Mengarus-Utamakan Teknologi dalam Pembangunan Nasional

July 7, 2009

PII mulai menyelenggarakan rangkaian diskusi untuk menelurkan Rekomendasi Teknologi PII, dimulai dengan diskusi pertama pada 12.3.09 petang.

Dibuka dengan paparan Hari G. Soeparto bertajuk Industri Strategis dan Teknologi Strategis, Ir. Hari antara lain mengatakan, produktivitas industri kita masih rendah karena mata rantai keterkaitan belum jelas. Dan peran teknologi masih rendah. Indikasinya, lokalisasi dan adaptasi teknologi belum terlihat.

Di sini Industri Strategis diartikan sebagai industri yang berangkat dari apa yang dimiliki, yang paling panjang mata rantainya, yang paling banyak melibatkan masyarakat, yang paling dikuasai teknologinya, dan yang paling menyentuh langsung pemakmuran masyarakat.

Yang paling krusial kemudian adalah menentukan teknologi yang paling tepat untuk pengembangan industri strategis guna pengembangan industri strategis. Strateginya, mengembangkan teknologi abad 20 yang dimiliki, teknologi pencegahan bencana, dan impor teknologi maju yang paling diperlukan bagi masyarakat.

Dengan visi bersama, maka program, proses dan implementasinya akan lebih fokus. Berikut beberapa petikan.

Ashwin Sasongko
“Ketika pak Amir bikin buku, disampaikan bahwa kita punya wadah industri transportasi udara dan laut. Itu suatu pilihan yang tentunya diperlukan sejumlah pertimbangan. Indonesia negara maritim, maka dipilih wahana maritim. Indonesia sebagai negara kepulauan, maka bisa dipilih industri pertahanan. Dan ekonomi Indonesia saat itu mampu membangun industri pesawat terbang.

Untuk kondisi sekarang, kita mencari pilihan dulu, yang penting konsisten. Justifikasinya jelas. Buktinya Thailand bisa jalan dengan pilihan biotech, India dengan IT, Iran juga jalan dengan industri mobil. Kembali ke Indonesia, kita punya banyak pilihan. Petrokimia atau baja juga suatu pilihan. Yang penting kita feaseable dan negara support.

Misal petrokimia dan baja, investasi yang ada besar sekali. Kalau uangnya ada, ya tidak apa. Misal pilihan  yang lain, industri kreatif. Banyak negara yang kaya karena support industri kreatif. Ini adalah pilihan, dan PII harus bisa menawarkan ke publik. Heavy industry atau creartive industry. Masalahnya, apapun yang dipilih pasti mengandung resiko.

Marzan A. Iskandar
Apakah di masa lalu teknologi pernah menjadi arus utama dalam pembangunan nasional? Menurut catatan kami, secara legal, baik dokumentasi maupun kebijakan, kita belum pernah punya kebijakan yang arus utamanya adalah teknologi. Jaman Habibie, dia punya kedekatan yang khas dengan presiden sehingga realisasi peran teknologi bisa diterima. Tetapi kalau kita melihat instansi lain, departemen lain tidak ikut melaksanakan.

Di masa lalu, Habibie lebih sebagai pemain tunggal. Peran Habibie memang kuat tetapi tidak menjadi arus utama. Maka judul yang diusulkan adalah “Mengarus-utamakan Teknologi Dalam Pembangunan Nasional”.

Kajian ini sebaiknya melihat juga apakah yang dilakukan Depperin tentang kebijakan industri nasional, lalu BPPT dan yang lainnya sehingga apa yang disusun tidak tumpang tindih.

Kebijakan seperti ini kalau kita turunkan pada tingkat daerah, akan lebih bervariasi dan lebih mudah diidentifikasi. Kalau kita susun pada skala daerah, mungkin pertimbangan memilih tidak pada skala pusat tetapi daerah.

Kajian ini akan membawa implikasi jauh, bias menjadi penataan ulang di Negara kita. Konsekuensinya bias sampai ke sana. Yakni bila RI 1 atau RI 2 punya komitmen pada industri. Harusnya komitmen ini ada.

Comments

Beri Komentar