<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Persatuan Insinyur Indonesia &#187; pii</title>
	<atom:link href="http://pii.or.id/i/tag/pii/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pii.or.id/i</link>
	<description>Persatuan Insinyur Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 May 2012 15:18:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pidato Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto</title>
		<link>http://pii.or.id/i/pidato-dr-ir-kuntoro-mangkusubroto</link>
		<comments>http://pii.or.id/i/pidato-dr-ir-kuntoro-mangkusubroto#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jul 2011 09:59:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Insinyur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[insinyur]]></category>
		<category><![CDATA[kuntoro mangkusubroto]]></category>
		<category><![CDATA[pii]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pii.or.id/i/?p=1275</guid>
		<description><![CDATA[
Assalamu’alaikum wr. wb.
Selamat pagi. Salam sejahtera buat kita semuanya.
Sambil jalan kesini..saya bertanya. Kalau saya tidak bisa berlari, apakah saya masih dianggap insinyur. Kalau saya lihat, pak Waluyo naik panggung sambil lari, pak Said Didu naik panggung sambil lari. Saya kira..saya seangkatan dengan pak Cipto Umar tenang-tenang sajalah. Walaupun kami  tetap sebagai insinyur.
Pak Said Didu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2011/07/kuntoromangkusubroto2.jpg"  rel="lightbox-1275"><img class="aligncenter size-full wp-image-1277" title="kuntoromangkusubroto2" src="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2011/07/kuntoromangkusubroto2.jpg" alt="kuntoromangkusubroto2" width="585" height="194" /></a><br />
Assalamu’alaikum wr. wb.</p>
<p>Selamat pagi. Salam sejahtera buat kita semuanya.</p>
<p>Sambil jalan kesini..saya bertanya. Kalau saya tidak bisa berlari, apakah saya masih dianggap insinyur. Kalau saya lihat, pak Waluyo naik panggung sambil lari, pak Said Didu naik panggung sambil lari. Saya kira..saya seangkatan dengan pak Cipto Umar tenang-tenang sajalah. Walaupun kami  tetap sebagai insinyur.</p>
<p>Pak Said Didu yang saya hormat &#8211; Ketua Umum PII, Pak Purnomo &#8211; Menteri Pertahanan yang saya hormati, dan seluruh sahabat insinyur yang saya hormati.</p>
<p>Pagi ini..pagi yang sangat menyenangkan, karena bertemu dengan banyak teman. Saya minta sama pak Cipto Umar tadi itu, untuk sedikit bernostalgia 25 tahun lalu. Inilah suasana yang sangat menggairahkan. Karena saat itu kita sedang semangat-semangatnya, menaikkan citra kita. Pada waktu itu, saya sebagai stafnya pak Ginanjar, di kantor Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri. Itu katanya kantor di Republik yang isinya insinyur, dan tujuan utamanya adalah meningkatkan daya saing Indonesia. Kantor Menteri Muda UPPPDN umurnya cuman 5 tahun. Tentunya dengan asumsi..begitu berhasilnya kantor itu, daya saing dimana-mana meningkat, sehingga tidak perlu lagi kantor itu.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Insinyur itu tidak bisa dilepaskan dari berbagai macam kegiatan pembangunan. The real hardwork. The real hands..dirty. Itu adalah tangannya insinyur, dirty dengan pengertian beneran, bukan kotor dengan nuansa lain. Yang betul-betul bekerja, kita inilah. Yang membubut poros..kita, yang mengelas..kita, yang mengecor aspal..kita. Jadi saya kira tak ada satu pun orang di dunia ini, meragukan atau mempertanyakan peran dari seorang insinyur. Saya kira ini satu hal yang sangat membanggakan bagi kita semua.</p>
<p>25 tahun yang lalu, suasana beda sekali.  25 tahun lalu, gelora politik itu begitu tingginya. Sedemikian sehingga, kita selalu ingin dilihat sebagai orang yang juga berperan di dunia politik. Pada saat itu, menjadi Ketua Umum PII itu adalah sebuah tiket menuju kepada jabatan menteri. Pada saat itu suasananya seperti itu. Timbul pertanyaan besar, apakah memang lembaga ini diarahkan untuk itu? Terjadi banyak pergulatan pemikiran dan intelektual berkenaan dengan ide besar tadi itu.</p>
<p>Apa yang kita hadapi sekarang, adalah sesuatu yang berbeda sekali. Kalau kembali kepada apa yang disampaikan &#8211; esensi dari kerja insinyur &#8211; dengan istilah lain, kita ini sudah kembali pada khitahnya, yaitu insinyur. Inilah yang membuat saya sangat berbahagia pada akhir-akhir ini, melihat perkembangan-perkembangan kita yang begitu melesat. Sebetulnya kalau kita tambahkan indikator-indikator yang tadi disampaikan Pak Said Didu : Competitiveness Index, bahkan Corruption Perception Index, Investment Index, barangkali anda akan surprise, bahwa Indonesia saat ini adalah negara yang paling diminati untuk investment di seluruh dunia. Coba lihat buku mengenai investment index. Jadi pertumbuhan kita 6,1%, Unemployment Rate kita menurun, Poverty Index kita menurun. Maka secara keseluruhan, bahkan pada Structure Political Index, Indonesia bukan hanya is not bad..is good, is good.</p>
<p>Jadi kita patut berbangga kalau kita melihat itu semuanya. Ini bukan sesuatu yang membuat kita harus puas. Presiden mengatakan, begini saja 6,1%. Kalau kita berikan input tambahan mungkin bisa 8%.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Why not? Dan itulah tantangan kita. Jadi kepuasan-kepuasan kita pada tingkat makro, sekarang ini janganlah membuat kita terlena. Saya kira dalam waktu dekat, kita akan menjadi investment great economy..sekarang pun kita melihat.. memang kalau kita melakukan analisa lebih tajam lagi, kita akan melihat balance antara uang yang masuk ke Indonesia ini, untuk short term atau long term? Ini akan nampak. begitu krisis Eropa ini tidak terkendali, apakah uang-uang yang masuk ke Indonesia akan keluar lagi, ini saya kira perlu kita dicermati. Tetapi sebagian cukup besar dari uang yang masuk ke Indonesia, adalah untuk investment yang sifatnya jangka panjang, seperti di sektor minyak dan gas, di sektor pertambangan, di sekor industri, tdi sektor perkebunan. Ini semuanya adalah yang sifatnya jangka panjang.</p>
<p>Kalau kita melihat suasana politik, dalam pengertian membaca di koran &#8211; rasanya gaduh betul negeri kita ini. Tapi kalau kita perhatian pertumbuhan ekonomi kita tetap baik di dalam kegaduhan itu…nampaknya decoupling antara politics and economy sudah hampir sempurna terjadi. Politik boleh gaduh, ekonomi jalan terus. Ini sesuatu yang sejak 25 tahun lalu, sangat diharapkan. Sampai dengan tahun 1998, decoupling terjadi, sedikit kegaduhan di politik, dampaknya besar di ekonomi. Sekarang itu tidak terjadi lagi.</p>
<p>Tidak berarti bahwa kegaduhan politik itu bisa kita dibiarkan begitu saja. Tentunya yang cantik itu adalah walaupun terjadi decoupling, tetapi politik tidak gaduh. Saya kita ini sesuatu yang perlu kita pikirkan.</p>
<p>Di dalam perkembangan pemikiran ini, sejalan dengan keinginan dan harapan kita semuanya, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, maka lahirlah konsep MP3EI. Masterplan bagi percepatan pembangunan ekonomi. It’s a Masterpiece, pada dasarnya. Kalau kita pelajari baik-baik..its Masterpiece. Senior-senior : pak Cipto, pak Qoyum, pak Taufiq,..saya kira sepakat bahwa paling tidak dalam 25 tahun terakhir tidak ada konsepsi pembangunan yang sejelas ini. Repelita tidak setara dengan ini, lain sekali konteksnya.</p>
<p>Tetapi kalau kita pelajari MP3EI dengan baik, dimana menonjol di situ pembangunan Indonesia melalui 6 koridor, maka inilah pertama kali ada suatu pemikiran yang solid sekali, bagaimana kita membangun Indonesia ini. Banyak sekali kritik, tetapi kritik-kritik itu  ada yang benar, ada yang kurang benar. Bahwa kita mempunyai economic corridor sebanyak 6 (enam), dan bahwa kita sekarang ini yang paling penting adalah bagaimana mengimplementasikannya, maka itu adalah tantangan kita semuanya.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Deng Xiaoping, di tahun 80an, mengintrodusir 15 special economic zone. Dari 15 itu, yang berhasil hanya 6. Salah satu penasehat Deng Xiaoping adalah seorang Profesor dari Singapura. Dan dia saya tanya, “Please give me five success factors dari keenam economic zone yang dilahirkan oleh Deng Xiaoping 25 tahun lalu?” Dia menyebutkan :</p>
<p>Satu, a totally liberal political economic for that soon. Nah di tahun 80an, a totally liberal ini bagaimana? Apakah setara dengan kita sekarang? Karena pada tahun 80an, komunis itu masih kenceng-kencengnya di sana.  Bukan komunis seperti sekarang. Apakah totally liberal political economy saat itu di China setara dengan kita? Ataukah kita masih kurang liberal? Ataukah bahkan kita terlalu liberal?</p>
<p>Yang kedua, kedekatannya dengan Hongkong sebagai pusat pasar uang. Jadi, keenam koridor ini adalah koridor-koridor yang semuanya dekat dengan Hongkong. Jadi dia mengatakan, bahwa kedekatan dengan pasar uang, ini adalah sesuatu yang sangat membantu tumbuhnya economic zone tadi.</p>
<p>Yang ketiga, adalah digunakannya the best free in the world for that corridor development. Ini artinya apa?  Mereka tidak menutup dirinya bahwa pembangunan di sana itu hanya dilakukan oleh the best free in China. Saya tidak tahu bagian yang ini.</p>
<p>Yang keempat, adalah total support from the local government. Nah ini menarik.  Apakah di dalam desentralisasi kita ini, kebijakan dari Jakarta ini mendapatkan support totally dari daerah? Dan pertanyaannya, siapa yang namanya daerah itu? Kalau dalam sistem desentralisasi ini, rasa-rasanya bupati lebih berkuasa daripada gubernur. Saya kira inilah bagian yang perlu kita cermati dengan baik.</p>
<p>Yang kelima, agak teknis. Back up penuh dalam soal pembangunan infrastruktur, dll.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian.<br />
Ini adalah 5 success factor. MP3EI as a masterpiece sekarang perlu kita implementasikan. Belajarlah bagaimana kita mensukseskan 6 koridor itu. Tetapi kalau kita menggunakan success ratio 6 dari 15, ya jangan menggunakan rasio itu. Paling tidak 4 dari 6 atau 5 dari 6 berhasil. Menuju pada pertumbuhan apa yang dicita-citakan oleh Indonesia di tahun 2030.</p>
<p>Pada tataran lebih rendah dari itu, maka masuklah kita kepada aspek mikro.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Disnilah bagian dari banyaknya pusing kepala kita. The macro is growth, the but the micro is not succesfully.  Pada waktu itu, Charles Ghosn (Dirut Nissan), dia mengatakan, “Pak Kuntoro, manufacturing cost kita di pabrik di Cikarang, 30 persen lebih murah daripada Thailand. Tapi begitu sampai kapal di Priuk, menjadi 20 persen lebih mahal dari Thailand. So the logistic cost from the plant to on boat, is about another sixty percent.</p>
<p>Bayangkan, sebuah mobil yang segala isinya, semuanya, dibuat di cikarang 30 persen lebih murah daripada yang setara di Thailand. Begitu naik di kapal, what a loss? Dan itu adalah loss yang kita sehari-hari kita hadapi. Berapa menit, maaf berapa jam..anda tiba di titik ini dari rumah anda tadi pagi? Menit kelihatannya sudah ga perlu lagi pada jam kita ini. Yang perlu adalah jam, memang namanya juga jam, bukan menit jadinya. This is our challenge.</p>
<p>Listrik. Toll Road. Apa ga sedih anda, 15 tahun toll road itu ga jadi-jadi, yang menghubungkan Jakarta &#8211; Surabaya? 10.000 MW tahap I, not more than one thousand. what happens? PLTU Rembang, apa yang terjadi? Kalau saya cerita di sini, this will be shock for you than me. Inilah hebatnya kita. The macro is okay, the micro isn’t okay.</p>
<p>Bagi orang yang selalu optimis, “Pak Kuntoro ga usah takut dengan kemacetan. Itu menandakan bahwa pertumbuhan ekonomi kita bagus sekali. Itu artinya mobil-mobil kita di-produce dan dibeli oleh orang. Memang kurang cepat bangun jalannya, jadi ya macet.” Jadi menyenangkan untuk didengar, tapi anda ada di kemacetan, anda sebel juga gitu ya. This are micro things. Yang menjadi tantangan kita.</p>
<p>Bagaimana kita memecahkan persoalan ini? Dari apa yang ada di mikro, termasuk infrastruktur. Pak Purnomo tahu, bahwa kita sudah susah, mengenai energi. Saya sebetulnya orang yang paling gampang kerjaannya di pemerintahan ini. Cuman lihat apa yang dikerjakan orang lain. Paling enak hidup saya ini. Kritik sana kritik sini gitu ya. Kalau ada yang bilang, lo kerjain sendiri ya mungkin juga ga bisa gitu kan.</p>
<p>Whats happening? Kita sudah tahu bahwa gasoline kita ini  sewaktu-waktu akan njomplang. Kita sudah tahu, bahwa soal waktu kita akan menjadi..bukan soal waktu. Sebetulnya sudah beberapa tahun yang lalu, kita sudah oil net imported. Yet, rezim production sharing contract kita sama dengan 30 tahun yang lalu, pada waktu kita masih onsource semuanya. Real at the best free now this country. Kalau saya boleh mengeluh pada anda  semuanya. Dimana the best free the country? Apakah tidak punya anticipatory sense? Dan apa susahnya kita nyontek rezim kontrak minyak di Kongo misalnya. Atau di Brazil. The Brazil Oil Industry….is nothing. Sekarang, begitu kita bicara mengenai penambangan minyak laut dalam..you go to Brazil. Ini ada di hadapan mata kita. Ini bukan sesuatu yang khayal atau jauh. No, this just one metre on your head. Anda bisa lihat semuanya.</p>
<p>Sekarang, saya ingin mengantar anda pada tantangan-tantangan ke depan. Banyak sekali tantangan, yang “event the feel is not real”. Kalau ngomong tentang power plant. PLN mengerti lah semuanya. Begitu kita ngomong minyak, orang top kayak pak Purnomo hafal semuanya. Bicara mengenai gedung-gedung struktur susah, ada pak Wiratman. Begitu bicara fertilizer saya lihat teman-teman hebat-hebat semua di sini. Tapi kalau kita bicara mengenai emission..climate change…event the feel is not real. What is the climate change? Ini omongan orang pinter yang nakut-nakutin? Atau orang Barat yang mau mengurangi kecepatan pembangunan kita? Atau ini kolonialisme gaya baru, itu di satu sisi? Atau sesuatu yang betul-betul kita khawatarkan? Climate Change. Saya adalah pengikut aliran  is the real threat. Ini adalah ancaman yang betul-betul nyata.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Naiknya emisi karbon di atmosfer kita, membuat temperatur kita meningkat. Statistik bilang seperti itu. Orang bilang, don’t worry is about carbon. Tapi itu karena kondisi matahari. Ah saya tidak mengerti, mungkin dia benar juga. Tetapi bagi kita, saya, orang yang biasa-biasa saja, carbon is a serious challenge.  Dan tidak bisa dikontrol. Bagi anda yang mengikuti perdebatan PBB, CAP 789, COP Kopenhagen, Kanggon, anda akan melihat perdebatan para raksasa, China, Amerika, India, tidak akan bisa menjawab dalam waktu dekat. Ini politik pembangunan. Mulai dari mengatakan, “anda sudah mengotori dunia ini sejak 200 tahun yang lalu, kenapa anda minta saya yang baru mengotori dunia ini 20 tahun untuk ikut berkorban? Padahal saya  ingin sejahtera-nya rakyat saya, sama seperti sejahteranya rakyat anda.” Ini mulai dari politik: why me, why not you. Anda duluan, baru saya.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Ini adalah tantangan kita. Lepas dari persoalan bahwa Bapak Presiden Yudhoyono sudah menyatakan bahwa kita akan lepas dari persoalan itu, sekarang pertanyaannya, kalau air laut naik ½ meter, apa yang akan terjadi? Bagi kita, yang hidupnya simpel-simpel saja, “oh..Pantai Indah Kapuk akan ada masalah.” Kenapa dia naik ½ meter atau 30 centi? Kenapa dia naik? Climate Change. Berapa naik temperaturnya.? Kalau air laut naik 30 cm atau ½ meter, pertanyaannya berapa luas teritori kita yang berkurang? Barangkali anda akan kaget, ini hubungannya apa?</p>
<p>Bagaimana batas teritori kita ditentukan adalah dari pulau atau gosong terluar dari kepulauan kita. Dan banyak gosong-gosong yang tingginya ½ meteran pada waktu surut, pada waktu pasang hilang.<br />
Pulau Benggala, mungkin Pulau Rondo. Pulau Rondo mungkin banyak yang tidak tahu. Pulau Rondo, adalah pulau yang paling barat dari Aceh. Mungkin tidak akan hilang. Tapi akan banyak pulau-pulau gosong kecil yang akan hilang dengan naiknya air laut 30 centi. Pertanyaannya, berapa berkurangnya? Lalu akibatnya apa? Saya yakin Pak Purnomo sudah memikirkan soal itu.</p>
<p>Cuma pertanyaannya, berapa persen teritori kita akan hilang? Lalu efeknya apa pada kita? Efeknya apa? Apakah Marsela akan tetap bagiannya dari Republik Indonesia atau menjadi international water territory, atau apa? Kajian strategis seperti ini, mungkin sudah ada, tapi paling tidak saya tidak pernah dengar. Anda kata temperatur kita naik 2 derajat, pertanyaannya crop apa yang paling terganggu dan mungkin tidak akan ada lagi? Tanaman apa yang tidak bisa bertahan, akibat hama atau akibat peningkatan itu menjadi tidak produktif lagi?</p>
<p>Brazil sudah melakukan kajian, dari 10 tanaman utama di Brazil, tempetatur naik 2 derajat, maka 3 (tiga) akan hilang, Jadi itu artinya 70 persen masih ada, tapi 30 persen akan gone. Efeknya apa? Kepada ketahanan ekonomi Brazil. Mereka baru melakukan ini 2-3 tahun yang lalu. Tetapi saya tidak pernah dengar ini ada di kita, mudah-mudahan sudah ada tapi saya belum tahu.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Seluruh cara berpikir kita mohon kita sesuaikan dengan challenge baru, dan jangan terlalu kita masuk kepada persoalan-persoalan yang berhubungan dengan political economy. Apa akibatnya terhadap sawit, karet, keledai, kacang panjang, padi? Apalagi secara politik bahwa Presiden sudah mengatakan, kita akan contribute pengurangan emisi 26%, dan dengan bantuan internasional &#8211; another fifty percent menuju fourty-one percent. Ini adalah challenges kita.</p>
<p>Sekarang bagaimana pertumbuhan ekonomi yang tadi ingin naik dari 7% menjadi 8% diseimbangkan dengan emission control? That’s the next our challenges.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Banyak hal yang perlu kita antisipasi. Jangan mengecilkan arti tragedi Fukushima. Mungkin dilihat dari Tsunami Aceh itu lebih hebat dari Tsunami Jepang. Tetapi ada satu faktor nuklir di Jepang yang membuat persoalannya istimewa, dan mungkin akan berubah bagaimana dunia ini menyediakan energinya. Swiss – saya baca koran pagi tadi &#8211; sudah memutuskan tidak ada lagi pembangunan PLTN di Swiss. Jadi tadi ada gambar PLTN-nya pak Said Didu, berikan tanda tanya. Apakah kita masih akan masuk ke wilayah itu? Dan begitu bicara nuklir itu tidak lama.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian.<br />
Saya sudah mengambil waktu terlalu banyak dari anda semua. Tapi ini adalah rasa kangen saya pada anda semuanya, para insinyur. Sudah lama saya tidak punya kesempatan menyampaikan pemikiran yang mungkin juga berarti, mungkin juga kurang berarti, mungkin sudah dipikirkan, mungkin juga belum dipikirkan. Tetapi satu hal, ini sesuatu yang bermakna bagi kita semua.<br />
Satu subtitle ini adalah etics. Etics is the most valuable assets. Saya tidak akan memberikan apa-apa terkait dengan etics..tapi trust me. Ini satu hal yang betul-betul ingin saya dan kita semua garis bawahi, bahwa etics..integrity is number one, tapi etics ada pada tataran filosofis. Perlu ada suatu enforcement, dan itu namanya regulasi. Etics without regulations is just be philosophy. Dan filosofi kadang-kadang dibaca, pada waktu ada senggang.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Selamat ber-RAPIMNAS. Saya sangat berbahagia bisa bertemu dengan anda semua pada pagi hari ini. Bertemu dengan teman-teman yang usianya sama dengan PII, 59 tahun. Pak Cipto Umar, pak Qoyum, pak Taufiq. Kita seumuran usianya 59 tahun. Saya ucapkan selamat pada RAPIMNAS PII ke-5 ini, selamat ulang tahun pada PII ke-59, dan semoga PII tetep maju, tetap seperti apa yang kita cita-citakan.  Dengan menghasilkan banyak kader-kader yangg mungkin bisa dipinjam di tempat lain. Dengan istilah pak Said Didu, toh nanti akan kembali ke induknya lagi, yaitu Persatuan Insinyur Indonesia.</p>
<p>Terimakasih atas perhatian anda semuanya.</p>
<p>Wassalamu’alaikum wr. wb.</p>
<p>Download PDF : <a href="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2011/07/Pidato-RapimnasPII-KuntoroMangkusubroto.pdf" target="_blank">Pidato Pembukaan Rapimnas PII 2011 oleh Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pii.or.id/i/pidato-dr-ir-kuntoro-mangkusubroto/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rapimnas PII 2010</title>
		<link>http://pii.or.id/i/rapimnas-pii-2010</link>
		<comments>http://pii.or.id/i/rapimnas-pii-2010#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 06:46:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Insinyur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[pii]]></category>
		<category><![CDATA[rapimnas pii 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pii.or.id/i/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2010, terdapat beberapa agenda pengurus PII yang telah menunggu. Ada langkah-langkah dari Rekomendasi Teknologi PII 2009, juga garis besar program kerja yang dikukuhkan pada saat Kongres PII XVIII di Manado bulan Desember 2009 lalu. Agenda ini akan melibatkan seluruh pihak sehingga perlu langkah bersama untuk merealisasikannya.
Dalam Rapat Pimpinan Nasional PII (Rapimnas PII) 2010 kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2010/06/rapimnas-pii-2010-2.jpg"></a><a href="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2010/06/rapimnas-pii-2010-2.jpg"  rel="lightbox-577"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-579" style="border: 1px solid black; margin: 7px;" title="rapimnas-pii-2010-2" src="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2010/06/rapimnas-pii-2010-2.jpg" alt="rapimnas-pii-2010-2" width="240" height="300" /></a>Tahun 2010, terdapat beberapa agenda pengurus PII yang telah menunggu. Ada langkah-langkah dari Rekomendasi Teknologi PII 2009, juga garis besar program kerja yang dikukuhkan pada saat Kongres PII XVIII di Manado bulan Desember 2009 lalu. Agenda ini akan melibatkan seluruh pihak sehingga perlu langkah bersama untuk merealisasikannya.</p>
<p>Dalam Rapat Pimpinan Nasional PII (Rapimnas PII) 2010 kali ini, pengurus pusat bermaksud untuk pertama, menghimpun lebih lengkap informasi terbaru atas prospek dan fokus pembangunan di tiap daerah maupun potensi perguruan tinggi teknik yang ada, beserta pusat-pusat studi yang dimiliki dan tentu saja sumber daya keinsinyuran. Yang kedua, menciptakan berbagai kerja sama yang melibatkan unsur-unsur di daerah untuk meningkatkan daya saing industri di daerah.</p>
<p>Pilihan terhadap tema &#8220;Penumbuhan Inovasi Teknologi di Daerah&#8221; menjadi  sangat relevan, mengingat seluruh pelosok nusantara ini memiliki prospek dan daya saingnya yang perlu untuk ditingkatkan. PII mengambil  peran strategis dalam memfasilitasi kerja sama inovasi teknologi dan kerja sama dengan unsur-unsur potensial lainnya.</p>
<p>Kegiatan Rapimnas ini juga disatukan dengan agenda kegiatan internasional keinsinyuran, sebagai bagian dari kegiatan kerja sama internasional yang telah diputuskan dimana Indonesia menjadi tuan rumah bagi 3 pertemuan penting sekaligus, yaitu AFEO Midterm Meeting, FEIAP Exco Meeting, dan AAET Council Meeting. Penyatuan acara-acara tersebut selain dimaksudkan karena faktor efisiensi, juga untuk memberikan titik temu pada rekan-rekan insinyur dari seluruh daerah dengan mitra PII se ASEAN dan Asia Pasifik.</p>
<p>Rapimnas kali ini diselenggarakan pada tanggal 14-15 Juni 2010 berlokasi di Hotel Borobudur, Jakarta. Pelaksanaan kegiatan ini dikaitkan dalam rangka HUT ke-58 PII.</p>
<p>Informasi lebih lengkap, silakan download atau lihat : <a href="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2010/06/Rapimnas-PII-2010.pdf" target="_blank">Term of Reference Rapimnas PII 2010 (pdf)</a>.</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pii.or.id/i/rapimnas-pii-2010/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Said Didu Segera Pimpin PII</title>
		<link>http://pii.or.id/i/said-didu-segera-pimpin-pii</link>
		<comments>http://pii.or.id/i/said-didu-segera-pimpin-pii#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 15:19:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Insinyur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[airlangga hartarto]]></category>
		<category><![CDATA[pii]]></category>
		<category><![CDATA[Said Didu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pii.or.id/i/?p=417</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta. 3.12.2009 &#8211; Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara Said Didu akan segera menggeser posisi Airlangga Hartanto sebagai Ketua Persatuan Insinyur Indonesia. Pergantian ini akan dilakukan dalam Konggres Persatuan Insinyur Indonesia di Menado, Sulawesi Utara, pada 7-8 Desember.
&#8220;PII akan mengadakan pergantian kepengurusan dari saya ke Pak Said Didu,&#8221; kata Airlangga yang didampingi sejumlah pengurus Persatuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta. 3.12.2009 &#8211; Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara Said Didu akan segera menggeser posisi Airlangga Hartanto sebagai Ketua Persatuan Insinyur Indonesia. Pergantian ini akan dilakukan dalam Konggres Persatuan Insinyur Indonesia di Menado, Sulawesi Utara, pada 7-8 Desember.</p>
<p>&#8220;PII akan mengadakan pergantian kepengurusan dari saya ke Pak Said Didu,&#8221; kata Airlangga yang didampingi sejumlah pengurus Persatuan Insinyur usai bertemu Wakil Presiden, Boediono di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (3/12).</p>
<p>Dia menjelaskan, Said Didu langsung menduduki jabatan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia. Said Didu, kata Airlangga, sudah dipilih tiga tahun yang lalu. &#8220;Kalau di Persatuan Insinyur, pemilihannya adalah wakil ketua umum dipilih untuk magang 2 tahun, dan kemudian tahun berikutnya jadi ketua umum,&#8221; katanya.</p>
<p>Hal ini, kata dia, terkait masalah kepemimpinan di Persatuan Insinyur Indonesia. Menurut dia, mekanisme seperti ini berbeda dengan kepengurusan di organisasi lainnya. Di sejumlah organisasi profesi jabatan ketua umum biasanya berganti setiap empat atau lima tahun sekali. [tempointeraktif.com]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pii.or.id/i/said-didu-segera-pimpin-pii/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aburizal Terima AFEO Award</title>
		<link>http://pii.or.id/i/aburizal-terima-afeo-award</link>
		<comments>http://pii.or.id/i/aburizal-terima-afeo-award#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 02:42:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Insinyur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[afeo]]></category>
		<category><![CDATA[award]]></category>
		<category><![CDATA[insinyur asean]]></category>
		<category><![CDATA[pii]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pii.or.id/i/?p=372</guid>
		<description><![CDATA[Pada Rabu 2 Desember 2009, area Ballroom 2 di Suntec International Convention di Singapura diramaikan ratusan insinyur dari negara ASEAN.
Dalam acara tersebut, Aburizal Bakrie yang juga Dewan Penasihat Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dianugerahi penghargaan Distinguished Honorary Fellow dari Asean Federation of Engineering Organizations (AFEO), federasi organisasi Insinyur se-Asean.
Pemberian penghargaan itu diberikan bersamaan dengan diselenggarakannya konferensi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2009/12/aburizal.jpg"  rel="lightbox-372"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-373" style="border: 0pt none; margin: 0px 5px;" title="aburizal" src="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2009/12/aburizal.jpg" alt="aburizal" /></a>Pada Rabu 2 Desember 2009, area Ballroom 2 di Suntec International Convention di Singapura diramaikan ratusan insinyur dari negara ASEAN.</p>
<p>Dalam acara tersebut, Aburizal Bakrie yang juga Dewan Penasihat Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dianugerahi penghargaan Distinguished Honorary Fellow dari Asean Federation of Engineering Organizations (AFEO), federasi organisasi Insinyur se-Asean.</p>
<p>Pemberian penghargaan itu diberikan bersamaan dengan diselenggarakannya konferensi Asosiasi Insinyur se-Asean (CAFEO), di Singapura, yang berakhir pada malam itu.</p>
<p>Ketua PII, Airlangga Hartarto di lokasi acara menjelaskan, penghargaan diberikan karena selama ini Aburizal banyak memberikan kontribusi teknologi yang besar kepada masyarakat luas. Aburizal melalui perusahaannya, menerapkan teknologi tepat guna bagi kepentingan rakyat.</p>
<p>&#8220;Salah satunya adalah mini hidro,&#8221; kata Airlangga.</p>
<p>Dia mengatakan, tak sembarangan orang bisa menerima penghargaan itu. Sebab, mekanisme pemberian penghargaan sangat ketat. Yakni harus diusulkan oleh beberapa negara, baru setelah itu disetujui oleh 10 negara anggota AFEO.</p>
<p>Kata dia, Aburizal Bakrie adalah orang ketiga dari Indonesia yang memperoleh penghargaan tersebut. Penerima sebelumnya adalah mantan Presiden BJ Habibie dan Purnomo Yusgiantoro, saat ini menjabat Menteri Pertahanan.</p>
<p>Tokoh lain adalah  mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad dan mantan Presiden Filipina, Fidel Ramos.</p>
<p>Usai menerima penghargaan, Aburizal mengaku bahagia dalam menerima penghargaan ini. Namun, dia terus terangmengaku kurang begitu mengetahui, apa latar belakang dia menerima penghargaan tersebut, apakah karena achievment yang dilakukannya selama ini atau pertimbangan lain.</p>
<p>Kendati demikian, dia berpendapat, seharusnya teknologi bisa sangat berperan dalam pengambilan keputusan di pemerintahan. &#8220;Sebab peran teknologi sangat penting, untuk menyejahterakan rakyat,&#8221; katanya.</p>
<p>Dia juga menilai universitas di Indonesia dan negara ASEAN lainnya, sudah cukup mampu untuk bersaing di pasar dunia. Terlebih di Indonesia, dia mencontohkan seperti ITB atau IPB yang sudah bisa menghasilkan lulusan yang kompetitif dengan lulusan negara lainnya.</p>
<p>Maka tak salah, jika universitas tersebut membuka cabang kampusnya di provinsi lain, ataupun di negara lainnya.</p>
<p>Saat pemberian penghargaan, hadir pula putra bungsu Aburizal Bakrie Anindra Ardiansyah Bakrie atau yang lebih dikenal dengan Ardi Bakrie yang datang bersama tunangannya, artis Nia Ramadhani. Putri kedua Ical, Anindhita Anestya Bakrie juga ikut hadir dalam acara penghargaan yang dibalut dengan acara makan malam.</p>
<p>Selain Aburizal, insinyur yang menerima penghargaan lainnya adalah Ilham Akbar Habibie, putra mantan Presiden BJ Habibie.  [vivanews.com]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pii.or.id/i/aburizal-terima-afeo-award/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Temu Nasional Insinyur Muda VII</title>
		<link>http://pii.or.id/i/temu-nasional-insinyur-muda-vii</link>
		<comments>http://pii.or.id/i/temu-nasional-insinyur-muda-vii#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 10:59:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Insinyur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[FAMPII]]></category>
		<category><![CDATA[pii]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pii.or.id/i/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[Forum Anggota Muda Persatuan Insinyur Indonesia (FAM-PII), baru saja menyelenggarakan sebuah hajatan besar yang dikenal dengan nama Temu Nasional VII (TENAS VII) FAM-PII yang diselenggarakan di Kota Malang tanggal 24-25 Januari 2009. TENAS merupakan Forum tertinggi organisasi dalam pengambilan keputusan, yang dilaksanakan secara rutin setian tahun.
Pelaksanaan TENAS VII tahun 2009 ini mengambil Tema,“Indonesia Outlook 2009, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Forum Anggota Muda Persatuan Insinyur Indonesia (FAM-PII), baru saja menyelenggarakan sebuah hajatan besar yang dikenal dengan nama Temu Nasional VII (TENAS VII) FAM-PII yang diselenggarakan di Kota Malang tanggal 24-25 Januari 2009. TENAS merupakan Forum tertinggi organisasi dalam pengambilan keputusan, yang dilaksanakan secara rutin setian tahun.</p>
<p>Pelaksanaan TENAS VII tahun 2009 ini mengambil Tema,“Indonesia Outlook 2009, Membangun Paradigma Baru Insinyur Muda Indonesia yang Optimis, Kritis dan Dinamis”.  Tema ini dipilih didorong oleh keinginan dan semangat untuk mengarungi tahun 2009 ini dengan penuh harapan, optimis, tetap dinamis dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan global.</p>
<p><a href="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2009/02/tenas7-2.png"  rel="lightbox-258"><img src="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2009/02/tenas7-2.png" alt="tenas7"/></a></p>
<p>Rangkaian acara TENAS VII antara lain adalah Seminar Nasional yang membahas tema tersebut di atas dengan menghadirkan nara sumber dari berbagai kalangan, baik dari dunia industri, pemerintah, akademisi, maupun praktisi bisnis. Hadir sebagai nara sumber antara lain; Prof. Dr. Ir. Kamaruddin Abdullah dari Pengurus Pusat PII sekaligus mewakili akademisi, Kepala Bappeda Kabupaten Malang, Ir. Rudianto Handojo (PII), Sony T (PT Semen Gresik), Urip Timuryono (Asosiasi Semen Indonesia), dan Imam Gunawan dari Kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga.</p>
<p>Hadir pula dalam acara ini antara lain; Ketua PII Cabang Malang, Prof. Dr. Ir. Sugito, Sekretaris Pengurus Wilayah PII Jawa Timur, Bambang S. Sedangkan gong pembukaan secara resmi TENAS VII dilakukan oleh Ir. Heru Dewanto, MSc, Sekjen Pengurus Pusat PII mewakili Ketua Umum yang berhalangan hadir.</p>
<p>Sesi seminar ini dihadiri oleh 200 peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa, dosen, praktisi bisnis , pengurus PII cabang, FAM-PII se-Indonesia dan undangan lainya. Peserta cukup antusias mengikuti jalannya seminar, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan kritis yang dilontarkan peserta hingga acara usai.</p>
<p>Sore hari dilanjutkan dengan pembahasan materi persidangan. Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 100 orang Insinyur Muda dan Anggota Mahasiswa dari FAM-PII Pusat dan FAM PII Cabang yang berasal dari Jogjakarta, Cilegon, Kalimantan Timur, Makassar, Pangkep, Malang, dll. Persidangan ini membahas antara lain Agenda dan Tatib TENAS, Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Ketua Umum, Ir. Ahmad Tahir, Pemandangan Umum peserta, Pembahasan Gari-garis besar program FAM-PII, Rekomendasi serta Pemilihan Ketua Umum FAM-PII untuk periode 2009/2010.</p>
<p>Suasana persidangan TENAS terlihat cukup alot hingga menyita waktu hingga pukul 02.00 dini hari. Perdebatan dan adu argumentasi peserta sudah terlihat sejak awal persidangan, dan memaksa pimpinan sidang sementara (steering committee) yang terdiri dari M. Erfandi Delamunte, Mardan Muhammad dan Indra Kurniadi harus bergantian berulang kali.</p>
<p>Demikian Pula halnya dengan pembahasan materi Keorganisasian, LPJ cukup memakan waktu. Puncak persidangan terjadi ketika digelar pemilihan Ketua Umum FAM PII periode 2009/2010. sebetulnya sesi ini tidak terlalu seru mengingat calon terpilih yakni  Ir.Qiqi Asmara tidak mendapat rival alias calon tunggal setelah tiga kandidat lainnya yaitu; Ade Ibrahim, Indra Kurniadi dan Natal Rochester mengundurkan diri.</p>
<p>Acara TENAS VII ditutup oleh ketua terpilih; Ir. Qiqi Asmara sekitar pukul 02.00 dini hari tanggal 25 Januari 2009. (Ade Ibrahim)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pii.or.id/i/temu-nasional-insinyur-muda-vii/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CAFEO 26 Journey</title>
		<link>http://pii.or.id/i/cafeo-20-journey</link>
		<comments>http://pii.or.id/i/cafeo-20-journey#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 08:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Insinyur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[cafeo]]></category>
		<category><![CDATA[pii]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pii.or.id/i/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[CAFEO ke 26, yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand dari 26 – 29 November 2008 yang lalu, menyisakan satu pengalaman yang sangat mendalam bagi delegasi dari PII. Tercatat ada 21 peserta (termasuk spouse) yang dapat hadir dan 17 peserta yang terpaksa tidak dapat mencapai Bangkok karena adanya penutupan International Airport Suvarnabhumi dan Airport Don Mueang akibat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>CAFEO ke 26, yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand dari 26 – 29 November 2008 yang lalu, menyisakan satu pengalaman yang sangat mendalam bagi delegasi dari PII. Tercatat ada 21 peserta (termasuk spouse) yang dapat hadir dan 17 peserta yang terpaksa tidak dapat mencapai Bangkok karena adanya penutupan International Airport Suvarnabhumi dan Airport Don Mueang akibat demonstrasi. Walhasil, delegasi PII tidak dapat mengikuti seluruh acara, khususnya acara terakhir, yaitu Farewell party pada 28 November 2008 malam, yang merupakan penyerahan bendera CAFEO dari The Engineering Institut of Thailand (EIT) ke The Institution of Engeneers, Singapura (IES).<br />
<img src="http://www.pii.or.id/i/wp-content/uploads/2009/02/cafeo.png" alt="cafeo" /></p>
<p>Hingga Jum’at pagi, 28 November 2008, tidak terdapat tanda-tanda akan dibukanya International Airport serta beredarnya berbagai rumor, yang berkaitan dengan penanganan demo serta penentuan penerbangan internasional. Rekan Heru Dewanto/Sekjen PII sebagai ketua delegasi (menggantikan rekan Airlangga Hartarto/Ketum PII, yang pulang balik karena tidak bisa mendarat pada 24 November 2008 malam) memutuskan untuk membawa seluruh rombongan delegasi PII kembali ke Indonesia dengan menggunakan transportasi darat melalui Malaysia.</p>
<p>Ini adalah keputusan yang akhirnya terbukti tepat. Ada informasi dan bantuan yang diberikan oleh Bp. Mohammad Hatta/Dubes RI untuk Thailand, tetapi karena belum jelas kepastiannya, maka Ketua Delegasi tetap memutuskan untuk segera kembali. Dari pilihan sarana berupa bis besar (coach), bis kecil dan mobil van dipilih untuk menggunakan bis besar. Tetapi kemudian ada tawaran dari delegasi Malaysia, yang lebih paham akses, untuk bersama-sama berangkat dan menggunakan bersama 3 bis besar yang sudah disewa oleh delegasi Malaysia yang berjumlah 58 orang dengan 18 orang delegasi PII sepakat jalan bersama pada Jumat sore.</p>
<p>Rekan Budi Noto/ketua hubungan &#038; kerjasama internasional masih akan tinggal bersama spouse-nya. Karena bis besar mempunyai kapasitas 40 penumpang, 3 bis mempunyai kapasitas 120 penumpang, maka bergabunglah 6 orang dari delegasi Hongkong. Perjalanan dimulai sekitar jam 16.30-an waktu setempat, dengan dilepas oleh Ketua Penyelenggara dan bapak Woraphat Arthayukti/Ketum EIT, dari lobby hotel Sofitel Centara Grand Bangkok, Thailand.</p>
<p>Setelah jalan sekitar 1,5 jam, rombongan berhenti di pompa bbm dan rest room. Selanjutnya berhenti lagi sekitar jam 20.30-an waktu setempat, untuk makan malam dan belanja makanan kecil khas Thailand (oleh-oleh). Pemberhentian selanjutnya mengisi BBM sambil jajan dan rest room, setelah sekitar 3 jam perjalanan. Sebelum sampai di perbatasan Thailand – Yat Hai, 2 bis berhenti untuk rest room dan bis yang lain tidak terlihat berhenti. Sekitar jam 04.30, rombongan 3 bis sampai di Hai dan melakukan kordinasi untuk memastikan pos imigrasi yang akan dijadikan pemberhentian terakhir di Thailand.</p>
<p>Ada sedikit kesalah pahaman tentang waktu bis penjemput dari Malaysia yang menerima informasi bahwa rombongan akan sampai sekitar jam 10-an. Tetapi, ternyata tidak terlalu lama, setelah proses departure di imigrasi Thailand selesai, bis dari Malaysia sudah datang dan bisa dilakukan perpindahan penumpang dan bagasi. Tetapi, formasi penumpang diubah. Yang semula rombongan Malaysia dicampur dengan rombongan lain didalam satu bis, diatur untuk rombongan PII dan Hongkong berada di satu bis.</p>
<p>Hal ini karena tujuan PII dan Hongkong adalah KLIA (Kuala Lumpur International Airport), LCCA (Low Cost Carrier Airport) dan kota Kuala Lumpur. Pemberhentian pertama di Mmalaysia digunakan untuk makan pagi. Sekitar jam 1 siang, bis kembali berhenti untuk kesempatan belanja dan makan siang. Pemberhentian ketiga, terakhir di pada saat bis mengisi bbm. Tetapi karena diperjalanan ada hambatan, kecelakaan sebuah mobil box dan juga ada kecelekaan bis besar, maka kedatangan di KLIA sudah mendekati jam 6 petang dan sampai di LCCA mendekati jam 7 petang. Yyang terakhir, turun di kota Kuala Lumpur sekitar jam 8 petang.</p>
<p>Disini, 3 orang akan tinggal semalam (istirahat) dan 6 orang meneruskan perjalanan ke Singapore dengan bis, yang berangkat jam 22.30. Sekitar jam 02.30 pagi, setelah perjalanan non-stop, sampai di imigrasi Mmalaysia, untuk proses departure. Perjalanan kurang dari 10 menit kemudian, sampai di imigrasi Singapore. Selama perjalanan malam itu, sambil menikmati perjalanan yang nyaman karena infrastruktur jalan, yang dua jalur untuk setiap arah, dengan penyediaan tambahan jalur untuk putaran, rambu-rambu dan tanda-tanda lalulintas yang lengkap dan baik serta kepatuhan dalam disiplin dalam mengemudikan kendaraan di Thailand, maka sempat terpikirkan beberapa hal, dengan perbandingan di Indonesia.</p>
<p>Kesimpulan pertama, adalah apa yang disampaikan dalam HDR 2001 Making New Technologies Work For Human Development, pembangunan infrastruktur hingga ke pedesaan telah mengubah kondisi masyarakat Thailand menjadi lebih baik dan makmur. Banyaknya kendaraan sejenis pick-up (single maupun double cap) yang menjadi kendaraan dan dimiliki masyarakat di pedesaan/rural atau sub-urban, menjadi salah satu tanda kemakmuran.</p>
<p>Kedua, kelangkapan infrastruktur dipergunakan dengan mematuhi regulasi dengan disiplin yang tinggi akan tidak merugikan orang lain. Dijumpai dalam perjalanan di Thailand yang pengguna jalannya lebih disiplin dan mematuhi regulasi dibandingkan dengan Malaysia menunjukan bahwa akan mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Misalnya melintas di bahu jalan, di Thailand tidak ditemukan tetapi di Malaysia terjadi.Ketiga, spirit ASEAN atau AFEO masih sangat kuat dalam kerangka kerjasama antar organisasi keinsinyuran. Ddemikian sekilas catatan perjalanan kembali dari Thailand ke Indonesia.<em> (Bambang Soesijanto/dewan penasehat PII) </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pii.or.id/i/cafeo-20-journey/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

