Geliat Senapan Serbu Nasional

Sejak awal berdiri di 1983, PT Pindad telah memproduksi berbagai jenis senjata. Bahkan jauh sebelum itu, ketika masih bernama Pabrik Senjata dan Mesiu (PSM), BUMN ini telah membuat senapan serbu laras panjang (assault rifle) SP-1 yang merupakan modifikasi dari senapan serbu Beretta BM-59 Mk 1 buatan Italia.

Senapan ini, yang kemudian dikembangkan menjadi SP-2 dan SP-3, digunakan dalm operasi Seroja di Timor Timur. Dari penggunaan di lapangan ini langsung terlihat beberapa kelemahan, seperti selongsong tidak keluar, picu yang lepas, hingga lepasnya kompensator.

Atas evaluasi dari peristiwa tersebut, maka pada tahun 1976 dikembangkan senjata baru yang lebih baik, yaitu SS-77 yang rancangannya mengacu pada senapan serbu Armalite AR 18. Pada 1979, senapan ini digantikan oleh SS-79 yang merupakan versi yang disempurnakan ysng kemudian digunakan oleh TNI AD sebagai senjata standar infantri.

Dari berbagai pengalaman operasional penggunaan senjata serbu, muncul kebutuhan untuk benar-benar membuat senjata jenis ini di tanah air. Berdasarkan pertimbangan BPPT pada 1982, untuk memproduksi dari awal, akan membutuhkan waktu lama dan biaya yang sangat tinggi. Maka akhirnya diputuskan untuk mengambil lisensi sejata yang ada dan sudah terbukti tangguh di lapangan. Pilihan jatuh kepada 3 jenis senapan serbu: HK33 (Jerman), M16A1 (Amerika Serikat) dan FNC (Belgia).

Dengan berbagai pertimbangan, terutama yang menyangkut alih teknologi dan kemudahan dalam menggunakan peluru, maka dipilihlah FNC dari Belgia yang menggunakan peluru standar NATO.

Selanjutnya, berdasarkan kesepakatan BPPT yang mewakili pihak Indonesia dengan FN Hertsal SA dari Belgia pada 1983, PT Pindad akan memproduksi minimal 200.000 pucuk senjata sebagai persyaratan kerja sama. Setelah produksi itu tercapai, Indonesia tidak perlu lagi membayar royalti kepada pihak FN Belgia.

Setahun kemudian, senapan SS-1 resmi diproduksi PT Pindad dengan penggunaan komponen lokal, yang diproduksi sendiri PT Pindad, sebesar 60 persen. Sisanya masih didatangkan langsung dari FN Belgia.

Selain digunakan oleh TNI, senjata ini diminati oleh tentara dari negara lain, seperti Uni Emirat Arab, Kamboja dan Nigeria.. Namanya semakin berkibar setelah beberapa kali personil TNI memenangkan lomba menembak skala internasional dengan menggunakan senjata ini.

Ketangguhan senjata ini kemudian, padam 2006, dikembangkan menjadi versi yang lebih baik: SS-2, yang memunyai desain yang lebih ergonomis, tehan terhadap kelembaban tinggi dan lebih ringan.

Serupa dengan SS-1, senapan ini dioperasikan dengan gas, mode penembakan dengan mesiu. Perbedaan utama terletak pada kejutan yang lebih rendah ketika menembak dengan adanya Tithed baut silinder yang mengunci kencang gagang laras.

Di awalnya hanya tersedia 3 versi, yaitu Standard Rifle SS-2-V1, Carbine SS2-V2 dan Para-sniper SS2-V4. Sejak tahun 2008 juga telah tersedia dalam bentuk senjata sub-kompak versi SS2-V5, yang juga telah banyak diminati negara lain.***

Aries R. Prima
Pemimpin Redaksi

baca juga

ingin komentar

Comment