nongovernment) dan nirlaba (nonprofit) yang berkomitmen penuh terhadap pendidikan masyarakat dalam mengaplikasikan praktik-praktik terbaik lingkungan dan memfasilitasi transformasi industri bangunan global yang berkelanjutan. GBCI merupakan emerging member dari World Green Building Council (WGBC) yang berpusat di Toronto, Kanada. WGBC saat ini beranggotakan 102 negara dan hanya memiliki satu GBC di setiap negara. Salah satu program GBCI adalah menyelenggarakan kegiatan sertifikasi bangunan hijau di Indonesia berdasarkan perangkat penilaian khas Indonesia yang disebut Greenship, yang merupakan sistem penilaian yang digunakan sebagai alat bantu para pelaku industri, bangunan, baik pengusaha, arsitek, teknisi mekanikal elektrikal, desain interior, maupun pelaku lainnya dalam menerapkan best practices dan mencapai standar.  Greenship memiliki panduan penerapan untuk Neighborhood, Homes, New Building, Existing Building, serta Interior Space dengan kriteria dan poin yang berbeda-beda pula. Sebagai contoh dalam penerapan Greenship untuk new building, mengacu pada NB versi1.2 dengan 6 Kriteria dan 101 poin. Berikut, pada gambar 1 adalah 6 Kriteria Greenship for New Building beserta masing-masing contohnya

Gambar 1. Kriteria Greenship New Building

Dalam proses pembangunan bangunan gedung, desain memiliki kedudukan yang krusial, terlebih untuk bangunan hijau. Hal ini dikarenakan perlu adanya kolaborasi antardisiplin keahlian agar dapat menghasilkan bangunan yang sesuai dengan target yang ingin dicapai. Target gedung untuk mencapai sertifikasi sebaiknya berangkat dari pemilik gedung. Hal ini dikarenakan dalam proses sertifikasi dibutuhkan komitmen yang kuat untuk mewujudkan gedung yang ramah lingkungan. Komitmen ini membutuhkan inisiasi awal dari pihak pemilik proyek sebagai pemegang keputusan yang selanjutnya akan diterjemahkan oleh para tim ahli pendukungnya. Berikut pada Tabel 1 akan disajikan perbandingan proses desain yang terintegrasi dan konvensional.

Tabel 1. Perbandingan proses Desain yang Terintegrasi dan Konvensional.

Proses Desain yang Terintegrasi Proses Desain yang Konvensional
Semua disiplin keahlian dilibatkan sejak awal Hanya beberapa disiplin keahlian yang dilibatkan sejak awal
Tingkat kolaborasi pada yang intensif dimulai dari awal Tingkat Kolaborasi pada yang intensif tidak dimulai dari awal
Keputusan Berada di Tangan Tim Keputusan hanya di tangan beberapa pihak
Sistem dipandang sebagai sesuatu yang lebih holistic Sistem dipandang sebagai sesuatu yang parsial
Pembiayaan dipikirkan berdasarkan daur hidup gedung Pembiayaan hanya dipikirkan saat tahap pembangunan

Sumber : Panduan Teknis Perangkat Penilaian Bangunan Hijau untuk Bangunan Baru Versi 1.2

Perbedaan signifikan yang terjadi pada gedung dengan desain atau yang sudah tersertifikasi Green Building adalah gedung yang sudah tersertifikasi akan memakan biaya lebih banyak di awal namun akan memberikan saving sebesar 5 – 20% dari biaya pemeliharaan gedung. Hal ini dikarenakan gedung tersebut mengedepankan efisiensi di energi, air serta material sehingga biaya yang dikeluarkan per bulan akan lebih murah.

Salah satu contoh Bangunan Gedung Hijau adalah Gedung Kementerian Pekerjaan Umum Jakarta. Gedung Kementerian Pekerjaan Umum Jakarta ini merupakan gedung kementerian pertama di Indonesia yang berkonsep Green Building. Gedung Kementerian Pekerjaan Umum Jakarta dalam setahun mampu menghemat ±50,4% dalam penggunaan energi (dapat dilihat pada gambar 2.a). Sedangkan pada gambar 2.b adalah perbandingan penggunaan energi dengan desain standard office, pada tahap desain dan faktanya.

                                Gambar 2. Perbandingan Penghematan Energi Gedung Kementerian Pekerjaan Umum Jakarta

Dari gambar 2 diatas dapat dilihat bahwa gedung yang sudah memiliki sertifikasi atau predikat sebagai Green Building memiliki pemakaian energi jauh lebih kecil dibandingkan gedung yang tidak didesain untuk hemat energi walaupun memiliki luas yang lebih besar. Oleh sebab itu, Gedung Kementerian Pekerjaan Umum Jakarta memacu gedung kementerian lain serta proyek swasta lainnya untuk mengikuti “jejak”nya. Bahkan, penghematan energi dari gedung ini berhasil membuat gedung ini mendapatkan banyak penghargaan hingga ke tingkat Asia. Penghematan energi akan berbanding lurus dengan biaya energi yang akan dikeluarkan setiap bulannya. Penghematan energi juga berbanding lurus dengan kontribusi kita dalam perubahan iklim. Hal ini disebabkan karena setiap penghematan kWh berarti akan mengurangi CO2 yang terlepas ke atmosfer ke bumi. Dalam keadaan normal, karbon dioksida (CO2) adalah suatu gas yang penting bagi bumi, karena dapat melindungi kehidupan manusia di Bumi. Namun bila kadar CO2 di Bumi berlebihan maka tentu saja akan mencemari udara dan akan menimbulkan efek gas rumah kaca (Kirby, 2008). Oleh karena itu salah satu cara meminimalisir dampak yang ada yaitu dengan pembangunan Green Building.

Permen PU No. 2 Tahun 2015 tentang Bangunan Gedung Hijau terdapat persyaratan yang harus dipenuhi salah satunya adalah dilakukannya praktik konstruksi hijau dalam pembangunannya. Menurut Permen PU No. 02 Tahun 2015 Proses konstruksi hijau dilakukan melalui :

  1. Penerapan metode pelaksanaan konstruksi hijau
  2. Pengoptimalan penggunan peralatan
  3. Penerapan manajemen pengelolaan limbah konstruksi
  4. Penerapan konservasi air pada pelaksaan konstruksi
  5. Penerapan konservasi air pada pelaksaan konstruksi

PT PP (Persero) Tbk telah menerapkan praktik konstruksi hijau yaitu dengan senantiasa membangun dan mengembangkan diri menjadi Green Contractor. Sebagai upaya untuk menunjang program perusahaan menjadi Green Contractor, PT PP (Persero) Tbk membuat standarisasi yang dilakukan di proyek yang dinamakan dengan Green Construction. Berikut pada gambar 3 di bawah ini merupakan Poster Green Construction Target yang harus dipasang dan diterapkan di masing-masing proyek di seluruh Indonesia.

                                                                        Gambar 3. Poster Green Construction Target

Green Construction Target memiliki 6 Kriteria untuk diaplikasikan di lokasi proyek diantaranya yaitu:

  1. Tepat Guna Lahan
  2. Efisiensi & Konservasi Energi
  3. Konservasi Air
  4. Manajemen Lingkungan Proyek
  5. Sumber & Siklus Material
  6. Kesehatan & Kenyamanan di Area Proyek

Berikut adalah salah satu contoh penerapan Green Construction di PT PP (Persero) Tbk: menggunakan material yang ramah lingkungan, yang memenuhi unsur 3 R (Reduce, Reuse, Recycle). Definisi dari ketiga unsur tersebut adalah:

  1. Reduce : mengurangi penggunaan material yang menimbulkan bahan sisa (limbah) dan juga mengurangi volume limbah itu sendiri. Antara lain dengan merencanakan penggunaan material agar tidak menimbulkan banyak limbah dan material sisa (waste).
  2. Reuse: menggunakan kembali material sisa yang dihasilkan dari aktivitas proyek untuk digunakan kembali sebagai sarana penunjang aktivitas proyek. Antara lain dengan pemanfaatan sisa beton saat pengecoran untuk dijadikan kansteen atau car stopper. Penerapan prinsip re-use yang lain adalah menggunakan temporary structure yang bisa digunakan berkali-kali seperti bekisting dari bahan baja, kantor sementara proyek (contractor keet) dari kontainer.
  3. Recycle : mendaur ulang beberapa jenis limbah yang memungkinkan untuk di daur ulang dengan melibatkan bantuan pihak ketiga. Antara lain dengan menjual kembali sisa potongan besi untuk didaur ulang di pabrik besi.

Tujuan dari praktek Green Construction di PT PP adalah :

  1. Mengurangi gangguan terhadap lingkungan selama proses konstruksi
  2. Mengurangi sampah konstruksi
  3. Mengurangi penggunaan sumber daya alam
  4. Mengurangi penggunaan energi

Pemakaian material memegang peranan penting dalam peneran Green Contruction target ini.

Pemanfataan material yang sudah tidak terpakai

Selain itu,  Green Construction juga memperhatikan faktor lainnya, meliputi:

  1. Pemanfaatan lampu hemat Energi (LHE) dan lampu LED yang hemat energi untuk penerangan.
  2. Pemanfaatan Daylighting (Natural Lighting) untuk keperluan penerangan di ruangan keet.
  3. Penggunaan sensor cahaya untuk menghemat pemakaian listrik.
  4. Pemantauan penggunaan listrik di proyek dengan mewajibkan pemasangan meteran listrik dan melakukan pencatatan rutin.
  5. Penggunaan air dewatering untuk digunakan di lokasi proyek
  6. Kendaraan Operasional dan Alat berat harus lolos Uji Emisi Gas Buang. Pengujian dapat dilakukan oleh Instansi /Lembaga Terkait ataupun Internal Perusahaan.
  7. Setiap Kendaraan Operasional dan Alat Berat yang digunakan harus dapat menunjukkan Surat Keterangan Lolos Uji Emisi Gas Buang.
  8. Minimasi Limbah, dengan cara memanage penggunaan material agar tidak menimbulkan bahan sisa.
  9. Pemilahan Jenis limbah, dengan mengelompokkan limbah padat ke dalam limbah organik dan non organik
  10. Pemanfaatan kembali limbah padat untuk keperluan lain, misalnya pemanfaatan sekam sisa gergaji untuk bahan bakar pembuatan bata.
  11. Pengolahan limbah cair, dengan melakukan filterisasi air buangan proyek sebelum dibuang ke saluran kota.

Pada bangunan baru, penerapan konsep ramah lingkungan tidak hanya memperhatikan tahap desain dan perencanaan, tetapi juga harus mencakup proses konstruksi. Seiring dengan pergerakan konsep gedung ke arah Bangunan Hijau, implementasi Green Construction juga harus diperhatikan. Hal ini dikarenakan Green Construction memiliki peranan penting untuk menciptakan gedung dengan konsep Hijau sehingga akan terciptanya suatu proses berkelanjutan.*

baca juga

ingin komentar

Comment