Progress Suramadu (2)
February 8, 2009 by Engineer
Filed under Berita PII
Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V, Ir. A.G. Ismail, M.Sc berbicara tentang Jembatan Suramadu dalam Diskusi Profesi PII pada 24/10/08 di Jakarta. Dengan berbagai perkembangannya, Jembatan Suramadu selesai pada April 2009, demikian Ir. Ismail.
Suramadu adalah jembatan terpanjang di Indonesia saat ini, yang menjadikannya salah satu landmark dan ikon Indonesia. Jembatan Suramadu terdiri dari 3 bagian yaitu causeway, approach bridge dan main bridge. Pembuatannya dilakukan dari tiga sisi: sisi Madura, sisi Surabaya, dan secara bersamaan juga dilakukan pembangunan bentang tengah yang terdiri dari main bridge dan approach bridge. Ir. Ismail mengawali paparannya dengan technical study yang mengantarkan kesimpulan bahwa tidak ditemukan suatu patahan aktif di Holocene. Hasil studi ini merupakan dasar bagi studi selanjutnya. Design Ground Motion Parameter Study dilakukan untuk mendapatkan respons spektra dalam arah vertikal dan horizontal.
Engineering Physical Study / Soil Investigation hingga kedalaman s.d 100 meter dilakukan untuk mendapatkan data primer di lokasi, mencakup identifikasi tektur lapisan tanah di lokasi. Lalu dilakukan analisis dan evaluasi daya dukung , kestabilan, keseragaman, skema pondasi; serta evaluasi pelaksanaan pondasi.
Alat yang digunakan antaralain Standard Penetration Test (SPT ), Vane Shear Test (VST), Dynamic Penetration Test (DPT), dan Wave Propagation Test (WPT).
Kemudian Study on Topographical Change / Sediment Transport and Local Scour dilakukan untuk memprediksi perubahan kontur topografi dasar laut dan untuk mengetahui lokal scouring di lokasi pilar. Hasilnya, diketahui bahwa arus air laut di Selat Madura mengikuti sumbunya.
Pengaruh terhadap arus pasang hanya terjadi pada daerah sejauh 5 km dari jembatan. Pengaruhnya terhadap kecepatan arus kurang dari 1 %. Perubahan kecepatan arus terbesar terjadi di dua pilon utama, dengan nilai kurang dari 2%. Perubahan arahnya kurang dari 1% . Pengaruh terhadap elevasi pasang dapat diabaikan. Sedangkan local scouring pada pylon utama diperkirakan mencapai 11,5 m.
Kemudian engineering geological survey dilakukan dengan geoelectric, georadar, dan sub-bottom profiling untuk mengetahui kondisi lapisan tanah di bawah permukaan dasar laut ; Memetakan kondisi geologi, khususnya litologi serta struktur geologi ; dan memberikan informasi dalam bentuk gambar tiga dimensi tentang kondisi bawah permukaan.
Survey menyimpulkan bahwa lapisan paling atas di sisi Surabaya adalah alluvial. Lempung, pasir dan lempung kepasiran dengan kedalaman 5-30 meter. Lapisan berikutnya adalah batu-pasir, ditemukan pada 30-100 m. Di kedalaman 100 m ditemukan batu lempung.
Pada sisi Madura, lapisan yang dominan adalah reef limestone. Struktur geologi yang ditemukan di sisi Surabaya adalah Fault yang tidak aktif. Di lapisan Reef Limestone ditemukan beberapa vug berisi lempung.
PENGUKURAN
Proyek Jembatan Suramadu menggunakan GPS (Global Positioning System) untuk pengukuran dan penentuan titik Acuan. GPS adalah sistem satelit navigasi atau instrumen survey yang digunakan untuk penentuan posisi di atas permukaan bumi, dengan mengacu kepada datum global berupa ellipsoid.
Prinsip dasarnya adalah dengan pengikatan kebelakang (resection), yaitu pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelit GPS yang koordinatnya telah diketahui. Proyek Jembatan Suramadu menggunakan GPS dengan sejumlah pertimbangan, terutama bahwa Surveyor GPS tidak dapat memanipulasi data.



Comments
Beri Komentar