Rapimnas PII 2010

June 2, 2010 by Engineer  
Filed under Berita PII

rapimnas-pii-2010-2Tahun 2010, terdapat beberapa agenda pengurus PII yang telah menunggu. Ada langkah-langkah dari Rekomendasi Teknologi PII 2009, juga garis besar program kerja yang dikukuhkan pada saat Kongres PII XVIII di Manado bulan Desember 2009 lalu. Agenda ini akan melibatkan seluruh pihak sehingga perlu langkah bersama untuk merealisasikannya.

Dalam Rapat Pimpinan Nasional PII (Rapimnas PII) 2010 kali ini, pengurus pusat bermaksud untuk pertama, menghimpun lebih lengkap informasi terbaru atas prospek dan fokus pembangunan di tiap daerah maupun potensi perguruan tinggi teknik yang ada, beserta pusat-pusat studi yang dimiliki dan tentu saja sumber daya keinsinyuran. Yang kedua, menciptakan berbagai kerja sama yang melibatkan unsur-unsur di daerah untuk meningkatkan daya saing industri di daerah.

Pilihan terhadap tema “Penumbuhan Inovasi Teknologi di Daerah” menjadi sangat relevan, mengingat seluruh pelosok nusantara ini memiliki prospek dan daya saingnya yang perlu untuk ditingkatkan. PII mengambil peran strategis dalam memfasilitasi kerja sama inovasi teknologi dan kerja sama dengan unsur-unsur potensial lainnya.

Kegiatan Rapimnas ini juga disatukan dengan agenda kegiatan internasional keinsinyuran, sebagai bagian dari kegiatan kerja sama internasional yang telah diputuskan dimana Indonesia menjadi tuan rumah bagi 3 pertemuan penting sekaligus, yaitu AFEO Midterm Meeting, FEIAP Exco Meeting, dan AAET Council Meeting. Penyatuan acara-acara tersebut selain dimaksudkan karena faktor efisiensi, juga untuk memberikan titik temu pada rekan-rekan insinyur dari seluruh daerah dengan mitra PII se ASEAN dan Asia Pasifik.

Rapimnas kali ini diselenggarakan pada tanggal 14-15 Juni 2010 berlokasi di Hotel Borobudur, Jakarta. Pelaksanaan kegiatan ini dikaitkan dalam rangka HUT ke-58 PII.

Informasi lebih lengkap, silakan download atau lihat : Term of Reference Rapimnas PII 2010 (pdf).

.

Said Didu Segera Pimpin PII

December 6, 2009 by Engineer  
Filed under Berita PII

Jakarta. 3.12.2009 – Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara Said Didu akan segera menggeser posisi Airlangga Hartanto sebagai Ketua Persatuan Insinyur Indonesia. Pergantian ini akan dilakukan dalam Konggres Persatuan Insinyur Indonesia di Menado, Sulawesi Utara, pada 7-8 Desember.

“PII akan mengadakan pergantian kepengurusan dari saya ke Pak Said Didu,” kata Airlangga yang didampingi sejumlah pengurus Persatuan Insinyur usai bertemu Wakil Presiden, Boediono di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (3/12).

Dia menjelaskan, Said Didu langsung menduduki jabatan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia. Said Didu, kata Airlangga, sudah dipilih tiga tahun yang lalu. “Kalau di Persatuan Insinyur, pemilihannya adalah wakil ketua umum dipilih untuk magang 2 tahun, dan kemudian tahun berikutnya jadi ketua umum,” katanya.

Hal ini, kata dia, terkait masalah kepemimpinan di Persatuan Insinyur Indonesia. Menurut dia, mekanisme seperti ini berbeda dengan kepengurusan di organisasi lainnya. Di sejumlah organisasi profesi jabatan ketua umum biasanya berganti setiap empat atau lima tahun sekali. [tempointeraktif.com]

Aburizal Terima AFEO Award

December 5, 2009 by Engineer  
Filed under Berita PII

aburizalPada Rabu 2 Desember 2009, area Ballroom 2 di Suntec International Convention di Singapura diramaikan ratusan insinyur dari negara ASEAN.

Dalam acara tersebut, Aburizal Bakrie yang juga Dewan Penasihat Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dianugerahi penghargaan Distinguished Honorary Fellow dari Asean Federation of Engineering Organizations (AFEO), federasi organisasi Insinyur se-Asean.

Pemberian penghargaan itu diberikan bersamaan dengan diselenggarakannya konferensi Asosiasi Insinyur se-Asean (CAFEO), di Singapura, yang berakhir pada malam itu.

Ketua PII, Airlangga Hartarto di lokasi acara menjelaskan, penghargaan diberikan karena selama ini Aburizal banyak memberikan kontribusi teknologi yang besar kepada masyarakat luas. Aburizal melalui perusahaannya, menerapkan teknologi tepat guna bagi kepentingan rakyat.

“Salah satunya adalah mini hidro,” kata Airlangga.

Dia mengatakan, tak sembarangan orang bisa menerima penghargaan itu. Sebab, mekanisme pemberian penghargaan sangat ketat. Yakni harus diusulkan oleh beberapa negara, baru setelah itu disetujui oleh 10 negara anggota AFEO.

Kata dia, Aburizal Bakrie adalah orang ketiga dari Indonesia yang memperoleh penghargaan tersebut. Penerima sebelumnya adalah mantan Presiden BJ Habibie dan Purnomo Yusgiantoro, saat ini menjabat Menteri Pertahanan.

Tokoh lain adalah  mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad dan mantan Presiden Filipina, Fidel Ramos.

Usai menerima penghargaan, Aburizal mengaku bahagia dalam menerima penghargaan ini. Namun, dia terus terangmengaku kurang begitu mengetahui, apa latar belakang dia menerima penghargaan tersebut, apakah karena achievment yang dilakukannya selama ini atau pertimbangan lain.

Kendati demikian, dia berpendapat, seharusnya teknologi bisa sangat berperan dalam pengambilan keputusan di pemerintahan. “Sebab peran teknologi sangat penting, untuk menyejahterakan rakyat,” katanya.

Dia juga menilai universitas di Indonesia dan negara ASEAN lainnya, sudah cukup mampu untuk bersaing di pasar dunia. Terlebih di Indonesia, dia mencontohkan seperti ITB atau IPB yang sudah bisa menghasilkan lulusan yang kompetitif dengan lulusan negara lainnya.

Maka tak salah, jika universitas tersebut membuka cabang kampusnya di provinsi lain, ataupun di negara lainnya.

Saat pemberian penghargaan, hadir pula putra bungsu Aburizal Bakrie Anindra Ardiansyah Bakrie atau yang lebih dikenal dengan Ardi Bakrie yang datang bersama tunangannya, artis Nia Ramadhani. Putri kedua Ical, Anindhita Anestya Bakrie juga ikut hadir dalam acara penghargaan yang dibalut dengan acara makan malam.

Selain Aburizal, insinyur yang menerima penghargaan lainnya adalah Ilham Akbar Habibie, putra mantan Presiden BJ Habibie.  [vivanews.com]

Temu Nasional Insinyur Muda VII

February 13, 2009 by Engineer  
Filed under Berita PII

Forum Anggota Muda Persatuan Insinyur Indonesia (FAM-PII), baru saja menyelenggarakan sebuah hajatan besar yang dikenal dengan nama Temu Nasional VII (TENAS VII) FAM-PII yang diselenggarakan di Kota Malang tanggal 24-25 Januari 2009. TENAS merupakan Forum tertinggi organisasi dalam pengambilan keputusan, yang dilaksanakan secara rutin setian tahun.

Pelaksanaan TENAS VII tahun 2009 ini mengambil Tema,“Indonesia Outlook 2009, Membangun Paradigma Baru Insinyur Muda Indonesia yang Optimis, Kritis dan Dinamis”.  Tema ini dipilih didorong oleh keinginan dan semangat untuk mengarungi tahun 2009 ini dengan penuh harapan, optimis, tetap dinamis dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan global.

tenas7

Rangkaian acara TENAS VII antara lain adalah Seminar Nasional yang membahas tema tersebut di atas dengan menghadirkan nara sumber dari berbagai kalangan, baik dari dunia industri, pemerintah, akademisi, maupun praktisi bisnis. Hadir sebagai nara sumber antara lain; Prof. Dr. Ir. Kamaruddin Abdullah dari Pengurus Pusat PII sekaligus mewakili akademisi, Kepala Bappeda Kabupaten Malang, Ir. Rudianto Handojo (PII), Sony T (PT Semen Gresik), Urip Timuryono (Asosiasi Semen Indonesia), dan Imam Gunawan dari Kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga.

Hadir pula dalam acara ini antara lain; Ketua PII Cabang Malang, Prof. Dr. Ir. Sugito, Sekretaris Pengurus Wilayah PII Jawa Timur, Bambang S. Sedangkan gong pembukaan secara resmi TENAS VII dilakukan oleh Ir. Heru Dewanto, MSc, Sekjen Pengurus Pusat PII mewakili Ketua Umum yang berhalangan hadir.

Sesi seminar ini dihadiri oleh 200 peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa, dosen, praktisi bisnis , pengurus PII cabang, FAM-PII se-Indonesia dan undangan lainya. Peserta cukup antusias mengikuti jalannya seminar, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan kritis yang dilontarkan peserta hingga acara usai.

Sore hari dilanjutkan dengan pembahasan materi persidangan. Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 100 orang Insinyur Muda dan Anggota Mahasiswa dari FAM-PII Pusat dan FAM PII Cabang yang berasal dari Jogjakarta, Cilegon, Kalimantan Timur, Makassar, Pangkep, Malang, dll. Persidangan ini membahas antara lain Agenda dan Tatib TENAS, Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Ketua Umum, Ir. Ahmad Tahir, Pemandangan Umum peserta, Pembahasan Gari-garis besar program FAM-PII, Rekomendasi serta Pemilihan Ketua Umum FAM-PII untuk periode 2009/2010.

Suasana persidangan TENAS terlihat cukup alot hingga menyita waktu hingga pukul 02.00 dini hari. Perdebatan dan adu argumentasi peserta sudah terlihat sejak awal persidangan, dan memaksa pimpinan sidang sementara (steering committee) yang terdiri dari M. Erfandi Delamunte, Mardan Muhammad dan Indra Kurniadi harus bergantian berulang kali.

Demikian Pula halnya dengan pembahasan materi Keorganisasian, LPJ cukup memakan waktu. Puncak persidangan terjadi ketika digelar pemilihan Ketua Umum FAM PII periode 2009/2010. sebetulnya sesi ini tidak terlalu seru mengingat calon terpilih yakni  Ir.Qiqi Asmara tidak mendapat rival alias calon tunggal setelah tiga kandidat lainnya yaitu; Ade Ibrahim, Indra Kurniadi dan Natal Rochester mengundurkan diri.

Acara TENAS VII ditutup oleh ketua terpilih; Ir. Qiqi Asmara sekitar pukul 02.00 dini hari tanggal 25 Januari 2009. (Ade Ibrahim)

CAFEO 26 Journey

February 8, 2009 by Engineer  
Filed under Berita PII

CAFEO ke 26, yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand dari 26 – 29 November 2008 yang lalu, menyisakan satu pengalaman yang sangat mendalam bagi delegasi dari PII. Tercatat ada 21 peserta (termasuk spouse) yang dapat hadir dan 17 peserta yang terpaksa tidak dapat mencapai Bangkok karena adanya penutupan International Airport Suvarnabhumi dan Airport Don Mueang akibat demonstrasi. Walhasil, delegasi PII tidak dapat mengikuti seluruh acara, khususnya acara terakhir, yaitu Farewell party pada 28 November 2008 malam, yang merupakan penyerahan bendera CAFEO dari The Engineering Institut of Thailand (EIT) ke The Institution of Engeneers, Singapura (IES).
cafeo

Hingga Jum’at pagi, 28 November 2008, tidak terdapat tanda-tanda akan dibukanya International Airport serta beredarnya berbagai rumor, yang berkaitan dengan penanganan demo serta penentuan penerbangan internasional. Rekan Heru Dewanto/Sekjen PII sebagai ketua delegasi (menggantikan rekan Airlangga Hartarto/Ketum PII, yang pulang balik karena tidak bisa mendarat pada 24 November 2008 malam) memutuskan untuk membawa seluruh rombongan delegasi PII kembali ke Indonesia dengan menggunakan transportasi darat melalui Malaysia.

Ini adalah keputusan yang akhirnya terbukti tepat. Ada informasi dan bantuan yang diberikan oleh Bp. Mohammad Hatta/Dubes RI untuk Thailand, tetapi karena belum jelas kepastiannya, maka Ketua Delegasi tetap memutuskan untuk segera kembali. Dari pilihan sarana berupa bis besar (coach), bis kecil dan mobil van dipilih untuk menggunakan bis besar. Tetapi kemudian ada tawaran dari delegasi Malaysia, yang lebih paham akses, untuk bersama-sama berangkat dan menggunakan bersama 3 bis besar yang sudah disewa oleh delegasi Malaysia yang berjumlah 58 orang dengan 18 orang delegasi PII sepakat jalan bersama pada Jumat sore.

Rekan Budi Noto/ketua hubungan & kerjasama internasional masih akan tinggal bersama spouse-nya. Karena bis besar mempunyai kapasitas 40 penumpang, 3 bis mempunyai kapasitas 120 penumpang, maka bergabunglah 6 orang dari delegasi Hongkong. Perjalanan dimulai sekitar jam 16.30-an waktu setempat, dengan dilepas oleh Ketua Penyelenggara dan bapak Woraphat Arthayukti/Ketum EIT, dari lobby hotel Sofitel Centara Grand Bangkok, Thailand.

Setelah jalan sekitar 1,5 jam, rombongan berhenti di pompa bbm dan rest room. Selanjutnya berhenti lagi sekitar jam 20.30-an waktu setempat, untuk makan malam dan belanja makanan kecil khas Thailand (oleh-oleh). Pemberhentian selanjutnya mengisi BBM sambil jajan dan rest room, setelah sekitar 3 jam perjalanan. Sebelum sampai di perbatasan Thailand – Yat Hai, 2 bis berhenti untuk rest room dan bis yang lain tidak terlihat berhenti. Sekitar jam 04.30, rombongan 3 bis sampai di Hai dan melakukan kordinasi untuk memastikan pos imigrasi yang akan dijadikan pemberhentian terakhir di Thailand.

Ada sedikit kesalah pahaman tentang waktu bis penjemput dari Malaysia yang menerima informasi bahwa rombongan akan sampai sekitar jam 10-an. Tetapi, ternyata tidak terlalu lama, setelah proses departure di imigrasi Thailand selesai, bis dari Malaysia sudah datang dan bisa dilakukan perpindahan penumpang dan bagasi. Tetapi, formasi penumpang diubah. Yang semula rombongan Malaysia dicampur dengan rombongan lain didalam satu bis, diatur untuk rombongan PII dan Hongkong berada di satu bis.

Hal ini karena tujuan PII dan Hongkong adalah KLIA (Kuala Lumpur International Airport), LCCA (Low Cost Carrier Airport) dan kota Kuala Lumpur. Pemberhentian pertama di Mmalaysia digunakan untuk makan pagi. Sekitar jam 1 siang, bis kembali berhenti untuk kesempatan belanja dan makan siang. Pemberhentian ketiga, terakhir di pada saat bis mengisi bbm. Tetapi karena diperjalanan ada hambatan, kecelakaan sebuah mobil box dan juga ada kecelekaan bis besar, maka kedatangan di KLIA sudah mendekati jam 6 petang dan sampai di LCCA mendekati jam 7 petang. Yyang terakhir, turun di kota Kuala Lumpur sekitar jam 8 petang.

Disini, 3 orang akan tinggal semalam (istirahat) dan 6 orang meneruskan perjalanan ke Singapore dengan bis, yang berangkat jam 22.30. Sekitar jam 02.30 pagi, setelah perjalanan non-stop, sampai di imigrasi Mmalaysia, untuk proses departure. Perjalanan kurang dari 10 menit kemudian, sampai di imigrasi Singapore. Selama perjalanan malam itu, sambil menikmati perjalanan yang nyaman karena infrastruktur jalan, yang dua jalur untuk setiap arah, dengan penyediaan tambahan jalur untuk putaran, rambu-rambu dan tanda-tanda lalulintas yang lengkap dan baik serta kepatuhan dalam disiplin dalam mengemudikan kendaraan di Thailand, maka sempat terpikirkan beberapa hal, dengan perbandingan di Indonesia.

Kesimpulan pertama, adalah apa yang disampaikan dalam HDR 2001 Making New Technologies Work For Human Development, pembangunan infrastruktur hingga ke pedesaan telah mengubah kondisi masyarakat Thailand menjadi lebih baik dan makmur. Banyaknya kendaraan sejenis pick-up (single maupun double cap) yang menjadi kendaraan dan dimiliki masyarakat di pedesaan/rural atau sub-urban, menjadi salah satu tanda kemakmuran.

Kedua, kelangkapan infrastruktur dipergunakan dengan mematuhi regulasi dengan disiplin yang tinggi akan tidak merugikan orang lain. Dijumpai dalam perjalanan di Thailand yang pengguna jalannya lebih disiplin dan mematuhi regulasi dibandingkan dengan Malaysia menunjukan bahwa akan mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Misalnya melintas di bahu jalan, di Thailand tidak ditemukan tetapi di Malaysia terjadi.Ketiga, spirit ASEAN atau AFEO masih sangat kuat dalam kerangka kerjasama antar organisasi keinsinyuran. Ddemikian sekilas catatan perjalanan kembali dari Thailand ke Indonesia. (Bambang Soesijanto/dewan penasehat PII)