The Future is Green
December 13, 2009 by Insinyur
Filed under Visi Keinsinyuran
Pada bulan Oktober tahun lalu, dunia goncang akibat perusahaan Amerika bernama Lehman Brothers mengalami kebangkrutan. Perusahaan tersebut meninggalkan persoalan hutang mencapai US$ 600 Miliar (Rp 6.000 Triliun). Kondisi ini berlanjut dan diikuti krisis perusahaan besar lainnya seperti Merryl Linch, General Motors, dst. Hal ini mengakibatkan pasar-pasar saham di dunia berjatuhan, dan berimbas ke pasar saham di Indonesia. Bahkan untuk beberapa saat, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempet mengalami suspend (tutup sementara). Pada akhirnya, krisis internal Amerika Serikat ini memaksa Pemerintah USA menalangi dana sebesar US$ 700 Miliar (Rp. 7.000 Triliun), sebagai solusi atas krisis yang dihadapi.
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mampu bertahan menghadapi krisis tersebut. Hal ini dibuktikan pada akhir tahun 2008 angka pertumbuhan Indonesia masih mencapai 6%. Bahkan pada tahun 2009, dimana hampir di semua negara maju di dunia mengalami pertumbuhan negatif (minus), sementara Indonesia tercatat mengalami pertumbuhan positif 4%. Hal ini menunjukkan kondisi fundamental ekonomi dan strategi penanggulangan krisis ekonomi Indonesia yang cukup baik.
Dengan krisis ekonomi global yang terjadi beberapa waktu lalu, banyak negara-negara maju secara langsung melakukan pengingkaran terhadap pemahaman politik lingkungan (political ecology). Politik lingkungan secara ideologis seharusnya menjadi acuan yang harus menjadi panutan sistem dan tata kelola ekonomi global di dunia pada saat ini. Hal ini dapat dipahami, seandainya krisis ekonomi global yang terjadi adalah merupakan koreksi dan antitesis atas sistem globalisme dan kapitalisme modern yang diagung-agungkan oleh negara maju. Antitesis itu adalah sustainable development (pembangunan berkelanjutan/ekonomi tengah).
Ke depan, kita harus melihat dan mempertimbangkan sustainable development menjadi suatu ideologi masa depan. Dimana dengan ideologi tersebut, akan muncul suatu keadilan dan titik ekuilibrum baru kehidupan masyarakat di dunia. Negara maju jelas telah mengalami “saturated condition” untuk pertumbuhan ekonominya. Negara berkembang jelas sangat memerlukan pertumbuhan ekonomi, tetapi tentu pertumbuhan dan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Oleh sebab itu, beberapa jargon spirit baru seperti “green is new big deal”, “green economic” atau “low carbon technology” adalah jargon-jargon yang akan menjadi spirit pembangunan dunia pada masa kini dan masa mendatang.
Dalam konteks ini, PII sebagai lokomotif teknologi dan engineering di Indonesia, haruslah dapat mengambil peran dalam menghadapi ancaman perubahan iklim dan pemanasan global. PII harus bisa mendorong teknologi dan engineering dalam koridor green economic based. Sebagai ilustrasi, bisa kita bayangkan berapa besar nilai kredit macet yang membangkrutkan Lehman Brothers, yang nominalnya mencapai 10 kali lipat APBN Indonesia. Seandainya dana tersebut diinvestasikan untuk pengembangan proyek green technology seperti pembangkit panas bumi, tentu manfaatnya akan jauh lebih terasa bagi masyarakat dunia. Untuk di Indonesia, potensi panas bumi di Indonesia mencapai 27.000 Megawatt, dan baru dimanfaatkan kurang lebih 1.300 Megawatt. Hal ini menjadi potensi green economic yang luar biasa.
Oleh sebab itu, the future is green. Masa depan dunia adalah segala hal yang berkorelasi dengan isu lingkungan. Pelibatan semua pihak sangat diperlukan guna mencapai kemajuan yang lebih baik dan menjadi negara yang lebih maju di masa depan. Dan sudah saatnya bagi kita untuk lebih concern terhadap pengelolaan ekonomi dan lingkungan (green economic) dengan ditopang teknologi yang ramah lingkungan (green technology).
:: By Ir. Airlangga Hartarto, MMT, MBA
Suistainable Engineering Award 2009
December 13, 2009 by Insinyur
Filed under Visi Keinsinyuran
Suistainable Engineering Award (SEA PII) merupakan penghargaan engineering untuk memberikan apresiasi yang tinggi kepada industri dan individu yang telah konsisten mendorong dan mengembangkan suatu karya dalam rangka mereduksi efek Gas Rumah Kaca (GRK) – baik melalui penerapan teknologi, maupun penelitian dan penemuan. Penghargaan ini menjadi bagian komitmen PII sebagai organisasi keinsinyuran Indonesia dalam turut serta berpartisipasi mewadahi para insinyur yang memiliki ide, pemikiran, kreatifitas, dan inovasi teknologi dalam mengatasi persoalan lingkungan.
Sehingga diharapkan Suistainable Engineering Award (SEA-PII) ini, dapat menjadi motivator bagi publik dan dunia industri dalam pengembangan low carbon technology dan green economy di Indonesia. Diharapkan pula, PII berkomitmen menjadi frontline dalam memfasilitasi penemuan solusi-solusi dalam mengatasi persoalan lingkungan khususnya climate change dan global warming.
Tahun 2009 adalah kali kedua PII melakukan penilaian penghargaan tentang Suistainable Engineering Award. Untuk itu, pengalaman penilaian yang dilakukan tahun 2008 dijadikan sebagai benchmark untuk menyempurnakan proses penilaian tahun 2009. Hal yang signifikan membedakan penilaian dan proses pemberian penghargaan tahun 2009 dibandingkan sebelumnya adalah penilaian pada tahun ini jauh lebih transparan, terbuka, dan lebih berkualitas. Proses yang dilalui baik itu kategori industri maupun individu haruslah melalui pentahapan yang panjang. Mulai dari longlist, shortlist, selanjutnya nominasi, dan terakhir pemenang.
Untuk kategori industri ada 4 (empat) kriteria mendasar yang dijadikan sebagai basic dari penilaian tim juri dan panitia, yaitu : (1) Mengembangkan / mendorong / menerapkan Low Carbon Technology, (2) memberikan kontribusi yang signifikan terhadap ekonomi (PDRB hijau), (3) Memenuhi Baku Mutu Lingkungan atau tidak mencemari dan merusak lingkungan, (4) Community Development. Sedangkan untuk kategori individu ada 3 (tiga) kriteria dasar penilaian, yaitu : (1) Mengembangkan / mendorong / menerapkan Low Carbon Technology, (2) Merupakan penemuan yang monumental dan fenomenal, (3) Memberikan kontribusi yang signifikan terhadap dunia engineering.
Hasil-hasil yang dicapai oleh industri ataupun individu pada Suistainable Engineering Award (SEA PII) 2009 cukup membanggakan. Beberapa komitmen dan teknologi yang sudah dikembangkan oleh industri-industri tersebut dapat menjadi motivasi yang kuat bagi dunia industri ke depan. Bahkan beberapa penemuan dari individu sangat mungkin didorong, bahkan bila perlu mendapatkan apresiasi untuk penghargaan nobel. Lebih penting dari itu adalah, bagaimana penemuan-penemuan tersebut dapat diaplikasikan dengan baik dalam proses pembangunan di Indonesia. Dalam konteks itulah, Persatuan Insinyur Indonesia akan selalu memfasilitasi dan mendorong iklim tersebut.
:: By Dr. Ir. Muhammad Jaafar Hafsah (Ketua Dewan Juri)
Pendidikan Lingkungan di Green Festival 2009
December 5, 2009 by Insinyur
Filed under Green Engineering
Jakarta. 5.12.2009 – Aneka ragam kegiatan yang sarat muatan pendidikan lingkungan, terutama pengenalan isu perubahan iklim, akan disajikan dalam Green Festival 2009 pada 5-6 Desember di Parkir Timur Senayan, Jakarta.
Kegiatan bertema ”Green Festival-Apa yang Sudah Kamu Lakukan?” ini terbuka untuk umum dan menawarkan bermacam-macam kegiatan bertema lingkungan. Ketua Panitia Green Festival 2009 Nugroho Ferry Yudho, Jumat (4/12), mengatakan, acara ini sebenarnya program kampanye edukasi kepada masyarakat mengenai upaya nyata untuk mengurangi dampak pemanasan global (global warming).
Dengan bahasa sederhana, masyarakat diharapkan bisa mudah memahami dan mempraktikkan di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Salah satu yang menarik adalah workshop mengenai community mapping, antara lain pengaturan saluran pembuangan limbah padat dengan sumber air bersih. ”Jarak ideal dalam rumah itu 10 meter. Bisa jadi rumah si A itu sudah sesuai aturan, tetapi kalau rumah tetangganya tidak diatur juga, ya sama saja, air bersihnya akan bisa campur dengan limbah padat dari tetangganya itu,” kata Nugroho.
Selain pemahaman mengenai community mapping, di GreenFest, juga disosialisasikan ”diet karbon” yang bisa dilakukan dengan cara hemat energi. Diet karbon ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Menghemat penggunaan listrik adalah salah satu cara untuk bisa menghemat energi. Misalnya, dengan mematikan televisi, komputer, pengatur suhu (AC), atau alat-alat elektronik lainnya.
”Alat elektronik di posisi standby masih menggunakan listrik 5 watt. Coba bayangkan saja berapa besar biaya dan energi yang terbuang sia-sia,” kata Nugroho.
Selama dua hari panitia sudah menyiapkan tema-tema menarik dalam workshop, antara lain tema pemanfaatan sampah basah dan kering, adaptasi perubahan iklim, dan gaya hidup hijau. Bukan hanya itu. Selama dua hari itu pun akan berlangsung final lomba ”Green Competition” tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Lomba ini mengasah pengetahuan seputar pemanasan global dan lingkungan.
”Polisi Sampah”
Menurut rencana, GreenFest akan dibuka oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta, Menneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari, Menneg Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, serta Duta Lingkungan Tasya dan Nugie.
Pada penyelenggaraan GreenFest tahun 2008, sekitar 44.000 orang memadati Parkir Timur Senayan. Pada tahun ini panitia berharap bisa menyedot perhatian 50.000 pengunjung.
Masih banyak kegiatan lain yang menarik di arena GreenFest. Jangan lewatkan peragaan busana ESMOD yang menampilkan busana dari barang daur ulang, perkusi memakai alat dapur (SD Dian Didaktika), dan juga yoyo free style. Jangan lupa juga, di arena GreenFest hati-hati jika ingin membuang sampah karena ”polisi sampah” dari Sekolah Alam Cikeas siap menegur siapa saja yang membuang sampah sembarangan. [kompas.com]
CDM Bermata Dua
February 8, 2009 by Insinyur
Filed under Green Engineering, Headline
Terciptanya karbon di udara berasal dari pembakaran minyak dan gas dari kendaraan, pabrik dan industri, pembakaran hutan, juga asap letusan gunung berapi. Karbon memiliki peran penting, antara lain untuk proses fotosintesis tumbuhan. Tumbuhan menyerap karbon dari udara untuk diubah menjadi gula dan oksigen yang diperlukan sebagai makanannya. Proses fotosintesis ini juga berguna karena menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi.
Namun konsentrasi karbon yang berlebihan di udara sudah menjadi persoalan tersendiri. Karena karbon yang terlepas ke udara secara berlebihan mengakibatkan peningkatan suhu bumi atau pemanasan global. Bersama gas-gas hasil pencemaran lain, karbon membentuk lapisan yang menahan panas bumi keluar dari atmosfer. Sehingga suhu udara di bumi semakin panas, lazim disebut “Efek Rumah Kaca”.
Suhu permukaan yang tinggi telah menyebabkan salju di kedua belah kutub bumi mencair. Hhal ini secara langsung berdampak pada naiknya permukaan air laut. Selain itu, peningkatan intensitas curah hujan pada musim penghujan serta musim kemarau yang berkepanjangan membawa dampak buruk berupa gagal panen, banjir, tanah longsor, dan kekeringan.

Berbagai upaya telah dilakukan guna mengantisipasi kerusakan yang lebih parah di masa yang akan datang. Salah-satunya adalah menggalang kekuatan dunia menghadapi lajunya pemanasan global.
Pada tahun 1992 diadakan Pertemuan Tingkat Tinggi Bumi I di Rio de Janeiro, Brazil. Pertemuan itu menghasilkan perjanjian kerja sama mengantisipasi perubahan iklim dengan menetapkan batas-batas emisi gas-gas rumah kaca.
Anggota konvensi dari 150 negara itu kemudian mengadakan pertemuan berikut di Berlin pada tahun 1995, disebut Pertemuan Antar Pihak I atau Conference of The Parties (COoP) 1.
COoP III di Kyoto, Jepang, akhirnya menghasilkan Protokol Kyoto yang menjadi landasan bagi pengembangan Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism atau yang disingkat dengan CDM). Negara-negara maju diharuskan mengurangi pencemaran udara sebesar ± 5%.
Dengan CDM, negara-negara maju diharuskan mengurangi gas rumah kaca dengan membiayai proyek-proyek energi bebas polusi dan penggunaan lahan untuk penyerapan karbon di negara berkembang. Kesepakatan inilah yang menjadi asal-muasal digulirkannya sistem perdangan karbon. Yyakni mekanisme berbasis pasar untuk membatasi peningkatan kadar CO2 di atmosfer. Negara pemilik hutan menjual jatah karbon yang bisa diserap oleh suatu kelompok tanaman/hutan kepada negara/industri yang menghasilkan polusi karbon.
Protokol Kyoto juga menentukan, perdagangan karbon dari hutan lindung atau lawasan konservasi tidak dapat dilakukan. Selain itu, hanya hutan tanaman yang dikembangkan setelah tahun 1990 saja yang dapat diterima pada sistem perdagangan karbon.Para pihak yang terlibat dalam perda- ngan karbon ini antaralain debitur dan kreditur karbon. Debitur karbon adalah negara maju yang tidak menyerap karbon yang dilepas oleh industri atau kendaraan di negaranya.
Sedangkan kreditur karbon adalah negara yang menyerap karbon lebih banyak daripada karbon yang dihasilkan oleh industri atau kendaraan di negaranya.Perdagangan karbon sendiri pada umumnya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sistem fund dan sistem pasar. Ddengan sistem fund, negara industri memberikan anggaran untuk melestarikan hutan kepada negara-negara yang bersedia menyisakan lahannya untuk pelestarian hutan.
Dananya digunakan untuk proyek-proyek pemba- ngunan. Sistem yang kedua adalah sistem pasar. Siapa saja yang memiliki hutan harus melakukan pelestarian terlebih dahulu baru setelah dibuktikan telah terjadi pelestarian, maka setiap tahun akan mendapatkan pembayaran.Kelemahan sistem fund adalah seringnya dana tersebut tidak jatuh ke tangan yang tepat. Ddana itu menguap begitu saja pada jajaran pemerintah pusat sehingga upaya pelestarian tidak berjalan maksimal. Sedangkan pada sistem pasar, korupsi dapat dihindari karena sistem perdagangan karbon berbentuk pasca bayar.
Selain itu, pepohonan yang dilibatkan pada perdagangan karbon merupakan pepohonan yang bukan berasal dari hutan alami. Jika perusahaan Abcd, yang tiap tahunnya mengeluarkan emisi karbondioksida sebanyak 100.000 ton diminta menurunkan emisinya hingga 5% atau 5.000 ton per etahun, maka perusahaan A memiliki dua pilihan, yaitu: menurunkan emisinya hingga 5.000 ton per tahun seperti yang diminta atau membeli hak emisi dari pihak lain.dilain pihak, terdapat hutan Wxyz seluas 50.000 hektar are (Ha) dengan status hutan konversi.
Secara hukum hutan tersebut dapat dikonservasikan menjadi perkebunan. Namun melalui perdagangan karbon, hutan tersebut dapat tidak dikonversikan jika ada pihak lain yang mau membeli nilai emisi karbon yang dihindari. Masalahnya, sistem ini cukup rumit sehingga tidak dengan mudah dapat dilaksanakan oleh semua pihak.Sebagaimana layaknya sebuah bisnis dan perdagangan, masyarakat pada umumnya berada pada posisi tawar yang lemah.
Masyarakat memiliki keterbatasan meng- akses informasi sehingga dikhawatirkan akan dimanfaatkan oleh pihak lain. Uuntuk mengantisipasi hal ini, perlu dibuat aturan yang jelas sehingga tidak ada satupun yang merasa dirugikan.Pertanyaannya, apakah sistem ini sudah sesuai dengan semangat awal, yaitu menyelamatkan lingkungan? sistem ini, alih-alih emisi berkurang, namun CDM menjadi legalisasi perilaku boros dan polutif. [RH]
Biofuel Sebaiknya dari Pertanian non Pangan
February 8, 2009 by Insinyur
Filed under Green Engineering, Headline
”Perlu diakui bahwa kita juga dihadapkan pada konflik pemanfaatan bahan pangan menjadi biofuel.” Demikian dikatakan Ketua Komisi VII yang juga Ketua Umum PII, Ir. Airlangga Hartarto, MMT, MBA selaku Pembicara Kunci pada Diskusi Panel ”Peran Bioteknologi Modern dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan” di BPPT, Jakarta, 1 November 2008.
Ketua Umum PII, Ir. Airlangga Hartarto menyatakan pula bahwa selama masih ada alternatif lain, sebaiknya bahan pangan tidak dikonversi untuk energy. ”Justru di sinilah peran bioteknologi diharapkan dapat berkontribusi untuk mengembangkan bahan pertanian yang non pangan yang dapat dijadikan sebagai sumber biofuel,” ujarnya.
Sebagai contoh, tanaman jarak pagar yang pernah ramai dikembangkan sebagai sumber energi alternatif, belakangan ini mendapat kecaman keras. Data tentang budidaya dan produktivitasnya masih minim sehingga petani enggan menanam jarak. Tugas bioteknologi di sini diharapkan dapat menciptakan varietas unggul yang menghasilkan rendemen minyak tinggi dan produktivitas tinggi.
Peran bioteknologi modern juga diperlukan untuk menghadapi kerusakan lingkungan sebagai akibat pola pertanian yang kurang tepat. Produksi pangan di dataran tinggi yang sangat intensif menggunakan pestisida dan obat-obatan lain telah mencemari air tanah. Kejadian ini telah banyak menimbulkan konflik horizontal di masyarakat : Di satu sisi petani ingin mendapatkan penghasilan, di sisi lain masyarakat ingin mendapat sumber air yang tidak tercemar.
Peran bioteknologi modern juga diperlukan untuk menghadapi kerusakan lingkungan sebagai akibat pola pertanian yang kurang tepat. Produksi pangan di dataran tinggi yang sangat intensif menggunakan pestisida dan obat-obatan lain telah mencemari air tanah. Kejadian ini telah banyak menimbulkan konflik horizontal di masyarakat : Di satu sisi petani ingin mendapatkan penghasilan, di sisi lain masyarakat ingin mendapat sumber air yang tidak tercemar.Peran bioteknologi modern juga diperlukan untuk menghadapi kerusakan lingkungan sebagai akibat pola pertanian yang kurang tepat. Produksi pangan di dataran tinggi yang sangat intensif menggunakan pestisida dan obat-obatan lain telah mencemari air tanah. Kejadian ini telah banyak menimbulkan konflik horizontal di masyarakat : Di satu sisi petani ingin mendapatkan penghasilan, di sisi lain masyarakat ingin mendapat sumber air yang tidak tercemar.
Diyakini bahwa bioteknologi dalam pembangunan telah menunjukkan kontribusi yang sangat nyata dalam menciptakan terobosan yang bermanfaat bagi kemaslahatan bangsa. Dalam dua dasawarsa bioteknologi telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembangunan bidang pertanian, kesehatan, industri pengolahan dan lingkungan.
Negara-negara India dan China telah berhasil mengisi pasaran produk bioteknologi ke negara Uni Eropa yang pasarnya sebelum itu hanya diisi oleh produk bioteknologi dari negara maju. Diproyeksikan, kontribusi bioteknologi dalam sepuluh tahun mendatang cenderung meningkat sejalan dengan munculnya berbagai permasalahan baru sebagai akibat kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit baru.
Inovasi di bidang pangan dan kesehatan telah menunjukan potensi yang besar, seperti bioteknologi untuk mengembangkan berbagai macam produk, rekayasa tanaman tahan penyakit dan tahan perubahan iklim, pestisida alami, teknologi bioremediasi untuk lingkungan, bahan kimia lain dan enzym yang dapat meningkatkan efisiensi produksi.
Oleh karena itu di masa mendatang pengembangan bioteknologi harus bersifat multidiplin. Di sinilah peran teknolog /insinyur sangat diharapkan. PII, Persatuan Insinyur Indonesia sebagai organisasi profesi yang juga mencakup insinyur pertanian, sangat berkepentingan terhadap pengembangan kemandirian teknologi dalam negeri dan senantiasa mendorong para anggotanya dapat berkarya lebih baik lagi bagi bangsa dan Negara.
Sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, pemenuhan atas pangan yang cukup adalah hak asasi setiap rakyat Indonesia. Agar sumberdaya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional dapat terwujud. Sehingga adalah konsekwensi bagi pemerintah untuk dapat menjamin hak pangan yang bergizi dan aman bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ini sebagaimana dituangkan dalam UU No. 7/1996 tentang pangan. Kondisi ketahanan pangan dinyatakan sebagai “Kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman,merata, dan terjangkau”.
Untuk mencapai kondisi semacam ini, kita memerlukan indikator-indikator yang terukur. Misal, pengukurannya dikaitkan kurun waktu. Lebih lanjut ketahanan pangan harus memperhitungakan adanya bencana alam yang datangnya tidak bisa diprediksi. Padahal lita masih belum punya jawaban yang tepat jika ditanya berapa bulan ketahanan pangan di Indonesia saat ini.
Saat ini penduduk Indonesia diperkirakan berjumlah 228 juta. Proyeksi pada tahun 2025 penduduk Indonesia akan mencapai 273 juta. Meskipun tingkat pertumbuhan penduduk semakin menurun, dengan jumlah penduduk diatas 200 juta, maka secara absolut pertambahan penduduk juga besar.
Jumlah penduduk yang besar dengan komposisi penduduk usia produktif yang juga besar, menyebabkan tingginya peningkatan permintaan akan bahan pangan. Oleh karena itu upaya produksi pangan Indonesia harus terus ditingkatkan melalui terobosanterobosan teknologi produksi pangan (meningkatkan produktivitas, ketahanan terhadap kekeringan dan perubahan iklim lainnya), agar peningkatan produksi pangan, tidak hanya habis untuk konsumsi penduduk saja.
Kebijakan Pembangunan Infrastruktur Jalan
November 17, 2008 by Insinyur
Filed under Green Engineering
PII. 17.11.2008. Pelaksanaan pembangunan selalu memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, pembangunan bertujuan memberikan kemakmuran yang sebesar-besarnya bagi manusia. Namun di sisi lain pembangunan telah menyebabkan merosotnya kualitas hidup manusia itu sendiri.
Maka lahirlah kesadaran manusia akan konsep pembangunan berkelanjutan. Yakni pola pengelolaan sumberdaya alam yang dilaksanakan dengan sekaligus melestarikan lingkungan. Sehingga kebutuhan manusia tidak hanya terpenuhi saat ini namun juga di masa yang akan datang.
Indonesia memberlakukan konsep pembangunan berkelanjutan melalui Undang-Undang Nomer 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kemudian disempurnakan lagi dengan Undang-Undang No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Dengan ditetapkannya perundangan tentang lingkungan hidup maka seluruh pelaksanaan pembangunan nasional di Indonesia haruslah menerapkan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Pembangunan system transportasi, misalnya, harus dilaksanakan melalui proses evaluasi kelayakan lingkungan, social,dan ekonomi.
Masyarakat dunia kini menyadari terjadinya perubahan iklim akibat pemanasan global. Hal ini mendorong para pemimpin dunia untuk menjadikan pelestarian lingkungan hidup sebagai salah satu pertimbangan utama dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan pembangunan.
191 negara tergabung dalam Forum United Nation Framework Convention in Climate Change pada 1992. mencari solusi untuk mengurangi pemanasan global dan mengantisipasi kenaikan suhu. Aturan main dalam rangka mengantisipasi pemanasan global kemudian disusun dan disepakati bersama.
Protocol Kyoto menetapkan target pengurangan emisi yang dituding sebagai biang keladi efek rumah kaca. Lebih dari 130 negara setuju agar protocol Kyoto mengikat negara pesertanya secara hukum.
Indonesia adalah salah-satu negara yang meratifkasi perjanjian ini. Sebagai bagian dari komunitas global, Indonesia berperan serta menghadapi tantangan perubahan iklim. Pembangunan berwawasan lingkungan telah diterapkan dalam elemen pembangunan infrastruktur. Termasuk melakukan seleksi dan evaluasi rencana alternative, pengembangan, serta pemanfaatan teknoloi ramah lingkungan.
Seraya mempertimbangkan dampak negatif pembangunan intrastruktur, pertumbuhan ekonomi nasional memerlukan kebijakan yang tepat dalam peningkatan efektivitas kinerja jaringan jalan lintas. Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum telah menetapkan prioritas penanganan yang memberikan leverage paling besar terhadap perbaikan kinerja jaringan jalan lintas.
Prioritas penanganan utama difokuskan kepada koridor ekonomi penting jalan lintas di Indonesia. Jalan lintas merupakan gabungan beberapa ruas jalan arteri yang menerus dan menghubungkan antar pintu gerbang utama melalui pusat-pusat kegiatan dalam suatu pulau. Disamping penanganan jalan lintas, dilaksanakan juga peningkatan akses menuju pusat-pusat produksi dan simpul-simpul distribusi seperti kawasan industri, terminal peti-kemas, dryport, pelabuhan laut dan bandara.
Terpisah dari lalu-lintas lokal, jaringan jalan lintas di perkotaan ditambahi jalan lingkar dan radial demi melancarkan lalu-lintas angkutan distribusi pada pusat-pusat kegiatan utama yang menerus. Kelancaran arus lalu-lintas memacu produktivitas secara signifkan dan mengurangi pencemaran udara akibat emisi di lokasi kemacetan.
Aksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim
Upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim didukung inovasi dengan prinsip reduce-reuse-recycle-reproduce dari material yang selama ini bisa digunakan, selain ramah lingkungan. Adaptasi pembangunan dilakukan dengan perencanaan yang memenuhi standar geometric agar hemat energi dan berwawasan lingkungan.
Upaya mengurangi kemacetan lalu-lintas, karena berdampak pada perubahan iklim, dilakukan melalui pelebaran jalan, fyover, dan pembangunan jalan baru setelah melakukan study lingkungan.
Pertimbangan lingkungan dalam pembangunan jalan memuat kegiatan-kegiatan, antara lain:
• kajian lingkungan strategis dalam perumusan rencana
• penetapan alingnment jalan yang layak teknis, ekonomi,dan lingkungan
• penyusunan dokumen handal sampai implementasi
• pelaksanaan kontruksi yang ramah lingkungan
• evaluasi kinerja jalan dan upaya perbaikan berkesinambungan
Pelaksanaan perbaikan jalan, misalnya, dapat dilakukan dengan memanfaatkan aspal daur ulang. Sedangkan penguatan tebing dilakukan dengan menanam rumput vetifer. Perlindungan jalan dari genangan banjir dilakukan dengan membangun drainase dengan benar dan penghijauan agar air dapat langsung diresap oleh tanah.
Menindaklanjuti kesepakatan Menteri PU dan Menteri kehutanan pad 8 november 2006, Jasa Marga selaku operator jalan tol menanam 20.000 pohon pada lahan kosong sisi ruas tol Cipularang. Sedangkan penanaman pohon di sepanjang sisi jalan Tohpati-Kusamba yang merupakan akses baru menuju pelabuhan padang Boy, Provisi Bali, dilakukan sejak jalan itu dibangun.
Disarikan dari presentasi Dr.Ir.A. Hermanto Dardak, Msc (Ketua BK Sipil PII) berjudul “Kebijakan Pembangunan Infrastrutur Transportasin Jalan”
Sebagaimana diketahui bahwa pada saat ini berkembang 4 (empat) istilah rekayasa, yaitu rekayasa teknik, rekayasa finansial, rekayasa kebijakan, dan rekayasa politik.


