EDITORIAL : Teknologi Informasi Menurut WEF

 

Ir. Rudianto Handojo, IPM
Direktur Eksekutif PII

Dalam Information Technology Reporttahun 2015, Indonesia berada pada peringkat 79 dari 143 negara, merosot dari posisi 64 di tahun sebelumnya. Pemeringkatan dalam bidang teknologi informasi yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF) ini juga menentukan peringkathal-hal yang menentukan peringkat secara keseluruhan, yaitu (1) Politik dan peraturan lingkungan. Indonesiadi peringkat 62; (2) Bisnis dan lingkungan inovasi, di peringkat 59; (3) Infrastruktur, di peringkat 98; (4) Keterjangkauan, di peringkat 99; (5) Keterampilan, di peringkat 63; (6) penggunaan Individu, di peringkat 97; (7) penggunaan Bisnis, di peringkat 35; (8) penggunaan Pemerintah, di peringkat 63; (9) Dampak Ekonomi di peringkat78 dan Dampak social, di peringkat 72.

Laporan berkala tersebut bukan segala-galanya sebagai sumber kebenaran. Anggap saja sebagai salah satu pedoman bagaimana pihak lain melakukan pemeringkatan. Bila penasaran untuk memahami peringkat Indonesia yang rendah dalam laporan tersebut, berikut ini tambahan penjelasannya, khusus untuk infrastruktur dan keterjangkauan.

Ada 4 faktor di kesiapan infrastrukturyaitu (1) produksi listrik dengan 748,1 kwh/kapita di peringkat 102; (2) jangkauan jaringan Mobile, 100 % pop, di peringkat 1!; (3) International Internet bandwidth, 10,1 kb/s per pengguna, di peringkat 100 dan (4) Secure Internet server4,1/juta pop di peringkat 103.Sementara itu juga ada 3 faktor di pilar Keterjangkauan, meliputi (1) tarif seluler prabayar, dengan PPP $ 0,30/ min di peringkat 81; (2) tarif internet broadband tetap , dengan PPP $ 56,41/ bulan di peringkat 110 dan (3) kompetisi Internet & telepon di peringkat 85.

Peringkat paling baik Indonesia adalah pilar ke (7) yaitu penggunaan Bisnis. Jika ingin mengetahui lebih detil, ada 6 faktor, masing-masingnya adalah: (1) tingkat penyerapan teknologi perusahaan di peringkat 42; (2) Kapasitas untuk inovasi di peringkat 22; (3) PCT paten , aplikasi / juta pop di peringkat 101; (4) penggunaan Internet antar perusahaan di peringkat 51; (5) penggunaan Internet perusahaan ke konsumen di peringkat 28 dan (6) Tingkat pelatihan staf di peringkat 24.

Khusus untuk ketrampilan sumber daya manusia diperhitungkan dari 4 faktor, yaitu (1) Kualitas sistem pendidikan di peringkat 32; (2) Kualitas matematika & ilmu pendidikan di peringkat 36; (3) angka partisipasi kasar pendidikan menengah dengan 82,5% di peringkat 90 dan (4) Tingkat melek huruf dewasa di peringkat 59.

Gambaran tersebut agak memberi perspektif berbeda bila dicoba dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya. Kamboja secara keseluruhan berada di peringkat 110, Laos di 97, Malaysia di 32, Myanmar di 139, Filipina di 76, Singapura di peringkat 1, Thailand di 67 dan Vietnam di peringkat 85. Di luar Brunai Darusallam yang tidak masuk dalam radar WEF, maka Indonesia secara menyeluruh berada pada posisi no 5 dari 9 negara.

Dari berbagai pengalaman mengikuti hasil Global Competitiveness Index, dari World Economic Forum, peringkat Indonesia yang baik dalam hal inovasi dan pendidikan, berlainan sekali dengan index atau survey yang dilakukan lembaga lain. Dikhawatirkan dengan hanya memercayai index yang bagus, maka upaya kita meningkatkan daya saing akan berkurang. Supaya tidak bias, dianjurkan untuk mempelajari secara lengkap laporan WEF tentang IT tahun 2015 tersebut.

baca juga

ingin komentar

Comment