EDITORIAL : Pangan dan Potensi Tanah Air

 

Ir. Rudianto Handojo, IPM
Direktur Eksekutif PII

Berulang kali Presiden Jokowi menekankan pentingnya menyongsong perubahan ke depan dengan fokus pada penguatan energi dan pangan. Paling tidak, dua kali terekam, yaitu dalam sambutan pada saat pembukaan Kongres PII XX tanggal 12 Desember 2015 dan, terakhir, di depan hadirin kuliah umum di Universitas Sebelas Maret, Solo, pada 11 Maret 2016 lalu.

Pada kesempatan terakhir tersebut dikemukakan bahwa pada tahun 2043 jumlah penduduk dunia akan menjadi 12, 3 milyar. Artinya dua kali lipat dari jumlah penduduk sekarang. Situasinya akan mengarah pada perebutan energi dan pangan. Untuk rebutan dua hal tersebut, ditambahkan,  kita memiliki keuntungan kompetitif karena tanah air kita memiliki potensi, yang sayangnya, belum terkelola baik.

Mari sekarang kita lihat datanya. Terakhir dikabarkan pada tahun 2015 sawah kita menghasilkan 72 juta ton gabah kering panen. Setelah dikonversi dengan faktor 62,74% akan menghasilkan sekitar 45,17 juta ton beras. Dari data the Economist, Pocket World in Figures edisi 2016, Indonesia pada tahun 2013-2014 adalah penghasil beras nomor 3 dunia dengan produksi 36,3 juta ton. Di bawah China 142,53 juta ton dan India 106,54 juta ton. Produksi kita lebih tinggi di banding Bangladesh 34,39 juta ton, Vietnam 28,16 juta ton, Thailand 11,95 juta ton dan Myanmar 11,95 juta ton.

Tetapi kita juga konsumen beras nomor 3 dunia dengan konsumsi 38,50 juta ton,  sehingga kita harus mengimpor kekurangan paling tidak 2,20 juta ton. Konsumen beras saat ini banyak berada di Asia Tenggara. Urutan tujuh besar konsumen beras berturut-turut adalah China 146,30 juta ton, India 99,18 juta ton, Indonesia 38,50 juta ton, Bangladesh 34,90 juta ton, Vietnam 22,00 juta ton, Filipina 12,5 juta ton dan Thailand 10,87 juta ton. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa India, Bangladesh, Vietnam, Thailand adalah negara surplus beras. Kita juga harusnya demikian. Angka 2015 kita harusnya sudah membuat kita surplus beras.

Bila merunut 5 tahun terakhir. Data dari sumber yang sama menunjukkan bahwa produksi beras Indonesia tahun 2012-13 sebesara 36,55 juta ton, konsumsi 38,12 juta ton. Tahun 2011-12, 36,50 juta ton dan besar konsumsi 39,55 juta ton.  Tahun 2010-11, 35,50 juta ton dan konsumsi 39,00 juta ton. Tahun 2009-10 produksi 36,37 ton dan konsumsi  38 juta ton.  Situasinya selalu minus. Bila kita ingin surplus dan sekaligus menjadi pemasok dunia, paling tidak produksi beras kita harus di atas 40 juta ton.  Mudah-mudahan angka 2015 dengan produksi 45,17 juta ton benar adanya dan dapat dipertahankan.

Ini tadi baru cerita beras. Masih ada kekurangan produksi gula, dan kita adalah pengimpor gandum. Tapi jangan berkecil hati. Masih dari sumber yang sama Indonesia pada tahun 2013 adalah negara nomor 4 dunia dalam hasil  pertanian dengan nilai 125 miliar dolar Amerika. Nomor 6 produsen sereal dengan produksi 89,79 juta ton. Nomor 8 penghasil buah-buahan dengan angka 16,00 juta ton. Nomor 8 produen teh: 148 ribu ton. Nomor 4 produsen kopi: 700 ribu ton. Nomor 3 penghasil coklat: 375 ribu ton. Sumber lain menyatakan kita produsen kelapa sawit nomor 1 dunia. Seperti pengelolaan sumberdaya alam lainnya, tantangannya adalah penciptaan nilai tambah oleh para Insinyur. Ini adalah amanat UU No 11/2014 tentang Keinsinyuran.

baca juga

ingin komentar

Comment