Kerja Kita Harus Dimulai dari R&D
July 7, 2009 by Engineer
Filed under Berita PII
Program Utama Bidang Information dan Communication Technology (ICT) PII adalah mencari cara-cara untuk mendorong pertumbuhan. Untuk itu, ICT perlu support lingkungan. Bentuknya macam-macam, termasuk dukungan financial, perbangkan dll. Tapi yang teknis, pertama SDM. Bukan hanya supaya SDM kita mampu, tapi juga certified. Begitu Ir. Ashwin Sasongko, Ketua Bidang ICT PII memulai perbincangannya.
Yang paling mahal memang software engine-nya. Lalu produk dan testingnya. Produk perlu tes juga dan ada biayanya. Lalu komponen, baik pada software maupun hardware. Pada game pesawat tempur saja misalnya, perlu beberapa komponen yang sumbernya bias berbeda-beda. Maneuver pesawatnya, senjatanya, magasinnya, gerak orang-orangnya, dst. Semua itu harus tested, bugsfree, dst.
Saat ini di berbagai institusi di Indonesia sudah ada unit-unit yang secara terpisah mengembangkan industri kreatif berbasis ICT. Sayangnya semua kekuatan ini belum terintegrasi. PII melalui ketua umumnya, Ir Airlangga Hartarto sudah menyampaikan secara tertulis kepada pemerintah, dalam hal ini para menteri, agar unit-unit atau center berbasis ICT yang masih terpisah-pisah ini bisa terintegrasi sehingga dapat diharapkan bekerja sama.
Di bidang lain, misalnya telemedical, sebetulnya juga sudah dilaksanakan di Indonesia meski masih terhitung sederhana. Bagaimana seorang dokter spesialis di satu kota memonitor dan memberi masukan dalam operasi yang dilakukan sejumlah dokter di kota lain secara online. Sampai tingkat dan jumlah tertentu hal ini sudah bisa dilakukan di Indonesia. Tetapi untuk meningkatkannya tentu perlu sejumlah persiapan. Termasuk menyiapkan SDM dan peralatan online di rumah sakit.
Dalam rekomendasi teknologi yang sedang digodok PII saat ini, saya sampaikan , pertama, Indonesia perlu punya kebijakan pengembangan teknologi. Dalam kebijakan itu kita harus memilih teknologi yang akan kita kembangkan dan produk apa yang akan kita kembangkan.
Kemudian kita harus konsisten dengan pilihan kita. Sehingga produk yang kita kembangkan bisa kompetitif fi tingkat dunia. Nah dalam pelaksanaannya mungkin kita tidak bisa berhenti pada pengembangan produk utama tetapi juga mengembangkan produk sampingan.
Untuk itu sekali lagi pertama-tama kita harus memilih produk apa yang akan kita kembangkan. Kita harus tentukan juga dimana kita punya kemampuan untuk mendukungnya. Kita harus pastikan di sektor itu kita bisa kompetitif.
Kalau sekiranya kita pilih untuk memproduksi pesawat ulang alik, mungkin tidak tepat. Karena selain biayanya mahal, dukungan SDM dan lain-lain juga kurang memadai. Dan lebih dari itu, pesawat ulang-alik tidak masuk dalam skala prioritas kebutuhan rakyat Indonesia saat ini.
Kita ditantang untuk meningkatkan kemampuan keinsinyuran Indonesia. Supaya aktivitas teknikal meningkat. Bukan cuma peningkatan perdagangan. Ini memang tidak mudah. Karena itu kami minta pemerintah supaya memberikan insentif kepada dunia usaha. Kita minta pemerintah supaya membuat regulasi yang memungkinkan engineering di Indonesia bisa meningkat.
Di pihak lain, kalau kita minta supaya engineering meningkat maka kita akan balik ditanya, ada nggak sumber daya manusia untuk mengerjakan engineering-nya. Karena itu PII harus mensupport seluruh program untuk meningkatkan kemampuan SDM engineering. Kalau aktivitas engineering menurun, buat apa di Indonesia ada fakultas teknik.
Kompetisi di zaman globalisasi semakin berat. Tidak ada lagi produk teknologi yang seratus persen buatan satu Negara saja. Bahkan produk IT dari Jepang pun mengimpor processor dari Amerika Serikat, misalnya. Dan system operasi dari Negara lain lagi. Begitu pula sebaliknya. Setiap produsen berkompetisi dengan seluruh dunia.
Berita baiknya, tidak ada satu Negara pun yang kompetitif di dalam semua bidang. Karena itu kita harus pikirkan, di sector-sektor mana saja kita bisa kompetitif di dunia. Yang penting, jangan semuanya kita beli dari luar negeri. Harus ada nilai tambah yang kita beri dalam produksi yang kita jual di pasar dunia.
Tahapan kerja kita harus dimulai dari R&D dan engineering. Hanya itu, nggak ada jalan lain. Untuk membuat suatu produk, kita harus mengerjakan riset dari awal. Setelah riset, lalu dibuat prototype-nya. Itu pun biasanya tidak langsung jadi karena ada saja kelemahannya di sana sini. Lalu eksperimen lagi, buat prototype lagi, hingga sampai dicapai hasil sesuai dengan keinginan.
Mengarus-Utamakan Teknologi dalam Pembangunan Nasional
July 7, 2009 by Engineer
Filed under Berita PII
PII mulai menyelenggarakan rangkaian diskusi untuk menelurkan Rekomendasi Teknologi PII, dimulai dengan diskusi pertama pada 12.3.09 petang.
Dibuka dengan paparan Hari G. Soeparto bertajuk Industri Strategis dan Teknologi Strategis, Ir. Hari antara lain mengatakan, produktivitas industri kita masih rendah karena mata rantai keterkaitan belum jelas. Dan peran teknologi masih rendah. Indikasinya, lokalisasi dan adaptasi teknologi belum terlihat.
Di sini Industri Strategis diartikan sebagai industri yang berangkat dari apa yang dimiliki, yang paling panjang mata rantainya, yang paling banyak melibatkan masyarakat, yang paling dikuasai teknologinya, dan yang paling menyentuh langsung pemakmuran masyarakat.
Yang paling krusial kemudian adalah menentukan teknologi yang paling tepat untuk pengembangan industri strategis guna pengembangan industri strategis. Strateginya, mengembangkan teknologi abad 20 yang dimiliki, teknologi pencegahan bencana, dan impor teknologi maju yang paling diperlukan bagi masyarakat.
Dengan visi bersama, maka program, proses dan implementasinya akan lebih fokus. Berikut beberapa petikan.
Ashwin Sasongko
“Ketika pak Amir bikin buku, disampaikan bahwa kita punya wadah industri transportasi udara dan laut. Itu suatu pilihan yang tentunya diperlukan sejumlah pertimbangan. Indonesia negara maritim, maka dipilih wahana maritim. Indonesia sebagai negara kepulauan, maka bisa dipilih industri pertahanan. Dan ekonomi Indonesia saat itu mampu membangun industri pesawat terbang.
Untuk kondisi sekarang, kita mencari pilihan dulu, yang penting konsisten. Justifikasinya jelas. Buktinya Thailand bisa jalan dengan pilihan biotech, India dengan IT, Iran juga jalan dengan industri mobil. Kembali ke Indonesia, kita punya banyak pilihan. Petrokimia atau baja juga suatu pilihan. Yang penting kita feaseable dan negara support.
Misal petrokimia dan baja, investasi yang ada besar sekali. Kalau uangnya ada, ya tidak apa. Misal pilihan yang lain, industri kreatif. Banyak negara yang kaya karena support industri kreatif. Ini adalah pilihan, dan PII harus bisa menawarkan ke publik. Heavy industry atau creartive industry. Masalahnya, apapun yang dipilih pasti mengandung resiko.
Marzan A. Iskandar
Apakah di masa lalu teknologi pernah menjadi arus utama dalam pembangunan nasional? Menurut catatan kami, secara legal, baik dokumentasi maupun kebijakan, kita belum pernah punya kebijakan yang arus utamanya adalah teknologi. Jaman Habibie, dia punya kedekatan yang khas dengan presiden sehingga realisasi peran teknologi bisa diterima. Tetapi kalau kita melihat instansi lain, departemen lain tidak ikut melaksanakan.
Di masa lalu, Habibie lebih sebagai pemain tunggal. Peran Habibie memang kuat tetapi tidak menjadi arus utama. Maka judul yang diusulkan adalah “Mengarus-utamakan Teknologi Dalam Pembangunan Nasional”.
Kajian ini sebaiknya melihat juga apakah yang dilakukan Depperin tentang kebijakan industri nasional, lalu BPPT dan yang lainnya sehingga apa yang disusun tidak tumpang tindih.
Kebijakan seperti ini kalau kita turunkan pada tingkat daerah, akan lebih bervariasi dan lebih mudah diidentifikasi. Kalau kita susun pada skala daerah, mungkin pertimbangan memilih tidak pada skala pusat tetapi daerah.
Kajian ini akan membawa implikasi jauh, bias menjadi penataan ulang di Negara kita. Konsekuensinya bias sampai ke sana. Yakni bila RI 1 atau RI 2 punya komitmen pada industri. Harusnya komitmen ini ada.


