Energi Terbarukan

Dr. Ir. Pekik Argo Dahono
Pengajar di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, ITB

Secara umum, sumber energi utama di bumi ini adalah energi matahari, panas bumi, nuklir, dan pasang-surut air laut. Energi angin, air, ombak, biomasa, dan bahkan energi fosil, semuanya berasal dari energi matahari. Energi fosil adalah energi matahari yang dikumpulkan oleh pohon-pohonan dan ditabung oleh bumi ini selama jutaan tahun. Memang menggunakan hasil tabungan selama jutaan tahun ini lebih mudah, murah dan memberikan kepastian dibandingkan dengan harus bekerja lagi mengumpulkan energi matahari. Namun karena proses menabungnya butuh waktu sangat lama, tabungan tersebut akan habis jika kita menggunakannya seperti saat ini.

Sampai saat ini tidak ada yang tahu berapa jumlah sebenarnya dari energi fosil yang tersimpan di bumi ini. Akan tetapi semua tahu bahwa jumlahnya terbatas dan bisa habis, maka energi fosil tidak masuk dalam kategori energi terbarukan.
Nuklir merupakan energi baru tetapi bukan energi terbarukan, karena bahan utama yang dipakai (uranium) jumlahnya terbatas. Walaupun penggunaan energi nuklir tidak menghasilkan polusi udara yang membahayakan, akan tetapi kemungkinan bocornya radiasi nuklir menyebabkan banyak masyarakat awam menolaknya. Walaupun, menurut para ahli, peluang kecelakaan pembangkit nuklir jaman sekarang jauh lebih kecil dibandingkan dengan peluang kejatuhan meteor. Ketakutan akan berubahnya pengembangan energi nuklir menjadi senjata nuklir juga terlalu mengada-ada, karena teknologi yang dipakai sama sekali berbeda.

Panas bumi merupakan sumber energi yang sangat menjanjikan untuk Indonesia. Dari potensi yang ada, kurang dari lima persen yang sudah dimanfaatkan. Hambatan utama dari penggunaan panas bumi adalah letaknya yang biasanya berada di hutan lindung atau jauh dari pusat beban. Akan tetapi, melihat potensinya, panas bumilah sumber energi yang paling potensial untuk menggantikan energi fosil, khususnya untuk Indonesia. Panas bumi masuk dalam sumber energi terbarukan karena diperkirakan tidak akan pernah habis atau minimal tidak membutuhkan waktu yang sangat lama.

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) memanfaatkan energi matahari yang menguapkan air laut atau sungai sehingga menjadi hujan dan akhirnya menjadi sumber air di tempat yang tinggi. Perlunya lahan yang besar dan rusaknya lingkungan menyebabkan pembangkit listrik tenaga air tidak lagi bisa diandalkan. Yang bisa kita harapkan dari tenaga air saat ini tinggal pembangkit listrik skala mini (kurang dari 10 MW) dan skala mikro (di bawah 100 kW). Tenaga atau energi air masuk kategori sumber energi terbarukan karena tidak akan pernah habis.

Biomasa dan biofuel masuk kategori sumber energi terbarukan karena tidak akan pernah habis. Sayangnya diperlukan lahan yang sangat besar untuk memanfaatkan energi ini. Agar tidak mengganggu kebutuhan pangan, harus digunakan lahan-lahan yang tidak produktif untuk menanam tanaman demi kebutuhan energi ini. Selain itu kita bisa memanfaatkan sisa-sisa hasil pertanian atau perkebunan sebagai sumber energi. Akan tetapi karena hanya sisa, volumenya tidak bisa diandalkan keberadaannya. Walaupun Indonesia nampaknya luas, sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan. Sehingga luas lahan yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman, sebenarnya, sangat kecil dibandingkan dengan jumlah penduduknya.

Sebagai negara yang berada di equator, potensi energi angin atau bayu di Indonesia tidak terlalu besar. Kecepatan angin di Indonesia tidak terlalu besar kecuali di beberapa wilayah Timur Indonesia. Arah dan kecepatan angin terlalu sering berubah, sehingga tidak bisa menggunakan kincir angin kapasitas besar. Masalah utama dari pemanfaatan energi angin adalah keberadaannya yang susah diprediksi sehingga tidak bisa diandalkan.

Sedangkan potensi energi matahari atau tenaga surya sangat besar di Indonesia. Pemanfaatan tenaga surya yang utama adalah dengan menggunakan sel surya (photovoltaic) dan solar thermal. Pada sel surya, energi matahari langsung diubah menjadi listrik. Pada solar thermal, panas matahari dikumpulkan dengan menggunakan cermin untuk memanaskan cairan atau fluida. Cairan atau fluida panas selanjutnya digunakan untuk memutar turbin dan generator listrik. Saat ini di Indonesia belum ada pembangkit listrik tenaga surya berbasis solar thermal. Masalah utama dari penggunaan tenaga surya adalah hanya ada di siang hari.

Pada saat ini, belum ada teknologi yang cukup andal dan efisien untuk memanfaatkan tenaga ombak dan pasang surut air laut. Melihat luas lautan yang ada, seharusnya Indonesia mempunyai potensi yang cukup besar. Diharapkan pemerintah mau mendanai penelitian tenaga laut. Kita tidak mungkin mengandalkan negara maju karena hanya sedikit negara yang mempunyai lautan luas.

Melihat berbagai potensi yang ada di negara ini, sumber listrik yang bias diandalkan untuk menggantikan energi fosil adalah nuklir dan panas bumi. Pembangkit listrik ini bias digunakan sebagai pembangkit yang memasok kebutuhan dasar (base load). PLTA digunakan untuk memenuhi beban puncak.

Pembangkit listrik tenaga surya dan angin tidak bias menjadi andalan karena keberadaannya yang tidak menentu tidak bias menjadi andalan. Demikian pula pembangkit listrik berbasis biomasa atau biofuel. Jika dimungkinkan, system kelistrikan di Indonesia harus diintegrasikan sehingga antardaerah bisa berbagi sumber. Jika sudah diintegrasikan, tenaga surya dan angin bias lebih banyak dimanfaatkan karena saat energy terbarukan ini tidak tersedia, kebutuhan di daerah itu bias didatangkan dari daerah lain. Jika sudah diintegrasikan, pembangkit tidak lagi harus berada di pusat beban. Panas bumi yang jauh dari pusat beban bias lebih dimanfaatkan. Jika semua energi terbarukan bias dimanfaatkan, suatu saat Indonesia mungkin menjadi eksportir energi listrik berbasis energy terbarukan yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan denan ekspor energi fosil.

Jika bidang telekomunikasi mempunyai palapa ring yang menyatukan Indonesia, mestinya bidang kelistrikan juga mempunyai palapa ring listrik. Adanya palapa ring listrik memungkinkan pembangunan yang merata. Tidak mungkin suatu daerah bias maju jika tidak tersedia sumber energi yang memadai. Jika energi terbarukan bias termanfaatkan dengan baik, energy fosil yang kita punyai bias kita gunakan untuk tujuan lain yang lebih bermanfaat. Memang integrasi system kelistrikan di seluruh Indonesia memerlukan biaya yang sangat mahal. Akan tetapi ini bukanhal yang tidak mungkin dan harus dimulai dari sekarang. Insinyur Indonesia harus menciptakan sendiri teknologi yang cocok untuk Indonesia.***

baca juga

ingin komentar

Comment