FARMASI : Obat Yang Lebih Efektif

Aries R Prima – Engineer Weekly

Beberapa tahun ini dunia farmasi di Indonesia sudah gencar melakukan pengembangan produk-produknya dengan menggunakan teknologi nano, walaupun belum segencar produsen-produsen dari negara maju.

Pemanfaatan dalam bidang farmasi dapat meningkatkan kualitas produk, produksi dan keamanan, serta manfaat, seperti lebih cepatnya dapat diserap tubuh, sehingga penggunaannya akan lebih efisien. Saat ini sudah banyak ekstrak obat-obatan tradisional menggunakan teknologi ini. Misalnya gingseng yang dihasilkan dengan menggunakan teknologi nano akan lebih cepat terserap tubuh dan menjadikan kandungan ‘ginsenosides’ (kandunghan persentase ginseng untuk menghasilkan stamina) lebih tinggi dari ginseng yang tidak diproses dengan teknologi yang sama.

Dalam dunia farmasi masalah kelarutan, stabilitas dan kemampuan penyerapan adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi. Teknologi nano membantu meningkatkannya, misalnya untuk membantu beberapa senyawa obat tertentu yang mengalami kesulitan untuk larut dan melakukan penetrasi. Contoh lainnya adalah kandungan kalsium dalam susu yang juga harus dibuat menggunakan teknologi nano agar dapat efektif terserap ke dalam tulang.

Tahun lalu, Yenni Meiliana, peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, telah mengambangkan bahan baku obat untuk penyakit malaria dengan menggunakan teknologi nano. Ia berhasil meningkatkan kemampuan bahan obat malaria beurpa Artemisinin melalui sebuah penelitian yang mengubah bubuk zat ini menjadi Kristal Nano, yang lebih murah dan lebih efektif diserap tubuh manusia.

Untuk mendapatkan ukuran ini, daun Artemisia annua diekstrasi menggunakan senyawa Freon agar menjadi Artemisinin. Kemudian dengan menggunakan matriks polimer diubah menjadi Kristal Nano, sehingga kemampuannya sama dengan Dihydroartemisinin (DHA) yang larut dalam air, sehingga proses penyerapan oleh tubuh akan lebih baik.

World Health Organization (WHO) telah menetapkan Artemisinin sebagai pendamping Kina, obat utama malaria, yang dianggap telah mengalami resistensi, sehingga diperlukan obat pendamping agar pengobatan malaria tetap efektif.

Lewat pengembangan dan penemuannya ini, Yenni diganjar penghargaan di bidang ilmu sains, teknologi dan matematika dari L’Oreal – UNESCO for Women in Sciences National Fellowship Awards for Woman 2016. Bersamaan dengan itu, LIPI juga telah mematenkan proses ekstrasi daun dengan senyawa Freon hingga menjadi Artemisinin atas nama LIPI dan Indofarma. Sedangkan pembuatan Kristal Nano Artemisinin yang setara DHA masih dalam proses pematenan.

Bahan baku senyawa ini sebenarnya sangat mudah didapatkan di Indonesia, seperti Artemisia endemic di Kalimantan dan Papua. Namun karena ukurannya yang tinggi, kandungan Artemisianya rendah. Maka itu penelitian Yenni menggunakan Artemisia dari Tiongkok yang telah dibudidayakan di Kebun Raya Cibodas, yang lebih pendek dan mengandung kadar Artemisinin lebih tinggi.

Ke depannya LIPI akan terus membangun kerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan pihak terkait lainnya untuk pengembangan obat malaria dan obat-obat lainnya dengan menggunakan teknologi nano.***

baca juga

ingin komentar

Comment