EDITORIAL : Inovasi Mandor

 

Ir. Rudianto Handojo, IPM
Direktur Eksekutif PII

Komposisi pendidikan angkatan kerja kita sungguh berat ke bawah. Berdasarkan data tahun 2010, persentase angkatan kerja yang berpendidikan tinggi (S1, D-III dan D-IV) tercatat sekitar 7,6% dari jumlah total angkatan kerja. S1 saja sekitari 4,8%. Kemudian yang berpendidikan menengah (SMA, SMK), 22,9%. Sedangkan yang berpendidikan dasar (SD,SMP), 69,4%. Inipun lebih banyak yang berpendidikan paling tinggi lulus SD, yaitu 50,4%, lulus SMP hanya 19,1%. Bandingkan dengan Malaysia yang mempunyai komposisi pendidikan tinggi, menengah dan dasar, masing-masing, 20,3%, 56,3% dan 24,3%. Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, dalam UU Keinsinyuran, insinyur diminta melaksanakan secara berkala kegiatan Keinsinyuran terkait dengan darma bakti masyarakat yang bersifat sukarela.

Di lain pihak, negara mendorong agar semua kalangan melakukan inovasi melalui penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan nilai tambah. Dalam UU Keinsinyuran, pemerintah bertanggung jawab mendorong industri untuk melakukan penelitian dan pengembangan dalam rangka meningkatkan nilai tambah produksi. Insinyur berkewajiban mengupayakan inovasi dan nilai tambah secara berkesinambungan. Terbaca pula bahwa tujuan pengembangan keprofesian berkelanjutan, di antaranya, untuk mengembangkan tanggung jawab sosial Insinyur pada lingkungan profesinya dan masyarakat di sekitarnya.

Dari sisi ini ada contoh kaitan inovasi dengan tanggung jawab sosial Insinyur dalam proses pembangunan rumah 2 lantai sekitar 5 tahun yang lalu. Untuk membangunnya diperoleh pinjaman mandor dari seorang insinyur sipil. Mandor ini, pak Suyat, usianya lebih dari setengah abad dan tidak lulus SD. Kedua faktor tersebut ternyata bukan alangan. Pertama pak Suyat memberi keyakinan bahwa dia mampu membaca gambar dan menghitung seluruh kebutuhan bahan serta membuat jadwal kerja mingguan yang memperhitungkan libur Lebaran. Tidak ada istilah kira-kira.
Kedua, sebelum mulai kerja pak Mandor ini mengajukan syarat. Dia mau bekerja dengan tukangnya bila seluruh bahan materialnya berstandar SNI. Jadi dia menghindari penggunaan besi beton, pipa, kabel dan lainnya yang non standar, istilah di lapangannya: ex sepanyol, separo nyolong. Umumnya yang ada di toko bahan bangunan ukurannya lebih pendek dan diameternya lebih kecil. Yang berstandar jelas lebih mahal.

Ketiga, saat separuh penggalian tanah untuk pondasi, dia mengusulkan agar lantai atas dapat diturunkan 12 cm dari semula 3,40 m. Alasannya besi beton berstandar 12 meter tadi dimanfaatkan maksimal. Besinya akan dirakit dari lantai atas ke bawah menjadi pondasi lalu ke atas lagi sebagai tiang tanpa dipotong maupun sambungan yang perlu tambahan overlap.

Dengan caranya jadwal penyelesaian tidak meleset dan di akhir pekerjaan diperoleh penghematan biaya hingga 4%, meskipun menggunakan material berstandar yang lebih mahal. Jelas bila para mandor ini seperti pak Suyat, berpendidikan dasar namun telah memperoleh transfer iptek dari insinyur, dapat ikut melakukan inovasi sederhana dan memberi nilai tambah. Contoh ini dapat dikembangkan pada disiplin teknik lain. Bagi insinyur, melalui inovasi para mandor sebagai bakti masyarakat selain memungkas kesenjangan iptek akan beroleh amalan dari memberi pengetahuan.

baca juga

ingin komentar

Comment