Editorial : Kereta Cepat Jakarta – Bandung

Rudianto Handojo
Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia (PII)

Ibarat membuka buku langsung di bagian tengah. Bagian awalnya berupa pengambilan keputusan bisnis sudah dilalui. Ini adalah kerjasama B to B. Investor asing dari China sudah melangkah. Kita harus percaya dan optimis bahwa proses tersebut sudah memperhitungkan seluruh aspek. Kalau peletakan batu pertama pembangunan sudah dilakukan sekarang tinggal kerja.Ya kerjafisiknya, ya kerja simultan dengan yang lain-lain yang belum diselesaikan. Mudah-mudahan salah satu pertimbangan memercayakan kepada investor dari China adalah perolehan teknologinya yang mungkin tidak bisa didapatkan dari negara lain.

Ini teknologi baru di Indonesia. Perlu kemampuan keinsinyuran untuk survey, merencanakan, membangun dan mengoperasikannya. Selain itu perlu strategi keberlanjutannya.Tentu kita tidak ingin jalur yang pendek ini hanya satu-satunya. Tentunya ada rencana jangka panjang untuk sambungannya dan pembangunan jalur lainnya. Penumbuhan kebutuhan insinyur patut disambut. Kalau demikian tentu perlu membangun kemampuan sendiri dan perlu transfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada insinyur nasional. Yang terakhir ini diatur di UU No 11/2014 tentang Keinsinyuran.

Pasal 19 ayat (1) Insinyur Asing wajib melakukan alih iptek.Sebelumnya dari pasal 18 diatur bahwa Insinyur Asing hanya dapat melakukan Praktik Keinsinyuran di Indonesia sesuai dengan kebutuhan SDM iptek pembangunan nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan struktur kerja yang jelas dengan tugas, tanggung jawab serta standar kerja keinsinyuran pasti cukup banyak peran yang mampu dilakukan insinyur nasional. Belum berpengalaman membangun kereta cepat bukannya tidak mampu. Sistem pengujian insinyur professional PII menjamin hal tersebut.

Diharapkan bahwa mitra nasional investor menyadari perlunya keberpihakan. Mitra nasional pembangunan gigih mengetengahkan peran insinyur nasional, terutama yang telah lebih mendalami struktur geologi Jawa Barat. PT.INKA dan PT. LEN yang telah berkecimpung di elektronika perkeretaapian disertakan. Pihak perguruan tinggi menyiapkan strategi transfer iptek dan penguasaannya sesuai kebutuhan jangka panjang dan menengah.


Pemerintah membina agar bila jalu rpertama insinyur asing menjadi penanggung jawab, jalur kedua insinyu nasional menjadi penanggung jawab dibantu insinyur asing, maka jalur selanjutnya insinyur nasional sepenuhnya. PII menggalang penyiapan insinyur yang kompeten dan yang belaja rsepanjang hayat.

 

                                                                                   Halaman 1                                                                                        Berikutnya >>>

baca juga

ingin komentar

Comment