Presentasi Kontingen PII dalam CAFEO 26
February 15, 2009 by Engineer
Filed under Berita PII
Penerapan Pengering Resirkulasi Energi Matahari di ASEAN
Kamaruddin Abdullah
Dua prototip pengering resirkulasi cahaya matahari telah dirancang dan dibuat di Indonesia. Kinerjanya telah diuji, yang hasilnya menunjukkan bahwa prototip untuk pengeringan padi dan jagung ini siap untuk diperbanyak dan didistribusikan di Indonesia.
Pada prinsipnya rancangan ini bisa digunakan pada bahan-bahan berupa butiran seperti lada, kedelai, biji kopi, dan sebagainya. Sistem ini menggunakan pembawa tekanan udara dan bisa dirancang untuk mengeringkan 30 hingga 50 ton biji-bijian. dulu, hampir 30 persen hasil panen hilang alias terbuang percuma akibat kesulitan memperoleh sinar matahari. Tapi kini musim penghujan seharusnya tak bisa lagi menimbulkan kekhawatiran bagi para petani saat memasuki pascapanen.
Hujan yang turun dan menghilangnya sinar matahari tak perlu lagi membuat petani urung mengeringkan hasil panennya. Sejumlah peneliti di Uuniversitas Ddarma Persada (Uunsada) telah menemukan dan mengembangkan alat pengering surya. Tak hanya satu, tim peneliti dari Uunsada itu mengembangkan lima tipe alat pengering. ”Prinsip kerjanya sederhana, yaitu dari panas yang dihasilkan solar thermal digunakan untuk mengeringkan berbagai komoditas. Alat ini bisa digunakan tak hanya di waktu siang, tapi juga bisa digunakan saat mendung atau di malam hari.
Alat pengering surya bekerja dengan menangkap sinar matahari, lalu menyerapnya dalam struktur transparan berbahan plastik atau polikarbonat berlapis. Eenergi yang dihasilkan dari sinar matahari itu dikombinasikan dengan biomassa atau angin sebagai bahan bakar. Durasi pengeringan bervariasi dari 3,5 hingga 100 jam dengan suhu pengeringan mencapai 40 hingga 50 derajat celcius.Uunsada saat ini telah sedang mengembangkan konsep desa mandiri E3 yang merupakan perpaduan antara kemandirian masyarakat desa dan pemanfaatan sumber energi terbarukan. Berbagai upaya mengenalkan masyarakat pedesaan terhadap teknologi solar thermal untuk pengeringan telah dilakukan UNSADA di beberapa wilayah, di antaranya Sumatra Utara, Lampung, Jambi, Ciamis, Cimahi, dan Sukabumi.
Project Risk Management at Delaney Tires Storage. The Combination Between PMI Approach and PT Inco Project Management Procedures
Ir. Agung Setyawan, Ir. Habibie, IP, dan Andi Erwin Syarif
Sejak reklamasi area pasca penambangan dimulai pada 1980, PT Inco telah memutuskan untuk bekerja dengan prinsip pengembangan berkelanjutan, termasuk fokus pada pengawasan erosi.Pada 2003, PT Inco membuat standarisasi reklamasi area pasca penambangan yang telah disertifikasi Ddirjen Pertambangan untuk memperoleh hasil optimum, yang merupakan aktivitas terbaik dalam reklamasi area pasca penambangan yang dilakukan terpadu sejak perencanaan hingga ke tingkat pelaksanaan.
Pada 2004 PT Inco membuat instalasi dengan teknologi tingkat tinggi yakni sistem pembersih gas pada seluruh proses penambangan untuk mereduksi emisi yang dihasilkan selama operasi penambangan. Hingga akhir 2005 Inco telah menanami ulang 2884 hektar area pascatambang, dengan merangkul PSI-Unhas, Laboratorium tanaman biotek IPB. PT Inco selalu mencoba memadukan program reklamasi area pascatambang dengan program pengembangan masyarakat. Untuk itu, Perusahaan sempat mengundang direktur eksekutif Walhi, Zukri Saad, agar memberikan evaluasi.
Pada 2006 Inco memperoleh penghargaan emas Ddepartemen EeSDMdm RrI atas keberhasilan mengawasi erosi dan mengelola sedimentasi saat ekspolorasi dan setelah operasi penambangan. Program lainnya adalah manajemen hidrokarbon, untuk memastikan bahwa semua hidrokarbon yang digunakan sesuai dengan regulasi tentang lingkungan. Program ini melingkupi EMemS (Standar Pengelolaan Lingkungan) PT Inco sendiri, untuk memastikan seluruh fasilitas hidrokarbon bisa diakses dan termutakhirkan.
Temporary as Permanent, Shelter Pasca Bencana
Ir. Titis Primita
Titis menyampaikan presentasi yang amat teknis dan mendalam . Ini hanyalah sepenggal-sepenggal kutipannya, sebagai berikut Pasca Tsunami Aceh bertepatan dengan perayaan Nnatal pada 25 Ddesember empat tahun lalu, setidaknya 230.000 orang meninggal dan 1,7 juta rumah luluh-lantak. Skenario idealnya adalah memperlengkapi kaum terlantar itu dengan persinggahan sementara sebelum rumah tinggalyang permanen selesai dibangun.
Tetapi kebanyakan kaum terlantar itu belum juga memperoleh rumah tinggal permanen mereka. Akibatnya secara permanen mereka tinggal di rumah singgah sementara. Nnamun secara spesifik, baik persinggahan dan pemukiman kembali dalam jangka panjang seyogyanya dilakukan dengan dua pendekatan, yakni pembangunan fisik dan budaya. Pendekatan fisik mengacu pada struktur dan keamanan bangunan untuk mengantisipasi bencana serupa dan bencana ala lain pada umumnya. Ddan pendekatan budaya, yang mempertimbangkan agar bangunan yang dibuat sepenuhnya bermanfaat bagi penghuninya sesuai dengan pola hidup mereka. Secara fisik, bangunan hendaknya dibuat lebih jauh dari pantai.
Penting untuk membuat pondasi yang kuat dan dalam agar mampu menahan gelombang dan erosi yang dihasilkannya. Setelah bangunan selesai dibuat maka lingkungan akan menghadapkan penghuninya pada masalah yang bisa ditimbulkan oleh angin, api, air bah, kelembaban, dan berbagai hal yang disebabkan oleh iklim. mesti ada tindakan prefentif untuk menyongson semua ini. Secara budaya, merancang lingkungan baru yang bisa diterima oleh orang-orang yang baru saja mengalami bencana, mencakup beberapa hal yang interdependen satu sama lain, yang juga berhubungan dengan persoalan-persoalan seperti desain untuk rumah permanen di lingkungan sosialnya, kemungkinan perluasan dan adaptasi, dan pelibatan aspirasi sertya partisipasi lokal.
Solusi lokal terhadap masalah pemukiman sementara yang lebih fleksibel dan peka terhadap budaya bisa jadi lebih penting ketimbang teknologi impor. Mmaka lebih baik menggunakan kesempatan untuk memberikan dukungan teknis pada pengembangan desain lokal untuk memitigasi dampak dari hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan. Banyak bangunan lokal dan tradisional ternyata lebih aman dibanding alternative konstruksi modern. Lagi pula kebanyakan orang berumur acap bermasalah untuk menyesuaikan diri dengan desain bangunan baru yang tanpa aset budaya dan citarasa. Maka fleksibilitas desain menjadi penting, tanpa mengesampingkan keselamatan bangunan.



Bravo PII …
Sedikit note, beberapa kesalahan ketik membuat kurang nyaman saat membacanya.