Presentasi Kontingen PII dalam CAFEO 26
February 15, 2009 by Engineer
Filed under Berita PII
Penerapan Pengering Resirkulasi Energi Matahari di ASEAN
Kamaruddin Abdullah
Dua prototip pengering resirkulasi cahaya matahari telah dirancang dan dibuat di Indonesia. Kinerjanya telah diuji, yang hasilnya menunjukkan bahwa prototip untuk pengeringan padi dan jagung ini siap untuk diperbanyak dan didistribusikan di Indonesia.
Pada prinsipnya rancangan ini bisa digunakan pada bahan-bahan berupa butiran seperti lada, kedelai, biji kopi, dan sebagainya. Sistem ini menggunakan pembawa tekanan udara dan bisa dirancang untuk mengeringkan 30 hingga 50 ton biji-bijian. dulu, hampir 30 persen hasil panen hilang alias terbuang percuma akibat kesulitan memperoleh sinar matahari. Tapi kini musim penghujan seharusnya tak bisa lagi menimbulkan kekhawatiran bagi para petani saat memasuki pascapanen.
Hujan yang turun dan menghilangnya sinar matahari tak perlu lagi membuat petani urung mengeringkan hasil panennya. Sejumlah peneliti di Uuniversitas Ddarma Persada (Uunsada) telah menemukan dan mengembangkan alat pengering surya. Tak hanya satu, tim peneliti dari Uunsada itu mengembangkan lima tipe alat pengering. ”Prinsip kerjanya sederhana, yaitu dari panas yang dihasilkan solar thermal digunakan untuk mengeringkan berbagai komoditas. Alat ini bisa digunakan tak hanya di waktu siang, tapi juga bisa digunakan saat mendung atau di malam hari.
Alat pengering surya bekerja dengan menangkap sinar matahari, lalu menyerapnya dalam struktur transparan berbahan plastik atau polikarbonat berlapis. Eenergi yang dihasilkan dari sinar matahari itu dikombinasikan dengan biomassa atau angin sebagai bahan bakar. Durasi pengeringan bervariasi dari 3,5 hingga 100 jam dengan suhu pengeringan mencapai 40 hingga 50 derajat celcius.Uunsada saat ini telah sedang mengembangkan konsep desa mandiri E3 yang merupakan perpaduan antara kemandirian masyarakat desa dan pemanfaatan sumber energi terbarukan. Berbagai upaya mengenalkan masyarakat pedesaan terhadap teknologi solar thermal untuk pengeringan telah dilakukan UNSADA di beberapa wilayah, di antaranya Sumatra Utara, Lampung, Jambi, Ciamis, Cimahi, dan Sukabumi.
Project Risk Management at Delaney Tires Storage. The Combination Between PMI Approach and PT Inco Project Management Procedures
Ir. Agung Setyawan, Ir. Habibie, IP, dan Andi Erwin Syarif
Sejak reklamasi area pasca penambangan dimulai pada 1980, PT Inco telah memutuskan untuk bekerja dengan prinsip pengembangan berkelanjutan, termasuk fokus pada pengawasan erosi.Pada 2003, PT Inco membuat standarisasi reklamasi area pasca penambangan yang telah disertifikasi Ddirjen Pertambangan untuk memperoleh hasil optimum, yang merupakan aktivitas terbaik dalam reklamasi area pasca penambangan yang dilakukan terpadu sejak perencanaan hingga ke tingkat pelaksanaan.
Pada 2004 PT Inco membuat instalasi dengan teknologi tingkat tinggi yakni sistem pembersih gas pada seluruh proses penambangan untuk mereduksi emisi yang dihasilkan selama operasi penambangan. Hingga akhir 2005 Inco telah menanami ulang 2884 hektar area pascatambang, dengan merangkul PSI-Unhas, Laboratorium tanaman biotek IPB. PT Inco selalu mencoba memadukan program reklamasi area pascatambang dengan program pengembangan masyarakat. Untuk itu, Perusahaan sempat mengundang direktur eksekutif Walhi, Zukri Saad, agar memberikan evaluasi.
Pada 2006 Inco memperoleh penghargaan emas Ddepartemen EeSDMdm RrI atas keberhasilan mengawasi erosi dan mengelola sedimentasi saat ekspolorasi dan setelah operasi penambangan. Program lainnya adalah manajemen hidrokarbon, untuk memastikan bahwa semua hidrokarbon yang digunakan sesuai dengan regulasi tentang lingkungan. Program ini melingkupi EMemS (Standar Pengelolaan Lingkungan) PT Inco sendiri, untuk memastikan seluruh fasilitas hidrokarbon bisa diakses dan termutakhirkan.
Temporary as Permanent, Shelter Pasca Bencana
Ir. Titis Primita
Titis menyampaikan presentasi yang amat teknis dan mendalam . Ini hanyalah sepenggal-sepenggal kutipannya, sebagai berikut Pasca Tsunami Aceh bertepatan dengan perayaan Nnatal pada 25 Ddesember empat tahun lalu, setidaknya 230.000 orang meninggal dan 1,7 juta rumah luluh-lantak. Skenario idealnya adalah memperlengkapi kaum terlantar itu dengan persinggahan sementara sebelum rumah tinggalyang permanen selesai dibangun.
Tetapi kebanyakan kaum terlantar itu belum juga memperoleh rumah tinggal permanen mereka. Akibatnya secara permanen mereka tinggal di rumah singgah sementara. Nnamun secara spesifik, baik persinggahan dan pemukiman kembali dalam jangka panjang seyogyanya dilakukan dengan dua pendekatan, yakni pembangunan fisik dan budaya. Pendekatan fisik mengacu pada struktur dan keamanan bangunan untuk mengantisipasi bencana serupa dan bencana ala lain pada umumnya. Ddan pendekatan budaya, yang mempertimbangkan agar bangunan yang dibuat sepenuhnya bermanfaat bagi penghuninya sesuai dengan pola hidup mereka. Secara fisik, bangunan hendaknya dibuat lebih jauh dari pantai.
Penting untuk membuat pondasi yang kuat dan dalam agar mampu menahan gelombang dan erosi yang dihasilkannya. Setelah bangunan selesai dibuat maka lingkungan akan menghadapkan penghuninya pada masalah yang bisa ditimbulkan oleh angin, api, air bah, kelembaban, dan berbagai hal yang disebabkan oleh iklim. mesti ada tindakan prefentif untuk menyongson semua ini. Secara budaya, merancang lingkungan baru yang bisa diterima oleh orang-orang yang baru saja mengalami bencana, mencakup beberapa hal yang interdependen satu sama lain, yang juga berhubungan dengan persoalan-persoalan seperti desain untuk rumah permanen di lingkungan sosialnya, kemungkinan perluasan dan adaptasi, dan pelibatan aspirasi sertya partisipasi lokal.
Solusi lokal terhadap masalah pemukiman sementara yang lebih fleksibel dan peka terhadap budaya bisa jadi lebih penting ketimbang teknologi impor. Mmaka lebih baik menggunakan kesempatan untuk memberikan dukungan teknis pada pengembangan desain lokal untuk memitigasi dampak dari hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan. Banyak bangunan lokal dan tradisional ternyata lebih aman dibanding alternative konstruksi modern. Lagi pula kebanyakan orang berumur acap bermasalah untuk menyesuaikan diri dengan desain bangunan baru yang tanpa aset budaya dan citarasa. Maka fleksibilitas desain menjadi penting, tanpa mengesampingkan keselamatan bangunan.
Temu Nasional Insinyur Muda VII
February 13, 2009 by Engineer
Filed under Berita PII
Forum Anggota Muda Persatuan Insinyur Indonesia (FAM-PII), baru saja menyelenggarakan sebuah hajatan besar yang dikenal dengan nama Temu Nasional VII (TENAS VII) FAM-PII yang diselenggarakan di Kota Malang tanggal 24-25 Januari 2009. TENAS merupakan Forum tertinggi organisasi dalam pengambilan keputusan, yang dilaksanakan secara rutin setian tahun.
Pelaksanaan TENAS VII tahun 2009 ini mengambil Tema,“Indonesia Outlook 2009, Membangun Paradigma Baru Insinyur Muda Indonesia yang Optimis, Kritis dan Dinamis”. Tema ini dipilih didorong oleh keinginan dan semangat untuk mengarungi tahun 2009 ini dengan penuh harapan, optimis, tetap dinamis dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan global.
Rangkaian acara TENAS VII antara lain adalah Seminar Nasional yang membahas tema tersebut di atas dengan menghadirkan nara sumber dari berbagai kalangan, baik dari dunia industri, pemerintah, akademisi, maupun praktisi bisnis. Hadir sebagai nara sumber antara lain; Prof. Dr. Ir. Kamaruddin Abdullah dari Pengurus Pusat PII sekaligus mewakili akademisi, Kepala Bappeda Kabupaten Malang, Ir. Rudianto Handojo (PII), Sony T (PT Semen Gresik), Urip Timuryono (Asosiasi Semen Indonesia), dan Imam Gunawan dari Kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga.
Hadir pula dalam acara ini antara lain; Ketua PII Cabang Malang, Prof. Dr. Ir. Sugito, Sekretaris Pengurus Wilayah PII Jawa Timur, Bambang S. Sedangkan gong pembukaan secara resmi TENAS VII dilakukan oleh Ir. Heru Dewanto, MSc, Sekjen Pengurus Pusat PII mewakili Ketua Umum yang berhalangan hadir.
Sesi seminar ini dihadiri oleh 200 peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa, dosen, praktisi bisnis , pengurus PII cabang, FAM-PII se-Indonesia dan undangan lainya. Peserta cukup antusias mengikuti jalannya seminar, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan kritis yang dilontarkan peserta hingga acara usai.
Sore hari dilanjutkan dengan pembahasan materi persidangan. Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 100 orang Insinyur Muda dan Anggota Mahasiswa dari FAM-PII Pusat dan FAM PII Cabang yang berasal dari Jogjakarta, Cilegon, Kalimantan Timur, Makassar, Pangkep, Malang, dll. Persidangan ini membahas antara lain Agenda dan Tatib TENAS, Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Ketua Umum, Ir. Ahmad Tahir, Pemandangan Umum peserta, Pembahasan Gari-garis besar program FAM-PII, Rekomendasi serta Pemilihan Ketua Umum FAM-PII untuk periode 2009/2010.
Suasana persidangan TENAS terlihat cukup alot hingga menyita waktu hingga pukul 02.00 dini hari. Perdebatan dan adu argumentasi peserta sudah terlihat sejak awal persidangan, dan memaksa pimpinan sidang sementara (steering committee) yang terdiri dari M. Erfandi Delamunte, Mardan Muhammad dan Indra Kurniadi harus bergantian berulang kali.
Demikian Pula halnya dengan pembahasan materi Keorganisasian, LPJ cukup memakan waktu. Puncak persidangan terjadi ketika digelar pemilihan Ketua Umum FAM PII periode 2009/2010. sebetulnya sesi ini tidak terlalu seru mengingat calon terpilih yakni Ir.Qiqi Asmara tidak mendapat rival alias calon tunggal setelah tiga kandidat lainnya yaitu; Ade Ibrahim, Indra Kurniadi dan Natal Rochester mengundurkan diri.
Acara TENAS VII ditutup oleh ketua terpilih; Ir. Qiqi Asmara sekitar pukul 02.00 dini hari tanggal 25 Januari 2009. (Ade Ibrahim)
CAFEO 26 Journey
February 8, 2009 by Engineer
Filed under Berita PII
CAFEO ke 26, yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand dari 26 – 29 November 2008 yang lalu, menyisakan satu pengalaman yang sangat mendalam bagi delegasi dari PII. Tercatat ada 21 peserta (termasuk spouse) yang dapat hadir dan 17 peserta yang terpaksa tidak dapat mencapai Bangkok karena adanya penutupan International Airport Suvarnabhumi dan Airport Don Mueang akibat demonstrasi. Walhasil, delegasi PII tidak dapat mengikuti seluruh acara, khususnya acara terakhir, yaitu Farewell party pada 28 November 2008 malam, yang merupakan penyerahan bendera CAFEO dari The Engineering Institut of Thailand (EIT) ke The Institution of Engeneers, Singapura (IES).

Hingga Jum’at pagi, 28 November 2008, tidak terdapat tanda-tanda akan dibukanya International Airport serta beredarnya berbagai rumor, yang berkaitan dengan penanganan demo serta penentuan penerbangan internasional. Rekan Heru Dewanto/Sekjen PII sebagai ketua delegasi (menggantikan rekan Airlangga Hartarto/Ketum PII, yang pulang balik karena tidak bisa mendarat pada 24 November 2008 malam) memutuskan untuk membawa seluruh rombongan delegasi PII kembali ke Indonesia dengan menggunakan transportasi darat melalui Malaysia.
Ini adalah keputusan yang akhirnya terbukti tepat. Ada informasi dan bantuan yang diberikan oleh Bp. Mohammad Hatta/Dubes RI untuk Thailand, tetapi karena belum jelas kepastiannya, maka Ketua Delegasi tetap memutuskan untuk segera kembali. Dari pilihan sarana berupa bis besar (coach), bis kecil dan mobil van dipilih untuk menggunakan bis besar. Tetapi kemudian ada tawaran dari delegasi Malaysia, yang lebih paham akses, untuk bersama-sama berangkat dan menggunakan bersama 3 bis besar yang sudah disewa oleh delegasi Malaysia yang berjumlah 58 orang dengan 18 orang delegasi PII sepakat jalan bersama pada Jumat sore.
Rekan Budi Noto/ketua hubungan & kerjasama internasional masih akan tinggal bersama spouse-nya. Karena bis besar mempunyai kapasitas 40 penumpang, 3 bis mempunyai kapasitas 120 penumpang, maka bergabunglah 6 orang dari delegasi Hongkong. Perjalanan dimulai sekitar jam 16.30-an waktu setempat, dengan dilepas oleh Ketua Penyelenggara dan bapak Woraphat Arthayukti/Ketum EIT, dari lobby hotel Sofitel Centara Grand Bangkok, Thailand.
Setelah jalan sekitar 1,5 jam, rombongan berhenti di pompa bbm dan rest room. Selanjutnya berhenti lagi sekitar jam 20.30-an waktu setempat, untuk makan malam dan belanja makanan kecil khas Thailand (oleh-oleh). Pemberhentian selanjutnya mengisi BBM sambil jajan dan rest room, setelah sekitar 3 jam perjalanan. Sebelum sampai di perbatasan Thailand – Yat Hai, 2 bis berhenti untuk rest room dan bis yang lain tidak terlihat berhenti. Sekitar jam 04.30, rombongan 3 bis sampai di Hai dan melakukan kordinasi untuk memastikan pos imigrasi yang akan dijadikan pemberhentian terakhir di Thailand.
Ada sedikit kesalah pahaman tentang waktu bis penjemput dari Malaysia yang menerima informasi bahwa rombongan akan sampai sekitar jam 10-an. Tetapi, ternyata tidak terlalu lama, setelah proses departure di imigrasi Thailand selesai, bis dari Malaysia sudah datang dan bisa dilakukan perpindahan penumpang dan bagasi. Tetapi, formasi penumpang diubah. Yang semula rombongan Malaysia dicampur dengan rombongan lain didalam satu bis, diatur untuk rombongan PII dan Hongkong berada di satu bis.
Hal ini karena tujuan PII dan Hongkong adalah KLIA (Kuala Lumpur International Airport), LCCA (Low Cost Carrier Airport) dan kota Kuala Lumpur. Pemberhentian pertama di Mmalaysia digunakan untuk makan pagi. Sekitar jam 1 siang, bis kembali berhenti untuk kesempatan belanja dan makan siang. Pemberhentian ketiga, terakhir di pada saat bis mengisi bbm. Tetapi karena diperjalanan ada hambatan, kecelakaan sebuah mobil box dan juga ada kecelekaan bis besar, maka kedatangan di KLIA sudah mendekati jam 6 petang dan sampai di LCCA mendekati jam 7 petang. Yyang terakhir, turun di kota Kuala Lumpur sekitar jam 8 petang.
Disini, 3 orang akan tinggal semalam (istirahat) dan 6 orang meneruskan perjalanan ke Singapore dengan bis, yang berangkat jam 22.30. Sekitar jam 02.30 pagi, setelah perjalanan non-stop, sampai di imigrasi Mmalaysia, untuk proses departure. Perjalanan kurang dari 10 menit kemudian, sampai di imigrasi Singapore. Selama perjalanan malam itu, sambil menikmati perjalanan yang nyaman karena infrastruktur jalan, yang dua jalur untuk setiap arah, dengan penyediaan tambahan jalur untuk putaran, rambu-rambu dan tanda-tanda lalulintas yang lengkap dan baik serta kepatuhan dalam disiplin dalam mengemudikan kendaraan di Thailand, maka sempat terpikirkan beberapa hal, dengan perbandingan di Indonesia.
Kesimpulan pertama, adalah apa yang disampaikan dalam HDR 2001 Making New Technologies Work For Human Development, pembangunan infrastruktur hingga ke pedesaan telah mengubah kondisi masyarakat Thailand menjadi lebih baik dan makmur. Banyaknya kendaraan sejenis pick-up (single maupun double cap) yang menjadi kendaraan dan dimiliki masyarakat di pedesaan/rural atau sub-urban, menjadi salah satu tanda kemakmuran.
Kedua, kelangkapan infrastruktur dipergunakan dengan mematuhi regulasi dengan disiplin yang tinggi akan tidak merugikan orang lain. Dijumpai dalam perjalanan di Thailand yang pengguna jalannya lebih disiplin dan mematuhi regulasi dibandingkan dengan Malaysia menunjukan bahwa akan mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Misalnya melintas di bahu jalan, di Thailand tidak ditemukan tetapi di Malaysia terjadi.Ketiga, spirit ASEAN atau AFEO masih sangat kuat dalam kerangka kerjasama antar organisasi keinsinyuran. Ddemikian sekilas catatan perjalanan kembali dari Thailand ke Indonesia. (Bambang Soesijanto/dewan penasehat PII)
CDM Bermata Dua
February 8, 2009 by Engineer
Filed under Berita PII, Green Engineering
Terciptanya karbon di udara berasal dari pembakaran minyak dan gas dari kendaraan, pabrik dan industri, pembakaran hutan, juga asap letusan gunung berapi. Karbon memiliki peran penting, antara lain untuk proses fotosintesis tumbuhan. Tumbuhan menyerap karbon dari udara untuk diubah menjadi gula dan oksigen yang diperlukan sebagai makanannya. Proses fotosintesis ini juga berguna karena menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi.
Namun konsentrasi karbon yang berlebihan di udara sudah menjadi persoalan tersendiri. Karena karbon yang terlepas ke udara secara berlebihan mengakibatkan peningkatan suhu bumi atau pemanasan global. Bersama gas-gas hasil pencemaran lain, karbon membentuk lapisan yang menahan panas bumi keluar dari atmosfer. Sehingga suhu udara di bumi semakin panas, lazim disebut “Efek Rumah Kaca”.
Suhu permukaan yang tinggi telah menyebabkan salju di kedua belah kutub bumi mencair. Hhal ini secara langsung berdampak pada naiknya permukaan air laut. Selain itu, peningkatan intensitas curah hujan pada musim penghujan serta musim kemarau yang berkepanjangan membawa dampak buruk berupa gagal panen, banjir, tanah longsor, dan kekeringan.

Berbagai upaya telah dilakukan guna mengantisipasi kerusakan yang lebih parah di masa yang akan datang. Salah-satunya adalah menggalang kekuatan dunia menghadapi lajunya pemanasan global.
Pada tahun 1992 diadakan Pertemuan Tingkat Tinggi Bumi I di Rio de Janeiro, Brazil. Pertemuan itu menghasilkan perjanjian kerja sama mengantisipasi perubahan iklim dengan menetapkan batas-batas emisi gas-gas rumah kaca.
Anggota konvensi dari 150 negara itu kemudian mengadakan pertemuan berikut di Berlin pada tahun 1995, disebut Pertemuan Antar Pihak I atau Conference of The Parties (COoP) 1.
COoP III di Kyoto, Jepang, akhirnya menghasilkan Protokol Kyoto yang menjadi landasan bagi pengembangan Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism atau yang disingkat dengan CDM). Negara-negara maju diharuskan mengurangi pencemaran udara sebesar ± 5%.
Dengan CDM, negara-negara maju diharuskan mengurangi gas rumah kaca dengan membiayai proyek-proyek energi bebas polusi dan penggunaan lahan untuk penyerapan karbon di negara berkembang. Kesepakatan inilah yang menjadi asal-muasal digulirkannya sistem perdangan karbon. Yyakni mekanisme berbasis pasar untuk membatasi peningkatan kadar CO2 di atmosfer. Negara pemilik hutan menjual jatah karbon yang bisa diserap oleh suatu kelompok tanaman/hutan kepada negara/industri yang menghasilkan polusi karbon.
Protokol Kyoto juga menentukan, perdagangan karbon dari hutan lindung atau lawasan konservasi tidak dapat dilakukan. Selain itu, hanya hutan tanaman yang dikembangkan setelah tahun 1990 saja yang dapat diterima pada sistem perdagangan karbon.Para pihak yang terlibat dalam perda- ngan karbon ini antaralain debitur dan kreditur karbon. Debitur karbon adalah negara maju yang tidak menyerap karbon yang dilepas oleh industri atau kendaraan di negaranya.
Sedangkan kreditur karbon adalah negara yang menyerap karbon lebih banyak daripada karbon yang dihasilkan oleh industri atau kendaraan di negaranya.Perdagangan karbon sendiri pada umumnya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sistem fund dan sistem pasar. Ddengan sistem fund, negara industri memberikan anggaran untuk melestarikan hutan kepada negara-negara yang bersedia menyisakan lahannya untuk pelestarian hutan.
Dananya digunakan untuk proyek-proyek pemba- ngunan. Sistem yang kedua adalah sistem pasar. Siapa saja yang memiliki hutan harus melakukan pelestarian terlebih dahulu baru setelah dibuktikan telah terjadi pelestarian, maka setiap tahun akan mendapatkan pembayaran.Kelemahan sistem fund adalah seringnya dana tersebut tidak jatuh ke tangan yang tepat. Ddana itu menguap begitu saja pada jajaran pemerintah pusat sehingga upaya pelestarian tidak berjalan maksimal. Sedangkan pada sistem pasar, korupsi dapat dihindari karena sistem perdagangan karbon berbentuk pasca bayar.
Selain itu, pepohonan yang dilibatkan pada perdagangan karbon merupakan pepohonan yang bukan berasal dari hutan alami. Jika perusahaan Abcd, yang tiap tahunnya mengeluarkan emisi karbondioksida sebanyak 100.000 ton diminta menurunkan emisinya hingga 5% atau 5.000 ton per etahun, maka perusahaan A memiliki dua pilihan, yaitu: menurunkan emisinya hingga 5.000 ton per tahun seperti yang diminta atau membeli hak emisi dari pihak lain.dilain pihak, terdapat hutan Wxyz seluas 50.000 hektar are (Ha) dengan status hutan konversi.
Secara hukum hutan tersebut dapat dikonservasikan menjadi perkebunan. Namun melalui perdagangan karbon, hutan tersebut dapat tidak dikonversikan jika ada pihak lain yang mau membeli nilai emisi karbon yang dihindari. Masalahnya, sistem ini cukup rumit sehingga tidak dengan mudah dapat dilaksanakan oleh semua pihak.Sebagaimana layaknya sebuah bisnis dan perdagangan, masyarakat pada umumnya berada pada posisi tawar yang lemah.
Masyarakat memiliki keterbatasan meng- akses informasi sehingga dikhawatirkan akan dimanfaatkan oleh pihak lain. Uuntuk mengantisipasi hal ini, perlu dibuat aturan yang jelas sehingga tidak ada satupun yang merasa dirugikan.Pertanyaannya, apakah sistem ini sudah sesuai dengan semangat awal, yaitu menyelamatkan lingkungan? sistem ini, alih-alih emisi berkurang, namun CDM menjadi legalisasi perilaku boros dan polutif. [RH]
Biofuel Sebaiknya dari Pertanian non Pangan
February 8, 2009 by Engineer
Filed under Berita PII, Green Engineering
”Perlu diakui bahwa kita juga dihadapkan pada konflik pemanfaatan bahan pangan menjadi biofuel.” Demikian dikatakan Ketua Komisi VII yang juga Ketua Umum PII, Ir. Airlangga Hartarto, MMT, MBA selaku Pembicara Kunci pada Diskusi Panel ”Peran Bioteknologi Modern dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan” di BPPT, Jakarta, 1 November 2008.
Ketua Umum PII, Ir. Airlangga Hartarto menyatakan pula bahwa selama masih ada alternatif lain, sebaiknya bahan pangan tidak dikonversi untuk energy. ”Justru di sinilah peran bioteknologi diharapkan dapat berkontribusi untuk mengembangkan bahan pertanian yang non pangan yang dapat dijadikan sebagai sumber biofuel,” ujarnya.
Sebagai contoh, tanaman jarak pagar yang pernah ramai dikembangkan sebagai sumber energi alternatif, belakangan ini mendapat kecaman keras. Data tentang budidaya dan produktivitasnya masih minim sehingga petani enggan menanam jarak. Tugas bioteknologi di sini diharapkan dapat menciptakan varietas unggul yang menghasilkan rendemen minyak tinggi dan produktivitas tinggi.
Peran bioteknologi modern juga diperlukan untuk menghadapi kerusakan lingkungan sebagai akibat pola pertanian yang kurang tepat. Produksi pangan di dataran tinggi yang sangat intensif menggunakan pestisida dan obat-obatan lain telah mencemari air tanah. Kejadian ini telah banyak menimbulkan konflik horizontal di masyarakat : Di satu sisi petani ingin mendapatkan penghasilan, di sisi lain masyarakat ingin mendapat sumber air yang tidak tercemar.
Peran bioteknologi modern juga diperlukan untuk menghadapi kerusakan lingkungan sebagai akibat pola pertanian yang kurang tepat. Produksi pangan di dataran tinggi yang sangat intensif menggunakan pestisida dan obat-obatan lain telah mencemari air tanah. Kejadian ini telah banyak menimbulkan konflik horizontal di masyarakat : Di satu sisi petani ingin mendapatkan penghasilan, di sisi lain masyarakat ingin mendapat sumber air yang tidak tercemar.Peran bioteknologi modern juga diperlukan untuk menghadapi kerusakan lingkungan sebagai akibat pola pertanian yang kurang tepat. Produksi pangan di dataran tinggi yang sangat intensif menggunakan pestisida dan obat-obatan lain telah mencemari air tanah. Kejadian ini telah banyak menimbulkan konflik horizontal di masyarakat : Di satu sisi petani ingin mendapatkan penghasilan, di sisi lain masyarakat ingin mendapat sumber air yang tidak tercemar.
Diyakini bahwa bioteknologi dalam pembangunan telah menunjukkan kontribusi yang sangat nyata dalam menciptakan terobosan yang bermanfaat bagi kemaslahatan bangsa. Dalam dua dasawarsa bioteknologi telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembangunan bidang pertanian, kesehatan, industri pengolahan dan lingkungan.
Negara-negara India dan China telah berhasil mengisi pasaran produk bioteknologi ke negara Uni Eropa yang pasarnya sebelum itu hanya diisi oleh produk bioteknologi dari negara maju. Diproyeksikan, kontribusi bioteknologi dalam sepuluh tahun mendatang cenderung meningkat sejalan dengan munculnya berbagai permasalahan baru sebagai akibat kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit baru.
Inovasi di bidang pangan dan kesehatan telah menunjukan potensi yang besar, seperti bioteknologi untuk mengembangkan berbagai macam produk, rekayasa tanaman tahan penyakit dan tahan perubahan iklim, pestisida alami, teknologi bioremediasi untuk lingkungan, bahan kimia lain dan enzym yang dapat meningkatkan efisiensi produksi.
Oleh karena itu di masa mendatang pengembangan bioteknologi harus bersifat multidiplin. Di sinilah peran teknolog /insinyur sangat diharapkan. PII, Persatuan Insinyur Indonesia sebagai organisasi profesi yang juga mencakup insinyur pertanian, sangat berkepentingan terhadap pengembangan kemandirian teknologi dalam negeri dan senantiasa mendorong para anggotanya dapat berkarya lebih baik lagi bagi bangsa dan Negara.
Sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, pemenuhan atas pangan yang cukup adalah hak asasi setiap rakyat Indonesia. Agar sumberdaya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional dapat terwujud. Sehingga adalah konsekwensi bagi pemerintah untuk dapat menjamin hak pangan yang bergizi dan aman bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ini sebagaimana dituangkan dalam UU No. 7/1996 tentang pangan. Kondisi ketahanan pangan dinyatakan sebagai “Kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman,merata, dan terjangkau”.
Untuk mencapai kondisi semacam ini, kita memerlukan indikator-indikator yang terukur. Misal, pengukurannya dikaitkan kurun waktu. Lebih lanjut ketahanan pangan harus memperhitungakan adanya bencana alam yang datangnya tidak bisa diprediksi. Padahal lita masih belum punya jawaban yang tepat jika ditanya berapa bulan ketahanan pangan di Indonesia saat ini.
Saat ini penduduk Indonesia diperkirakan berjumlah 228 juta. Proyeksi pada tahun 2025 penduduk Indonesia akan mencapai 273 juta. Meskipun tingkat pertumbuhan penduduk semakin menurun, dengan jumlah penduduk diatas 200 juta, maka secara absolut pertambahan penduduk juga besar.
Jumlah penduduk yang besar dengan komposisi penduduk usia produktif yang juga besar, menyebabkan tingginya peningkatan permintaan akan bahan pangan. Oleh karena itu upaya produksi pangan Indonesia harus terus ditingkatkan melalui terobosanterobosan teknologi produksi pangan (meningkatkan produktivitas, ketahanan terhadap kekeringan dan perubahan iklim lainnya), agar peningkatan produksi pangan, tidak hanya habis untuk konsumsi penduduk saja.
Progress Suramadu (2)
February 8, 2009 by Engineer
Filed under Berita PII
Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V, Ir. A.G. Ismail, M.Sc berbicara tentang Jembatan Suramadu dalam Diskusi Profesi PII pada 24/10/08 di Jakarta. Dengan berbagai perkembangannya, Jembatan Suramadu selesai pada April 2009, demikian Ir. Ismail.
Suramadu adalah jembatan terpanjang di Indonesia saat ini, yang menjadikannya salah satu landmark dan ikon Indonesia. Jembatan Suramadu terdiri dari 3 bagian yaitu causeway, approach bridge dan main bridge. Pembuatannya dilakukan dari tiga sisi: sisi Madura, sisi Surabaya, dan secara bersamaan juga dilakukan pembangunan bentang tengah yang terdiri dari main bridge dan approach bridge. Ir. Ismail mengawali paparannya dengan technical study yang mengantarkan kesimpulan bahwa tidak ditemukan suatu patahan aktif di Holocene. Hasil studi ini merupakan dasar bagi studi selanjutnya. Design Ground Motion Parameter Study dilakukan untuk mendapatkan respons spektra dalam arah vertikal dan horizontal.
Engineering Physical Study / Soil Investigation hingga kedalaman s.d 100 meter dilakukan untuk mendapatkan data primer di lokasi, mencakup identifikasi tektur lapisan tanah di lokasi. Lalu dilakukan analisis dan evaluasi daya dukung , kestabilan, keseragaman, skema pondasi; serta evaluasi pelaksanaan pondasi.
Alat yang digunakan antaralain Standard Penetration Test (SPT ), Vane Shear Test (VST), Dynamic Penetration Test (DPT), dan Wave Propagation Test (WPT).
Kemudian Study on Topographical Change / Sediment Transport and Local Scour dilakukan untuk memprediksi perubahan kontur topografi dasar laut dan untuk mengetahui lokal scouring di lokasi pilar. Hasilnya, diketahui bahwa arus air laut di Selat Madura mengikuti sumbunya.
Pengaruh terhadap arus pasang hanya terjadi pada daerah sejauh 5 km dari jembatan. Pengaruhnya terhadap kecepatan arus kurang dari 1 %. Perubahan kecepatan arus terbesar terjadi di dua pilon utama, dengan nilai kurang dari 2%. Perubahan arahnya kurang dari 1% . Pengaruh terhadap elevasi pasang dapat diabaikan. Sedangkan local scouring pada pylon utama diperkirakan mencapai 11,5 m.
Kemudian engineering geological survey dilakukan dengan geoelectric, georadar, dan sub-bottom profiling untuk mengetahui kondisi lapisan tanah di bawah permukaan dasar laut ; Memetakan kondisi geologi, khususnya litologi serta struktur geologi ; dan memberikan informasi dalam bentuk gambar tiga dimensi tentang kondisi bawah permukaan.
Survey menyimpulkan bahwa lapisan paling atas di sisi Surabaya adalah alluvial. Lempung, pasir dan lempung kepasiran dengan kedalaman 5-30 meter. Lapisan berikutnya adalah batu-pasir, ditemukan pada 30-100 m. Di kedalaman 100 m ditemukan batu lempung.
Pada sisi Madura, lapisan yang dominan adalah reef limestone. Struktur geologi yang ditemukan di sisi Surabaya adalah Fault yang tidak aktif. Di lapisan Reef Limestone ditemukan beberapa vug berisi lempung.
PENGUKURAN
Proyek Jembatan Suramadu menggunakan GPS (Global Positioning System) untuk pengukuran dan penentuan titik Acuan. GPS adalah sistem satelit navigasi atau instrumen survey yang digunakan untuk penentuan posisi di atas permukaan bumi, dengan mengacu kepada datum global berupa ellipsoid.
Prinsip dasarnya adalah dengan pengikatan kebelakang (resection), yaitu pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelit GPS yang koordinatnya telah diketahui. Proyek Jembatan Suramadu menggunakan GPS dengan sejumlah pertimbangan, terutama bahwa Surveyor GPS tidak dapat memanipulasi data.



