Biofuel Sebaiknya dari Pertanian non Pangan
February 8, 2009
”Perlu diakui bahwa kita juga dihadapkan pada konflik pemanfaatan bahan pangan menjadi biofuel.” Demikian dikatakan Ketua Komisi VII yang juga Ketua Umum PII, Ir. Airlangga Hartarto, MMT, MBA selaku Pembicara Kunci pada Diskusi Panel ”Peran Bioteknologi Modern dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan” di BPPT, Jakarta, 1 November 2008.
Ketua Umum PII, Ir. Airlangga Hartarto menyatakan pula bahwa selama masih ada alternatif lain, sebaiknya bahan pangan tidak dikonversi untuk energy. ”Justru di sinilah peran bioteknologi diharapkan dapat berkontribusi untuk mengembangkan bahan pertanian yang non pangan yang dapat dijadikan sebagai sumber biofuel,” ujarnya.
Sebagai contoh, tanaman jarak pagar yang pernah ramai dikembangkan sebagai sumber energi alternatif, belakangan ini mendapat kecaman keras. Data tentang budidaya dan produktivitasnya masih minim sehingga petani enggan menanam jarak. Tugas bioteknologi di sini diharapkan dapat menciptakan varietas unggul yang menghasilkan rendemen minyak tinggi dan produktivitas tinggi.
Peran bioteknologi modern juga diperlukan untuk menghadapi kerusakan lingkungan sebagai akibat pola pertanian yang kurang tepat. Produksi pangan di dataran tinggi yang sangat intensif menggunakan pestisida dan obat-obatan lain telah mencemari air tanah. Kejadian ini telah banyak menimbulkan konflik horizontal di masyarakat : Di satu sisi petani ingin mendapatkan penghasilan, di sisi lain masyarakat ingin mendapat sumber air yang tidak tercemar.
Peran bioteknologi modern juga diperlukan untuk menghadapi kerusakan lingkungan sebagai akibat pola pertanian yang kurang tepat. Produksi pangan di dataran tinggi yang sangat intensif menggunakan pestisida dan obat-obatan lain telah mencemari air tanah. Kejadian ini telah banyak menimbulkan konflik horizontal di masyarakat : Di satu sisi petani ingin mendapatkan penghasilan, di sisi lain masyarakat ingin mendapat sumber air yang tidak tercemar.Peran bioteknologi modern juga diperlukan untuk menghadapi kerusakan lingkungan sebagai akibat pola pertanian yang kurang tepat. Produksi pangan di dataran tinggi yang sangat intensif menggunakan pestisida dan obat-obatan lain telah mencemari air tanah. Kejadian ini telah banyak menimbulkan konflik horizontal di masyarakat : Di satu sisi petani ingin mendapatkan penghasilan, di sisi lain masyarakat ingin mendapat sumber air yang tidak tercemar.
Diyakini bahwa bioteknologi dalam pembangunan telah menunjukkan kontribusi yang sangat nyata dalam menciptakan terobosan yang bermanfaat bagi kemaslahatan bangsa. Dalam dua dasawarsa bioteknologi telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembangunan bidang pertanian, kesehatan, industri pengolahan dan lingkungan.
Negara-negara India dan China telah berhasil mengisi pasaran produk bioteknologi ke negara Uni Eropa yang pasarnya sebelum itu hanya diisi oleh produk bioteknologi dari negara maju. Diproyeksikan, kontribusi bioteknologi dalam sepuluh tahun mendatang cenderung meningkat sejalan dengan munculnya berbagai permasalahan baru sebagai akibat kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit baru.
Inovasi di bidang pangan dan kesehatan telah menunjukan potensi yang besar, seperti bioteknologi untuk mengembangkan berbagai macam produk, rekayasa tanaman tahan penyakit dan tahan perubahan iklim, pestisida alami, teknologi bioremediasi untuk lingkungan, bahan kimia lain dan enzym yang dapat meningkatkan efisiensi produksi.
Oleh karena itu di masa mendatang pengembangan bioteknologi harus bersifat multidiplin. Di sinilah peran teknolog /insinyur sangat diharapkan. PII, Persatuan Insinyur Indonesia sebagai organisasi profesi yang juga mencakup insinyur pertanian, sangat berkepentingan terhadap pengembangan kemandirian teknologi dalam negeri dan senantiasa mendorong para anggotanya dapat berkarya lebih baik lagi bagi bangsa dan Negara.
Sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, pemenuhan atas pangan yang cukup adalah hak asasi setiap rakyat Indonesia. Agar sumberdaya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional dapat terwujud. Sehingga adalah konsekwensi bagi pemerintah untuk dapat menjamin hak pangan yang bergizi dan aman bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ini sebagaimana dituangkan dalam UU No. 7/1996 tentang pangan. Kondisi ketahanan pangan dinyatakan sebagai “Kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman,merata, dan terjangkau”.
Untuk mencapai kondisi semacam ini, kita memerlukan indikator-indikator yang terukur. Misal, pengukurannya dikaitkan kurun waktu. Lebih lanjut ketahanan pangan harus memperhitungakan adanya bencana alam yang datangnya tidak bisa diprediksi. Padahal lita masih belum punya jawaban yang tepat jika ditanya berapa bulan ketahanan pangan di Indonesia saat ini.
Saat ini penduduk Indonesia diperkirakan berjumlah 228 juta. Proyeksi pada tahun 2025 penduduk Indonesia akan mencapai 273 juta. Meskipun tingkat pertumbuhan penduduk semakin menurun, dengan jumlah penduduk diatas 200 juta, maka secara absolut pertambahan penduduk juga besar.
Jumlah penduduk yang besar dengan komposisi penduduk usia produktif yang juga besar, menyebabkan tingginya peningkatan permintaan akan bahan pangan. Oleh karena itu upaya produksi pangan Indonesia harus terus ditingkatkan melalui terobosanterobosan teknologi produksi pangan (meningkatkan produktivitas, ketahanan terhadap kekeringan dan perubahan iklim lainnya), agar peningkatan produksi pangan, tidak hanya habis untuk konsumsi penduduk saja.
Sebagaimana diketahui bahwa pada saat ini berkembang 4 (empat) istilah rekayasa, yaitu rekayasa teknik, rekayasa finansial, rekayasa kebijakan, dan rekayasa politik.



Semarak biofuel sudah terdengar dari beberapa tahun lalu, tapi saya belum mendengar langkah pasti pemerintah untuk menggunakan biofuel skala nasional (biogasoline hanya di sebagian kecil kota saja). Jauh di negara tetangga, Brazil sudah berhasil mengkonsumsi jagung sebagai biofuel yang notabene sebagai salah satu bahan pangan disana. Diindonesia, penduduk lebih senang menanam tembakau ketimbang jarak pagar, walaupun telah diberi penyuluhan akan keuntungan jarak pagar.