<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Persatuan Insinyur Indonesia &#187; insinyur</title>
	<atom:link href="http://pii.or.id/i/tag/insinyur/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pii.or.id/i</link>
	<description>Persatuan Insinyur Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Dec 2011 11:50:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pidato Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto</title>
		<link>http://pii.or.id/i/pidato-dr-ir-kuntoro-mangkusubroto</link>
		<comments>http://pii.or.id/i/pidato-dr-ir-kuntoro-mangkusubroto#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jul 2011 09:59:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Insinyur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[insinyur]]></category>
		<category><![CDATA[kuntoro mangkusubroto]]></category>
		<category><![CDATA[pii]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pii.or.id/i/?p=1275</guid>
		<description><![CDATA[
Assalamu’alaikum wr. wb.
Selamat pagi. Salam sejahtera buat kita semuanya.
Sambil jalan kesini..saya bertanya. Kalau saya tidak bisa berlari, apakah saya masih dianggap insinyur. Kalau saya lihat, pak Waluyo naik panggung sambil lari, pak Said Didu naik panggung sambil lari. Saya kira..saya seangkatan dengan pak Cipto Umar tenang-tenang sajalah. Walaupun kami  tetap sebagai insinyur.
Pak Said Didu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2011/07/kuntoromangkusubroto2.jpg"  rel="lightbox-1275"><img class="aligncenter size-full wp-image-1277" title="kuntoromangkusubroto2" src="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2011/07/kuntoromangkusubroto2.jpg" alt="kuntoromangkusubroto2" width="585" height="194" /></a><br />
Assalamu’alaikum wr. wb.</p>
<p>Selamat pagi. Salam sejahtera buat kita semuanya.</p>
<p>Sambil jalan kesini..saya bertanya. Kalau saya tidak bisa berlari, apakah saya masih dianggap insinyur. Kalau saya lihat, pak Waluyo naik panggung sambil lari, pak Said Didu naik panggung sambil lari. Saya kira..saya seangkatan dengan pak Cipto Umar tenang-tenang sajalah. Walaupun kami  tetap sebagai insinyur.</p>
<p>Pak Said Didu yang saya hormat &#8211; Ketua Umum PII, Pak Purnomo &#8211; Menteri Pertahanan yang saya hormati, dan seluruh sahabat insinyur yang saya hormati.</p>
<p>Pagi ini..pagi yang sangat menyenangkan, karena bertemu dengan banyak teman. Saya minta sama pak Cipto Umar tadi itu, untuk sedikit bernostalgia 25 tahun lalu. Inilah suasana yang sangat menggairahkan. Karena saat itu kita sedang semangat-semangatnya, menaikkan citra kita. Pada waktu itu, saya sebagai stafnya pak Ginanjar, di kantor Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri. Itu katanya kantor di Republik yang isinya insinyur, dan tujuan utamanya adalah meningkatkan daya saing Indonesia. Kantor Menteri Muda UPPPDN umurnya cuman 5 tahun. Tentunya dengan asumsi..begitu berhasilnya kantor itu, daya saing dimana-mana meningkat, sehingga tidak perlu lagi kantor itu.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Insinyur itu tidak bisa dilepaskan dari berbagai macam kegiatan pembangunan. The real hardwork. The real hands..dirty. Itu adalah tangannya insinyur, dirty dengan pengertian beneran, bukan kotor dengan nuansa lain. Yang betul-betul bekerja, kita inilah. Yang membubut poros..kita, yang mengelas..kita, yang mengecor aspal..kita. Jadi saya kira tak ada satu pun orang di dunia ini, meragukan atau mempertanyakan peran dari seorang insinyur. Saya kira ini satu hal yang sangat membanggakan bagi kita semua.</p>
<p>25 tahun yang lalu, suasana beda sekali.  25 tahun lalu, gelora politik itu begitu tingginya. Sedemikian sehingga, kita selalu ingin dilihat sebagai orang yang juga berperan di dunia politik. Pada saat itu, menjadi Ketua Umum PII itu adalah sebuah tiket menuju kepada jabatan menteri. Pada saat itu suasananya seperti itu. Timbul pertanyaan besar, apakah memang lembaga ini diarahkan untuk itu? Terjadi banyak pergulatan pemikiran dan intelektual berkenaan dengan ide besar tadi itu.</p>
<p>Apa yang kita hadapi sekarang, adalah sesuatu yang berbeda sekali. Kalau kembali kepada apa yang disampaikan &#8211; esensi dari kerja insinyur &#8211; dengan istilah lain, kita ini sudah kembali pada khitahnya, yaitu insinyur. Inilah yang membuat saya sangat berbahagia pada akhir-akhir ini, melihat perkembangan-perkembangan kita yang begitu melesat. Sebetulnya kalau kita tambahkan indikator-indikator yang tadi disampaikan Pak Said Didu : Competitiveness Index, bahkan Corruption Perception Index, Investment Index, barangkali anda akan surprise, bahwa Indonesia saat ini adalah negara yang paling diminati untuk investment di seluruh dunia. Coba lihat buku mengenai investment index. Jadi pertumbuhan kita 6,1%, Unemployment Rate kita menurun, Poverty Index kita menurun. Maka secara keseluruhan, bahkan pada Structure Political Index, Indonesia bukan hanya is not bad..is good, is good.</p>
<p>Jadi kita patut berbangga kalau kita melihat itu semuanya. Ini bukan sesuatu yang membuat kita harus puas. Presiden mengatakan, begini saja 6,1%. Kalau kita berikan input tambahan mungkin bisa 8%.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Why not? Dan itulah tantangan kita. Jadi kepuasan-kepuasan kita pada tingkat makro, sekarang ini janganlah membuat kita terlena. Saya kira dalam waktu dekat, kita akan menjadi investment great economy..sekarang pun kita melihat.. memang kalau kita melakukan analisa lebih tajam lagi, kita akan melihat balance antara uang yang masuk ke Indonesia ini, untuk short term atau long term? Ini akan nampak. begitu krisis Eropa ini tidak terkendali, apakah uang-uang yang masuk ke Indonesia akan keluar lagi, ini saya kira perlu kita dicermati. Tetapi sebagian cukup besar dari uang yang masuk ke Indonesia, adalah untuk investment yang sifatnya jangka panjang, seperti di sektor minyak dan gas, di sektor pertambangan, di sekor industri, tdi sektor perkebunan. Ini semuanya adalah yang sifatnya jangka panjang.</p>
<p>Kalau kita melihat suasana politik, dalam pengertian membaca di koran &#8211; rasanya gaduh betul negeri kita ini. Tapi kalau kita perhatian pertumbuhan ekonomi kita tetap baik di dalam kegaduhan itu…nampaknya decoupling antara politics and economy sudah hampir sempurna terjadi. Politik boleh gaduh, ekonomi jalan terus. Ini sesuatu yang sejak 25 tahun lalu, sangat diharapkan. Sampai dengan tahun 1998, decoupling terjadi, sedikit kegaduhan di politik, dampaknya besar di ekonomi. Sekarang itu tidak terjadi lagi.</p>
<p>Tidak berarti bahwa kegaduhan politik itu bisa kita dibiarkan begitu saja. Tentunya yang cantik itu adalah walaupun terjadi decoupling, tetapi politik tidak gaduh. Saya kita ini sesuatu yang perlu kita pikirkan.</p>
<p>Di dalam perkembangan pemikiran ini, sejalan dengan keinginan dan harapan kita semuanya, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, maka lahirlah konsep MP3EI. Masterplan bagi percepatan pembangunan ekonomi. It’s a Masterpiece, pada dasarnya. Kalau kita pelajari baik-baik..its Masterpiece. Senior-senior : pak Cipto, pak Qoyum, pak Taufiq,..saya kira sepakat bahwa paling tidak dalam 25 tahun terakhir tidak ada konsepsi pembangunan yang sejelas ini. Repelita tidak setara dengan ini, lain sekali konteksnya.</p>
<p>Tetapi kalau kita pelajari MP3EI dengan baik, dimana menonjol di situ pembangunan Indonesia melalui 6 koridor, maka inilah pertama kali ada suatu pemikiran yang solid sekali, bagaimana kita membangun Indonesia ini. Banyak sekali kritik, tetapi kritik-kritik itu  ada yang benar, ada yang kurang benar. Bahwa kita mempunyai economic corridor sebanyak 6 (enam), dan bahwa kita sekarang ini yang paling penting adalah bagaimana mengimplementasikannya, maka itu adalah tantangan kita semuanya.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Deng Xiaoping, di tahun 80an, mengintrodusir 15 special economic zone. Dari 15 itu, yang berhasil hanya 6. Salah satu penasehat Deng Xiaoping adalah seorang Profesor dari Singapura. Dan dia saya tanya, “Please give me five success factors dari keenam economic zone yang dilahirkan oleh Deng Xiaoping 25 tahun lalu?” Dia menyebutkan :</p>
<p>Satu, a totally liberal political economic for that soon. Nah di tahun 80an, a totally liberal ini bagaimana? Apakah setara dengan kita sekarang? Karena pada tahun 80an, komunis itu masih kenceng-kencengnya di sana.  Bukan komunis seperti sekarang. Apakah totally liberal political economy saat itu di China setara dengan kita? Ataukah kita masih kurang liberal? Ataukah bahkan kita terlalu liberal?</p>
<p>Yang kedua, kedekatannya dengan Hongkong sebagai pusat pasar uang. Jadi, keenam koridor ini adalah koridor-koridor yang semuanya dekat dengan Hongkong. Jadi dia mengatakan, bahwa kedekatan dengan pasar uang, ini adalah sesuatu yang sangat membantu tumbuhnya economic zone tadi.</p>
<p>Yang ketiga, adalah digunakannya the best free in the world for that corridor development. Ini artinya apa?  Mereka tidak menutup dirinya bahwa pembangunan di sana itu hanya dilakukan oleh the best free in China. Saya tidak tahu bagian yang ini.</p>
<p>Yang keempat, adalah total support from the local government. Nah ini menarik.  Apakah di dalam desentralisasi kita ini, kebijakan dari Jakarta ini mendapatkan support totally dari daerah? Dan pertanyaannya, siapa yang namanya daerah itu? Kalau dalam sistem desentralisasi ini, rasa-rasanya bupati lebih berkuasa daripada gubernur. Saya kira inilah bagian yang perlu kita cermati dengan baik.</p>
<p>Yang kelima, agak teknis. Back up penuh dalam soal pembangunan infrastruktur, dll.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian.<br />
Ini adalah 5 success factor. MP3EI as a masterpiece sekarang perlu kita implementasikan. Belajarlah bagaimana kita mensukseskan 6 koridor itu. Tetapi kalau kita menggunakan success ratio 6 dari 15, ya jangan menggunakan rasio itu. Paling tidak 4 dari 6 atau 5 dari 6 berhasil. Menuju pada pertumbuhan apa yang dicita-citakan oleh Indonesia di tahun 2030.</p>
<p>Pada tataran lebih rendah dari itu, maka masuklah kita kepada aspek mikro.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Disnilah bagian dari banyaknya pusing kepala kita. The macro is growth, the but the micro is not succesfully.  Pada waktu itu, Charles Ghosn (Dirut Nissan), dia mengatakan, “Pak Kuntoro, manufacturing cost kita di pabrik di Cikarang, 30 persen lebih murah daripada Thailand. Tapi begitu sampai kapal di Priuk, menjadi 20 persen lebih mahal dari Thailand. So the logistic cost from the plant to on boat, is about another sixty percent.</p>
<p>Bayangkan, sebuah mobil yang segala isinya, semuanya, dibuat di cikarang 30 persen lebih murah daripada yang setara di Thailand. Begitu naik di kapal, what a loss? Dan itu adalah loss yang kita sehari-hari kita hadapi. Berapa menit, maaf berapa jam..anda tiba di titik ini dari rumah anda tadi pagi? Menit kelihatannya sudah ga perlu lagi pada jam kita ini. Yang perlu adalah jam, memang namanya juga jam, bukan menit jadinya. This is our challenge.</p>
<p>Listrik. Toll Road. Apa ga sedih anda, 15 tahun toll road itu ga jadi-jadi, yang menghubungkan Jakarta &#8211; Surabaya? 10.000 MW tahap I, not more than one thousand. what happens? PLTU Rembang, apa yang terjadi? Kalau saya cerita di sini, this will be shock for you than me. Inilah hebatnya kita. The macro is okay, the micro isn’t okay.</p>
<p>Bagi orang yang selalu optimis, “Pak Kuntoro ga usah takut dengan kemacetan. Itu menandakan bahwa pertumbuhan ekonomi kita bagus sekali. Itu artinya mobil-mobil kita di-produce dan dibeli oleh orang. Memang kurang cepat bangun jalannya, jadi ya macet.” Jadi menyenangkan untuk didengar, tapi anda ada di kemacetan, anda sebel juga gitu ya. This are micro things. Yang menjadi tantangan kita.</p>
<p>Bagaimana kita memecahkan persoalan ini? Dari apa yang ada di mikro, termasuk infrastruktur. Pak Purnomo tahu, bahwa kita sudah susah, mengenai energi. Saya sebetulnya orang yang paling gampang kerjaannya di pemerintahan ini. Cuman lihat apa yang dikerjakan orang lain. Paling enak hidup saya ini. Kritik sana kritik sini gitu ya. Kalau ada yang bilang, lo kerjain sendiri ya mungkin juga ga bisa gitu kan.</p>
<p>Whats happening? Kita sudah tahu bahwa gasoline kita ini  sewaktu-waktu akan njomplang. Kita sudah tahu, bahwa soal waktu kita akan menjadi..bukan soal waktu. Sebetulnya sudah beberapa tahun yang lalu, kita sudah oil net imported. Yet, rezim production sharing contract kita sama dengan 30 tahun yang lalu, pada waktu kita masih onsource semuanya. Real at the best free now this country. Kalau saya boleh mengeluh pada anda  semuanya. Dimana the best free the country? Apakah tidak punya anticipatory sense? Dan apa susahnya kita nyontek rezim kontrak minyak di Kongo misalnya. Atau di Brazil. The Brazil Oil Industry….is nothing. Sekarang, begitu kita bicara mengenai penambangan minyak laut dalam..you go to Brazil. Ini ada di hadapan mata kita. Ini bukan sesuatu yang khayal atau jauh. No, this just one metre on your head. Anda bisa lihat semuanya.</p>
<p>Sekarang, saya ingin mengantar anda pada tantangan-tantangan ke depan. Banyak sekali tantangan, yang “event the feel is not real”. Kalau ngomong tentang power plant. PLN mengerti lah semuanya. Begitu kita ngomong minyak, orang top kayak pak Purnomo hafal semuanya. Bicara mengenai gedung-gedung struktur susah, ada pak Wiratman. Begitu bicara fertilizer saya lihat teman-teman hebat-hebat semua di sini. Tapi kalau kita bicara mengenai emission..climate change…event the feel is not real. What is the climate change? Ini omongan orang pinter yang nakut-nakutin? Atau orang Barat yang mau mengurangi kecepatan pembangunan kita? Atau ini kolonialisme gaya baru, itu di satu sisi? Atau sesuatu yang betul-betul kita khawatarkan? Climate Change. Saya adalah pengikut aliran  is the real threat. Ini adalah ancaman yang betul-betul nyata.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Naiknya emisi karbon di atmosfer kita, membuat temperatur kita meningkat. Statistik bilang seperti itu. Orang bilang, don’t worry is about carbon. Tapi itu karena kondisi matahari. Ah saya tidak mengerti, mungkin dia benar juga. Tetapi bagi kita, saya, orang yang biasa-biasa saja, carbon is a serious challenge.  Dan tidak bisa dikontrol. Bagi anda yang mengikuti perdebatan PBB, CAP 789, COP Kopenhagen, Kanggon, anda akan melihat perdebatan para raksasa, China, Amerika, India, tidak akan bisa menjawab dalam waktu dekat. Ini politik pembangunan. Mulai dari mengatakan, “anda sudah mengotori dunia ini sejak 200 tahun yang lalu, kenapa anda minta saya yang baru mengotori dunia ini 20 tahun untuk ikut berkorban? Padahal saya  ingin sejahtera-nya rakyat saya, sama seperti sejahteranya rakyat anda.” Ini mulai dari politik: why me, why not you. Anda duluan, baru saya.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Ini adalah tantangan kita. Lepas dari persoalan bahwa Bapak Presiden Yudhoyono sudah menyatakan bahwa kita akan lepas dari persoalan itu, sekarang pertanyaannya, kalau air laut naik ½ meter, apa yang akan terjadi? Bagi kita, yang hidupnya simpel-simpel saja, “oh..Pantai Indah Kapuk akan ada masalah.” Kenapa dia naik ½ meter atau 30 centi? Kenapa dia naik? Climate Change. Berapa naik temperaturnya.? Kalau air laut naik 30 cm atau ½ meter, pertanyaannya berapa luas teritori kita yang berkurang? Barangkali anda akan kaget, ini hubungannya apa?</p>
<p>Bagaimana batas teritori kita ditentukan adalah dari pulau atau gosong terluar dari kepulauan kita. Dan banyak gosong-gosong yang tingginya ½ meteran pada waktu surut, pada waktu pasang hilang.<br />
Pulau Benggala, mungkin Pulau Rondo. Pulau Rondo mungkin banyak yang tidak tahu. Pulau Rondo, adalah pulau yang paling barat dari Aceh. Mungkin tidak akan hilang. Tapi akan banyak pulau-pulau gosong kecil yang akan hilang dengan naiknya air laut 30 centi. Pertanyaannya, berapa berkurangnya? Lalu akibatnya apa? Saya yakin Pak Purnomo sudah memikirkan soal itu.</p>
<p>Cuma pertanyaannya, berapa persen teritori kita akan hilang? Lalu efeknya apa pada kita? Efeknya apa? Apakah Marsela akan tetap bagiannya dari Republik Indonesia atau menjadi international water territory, atau apa? Kajian strategis seperti ini, mungkin sudah ada, tapi paling tidak saya tidak pernah dengar. Anda kata temperatur kita naik 2 derajat, pertanyaannya crop apa yang paling terganggu dan mungkin tidak akan ada lagi? Tanaman apa yang tidak bisa bertahan, akibat hama atau akibat peningkatan itu menjadi tidak produktif lagi?</p>
<p>Brazil sudah melakukan kajian, dari 10 tanaman utama di Brazil, tempetatur naik 2 derajat, maka 3 (tiga) akan hilang, Jadi itu artinya 70 persen masih ada, tapi 30 persen akan gone. Efeknya apa? Kepada ketahanan ekonomi Brazil. Mereka baru melakukan ini 2-3 tahun yang lalu. Tetapi saya tidak pernah dengar ini ada di kita, mudah-mudahan sudah ada tapi saya belum tahu.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Seluruh cara berpikir kita mohon kita sesuaikan dengan challenge baru, dan jangan terlalu kita masuk kepada persoalan-persoalan yang berhubungan dengan political economy. Apa akibatnya terhadap sawit, karet, keledai, kacang panjang, padi? Apalagi secara politik bahwa Presiden sudah mengatakan, kita akan contribute pengurangan emisi 26%, dan dengan bantuan internasional &#8211; another fifty percent menuju fourty-one percent. Ini adalah challenges kita.</p>
<p>Sekarang bagaimana pertumbuhan ekonomi yang tadi ingin naik dari 7% menjadi 8% diseimbangkan dengan emission control? That’s the next our challenges.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Banyak hal yang perlu kita antisipasi. Jangan mengecilkan arti tragedi Fukushima. Mungkin dilihat dari Tsunami Aceh itu lebih hebat dari Tsunami Jepang. Tetapi ada satu faktor nuklir di Jepang yang membuat persoalannya istimewa, dan mungkin akan berubah bagaimana dunia ini menyediakan energinya. Swiss – saya baca koran pagi tadi &#8211; sudah memutuskan tidak ada lagi pembangunan PLTN di Swiss. Jadi tadi ada gambar PLTN-nya pak Said Didu, berikan tanda tanya. Apakah kita masih akan masuk ke wilayah itu? Dan begitu bicara nuklir itu tidak lama.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian.<br />
Saya sudah mengambil waktu terlalu banyak dari anda semua. Tapi ini adalah rasa kangen saya pada anda semuanya, para insinyur. Sudah lama saya tidak punya kesempatan menyampaikan pemikiran yang mungkin juga berarti, mungkin juga kurang berarti, mungkin sudah dipikirkan, mungkin juga belum dipikirkan. Tetapi satu hal, ini sesuatu yang bermakna bagi kita semua.<br />
Satu subtitle ini adalah etics. Etics is the most valuable assets. Saya tidak akan memberikan apa-apa terkait dengan etics..tapi trust me. Ini satu hal yang betul-betul ingin saya dan kita semua garis bawahi, bahwa etics..integrity is number one, tapi etics ada pada tataran filosofis. Perlu ada suatu enforcement, dan itu namanya regulasi. Etics without regulations is just be philosophy. Dan filosofi kadang-kadang dibaca, pada waktu ada senggang.</p>
<p>Saudara-saudara sekalian,<br />
Selamat ber-RAPIMNAS. Saya sangat berbahagia bisa bertemu dengan anda semua pada pagi hari ini. Bertemu dengan teman-teman yang usianya sama dengan PII, 59 tahun. Pak Cipto Umar, pak Qoyum, pak Taufiq. Kita seumuran usianya 59 tahun. Saya ucapkan selamat pada RAPIMNAS PII ke-5 ini, selamat ulang tahun pada PII ke-59, dan semoga PII tetep maju, tetap seperti apa yang kita cita-citakan.  Dengan menghasilkan banyak kader-kader yangg mungkin bisa dipinjam di tempat lain. Dengan istilah pak Said Didu, toh nanti akan kembali ke induknya lagi, yaitu Persatuan Insinyur Indonesia.</p>
<p>Terimakasih atas perhatian anda semuanya.</p>
<p>Wassalamu’alaikum wr. wb.</p>
<p>Download PDF : <a href="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2011/07/Pidato-RapimnasPII-KuntoroMangkusubroto.pdf" target="_blank">Pidato Pembukaan Rapimnas PII 2011 oleh Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pii.or.id/i/pidato-dr-ir-kuntoro-mangkusubroto/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bakuan Kompetensi Insinyur</title>
		<link>http://pii.or.id/i/bakuan-kompetensi-insinyur</link>
		<comments>http://pii.or.id/i/bakuan-kompetensi-insinyur#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jun 2011 00:56:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Insinyur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sertifikasi Insinyur]]></category>
		<category><![CDATA[bakuan kompetensi]]></category>
		<category><![CDATA[insinyur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pii.or.id/i/?p=1224</guid>
		<description><![CDATA[Bakuan Kompetensi merupakan standar kompetensi insinyur dalam menjalankan fungsi-fungsi keinsinyuran. Ada 11 unit kompetensi yang wajib dan perlu dimiliki seorang insinyur yaitu :
(1) Kode Etik Insinyur Indonesia dan Etika profesi Keinsinyuran
- Mengembangkan dan mewujudkan tanggung jawab kecendekiaan dan kepedulian profesi keinsinyuran kepada bangsa, negara, dan komunitas internasional.
- Menghayati serta mematuhi Kode Etik Insinyur Indonesia dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bakuan Kompetensi merupakan standar kompetensi insinyur dalam menjalankan fungsi-fungsi keinsinyuran. Ada 11 unit kompetensi yang wajib dan perlu dimiliki seorang insinyur yaitu :</p>
<p><strong>(1) Kode Etik Insinyur Indonesia dan Etika profesi Keinsinyuran</strong><br />
- Mengembangkan dan mewujudkan tanggung jawab kecendekiaan dan kepedulian profesi keinsinyuran kepada bangsa, negara, dan komunitas internasional.<br />
- Menghayati serta mematuhi Kode Etik Insinyur Indonesia dan tata laku profesi yang berlaku.<br />
- Memahami, menerapkan, serta mengembangkan wawasan dan kaidah-kaidah kelestarian lingkungan.<br />
- Mengemban tanggungjawab profesional atas tindakan dan karyanya.</p>
<p><strong>(2) Keterampilan dalam Pekerjaan Keinsinyuran Profesional</strong><br />
- Melaksanakan pekerjaan yang bersifat kecendekiaan dan beragam.<br />
- Menguasai, memelihara, mengembangkan, dan memutakhirkan keahlian dalam bidang pekerjaan dan kejuruannya.<br />
- Memahami dan menerapkan metoda-metoda perekayasaan.<br />
- Memahami dan menerapkan kaidah-kaidah penjaminan mutu<br />
- Memilih dan menerapkan penggunaan perangkat perekayasaan dan teknologi yang tepat-guna.<br />
- Melaksanakan uji-coba, pengukuran, dan kaji-nilai (evaluasi)</p>
<p><strong>(3) Perencanaan dan perancangan Keinsinyuran</strong><br />
- Menjelaskan dan merumuskan kebutuhan perencanaan dan/atau perancangan.<br />
- Membuat usulan untuk memenuhi kebutuhan perencanaan dan /atau perancangan.<br />
- Melaksanakan pekerjaan perencanaan dan/atau perancangan sesuai usulan yang telah dipilih.<br />
- Melaksanakan kaji-nilai atas hasil rancangan<br />
- Menyiapkan dokumen penunjang.<br />
- Menjaga keutuhan tata identifikasi rancangan sepanjang proses pekerjaan.<br />
-<br />
<strong>(4) Pengelolaan Pekerjaan Keinsinyuran dan Kemampuan Komunikasi</strong><br />
- Menerapkan kaidah-kaidah manajemen atas diri sendiri.<br />
- Memahami dan menerapkan kaidah-kaidah pengelolaan pekerjaan keinsinyuran.<br />
- Memahami dan menerapkan kaidah-kaidah kepemimpinan dalam pekerjaan keinsinyuran.<br />
- Berkomunikasi dengan efektif.<br />
- Mengelola informasi keinsinyuran.</p>
<p><strong>(5) Pendidikan dan Pelatihan</strong><br />
- Mengembangkan program pendidikan dan/atau pelatihan keinsinyuran.<br />
- Melaksanakan program pendidikan dan/atau pelatihan keinsinyuran.</p>
<p><strong>(6) Penelitian, Pengembangan dan Komersialisasi</strong><br />
- Melakukan penelitian.<br />
- Merumuskan konsep pengembangan hasil penelitian.<br />
- Menemu-kenali dan mengusahakan sumber daya untuk pengembangan hasil penelitian.<br />
- Melakukan kaji pasar untuk produk hasil penelitian dan pengembangan.<br />
- Mengkomersialkan hasil penelitian dan pengembangan.</p>
<p><strong>(7) Konsultansi Perekayasaan dan/atau Pekerjaan Konstruksi/Instalasi</strong><br />
- Melaksanakan tugas konsultansi perekayasaan keinsinyuran.<br />
- Menyiapkan, melaksanakan, dan memantau pelelangan dan kontrak untuk pekerjaan konstruksi/instalasi.<br />
- Melaksanakan pekerjaan konstruksi/instalasi.<br />
- Melaksanakan tugas dan kegiatan pengelolaan kerja lapangan.<br />
- Melaksanakan uji kinerja (commissioning).</p>
<p><strong>(8) Produksi/Manufaktur</strong><br />
- Merencanakan proses manufaktur/produksi.<br />
- Menjaga dan mengawasi program penjaminan mutu<br />
- Melaksanakan tugas pengoperasian, pengendalian, dan optimasi proses.<br />
- Melaksanakan tugas pengelolaan persediaan<br />
- Mengukur kinerja produksi</p>
<p><strong>(9) Bahan Material dan Komponen</strong><br />
- Merumuskan kebutuhan dan penggunaan bahan material atau komponen khusus.<br />
- Menetapkan sumber bahan baku pengadaan bahan material atau komponen.<br />
- Mengawasi penyiapan atau pengadaan bahan material atau komponen.<br />
- Menilai sifat bahan material atau komponen.<br />
- Memilih cara pemeliharaan mutu bahan material atau komponen.</p>
<p><strong>(10) Manajemen Usaha dan Pemasaran Teknik</strong><br />
- Mengelola sumber-daya keinsinyuran.<br />
- Mengelola sumber-daya manusia<br />
- Melaksanakan pengelolaan kewira-usahaan, keuangan, dan hukum/kontraktual.<br />
- Mengelola keterangan produk (product knowledge) untuk barang/jasa keinsinyuran<br />
- Memahami dan menerapkan kaidah-kaidah pemasaran barang/jasa keinsinyuran<br />
- Memahami dan menerapkan kaidah-kaidah pelayanan purna-jual.<br />
- Menyiapkan dan mengembangkan kebijakan umum keinsinyuran untuk mendorong sektor pembangunan.<br />
- Menyiapkan dan mengembangkan kebijakan investasi teknis.</p>
<p><strong>(11) Manajemen Pembangunan dan Pemeliharaan Aset</strong><br />
- Merumuskan kebijaksanaan dan melaksanakan tugas pengaturan teknis untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.<br />
- Melaksanakan tugas pengadaan aset.<br />
- Melaksanakan tugas pengendalian dan optimasi aset.<br />
- Melaksanakan atau mengawasi tugas pemeliharaan aset.<br />
- Merencanakan dan melaksanakan penghapusan aset.</p>
<p>Informasi selengkapnya, bisa dilihat dan didownload di dalam <a href="http://pii.or.id/i/sertifikasi/bakuan-kompetensi">Buku Bakuan Kompetensi.<br />
</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pii.or.id/i/bakuan-kompetensi-insinyur/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara AS, China, India, dan Indonesia</title>
		<link>http://pii.or.id/i/antara-as-china-india-dan-indonesia</link>
		<comments>http://pii.or.id/i/antara-as-china-india-dan-indonesia#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Apr 2011 11:20:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Insinyur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Visi Keinsinyuran]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[insinyur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pii.or.id/i/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[Satu dekade lalu tidak ada yang meragukan bahwa Amerika Serikat adalah pemimpin perekonomian dunia dengan berbagai kekuatan industrinya. Kini, pendulum ekonomi bergerak ke arah Brazil, Rusia, India, dan China (BRIC) yang dijuluki Emerging, Growing, and Leading Economies (EAGLE). Di antara keempat negara ini, China dan India menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang spektakuler yang diyakini akan menggeser [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu dekade lalu tidak ada yang meragukan bahwa Amerika Serikat adalah pemimpin perekonomian dunia dengan berbagai kekuatan industrinya. Kini, pendulum ekonomi bergerak ke arah Brazil, Rusia, India, dan China (BRIC) yang dijuluki Emerging, Growing, and Leading Economies (EAGLE). Di antara keempat negara ini, China dan India menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang spektakuler yang diyakini akan menggeser dominasi Amerika Serikat selama ini.</p>
<p>Banyak sekali analisa tentang bagaimana China dan India bisa mendorong perekonomiannya tumbuh sangat pesat. Beberapa pengamat meyakini India, menyusul China, bisa mendorong tingkat pertumbuhan ekonominya menjadi dua digit.</p>
<p style="text-align: center;"><a title="Perbandingan Insinyur AS, China, India, dan Indonesia" href="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2011/04/insinyur-07.jpg"  rel="lightbox-1133"><img title="insinyur-06" src="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2011/04/insinyur-06.jpg" alt="insinyur-06" width="592" height="200" /></a></p>
<p>Menurut tradingeconomics.com, ketika antara tahun 2008 – 2009, Amerika Serikat mengalami kemerosotan pertumbuhan ekonomi (pertumbuhan minus), China dan India tetap mengalami tingkat pertumbuhan yang tinggi, di atas 6 persen. Bahkan menikmati tingkat pertumbuhan dua digit pada kwartal tertentu.</p>
<p>Salah satu faktor yang diyakini berperan besar dalam mendorong peningkatan ekonomi di China dan India adalah kemajuan industrinya yang ditopang oleh peningkatan kuantitas dan kualitas sumberdaya manusianya. Kedua negara ini berhasil mencetak banyak tenaga insinyur untuk menopang pertumbuhan industrinya.</p>
<p>Menurut Profesor Vivek Wadhwa dari Duke University, China berhasil menghasilkan sekitar  351,537 insinyur setiap tahunnya, India sebanyak 112.000 insinyur, dan Amerika Serikat sebanyak 137.437 insinyur. Data ini dirilis pada tahun 2004, namun pengamatan pada tahun 2005, China dan India menunjukkan peningkatan jumlah terus dalam meluluskan insinyurnya. Secara absolut, China akan memiliki jumlah insinyur yang lebih besar dari pada Amerika Serikat dan akan segera diikuti oleh India.</p>
<p>China telah mencanangkan pertumbuhan ekonominya berbasis pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka menciptakan tenaga insinyur yang handal adalah prioritas utama mereka saat ini. Pada tahun 1986, setelah berkonsultansi dengan sekitar 200 orang ilmuwan terkenal, China meluncurkan program Pengembangan dan Riset Teknologi Tingginya, yang dikenal dengan program “863” (nama ini diambil dari waktu peluncuran program: tahun 86 dan bulan 3 atau Maret). Program ini meliputi pengembangan bioteknologi, teknologi ruang angkasa, teknologi informasi, laser, robotik, pembuatan material tingkat tinggi, teknologi energi, dan teknologi kelautan. Begitu pula India yang mendorong pertumbuhan industri teknologi informasinya (sekitar 30% insinyurnya adalah lulusan di bidang elektronika, teknologi komunikasi, dan komputer).</p>
<p>Dengan gambaran di atas, tidaklah terlalu berlebihan jika dalam beberapa tahun ke depan, China  dan India akan berhasil menyalip Amerika Serikat sebagai pemimpin ekonomi dunia.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan Indonesia?</strong><br />
Agak sulit mendapatkan data mutakhir tentang jumlah insinyur di Indonesia. Dari beberapa diskusi, diperkirakan, saat ini Indonesia meluluskan sarjana teknik sebanyak 35.000-50.000 orang setiap tahunnya yang belum tentu semua bekerja di bidang keteknikan atau teknologi. Berapakah jumlah insinyur yang dibutuhkan saat ini di Indonesia?</p>
<p>Seperti China, sebaiknya Indonesia mempunyai peta  jalan yang jelas untuk membangun perekonomiannya. Apa saja industry yang dibutuhkan, jumlah industry, dan berapa jumlah insinyur yang dibutuhkan untuk merealisasikan rencana tersebut. Jika ini terlaksana, tidak mustahil Indonesia akan menyusul China dan India menjadi kekuatan ekonomi baru di dunia.<span style="color: #888888;"> [aries]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pii.or.id/i/antara-as-china-india-dan-indonesia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tenaga Insinyur Indonesia Makin Terbatas</title>
		<link>http://pii.or.id/i/tenaga-insinyur-indonesia-makin-terbatas</link>
		<comments>http://pii.or.id/i/tenaga-insinyur-indonesia-makin-terbatas#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 10:10:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Insinyur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[insinyur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pii.or.id/i/?p=1116</guid>
		<description><![CDATA[Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Rudianto Handojo menyebutkan, jumlah tenaga insinyur di Indonesia semakin terbatas. &#8220;Tenaga insinyur di Indonesia semakin terbatas. Di samping karena minat siswa belajar di perguruan tinggi makin rendah, juga karena langkanya proyek infrastruktur di tanah air,&#8221; jelas Rudianto dalam rilis yang diterima Kompas.com, Kamis ( 14/4/2011 ).
Ia menyebutkan, Indonesia hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Ir. Rudianto Handojo" href="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2011/04/rudianto-handojo.jpg"  rel="lightbox-1116"><img class="alignleft size-full wp-image-1137" style="border: 0pt none; margin: 7px;" title="rudianto-handojo" src="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2011/04/rudianto-handojo.jpg" alt="rudianto-handojo" width="188" height="225" /></a>Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Rudianto Handojo menyebutkan, jumlah tenaga insinyur di Indonesia semakin terbatas. &#8220;Tenaga insinyur di Indonesia semakin terbatas. Di samping karena minat siswa belajar di perguruan tinggi makin rendah, juga karena langkanya proyek infrastruktur di tanah air,&#8221; jelas Rudianto dalam rilis yang diterima Kompas.com, Kamis ( 14/4/2011 ).</p>
<p>Ia menyebutkan, Indonesia hanya mampu menghasilkan tenaga insinyur sekitar 35.000 sarjana teknik per tahunnya, sedangkan China sanggup menghasilkan sepuluh kali lipatnya dengan jumlah 300-400 ribu insinyur per tahun. &#8220;Terbatasnya tenaga insiyur di Indonesia sangat memprihatinkan,&#8221; tuturnya dalam sosialisasi ASEAN Australian Engineering Congres.</p>
<p>Penurunan jumlah tersebut tidak hanya disebabkan oleh penurunan minat terhadap jalur profesi tersebut, namun juga banyak yang beralih pekerjaan di luar bidangnya. Mengapa demikian? Rudi menuturkan, masih kurangnya penghargaan profesi insinyur dan tingkat penghargaan imbalan atas profesi dan pekerjaannya merupakah salah satu pengaruh yang besar.</p>
<p>Permasalahan ini pun direncanakan akan dibahas dalam ASEAN Australian Engineering Congress di Serawak pada 25-27 Juli mendatang.</p>
<p>Selain membahas kebutuhan insinyur pada aspek makro dan mikro secara global, kongres juga akan membahas perubahan iklim, pembangunan yang berkelanjutan, infrastruktur, manajemen air dan salurannya, serta lingkungan.</p>
<p>Termasuk juga pembahasan ledakan nuklir di Jepang akan dibahas dalam forum tersebut. Terkait hal ini, PII tetap mendukung pengembangan teknologi dan penggunaan nuklir yang akhir-akhir ini menuai kecaman. Menurut PII, kelemahan yang terjadi justru harus menjadi penyempurnaan untuk berikutnya.</p>
<p><span style="color: #888888;">sumber : <a href="http://www.kompas.com" target="_blank">kompas.com</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pii.or.id/i/tenaga-insinyur-indonesia-makin-terbatas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Insinyur dan Daya Saing Bangsa</title>
		<link>http://pii.or.id/i/insinyur-dan-daya-saing-bangsa</link>
		<comments>http://pii.or.id/i/insinyur-dan-daya-saing-bangsa#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 11:59:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Insinyur</dc:creator>
				<category><![CDATA[PII Corner]]></category>
		<category><![CDATA[daya saing]]></category>
		<category><![CDATA[insinyur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pii.or.id/i/?p=1065</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dr. Ir. Muhammad Said Didu (Ketua Umum PII)Selama hampir 20 tahun, tepatnya pada 1970-1990, Indonesia menorehkan reputasi daya saingnya di kancah global. Berbagai inovasi dan kesiapan teknologi diusung secara serius dan sistematis sehingga melahirkan karya-karya keinsinyuran yang membuat kagum bangsa lain. Malaysia banyak belajar tentang sains dan teknologi kepada Indonesia. Petronas belajar dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2011/04/said-didu.jpg"  rel="lightbox-1065"><img class="alignleft size-full wp-image-1066" style="border: 0pt none; margin: 7px;" title="said-didu" src="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2011/04/said-didu.jpg" alt="said-didu" width="170" height="207" /></a><em>Oleh : Dr. Ir. Muhammad Said Didu (Ketua Umum PII)</em><br />Selama hampir 20 tahun, tepatnya pada 1970-1990, Indonesia menorehkan reputasi daya saingnya di kancah global. Berbagai inovasi dan kesiapan teknologi diusung secara serius dan sistematis sehingga melahirkan karya-karya keinsinyuran yang membuat kagum bangsa lain. Malaysia banyak belajar tentang sains dan teknologi kepada Indonesia. Petronas belajar dari Pertamina. Dan negara-negara tetangga banyak memberi apresiasi yang tinggi terhadap kapabilitas keinsinyuran Indonesia.</p>
<p>Pada tahun 1976, Indonesia meluncurkan satelit telekomunikasi Palapa. Pada 1970-an, Indonesia mencanangkan program Revolusi Hijau dengan meluncurkan benih unggul padi PB, irigasi nasional, dan pupuk – sehingga tercapailah swasembada pangan di tahun 1984. Pada era 1970-an, insinyur terbaik Indonesia, Dr. Ir. B.J. Habibie berhasil merancang model dan teknologi pesawat yang banyak diterapkan di industri pesawat terbang di Eropa dan NASA. Dan di tahun 1980-an, Indonesia berhasil membuat pesawat terbang sendiri dengan nama CN-235 dan N-250 (di tahun 1990). Pada masa itulah, Indonesia menjadi negara yang cukup diperhitungkan dalam kematangan daya saing global.</p>
<p>Kondisi tersebut berbalik arah dan menukik tajam, puncaknya di tahun 1998, dimana seluruh energi dan konsentrasi Indonesia tersedot pada satu hal, yaitu masalah politik. Birokrasi yang cenderung koruptif dan ketidakpastian hukum, memaksa semua kekuatan daya saing Indonesia (yang dulu pernah dimilikinya) seolah terberangus tak tersisa. Dan selama 10 tahun sesudahnya, 2008, Indonesia masih belum sanggup menata dirinya.  Lemahnya birokrasi dan leadership masih menjadi isu sentral hingga saat ini. Karya-karya keinsinyuran seperti inovasi, kesiapan teknologi, dan pengembangan infrastruktur nasional pun belum menunjukkan titik geliatnya secara nyata.</p>
<p>Dan di tahun 2011 ini, menjadi titik tolak untuk bangkit dan membangun kembali daya saing bangsa. Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana membawa mainstream kebijakan nasional berbasis industri dan sektor riil. Selama ini kebijakan nasional banyak dikendalikan pada sektor perdagangan dan pasar finansial. Dan inilah yang menjadi titik terlemah dari suatu bangsa. Secara fundamental, negara akan gampang lumpuh jika terus mendasarkan kebijakan nasionalnya pada sektor perdagangan dan pasar finansial. Indonesia pernah lumpuh di tahun 1997, dan Amerika Serikat (yang juga berbasis perdagangan dan pasar finansial) juga pernah mengalami hal yang sama di tahun 2008.</p>
<p>Negara-negara maju seperti Jerman, Jepang, Inggris, dan juga China secara konsisten menempatkan basis industri dan sektor riil sebagai mainstream kebijakan nasionalnya. Berbagai inovasi, kesiapan teknologi, pendidikan tinggi, dan pengembangan infrastruktur terus didorong secara optimal dan berkelanjutan, sehingga menopang perekonomian rakyat dan ketahanan nasional. Indonesia saatnya bergerak dalam mainstream itu. [<em>editor: elmoudy</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pii.or.id/i/insinyur-dan-daya-saing-bangsa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Daya Saing Indonesia : 4 Pilar Keinsinyuran</title>
		<link>http://pii.or.id/i/daya-saing-indonesia-4-pilar-keinsinyuran</link>
		<comments>http://pii.or.id/i/daya-saing-indonesia-4-pilar-keinsinyuran#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 03:37:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Insinyur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Visi Keinsinyuran]]></category>
		<category><![CDATA[daya saing]]></category>
		<category><![CDATA[insinyur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pii.or.id/i/?p=913</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah karut marutnya  kondisi Indonesia yang dihantam masalah korupsi, mafia hukum, mafia pajak, dan berbagai konflik horisontal,  sebuah berita baik datang dari World Economic Forum (WEF) yang merilis peringkat daya saing negara-negara di dunia, The Global Competitiveness Index (GCI).  
Indonesia, dalam GCI 2010 – 2011, berhasil menempati posisi ke 44, naik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah karut marutnya  kondisi Indonesia yang dihantam masalah korupsi, mafia hukum, mafia pajak, dan berbagai konflik horisontal,  sebuah berita baik datang dari World Economic Forum (WEF) yang merilis peringkat daya saing negara-negara di dunia, The Global Competitiveness Index (GCI).  </p>
<p>Indonesia, dalam GCI 2010 – 2011, berhasil menempati posisi ke 44, naik 10 peringkat dari tahun sebelumnya. Peringkat ini meningkat karena  membaiknya kondisi ekonomi makro serta perbaikan dalam indikator pendidikan. Indonesia dinilai berhasil memertahankan kondisi ekonomi makro saat terjadi krisis ekonomi dan berhasil mengendalikan defisit anggaran. Utang tetap dapat dikendalikan sebesar 31% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sementara tingkat tabungan meningkat menjadi 33% dari PDB.  </p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2011/04/gci2.jpg"  rel="lightbox-913"><img class="size-full wp-image-914 aligncenter" style="border: 0pt none; margin-top: 7px; margin-bottom: 7px;" title="gci1" src="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2011/04/gci1.jpg" alt="gci1" width="585" height="386" /></a></p>
<p>Namun beberapa sektor dinilai belum memuaskan. Infrastruktur, energi, dan penggunaan ICT (Information and Communication Technologies) di Indonesia masih perlu banyak perbaikan. Laporan GCI menyebutkan, kondisi infrastruktur Indonesia berada di posisi 82 dari 144 negara. Begitu pula dengan sektor jalan, posisi Indonesia berada di urutan ke-84 dan posisi ke-97 untuk ketersediaan pasokan listrik. Untuk tingkat penggunaan ICT, posisi Indonesia tetap rendah, posisi ke 103 dari 144 negara.  </p>
<p>Peringkat tertinggi GCI kali ini ditempati oleh Swiss, disusul oleh Swedia dan Singapura. Amerika Serikat yang tahun lalu berada di peringkat 2, kali ini posisinya ada di peringkat 4. </p>
<p><strong>Perspektif Keinsinyuran</strong><br />
Dari 12 pilar daya saing The Global Competitiveness Report: Institusi, infrastruktur, kondisi ekonomi makro, kesehatan dan pendidikan dasar, pelatihan dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, pengembangan pasar keuangan, kesiapan teknologi, ukuran pasar, perkembangan/kenyamanan usaha, dan inovasi, yang berhubungan langsung dengan keinsinyuran – kami sebut saja 4 pilar keinsinyuran &#8211;  adalah infrastruktur,  pendidikan  tinggi &amp; pelatihan (mempersiapkan insinyur profesional), kesiapan teknologi, dan inovasi.  </p>
<p>Di kawasan ASEAN, posisi Indonesia masih di bawah Singapura (peringkat 3), Malaysia (26), Brunei (28), dan Thailand (38). Terlihat dari 4 pilar keinsinyuran dalam infografis, kita masih tertinggal dari Singapura dan Malaysia. Indonesia hanya unggul di sektor inovasi dari Thailand dan Brunei. Sektor infrastruktur dan kesiapan teknologi adalah 2 pilar yang menjadi titik paling lemah Indonesia.  Bahkan India, yang berperingkat di bawah Indonesia, lebih siap dalam penggunaan teknologi, hal yang diyakini sebagian besar kalangan akan membawa India menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.  </p>
<p>Dari gambaran tersebut , 4 pilar keinsinyuran mempunyai pengaruh yang sangat penting untuk mendongkrak daya saing sebuah negara. Peningkatan dan perbaikan 4 pilar keinsinyuran ini akan berdampak terhadap 8 pilar lainnya. Bahkan dapat dikatakan juga bahwa ini adalah pilar-pilar dasar daya saing suatu bangsa yang akan menjadi lokomotif pembangunan Indonesia. Dan ini adalah amanah untuk para insinyur. [Aries]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pii.or.id/i/daya-saing-indonesia-4-pilar-keinsinyuran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PII Siapkan Konsep Rehabilitasi Korban Merapi</title>
		<link>http://pii.or.id/i/pii-siapkan-konsep-rehabilitasi-korban-merapi</link>
		<comments>http://pii.or.id/i/pii-siapkan-konsep-rehabilitasi-korban-merapi#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 16:48:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Insinyur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[insinyur]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pii.or.id/i/?p=607</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta &#8211; Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menawarkan konsep rehabilitasi bencana letusan Gunung Merapi Yogyakarta. Konsep ini dinilai akan mempercepat normalisasi kehidupan masyarakat di kawasan Gunung Merapi.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum PII Muhammad Said Didu kepada detikFinance, Sabtu (6/11/2010).
&#8220;Sambil memantapkan penyelesaian tanggap darurat Gempa Gunung Merapi, PII (Persatuan Insinyur Indonesia) menyiapkan konsep rehabilitasi bencana Merapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta &#8211; Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menawarkan konsep rehabilitasi bencana letusan Gunung Merapi Yogyakarta. Konsep ini dinilai akan mempercepat normalisasi kehidupan masyarakat di kawasan Gunung Merapi.</p>
<p>Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum PII Muhammad Said Didu kepada detikFinance, Sabtu (6/11/2010).</p>
<p>&#8220;Sambil memantapkan penyelesaian tanggap darurat Gempa Gunung Merapi, PII (Persatuan Insinyur Indonesia) menyiapkan konsep rehabilitasi bencana Merapi untuk mempercepat normalisasi kehidupan masyarakat,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan dengan cepat sehingga kehidupan masyarakat bisa cepat normal, terutama lewat pembersihan debu dan lagar pada infrastruktur dan rumah-rumah penduduk.</p>
<p>&#8220;Konsep tersebut berupa pembersihan debu dan lahar pada infrastrutur dan rumah penduduk, pembersihan dan rehabilitasi tanaman dan lahan pertanian, serta program pemanfaatan debu untuk pembangunan dan pertanian,&#8221; tutur Said.</p>
<p>Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan pemerintah belum melakukan penghitungan biaya infrastruktur dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi akibat bencana Merapi.</p>
<p>&#8220;Kita belum sampai ke situ. Sekarang baru sampai penyelamatan. Kita mengatasi bagaimana pengungsi sekian banyak, bagaimana masalah yang terkait daerah berbahaya yang meluas sampai radius 20 km,&#8221; ujar Hatta.</p>
<p><span style="color: #888888;">sumber : detikfinance.com</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pii.or.id/i/pii-siapkan-konsep-rehabilitasi-korban-merapi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Insinyur Indonesia dalam ASEAN Engineers Register</title>
		<link>http://pii.or.id/i/insinyur-indonesia-dalam-asean-engineers-register</link>
		<comments>http://pii.or.id/i/insinyur-indonesia-dalam-asean-engineers-register#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 04:29:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Insinyur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Keanggotaan PII]]></category>
		<category><![CDATA[airlangga hartarto]]></category>
		<category><![CDATA[ASEAN Engineers Register]]></category>
		<category><![CDATA[insinyur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pii.or.id/i/?p=408</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta. 03.12.2009 &#8211; Ketua Persatuan Insinyur Indonesia, Airlangga Hartanto mengatakan lulusan insinyur Indonesia sudah bisa bekerja di negara ASEAN. Hal ini setelah ada kesepakatan kesetaraan profesi insinyur dalam konferensi Federasi Organisasi Insinyur se-ASEAN.
&#8220;Jadi lulusan insinyur yang memiliki sertifikasi sama dengan lulusan insinyur di Australia atau Singapura,&#8221; kata Airlangga usai bertemu dengan Wakil Presiden Boediono di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2009/12/airlangga.jpg"  rel="lightbox-408"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-409" style="border: 0pt none; margin-left: 5px; margin-right: 5px;" title="airlangga" src="http://pii.or.id/i/wp-content/uploads/2009/12/airlangga.jpg" alt="airlangga" width="239" height="239" /></a>Jakarta. 03.12.2009 &#8211; Ketua Persatuan Insinyur Indonesia, Airlangga Hartanto mengatakan lulusan insinyur Indonesia sudah bisa bekerja di negara ASEAN. Hal ini setelah ada kesepakatan kesetaraan profesi insinyur dalam konferensi Federasi Organisasi Insinyur se-ASEAN.</p>
<p>&#8220;Jadi lulusan insinyur yang memiliki sertifikasi sama dengan lulusan insinyur di Australia atau Singapura,&#8221; kata Airlangga usai bertemu dengan Wakil Presiden Boediono di kantor Wakil Presiden, Kamis (3/12).</p>
<p>Dia melanjutkan, dengan sertifikasi itu lulusan insinyur Indonesia siap bersaing dengan lulusan asing. Bahkan, kata dia, insinyur Indonesia yang bersertifikasi sudah bisa langsung bekerja di Singapura. Persatuan Insinyur, kata Airlangga, sudah menerapkan sertifikasi sejak lebih dari lima tahun yang lalu.</p>
<p>Sebelumnya, kesetaraan ini menjadi masalah lulusan Indonesia bersaing dengan lulusan negara lain untuk bekerja di negara ASEAN dan negara Australia. Apalagi, sebelum penandatangan dengan organisasi insinyur se-ASEAN. [tempointeraktif.com]</p>
<p>Info ASEAN Engineers Register (AER) bisa dilihat di : <a href="http://aer.afeo.org" target="_blank">http://aer.afeo.org</a></p>
<p>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pii.or.id/i/insinyur-indonesia-dalam-asean-engineers-register/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

