HUMATES : Ancient Acids for Modern Farming ( Bagian : 1)

Lisminto
Badan Kejuruan Teknik Kimia PII
Lahan pertanian, seperti halnya manusia, memiliki keterbatasan untuk mempertahankan – apalagi meningkatkan produktifitasnya.
( Prof. Abdul Rauf – Guru Besar USU Medan)

FEW (Food, Energy and Water) merupakan tiga pilar pokok yang ketersediaannya akan sangat menentukan keberlanjutan peradaban manusia ke depan. Cerita kali ini akan berkisar sekitar pangan, khususnya tentang phenomena penurunan kesuburan tanah (lahan sakit) dan upaya pemulihannya.

Gejala tersebut sudah dikenali manusia sejak era suku-suku nomaden. Mereka menyiasatinya dengan sistem pertanian ladang berpindah. Lahan yang sudah sakit akan mereka tinggalkan beberapa lama, mencari ladang baru yang masih subur, dan kemudian akan kembali ke ladang terdahulu yang sudah pulih kesuburannya. Siklus ini berlangsung sesuai dengan irama alam, yang kemudian kita kenal sebagai sistem pertanian ladang berpindah.

Peradaban kuno tersebut tidak mungkin lagi diterapkan di zaman modern ini. Ketersediaan lahan makin terbatas, sehingga memeaksa para petani terus-menerus menggarap lahan yang sama untuk jangka waktu lama, lahan yang secara alami akan menurun produktivitasnya.

Sains dan teknologi kemudian tercatat telah menyediakan solusinya. Penemuan pupuk sintetis : Urea(N). Posfat (P) , Kalium (K) dan kemudian pupuk majemuk (NPK) disertai dengan penyempurnaan daya dukung lainnya, telah berhasil menaikkan produktivitas lahan pada skala yang sangat mengagumkan, sehingga dunia terhindar dari kelaparan meskipun populasi manusia terus meningkat secara tajam.

Sumber daya ternyata selalu ada batasnya, seperti dikutip di awal tulisan ini. Praktek pertanian yang telah dijalankan dalam beberapa dekade terakhir telah mencapai batasnya. Lahan pertanian telah mencapai titik jenuh, yang ditandai oleh respon negatif antara input dan output. Penambahan input yang dilakukan dengan penambahan dosis pupuk sintetis dan input sarana produksi lainnya, tidak lagi mampu menaikkan produktivitas lahan. Sebaliknya justru makin banyak ditemukan berbagai macam penyakit yang lebih mengarah pada kegagalan panen. Gejala demikian oleh para ahli pertanian dikenal sebagai lahan yang telah sakit.

Adalah Prof. Lydia Kristeva, ilmuwan dari Universitas Kherson, Uni Soviet, yang pertama kali mendeteksi penyebab lahan sakit tersebut. Salah satu yang utama adalah makin menurunnya “humus” di dalam tanah. Sebuah senyawa “asam kuno” yang telah dikenal manusia berabad-abad silam.

Singkat cerita, dari peneltiannya yang panjang, Lydia Kristeva kemudian menemukan senyawa Humates (humic subtances) yang secara bertahap mampu mengembalikan kadar humus dalam tanah dengan demikian mampu mengembalikan kesuburan lahan pertanian yang sudah sakit

Produk Humate saat ini sudah secara luas diaplikasikan di negara-negara maju seperti : Rusia, Amerika Serikat, China , India dan Australia. Bagaimana dengan Indonesia ?

baca juga

ingin komentar

Comment