The Future is Green

December 13, 2009

greenPada bulan Oktober tahun lalu, dunia goncang akibat perusahaan Amerika bernama Lehman Brothers mengalami kebangkrutan. Perusahaan tersebut meninggalkan persoalan hutang mencapai  US$ 600 Miliar (Rp 6.000 Triliun). Kondisi ini berlanjut dan diikuti krisis perusahaan besar  lainnya seperti Merryl Linch, General Motors, dst. Hal ini mengakibatkan pasar-pasar saham di dunia berjatuhan, dan berimbas ke pasar saham di Indonesia. Bahkan untuk beberapa saat, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempet mengalami suspend (tutup sementara). Pada akhirnya, krisis internal Amerika Serikat ini memaksa Pemerintah USA menalangi dana sebesar US$ 700 Miliar (Rp. 7.000 Triliun), sebagai solusi atas krisis yang dihadapi.

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mampu bertahan menghadapi krisis tersebut. Hal ini dibuktikan pada akhir tahun 2008 angka pertumbuhan Indonesia masih mencapai 6%. Bahkan pada tahun 2009, dimana hampir di semua negara maju di dunia mengalami pertumbuhan negatif (minus), sementara Indonesia tercatat mengalami pertumbuhan positif 4%. Hal ini menunjukkan kondisi fundamental ekonomi dan strategi penanggulangan krisis ekonomi  Indonesia yang cukup baik.

Dengan krisis ekonomi global yang terjadi beberapa waktu lalu, banyak negara-negara maju secara langsung melakukan pengingkaran terhadap pemahaman politik lingkungan (political ecology). Politik lingkungan secara ideologis seharusnya menjadi acuan yang harus menjadi panutan sistem dan tata kelola ekonomi  global di dunia pada saat ini. Hal ini dapat dipahami, seandainya krisis ekonomi global yang terjadi adalah merupakan koreksi dan antitesis atas sistem globalisme dan kapitalisme modern yang diagung-agungkan oleh negara maju. Antitesis itu adalah sustainable development (pembangunan berkelanjutan/ekonomi tengah).

Ke depan, kita harus melihat dan mempertimbangkan sustainable development menjadi suatu ideologi masa depan. Dimana dengan ideologi tersebut, akan muncul suatu keadilan dan titik ekuilibrum baru kehidupan masyarakat di dunia. Negara maju jelas telah mengalami “saturated condition” untuk pertumbuhan ekonominya. Negara berkembang jelas sangat memerlukan pertumbuhan ekonomi, tetapi tentu pertumbuhan  dan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Oleh sebab itu, beberapa jargon spirit baru seperti “green is new big deal”, “green economic” atau “low carbon technology” adalah jargon-jargon yang akan menjadi spirit pembangunan dunia pada masa kini dan masa mendatang.

Dalam konteks ini, PII sebagai lokomotif teknologi dan engineering di Indonesia, haruslah dapat mengambil peran dalam menghadapi ancaman perubahan iklim dan pemanasan global. PII harus bisa mendorong teknologi dan engineering dalam koridor green economic based. Sebagai ilustrasi, bisa kita bayangkan berapa besar nilai kredit macet yang membangkrutkan Lehman Brothers,  yang  nominalnya mencapai 10 kali lipat APBN Indonesia. Seandainya dana tersebut  diinvestasikan untuk pengembangan proyek green technology seperti pembangkit panas bumi, tentu manfaatnya akan jauh lebih terasa bagi masyarakat dunia. Untuk di Indonesia, potensi panas bumi di Indonesia mencapai 27.000 Megawatt, dan baru dimanfaatkan kurang lebih 1.300 Megawatt. Hal ini menjadi potensi green economic yang luar biasa.

Oleh sebab itu, the future is green. Masa depan dunia adalah segala hal yang berkorelasi dengan isu lingkungan.  Pelibatan semua pihak sangat diperlukan guna mencapai kemajuan yang lebih baik dan menjadi negara yang lebih maju di masa depan. Dan sudah saatnya bagi kita untuk lebih concern terhadap pengelolaan ekonomi dan lingkungan  (green economic) dengan ditopang teknologi yang ramah lingkungan (green technology).

:: By Ir. Airlangga Hartarto, MMT, MBA

Comments

Comments are closed.