EDITORIAL : Tantangan Pengembangan Energi Terbarukan Indonesia

 

Ir. Rudianto Handojo, IPM
Direktur Eksekutif PII

Menurut berbagai sumber, Indonesia menyimpan potensi besar untuk mengembangkan energi terbarukan, mengingat sumberdaya yang tersedia berlimpah. Namun, hingga kini, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Diperkirakan baru 3 hingga 5 persen yang dimanfaatkan dari total penggunaan energi.

Biaya riset dan investasi yang mahal yang menyebabkan harga dari energi terbarukan tidak bisa bersaing dengan harga energi fosil bersubsidi, kerap dituding sebagai biang keladi pengembangan energi ini berjalan lambat. Belum lagi harga minyak yang rendah saat ini, akibat peningkatan produksi shale oil besar-besaran. Di sisi lain, jika Indonesia tidak mulai mengembangkannya, ancaman krisis energi segera muncul di depan mata.

Untuk itu perlu dicari formulasi dan kebijakan yang tepat agar Indonesia bisa mengembangkan energi terbarukan dengan sumberdaya yang tersedia. Walaupun tetap saja harus dipilih yang benar-benar bisa direalisasikan sesuai kebutuhan. Kerja sama lintas sektoral juga dibutuhkan, terutama yang menyangkut pembiayaan dan riset.

Keberhasilan pengembangan energi terbarukan juga bergantung kepada visi pemerintah serta kesungguhan upaya yang dilakukan. Kita juga bisa mencontoh keberhasilan Denmark dengan pembangkit listrik tenaga anginnya, atau Maroko dengan pembangkit listrik tenaga surya terkonsentrasi.

Dengan posisi berada di ekuator, panas matahari bisa diandalkan sebagai sumber energi pembangkit listrik di Indonesia. Teknologi sudah banyak tersedia, tinggal dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Jika belum bisa dilakukan secara penuh, masih bisa dilakukan dengan sistem hybrid: menggunakan PLTS dan generator disel bergantian.

Yang sudah banyak dilakukan di beberapa daerah di Indonesia adalah pembangkit listrik tenaga air microhydro atau minihydro yang walaupun kapasitasnya tidak besar namun mampu mencukupi kebutuhan listrik di wilayahnya. Tentunya tidak semua daerah bisa membangun PLTA jenis ini. Karena benar-benar tergantung pada ketersediaan aliran air.

Pun begitu dengan pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu (angin). Baru dilakukan dengan kapasitas kecil dan terbatas. Angin di Indonesia tidak cukup kuat untuk menggerakan kincir yang besar untuk menghasilkan listrik yang besar. Itu pun hanya bisa dilakukan untuk daerah-daerah tertentu di wilayah Timur Indonesia.

Yang sudah agak ‘serius’ dilakukan adalah pengembangan bahan bakar nabati (BBN). Itu pun masih ada kontroversi antara mengembangkan tanaman untuk energi atau untuk pangan. Hal ini harus secara hati-hati ditangani, jangan sampai lahan untuk tanaman pangan berubah fungsi menjadi lahan untuk tanaman penghasil energi. Ini akan menimbulkan persoalan baru di kemudian hari. Untuk itulah diperlukan kerja sama lintas sektoral agar pengembangan energy terbarukan dapat mencapai hasil yang maksimal tanpa mengorbankan hal lain yang juga penting untuk ketahanan nasional.

baca juga

ingin komentar

Comment