Editorial : Air Bersih dan Permasalahannya

 

Samsuhadi Samoen

Samsuhadi Samoen

Tersedianya air bersih yang cukup bagi kebutuhan sehari hari adalah suatu hal yang sangat penting. Akan tetapi ketersediaan air bersih untuk beberapa tahun belakangan ini tidak selalu mudah. Kira-kira, 30-50 tahun yang lalu, Jika membangun rumah yang lokasinya belum terjangkau oleh air ledeng, maka dengan menggali sumur 8-10 meter, air akan keluar dengan mudahnya melalui pompa tangan. Kini dengan bertambahnya penduduk dan berbagai aktivitasnya, menyebabkan pula kenaikan kebutuhan air bersih, sehingga penyediaan air bersih menjadi masalah. Kehandalan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) dalam mengelola air bersihpun semakin menurun.

Sebagai akibat dari rendahnya kemampuan PDAM, mendorong pemanfaatan air tanah secara luas oleh masyarakat. Ekstraksi air tanah dilakukan secara besar-besaran. Warga yang kondisi perekonomiannya lebih baik, mampu menggali sumurnya lebih dalam dan menggunakan pompa air dengan kekuatan hisap yang lebih besar. Kelangkaan air juga dialami pada air permukaan. Debit air sungai sudah menurun. Kuantitas air sungai yang semula diharapkan menjadi andalan sebagai sumber air baku, sudah menurun.

Dampak memburuknya pasokan air bersih di dunia yang terjadi atau diprediksikan akan terjadi di masa mendatang antara lain ditunjukkan oleh data yang dilansir WWF pada 2007:

  • Pada pertengahan abad ini, tujuh milyar jiwa di 60 negara mungkin akan menghadapi kelangkaan air (setidaknya dua milyar di 48 negara saat ini sudah menghadapinya).
  • Lebih dari 1,5 miliar jiwa tidak memiliki akses langsung air minum, dan jika pola konsumsi ini terus berlanjut, setidaknya dalam kurun 20 tahun mendatang kira2 hampir populasi setengah penduduk dunia akan tinggal di daerah aliran sungai yang kritis.
  • Lima juta jiwa, sebagian besar anak-anak, meninggal setiap tahun karena penyakit karena mengkonsumsi air berkualitas buruk.

Apakah permasalahan air bersih ini tidak dapat diselesaikan? Menurut UNESCO (1978), volume total air dunia sebesar ± 1,8 milyar kilometer kubik, dan sekitar 11 juta meter kubik air tawar berada di permukaan dan dalam tanah, dan itu yang bisa kita manfaatkan saat ini. Sebagian besar sisanya adalah air laut. Jika dikatakan air tawar sudah mengalami krisis saat ini, maka sebenarnya masih terdapat air laut yang masih bisa dimanfaatkan.

Arab Saudi, Bahrain dan Kuwait telah memanfaatkan air laut untuk dijadikan air bersih dengan menggunakan teknologi Desalinasi Air laut (desalinasi thermal) telah lama digunakan di Arab Saudi, Bahrain, Kuwait. Tetapi metode ini sangat boros energi. Kini beberapa negara juga sudah menggunakan teknologi yang lebih baru, yakni menggunakan metode reverse osmosis. Dengan teknologi ini, Israel sudah dapat memproduksi air tawar sebanyak 16.000 liter per detik. Contoh lain negara yang menggunakan teknologi ini adalah Singapura. Negara ini berupaya membebaskan ketergantungan pasokan air yang selama ini  bergantung kepada Malaysia. Spanyol juga sudah memiliki instalasi desalinasi yang dapat memproduksi total 32.000 liter per detik air tawar.

Bagaimana dengan Indonesia? Dengan luasnya wilayah laut dan kecenderungan pemanfaatan air laut, dan teknologinya sudah tersedia, mestinya sudah bisa keluar dari masalah ini. Tapi kapan ya..?

Next >>>

baca juga

ingin komentar

Comment